
Selesai membangun rencana untuk menyelesaikan Perang, Diablo menceritakan tentang apa yang terjadi padanya saat melawan Zhang Shi Xuan.
Ketika Diablo selesai menceritakan semua itu, Zhou Fan dan yang lainnya hanya bisa terkejut dalam diam. Suasana menjadi hening selama beberapa waktu sebelum Fei Yulan memecahkan keheningan tersebut, "Sepertinya dia adalah Dewa Kematian."
Perkataan yang dilontarkan wanita cantik bergaun merah muda itu jelas membuat semua orang yang ada di sana cukup terkejut, "Dewa Kematian? Apa kau yakin dengan itu?" tanya Yang Jian dengan alis yang sedikit terangkat.
Fei Yulan mengangguk dan menjawab, "Aku cukup yakin, jika dia memang tidak merubah penampilannya."
"Tunggu, sepertinya kau mengenali Dewa Kematian ini. Siapa dia sebenarnya?" Zhou Fan yang sedari tadi mendengarkan tidak bisa untuk tidak bertanya.
"Sesuai namanya, dia adalah Dewa Kematian. Sosok Dewa yang menuntun Roh ke Surga dan Neraka." jawab Fei Yulan dengan suara tenang.
Suasana kembali menjadi hening ketika wanita cantik bergaun merah muda itu menyelesaikan kata-katanya.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang akan dibicarakan di sini, aku pergi dulu karena ada urusan." Diablo langsung menghilang dalam sekejap usai mengatakan itu.
Kepergian Diablo membuat seisi ruangan cukup terkejut, mereka penasaran tentang apa yang membuat Iblis Primordial itu terburu-buru.
"Ke mana dia akan pergi?" Fei Yulan bertanya-tanya dalam hati.
***
Setelah Dewa Kematian melarikan diri dari Alam Iblis, awan hitam yang menutupi langit kini sudah menghilang. Di balik awan, Diablo sedang berdiri sembari menyebarkan kesadaran spiritualnya-- saat ini ia sedang mencari keberadaan Lian Qianchen.
"Apakah dia sudah mati?" Diablo bergumam tanpa ekspresi.
Beberapa hari telah berlalu, perang antara Aliansi Istana Iblis dan Dewa Iblis perlahan mulai mereda, sudah banyak ras yang menyerah setelah mengetahui kematian Dewa Iblis di tangan Gu Ho.
Sedangkan mereka yang masih tetap bertahan langsung dibantai oleh pasukan dari Aliansi Istana Iblis dan Aliansi Lima Bintang Penjaga, pekerjaan mereka menjadi tambah cepat karena Yang Jian, Fei Yulan dan Gu Ho ikut membantu.
Di sebuah Hutan yang begitu luas, Lian Qianchen duduk bersandar sembari memegang sebilah pedang di tangan kirinya, kondisinya saat ini terbilang cukup parah-- tangan kanannya putus, ada banyak luka robek di tubuhnya dan ia mengalami penuaan karena menggunakan energi kehidupan dalam jumlah yang cukup banyak.
"Hidup ini... Untuk apa?" Lian Qianchen menghela nafas panjang sembari memandangi langit yang cerah, "Aku pernah mendengar kalau hidup itu harus dijalani dengan kebahagiaan, tetapi kenapa aku tidak pernah ditakdirkan hidup seperti itu selamanya?"
Lian Qianchen teringat dengan masa lalunya, di saat ibunya meninggal-- sifat ayahnya berubah menjadi kasar dan ia selalu dipukuli jika membuat satu masalah saja meskipun itu adalah masalah yang sepele.
Setelah ayahnya meninggal, Lian Qianchen hidup di jalanan dan mengemis untuk bisa bertahan hidup. Banyak rintangan yang harus ia lewati saat itu, sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang Nenek tua yang membuatnya menjalani hidup sebagai kultivator.
Lian Qianchen diberitahu kalau jalan hidup kultivator tidaklah mudah, dan apa yang dikatakannya itu adalah kebenaran. Setelah menjadi kultivator, Lian Qianchen menemui banyak masalah yang membuatnya berpikir kalau 'Kematian' adalah suatu hal yang baik.
Pada suatu ketika, teman Lian Qianchen yang berasal dari ras Xana mengajak dirinya untuk bergabung ke dalam ras tersebut. Awalnya ia menolak tawaran itu, tetapi setelah dibujuk dengan berbagai cara akhirnya ia menerimanya.
