System Sang Immortal

System Sang Immortal
Kematian Tiga Pembunuh


__ADS_3

Melihat raut wajah putus asa Yuna membuat Colin tertawa, ia melirik ke arah Merlin yang sama sekali tidak bereaksi.


"Sudah lima menit, nih. Kapan kau akan membunuh mereka?" Rian bertanya sembari memasang ekspresi malas.


Colin menyeringai dan pandangannya kini teralih pada pemuda bermantel hitam yang sedari tadi diam, "Kau cukup tenang setelah mendapatkan situasi ini, Fang Lin. Apa yang kau rencanakan?"


"Hm, entahlah... Aku hanya sedang menikmati tontonan ini saja." Fang Lin tersenyum tipis saat mengatakannya.


"Huh?"


Seluruh mata langsung teralih kepada Fang Lin setelah dia mengatakan hal tersebut.


"Menikmati katamu?" Tiger mengangkat sedikit alisnya, "Sepertinya kau sudah gila."


"Gila, ya? Sudah lama aku tidak mendengar kata-kata itu..." Fang Lin terkekeh pelan, lalu melanjutinya "Omong-omong, aku cukup terkejut kalau kalian adalah seorang pembunuh bayaran. Apakah kalian sungguh membutuhkan satu tahun hanya untuk menunggu momen ini?"


"Berhenti bicara omong kosong, pemula. Bunuh saja dia lebih dulu, 001." ucap Rian sambil menatap Fang Lin.


"Oi, bajingan! Melibatkan seorang pemula yang tidak ada hubungannya sama sekali, apakah kalian benar-benar seorang pengecut?!" Yohan bertanya, nadanya terdengar sinis sekaligus jijik.


"Ya, kami pengecut... Itu maumu, bukan?" Rian membalasnya dengan cepat.


Yohan berdecak kesal mendengarnya-- tak ada gunanya untuk melakukan provokasi, ia kemudian mengirim telepati pada Merlin dan bertanya apa yang harus dirinya lakukan.


Merlin terdiam sejenak usai mendapati telepati tersebut, dia kemudian meminta Yohan untuk mengulur waktu selama mungkin.


"Baiklah... Aku mengerti."


Yohan diam-diam menganggukkan kepalanya pelan, pada saat dirinya hendak berbicara-- Fang Lin mendahuluinya.


"Hei, Colin. Apa alasan kalian masuk ke dalam Labyrinth of The Death? Aku masih belum mengerti sejauh ini." Fang Lin bertanya, ia mengingat sebelumnya kalau grup ini mempunyai alasan tersendiri untuk menyelesaikan Dungeon tersebut-- hanya saja yang dirinya herankan adalah alasan para pembunuh yang ikut serta ke dalamnya.


Colin sedikit tersentak, senyum di wajahnya telah menghilang setelah berbicara dengan Fang Lin. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Alasan kami adalah hadiah penyelesaian dungeon, dan juga harta dari semua orang yang telah mati di dalam Labyrinth of The Death."


"Hm... Begitu, ya? Apa ada alasan lainnya? Kurasa kalau hanya sekadar itu masih kurang meyakinkan bagiku." Fang Lin kembali bertanya, nadanya benar-benar tenang seolah situasi yang menimpanya sekarang ini tidak mengganggu dirinya.

__ADS_1


Colin tadinya ingin menjawab hal itu, tetapi Tiger langsung memotongnya, "Kenapa kau patuh menjawab pertanyaan dia, 001? Kau bodoh, ya?"


"Apa salahnya menjawab pertanyaanku? Toh, sebentar lagi kalian juga akan mati." Fang Lin menyahutinya dengan acuh tak acuh.


!


Ketika Fang Lin berkata demikian, semua orang yang ada di sana tidak bisa untuk tidak terkejut.


"Hei, bodoh! Kenapa kau berbicara begitu?!" Yohan tak habis pikir, ia sama sekali tidak menanggapi serius pernyataan Fang Lin barusan.


Beberapa orang juga sama seperti Yohan, mereka hanya berpikir kalau Fang Lin hanya membual saja.


Tetapi Colin adalah orang yang paling serius dalam menanggapi ucapan tersebut, ia menggerakkan jari kelingkingnya dan mempersempit jarak antara benang emas dengan leher Fang Lin.


"Melihat ketenanganmu dalam berbicara dan bertindak, aku cukup yakin kau bukanlah seorang pemula."


Colin sebenarnya pernah mencurigai Fang Lin selama beberapa waktu karena alasan tertentu, setelah semua ini-- kecurigaannya semakin kuat dan berpikir kalau dia bukanlah seorang pemburu di tingkat Bronze.


"Apa yang kau bicarakan, 001?" Rian yang mendengarnya langsung mengerutkan alis.


Tiger juga menatap Colin dengan tatapan serius, ia merasa kalau rekannya itu tidak sedang bercanda.


