System Sang Immortal

System Sang Immortal
Kerajaan Zivon III


__ADS_3

Pada saat keheningan tersebut menyelimuti mereka, tiga retakan ruang tiba-tiba saja muncul di atas langit dan memuntahkan beberapa sosok yang mengeluarkan aura mendominasi.


"Haisss... Mati aku." Fang Lin memasang raut wajah masam.


Reaksi yang diperlihatkan oleh Fang Lin tentu mengejutkan Li Fan dan Sylvia, sementara Aslan serta semua Elf yang di sana menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus gelisah.


"Wah, wah. Makhluk macam apa yang bisa membuat Dewi Serigala Putih mematung?" seorang pemuda tampan menyeringai, terdapat seekor rubah kuning yang menyelimuti lehernya.


Seorang perempuan berambut hijau mengangkat tangan kirinya ke depan, dan lingkaran sihir muncul lalu mengeluarkan belasan tongkat hitam pekat.


Fang Lin yang melihat semua tongkat itu sedang melesat ke arahnya langsung menghentikannya di udara menggunakan aura Naga-nya.


"Menghentikan seranganku hanya dengan aura? Apa kau benar-benar makhluk dari Dunia ini?" perempuan berambut hijau itu memiringkan kepalanya, serangan yang ia lancarkan sepertinya hanya untuk menguji Fang Lin.


Seorang pemuda lainnya terkekeh, dia mempunyai riasan wajah seperti badut dengan rambut mencolok berwarna merah muda, "Aku penasaran, apakah dia lebih kuat daripada kita?"


"Cecilla, Hisoka, Apose. Apa yang kalian bertiga lakukan di sini?"


Meskipun tidak bisa bergerak, Shiraori setidaknya masih bisa menggerakkan mulutnya.


"Kami kemari karena melihat sesuatu yang menarik."


"Itu benar, dan kau juga tampak terpojok... Jadi kami memutuskan untuk membantumu."


Mendengar jawaban dari kedua pemuda itu membuat alis Shiraori mengerut, "Tidak ada untungnya kalian bertiga membantuku, lagipula ini urusanku."


"Tapi kau membutuhkan bantuan, kami akan membantumu sebagai balasan atas bantuanmu di masa lalu." ucap perempuan berambut hijau.


"Guru, kenapa tadi kau mengumpat? Apakah mereka itu sangat kuat?" Li Fan bertanya dengan hati-hati pada Fang Lin.


Fang Lin sedikit menaikkan alis sebelum menoleh ke arah Li Fan yang berada di sebelahnya, "Hm, aku mengumpat karena takut kalau masalah ini semakin besar dan bagiku mereka sama sekali tidak kuat." ucap Fang Lin dengan tenang, lalu bertanya, "Ada apa memangnya?"


"Ah, tidak... Jika aku sudah membuat Guru kerepotan, aku benar-benar minta maaf." Li Fan menundukkan badannya, Sylvia yang menyaksikan itu juga langsung mengikuti suaminya.


"Tidak perlu merasa bersalah, aku sama sekali tidak kerepotan." ucap Fang Lin santai, lalu menambahkan, "Namun, kalau Yue memarahiku kalian harus bersedia jadi tamengku, mengerti?"


"Eh?" kedua memasang ekspresi terkejut sebelum mengangguk sekali sembari tersenyum tipis, "Kami mengerti."


"Bagus." Fang Lin tersenyum, lalu pandangannya kembali teralih ke langit, "Kalian sudah selesai bicaranya?"

__ADS_1


Mereka langsung diam ketika Fang Lin bertanya demikian, berbagai aura langsung di arahkah pada pemuda tampan itu tetapi aura Naga dengan mudah menghalaunya.


"Aura itu, merepotkan." Hisoka yang mempunyai riasan badut sedikit memperlihatkan raut wajah serius.


Cecilla dan Apose setuju dengan itu, mereka kemudian mulai berbicara lewat telepati dan menyusun rencana untuk melepaskan Shiraori dari aura asing tersebut.


Namun baru saja mereka ingin menyusun rencana, aura asing yang menghentikan pergerakan Shiraori juga menimpa mereka bertiga.


Whooosh!


"Apa-apaan?!"


"Mustahil!"


"B-bagaimana mungkin?!"


Ketiganya begitu terkejut ketika pergerakan mereka langsung dikunci oleh aura asing tersebut, padahal sebelumnya mereka sudah menggunakan berbagai penghalang yang seharusnya bisa menghalau aura.


"Hei, Shiraori." Fang Lin menatap seorang perempuan berambut putih yang berada di dekatnya, "Aku memberimu dua pilihan. Pergi dari sini dengan tenang bersama ketiga temanmu, atau tetap di sini dan melihat kematian mereka bertiga."


Sesaat setelah Fang Lin berkata demikian, Niat Membunuh yang kental diarahkan pada Shiraori dan ketiga Dewa yang baru datang itu.


Whooosh!


Shiraori sendiri langsung meggertakkan giginya, dia tidak menjawab dan memilih untuk diam.


Tatapan Fang Lin berubah menjadi dingin setelah mengetahui Shiraori tidak berniat menjawab pertanyaannya.


"Baiklah, aku tidak berharap kau menyesali keputusanmu." Fang Lin yang tadinya ingin menggunakan Ilusi melebarkan matanya saat ia dipindahkan secara paksa ke dimensi kekosongan tanpa batas.