Setelah menjadi bagian dari ras Xana, Lian Qianchen berpikir kalau masalah yang akan menimpanya akan menjadi sedikit, namun pemikirannya itu salah-- karena ia bukanlah seseorang yang lahir dari ras Xana melainkan seorang pendatang hal itu membuatnya mendapatkan banyak sekali diskriminasi.
Teman yang telah mengajaknya bergabung menjadi bagian dari ras Xana mulai menjauhinya tanpa alasan yang jelas. Jadi mau tak mau Lian Qianchen menjalani hidup seperti itu sampai sebelum perang dimulai.
"Kebahagiaan dalam hidupku hanya pada saat bersama Ibu dan nenek Jiao..." Lian Qianchen tersenyum, lalu memikirkan wajah ketiga teman Iblisnya, "Mereka bertiga juga, hahaha..."
__ADS_1
Lian Qianchen tak menyangka kalau dirinya akan menjadi teman dari ketiga Iblis itu, ia sendiri mulai berpikir kalau Iblis tidak seburuk dari apa yang ia dengar selama ini.
"Dia..." wajah Diablo tiba-tiba saja terbayang ke dalam otak Lian Qianchen, ia tersenyum pahit dan tidak tau apakah bersama Iblis Primordial itu termasuk kebahagiaan dalam hidupnya atau tidak, "Aku jadi ingat dengan perkataan terakhirnya... Kalau aku.mati, apakah dia akan datang kemari dan menguburkanku dengan layak?" Lian Qianchen menggenggam pedang di tangan kirinya dengan erat, air mata mulai membasahi pipinya.
"Maafkan aku... Ibu, nenek Jiao. Aku sudah tidak sanggup lagi, biarkan putri kalian yang cantik ini menyusul..." pedang Lian Qianchen dialiri dengan Qi, ia ingin menyelesaikan hal ini dengan cepat.
"Sepertinya kau memang sudah gila."
Diablo tiba-tiba saja muncul di hadapan wanita bergaun merah yang hendak bunuh diri, ia mengambil pedang tersebut lalu membuangnya ke samping.
Melihat keberadaan Diablo membuat Lian Qianchen melebarkan mata tak percaya, air matanya masih terus mengalir dan nafasnya mulai sedikit memburu.
"Kau boleh mengeluh, kau boleh menangis dan kau boleh merasa lelah. Tetapi, jangan pernah sesekali menyerah pada hidupmu... Di masa lalu hidup yang kau jalani memang berat, namun tidak ada yang tau dengan masa depanmu. Kau hanya perlu bertahan dan terus melangkah sampai kau menemukan kebahagiaanmu." Diablo memegang pipi sebelah kiri Lian Qianchen, cahaya hijau terang langsung menyelimuti wanita bergaun merah itu.
Beberapa saat kemudian, semua luka di tubuh Lian Qianchen pulih, tangan kanannya beregenerasi kembali dan wajahnya yang menua sudah kembali normal.
Ketika Diablo ingin mengatakan sesuatu, Lian Qianchen langsung memeluk Iblis itu dengan erat, "Kebahagiaan baru yang kumliki adalah kamu... Aku harap kita bisa terus bersama, aku mencintaimu, Diablo." suara pelan Lian Qianchen terdengar jelas di telinga Diablo.
Diablo sendiri menghela nafas panjang ketika mendengar itu, ia sudah mengetahui kalau hal ini akan terjadi, "Aku tidak mencintaimu, tapi aku bisa membawamu agar kita bisa terus bersama."
"Kau benar-benar jahat, Diablo." Lian Qianchen tersenyum, lalu melanjutinya, "Tapi tak apa, aku akan terus berusaha untuk mendapatkan hatimu."
"Aku bisa mati jika kau mengambil hatiku."
"Bisakah kau berhenti menanggapi ucapanku?"
"Tidak, aku akan terus menanggapimu."
***
"Diablo sudah menghilang selama tiga hari, sebenarnya ke mana dia pergi?" Yang Jian yang melayang di atas langit bertanya-tanya.
"Sudahlah, tidak perlu mencari Iblis itu. Dia sudah besar, pasti akan pulang kalau lapar." Bai Hu berkata dengan nada acuh tak acuh, beberapa hari yang lalu ia tak muncul karena berusaha untuk menghindari Diablo-- ia bisa mati jika bertemu dengannya.
Bai Hu berani menampakkan diri setelah ia mendengar kabar Diablo menghilang, tentu saja dirinya takut kalau Iblis itu tiba-tiba saja muncul-- akan tetapi dirinya sudah bersiap-siap untuk melakukan teleportasi jika situasinya tidak bersahabat.