"Apa...?" Rian dan Tiger cukup terkejut mendengarnya.


Tidak hanya mereka berdua saja, tetapi semua orang yang ada di sana juga sama terkejutnya.


"Apa kau sedang tidak membual sekarang? Mau dilihat dari manapun dia hanya seseorang yang mempunyai Mana Circle di tingkat dua." Tiger merasa ragu dengan ucapan Colin.


"Dia tidak membual, kok." Fang Lin tersenyum tipis sebelum aura dingin merembes keluar dari tubuhnya.


Whooosh!


Mereka semua yang ada di sana tidak sempat bereaksi. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, tubuh mereka menjadi membeku dan sama sekali tidak bisa digerakkan karena aura dingin yang dikeluarkan oleh Fang Lin.


Whooosh!

__ADS_1


Setelah itu, Fang Lin menghilang dari tempatnya lalu kembali muncul di tempat lain. Dia menginjak benang tipis yang dikendalikan oleh Colin tanpa memberikan dampak sedikitpun.


"Kalian seharusnya tidak melibatkanku..." Fang Lin berjalan pelan di atas benang dan menuju ke tempat Colin berada, "Seandainya saja kalian melaksanakan pembunuhan berencana ini setelah aku pergi, maka aku tidak akan ikut campur meskipun mengetahuinya."


Colin mendengar itu, aura membunuh yang kental merembes keluar dari tubuhnya. Meskipun seluruh tubuhnya tidak dapat digerakkan saat ini, tetapi ia masih bisa mengendalikan aura yang tersimpan di dalam tubuhnya.


"Kau pikir aura membunuh secuil ini akan membuatku ketakutan?" Fang Lin menggeleng pelan sebelum aura membunuhnya merembes dengan cepat keluar dari tubuhnya.


Semua orang yang merasakan aura membunuh Fang Lin tidak bisa untuk tidak terkejut, perasaan mereka langsung menjadi kacau-- kegelisahan dan ketakutan tanpa ujung mulai bercampur aduk.


"Aku tidak pernah berpikir akan melakukan hal semacam ini sebelumnya, jadi bisa dibilang kejadian yang terjadi sekarang adalah sesuatu yang di luar rencanaku." Fang Lin merubah tatapannya menjadi dingin, dan ia menatap mata Colin di hadapannya, "Suasana hatiku cukup buruk sekarang, tapi karena suatu alasan aku akan membiarkan kalian mati tanpa merasakan sakit sedikitpun."


Bam!


Kepala Colin meledak usai Fang Lin mengakhiri kata-katanya, hujan darah terjadi tetapi tubuh dari pembunuh itu masih berdiri tegak dikarenakan aura dinginnya.


Fang Lin kemudian mengalihkan pandangannya pada Tiger dan Rian, kemudian secara bersamaan kepala mereka berdua meledak sehingga menciptakan hujan darah lainnya.


"Seharusnya tindakanku ini tidak berlebihan sampai menarik perhatian para Dewa di dunia atas." Fang Lin diam-diam menghela nafas panjang sembari menarik aura membunuhnya, ia kemudian turun dari atas benang emas.


Fang Lin memandangi anggota grup yang tersisa dan terdiam sejenak, ia bingung harus melakukan apa terhadap mereka. Membunuh bukanlah solusi yang tepat mengingat latar belakang Merlin yang tidak biasa, menghapus ingatan mereka juga sama-- karena akan menjadi sesuatu yang merepotkan kalau ada yang menyelidikinya.


"Aku bisa saja mengubah identitas beserta rupaku agar bisa hidup tenang di kota Heinz, namun aku tidak mau melakukannya." Fang Lin melipat kedua tangannya di depan dada, ia tidak bisa berpikir terlalu lama karena ada belasan Iblis kuat yang sedang melesat cepat ke tempatnya berada.


"Baiklah... Sudah kuputuskan."


Sebelum menarik kembali aura dinginnya, Fang Lin lebih dulu membakar benang emas menggunakan api hitamnya. Melakukan hal itu hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja sampai senjata tingkat Mitos tersebut berubah menjadi abu dan hilang dibawa angin.


"Aku bisa membunuh kalian kapapun aku mau, jadi jangan berpikir untuk kabur karena aku mempunyai sesuatu yang ingin dibicarakan." Fang Lin mengingatkan mereka, kemudian menarik aura dinginnya.


Beberapa saat kemudian, Merlin, Gwen, Yohan dan Yuna bertekuk lutut setelah aura dingin yang membekukan gerakan mereka menghilang secara sempurna.


Mereka semua menunjukkan raut wajah yang berbeda-beda, dan tidak ada satupun dari mereka yang berani menatap Fang Lin.


"Tenangkan diri kalian selama satu menit." Fang Lin berkata, nadanya sangat tenang seperti biasanya.

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2