"Huh?" Fang Lin tidak panik sama sekali, dia memandangi sekitarnya dan tidak menemukan siapapun selain dirinya sendiri, "Apa ini...? Seorang Absolute sendiri yang datang padaku?"


"Wah... Tebakanmu bagus juga."


Seorang pemuda tampan berambut merah tiba-tiba muncul di hadapan Fang Lin, dia mengenakan kemeja dengan desain unik dan celana bahan kasual.


"Namaku adalah Ainz, aku adalah seorang Absolute yang menciptakan Alam Semesta ini." ucap Ainz memperkenalkan diri, lalu kembali berkata, "Karena aku tidak suka basa-basi, biarkan aku memperingatkan satu hal padamu. Jangan membuat kekacauan di teritoriku, statusmu di Alam Semestaku adalah seorang Imigran Gelap, kau seharusnya bersyukur karena aku membiarkanmu hidup sejauh ini." pupil mata Ainz sedikit bersinar ketika dirinya berkata demikian.


"Yah, aku juga akan marah jika berada di posisimu." meskipun mendapatkan peringatan dari seorang Absolute, Fang Lin tidak terlihat gentar sedikitpun, "Kalau begitu, bisakah kau menyuruh para Dewa itu untuk tidak ikut campur? Kalau mereka tidak melakukannya, urusan orang-orangku di Kerajaan itu mungkin sudah selesai."

__ADS_1


Ainz melipat kedua tangannya di depan dada, lalu berkata, "Aku bisa saja melakukannya tetapi kenapa juga aku menurutimu? Kau adalah seorang Imigran Gelap, kau tidak berhak berkata demikian pada orang yang memimpin di tempat kau singgah."


"Itu benar, tapi bukankah kau tidak suka jika ada orang asing yang membuat kekacauan di teritorimu?" Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya.


"Apakah secara tidak langsung kau ingin bilang bahwa dirimu akan membuat kekacauan jika aku tidak menuruti permintaanmu?" alis Ainz sedikit mengerut.


"Terserah bagaimana kau ingin menafsirkannya, tapi keinginanku adalah kau mengurus para Dewa itu dan membiarkan orang-orangku menyelesaikan urusannya." balas Fang Lin acuh tak acuh.


Fang Lin yang baru saja seperti itu merasakan dingin di tengkuk lehernya, ia tidak mengetahui apa yang terjadi padanya tetapi sepertinya waktu telah berhenti.


"Shen Xiong memujimu, dia mengatakan kalau kau adalah Manusia yang luar biasa. Aku penasaran, bagaimana manusia sepertimu bisa sekuat ini hanya dalam waktu kurang dari belasan ribu tahun." Ainz berjalan mendekati Fang Lin yang tidak bisa bergerak sedikitpun, "Aku harap kau tidak marah padaku karena melihat rahasiamu tanpa izin."


Ainz menyeringai lalu meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Fang Lin, tidak lama kemudian alisnya mengerut dan berkata, "Trik apa yang kau gunakan sehingga membuatku tidak bisa membaca ingatanmu?"


Karena waktu telah berhenti, Fang Lin tidak bisa mengatakan apapun meskipun ia bisa mendengarnya.


Lingkaran sihir yang tak terhitung jumlahnya bermunculan, Ainz menggunakan berbagai metode untuk membaca ingatan Fang Lin akan tetapi semua metode tersebut sama sekali tidak berguna.


Beberapa saat kemudian, Ainz mundur beberapa langkah dan helaan nafas keluar dari mulutnya, "Entah trik apa yang kau gunakan, namun yang pasti itu sangat luar biasa."


Usai Ainz berkata demikian, Fang Lin bisa menggerakkan kembali tubuhnya.


"Jadi, bagaimana?" Fang Lin langsung bertanya mengenai permintaannya yang tadi, dia tidak memberikan tanda-tanda ingin melarikan diri ataupun melakukan sesuatu yang bisa melindungi dirinya.


"Aku akan menuruti permintaanmu tetapi dengan satu syarat, kau dan orang-orangmu harus pergi dari Alam Semestaku." ucap Ainz dengan tenang.


Fang Lin terdiam sejenak ketika mendengar itu, ia sebenarnya masih belum mau pindah dari Alam Semesta ini tapi mengingat keberadaannya sudah diketahui oleh beberapa Dewa dan seorang Absolute maka tidak ada pilihan yang bagus selain menyetujui syaratnya.


Hanya saja ada satu masalah kalau Fang Lin pindah ke Alam Semesta lain, bagaimana caranya agar ia pindah? Sementara Khatz hanya menyiapkan satu portal saja selama ini.


Ainz mengetahui kekhawatiran yang kini sedang dipikirkan oleh Fang Lin, ketika dirinya hendak mengatakan sesuatu-- niatnya langsung diurungkan saat melihat ekspresi pemuda di depannya seolah baru mengingat sesuatu.


"Jadi, sudahkah kau memutuskan?" Ainz bertanya setelah keheningan selama beberapa waktu.


Fang Lin tersenyum tipis sebelum mengangguk pelan, "Kalau begitu, setelah orang-orangku menyelesaikan urusan mereka di Dunia Evangellion ini maka aku akan dengan senang hati pergi dari sini."


"Baiklah, aku setuju."


Ainz tidak berniat membicarakan ini lebih jauh lagi, meskipun ia menganggap Fang Lin sebagai Imigran Gelap namun dirinya tidak akan membunuhnya karena itu mungkin akan membuat kekacauan lainnya.

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2