"Hahaha... Lucu sekali." tiba-tiba saja Diablo muncul di samping Bai Hu dan langsung merangkulnya dengan kecepatan yang tinggi, "Temanku yang satu ini terlihat sehat, ya. Bagaimana kabarmu?" Diablo menyeringai seram saat menanyakan hal itu.
Jantung Bai Hu seakan berhenti sesaat, keringat dingin langsung memenuhi wajahnya dan ia melirik ke arah Diablo yang ada di sampingnya, "Hehehe... Temanku, kau semakin tampan saja. Aku baik-baik saja, terima kasih telah menanyakan kabarku."
"Baguslah kau baik-baik saja, aku jadi bisa menghajarmu lebih lama..."
"Oh... Temanku, Diablo. Lupakan tentang rumor palsu itu. Kau tau, aku hanya bercanda saja."
"Hey, Bai Hu. Apakah aku terlihat peduli sekarang?" wajah Diablo berubah menjadi dingin dan membuat Bai Hu bergidik ngeri.
"Diablo, siapa perempuan ini?" Fei Yulan yang berada tidak jauh dari sana bertanya sembari menatap Lian Qianchen.
__ADS_1
Diablo tersentak dan perhatian langsung tertuju kepada Fei Yulan, "Dia adalah orang yang aku cari selama beberapa hari terakhir." jawab Diablo cepat.
Jawaban yang diberikan Diablo mengejutkan Fei Yulan dan yang lainnya. Mereka langsung menatap Lian Qianchen dengan seksama dan membuat perempuan bergaun merah itu merasa tak nyaman.
"Ah, jangan-jangan kau adalah wanita yang diceritakan Diablo, ya? Wanita gila dan rusuh itu!" Bai Hu menunjuk Lian Qianchen dengan antusias, "Apa yang telah kau lakukan sampai membuat Diablo mencarimu selama berhari-hari? Apakah kalian adalah sepas-"
Buk!
Diablo memukul kepala Bai Hu dengan cukup keras, "Kau tidak pernah belajar dari kesalahan, ya?!" Diablo mendengus dingin usai mengatakan itu.
"Aw~ pukulanmu sungguh menyakitkan!" Bai Hu mengusap kepalanya yang terasa benjol.
"Itu adalah balasan karena telah membuat rumor palsu, sialan!" balas Diablo kesal.
"Um, sebenarnya rumor apa yang kalian maksud sedari tadi?"
Bai Hu yang mendengar itu tadinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia langsung menutup mulutnya saat mendapati tatapan dingin dari Diablo.
"Tidak perlu kau pikirkan, itu hanyalah masalah yang tidak penting." ucap Diablo sambil menatap Lian Qianchen.
"Kalau di ingat-ingat, aku sepertinya mengenalimu." Yang Jian yang sedari tadi diam berkata pada Lian Qianchen.
Lian Qianchen sendiri memiringkan sedikit kepalanya, lalu bertanya, "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya."
"Bukan bertemu, lebih tepatnya aku melihatmu dari kejauhan. Pada saat itu kau sedang meratapi sebuah makam di depanmu..." jawab Yang Jian cepat.
"Ah, begitu..." Lian Qianchen mengangguk paham, ia tidak menunjukkan raut wajah sedih, "Dia adalah temanku, mati di medan perang."
"Aku turut berduka..." Yang Jian merasa sedikit bersalah karena menyinggung makam tersebut.
"Terima kasih... Aku sebenarnya ingin mengunjungi makam temanku itu, tetapi tidak jadi setelah melihat daratan di sana sudah hancur. Entah makhluk brengsek mana yang melakukannya, aku pasti akan menghajarnya." tatapan Lian Qianchen menjadi dingin saat mengatakan itu.
Perkataan yang dilontarkan Lian Qianchen membuat mereka yang ada di sana terkejut.
"Omong-omong, aku yang menghancurkan daratan itu." Diablo berkata tanpa memperlihatkan ekspresi datar.
"Benarkah?"
"Benar."
"Apa kau sedang mempermainkanku saat ini?"
"Tidak sama sekali."
"Dasar bodoh! Apa yang telah kau lakukan sampai membuat daratan rusak seperti itu?!" Lian Qianchen bertanya dengan raut wajah marah.
Diablo memberikan raut wajah datar saat mendengar itu, "Sepertinya otakmu yang rusak kambuh lagi."
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.