
"Kupikir kau akan ketakutan, ternyata cukup tenang, ya?" William menyeringai tipis sembari mengeluarkan pedangnya.
"Aku tidak berpikir akan ketakutan pada orang yang jauh lebih lemah dariku." Fang Lin menjawab, nadanya terdengar acuh tak acuh
Urat kecil muncul di dahi William, "Apa ini...? Sungguh sombong bagimu yang hanya mempunyai Mana Circle tingkat tiga."
"Apa kau pikir Mana Circle adalah segalanya? Kenapa setiap orang bangga dengan Mana Circle mereka yang tinggi?"
"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Mana Circle adalah tolak ukur bagi seseorang atas kemampuannya."
"Mungkin bagi sebagian orang berpikir demikian... Tetapi bagiku kekuatan fisik, sihir, elemen dan beberapa hal lainnya juga termasuk faktor penting dalam mengukur kemampuan seseorang." ucap Fang Lin, lalu menambahkan, "Contohnya sudah ada di pertandingan sebelumnya, bukan?"
William terdiam sejenak, ia cukup yakin kalau Fang Lin membicarakan tentang pertandingan antara Arthur dan Tony.
Sebelum William ingin mengatakan sesuatu, Fang Lin lebih dulu berkata, "Mana Circle adalah tempat bagi orang lain menyimpan Mana, semakin besar kapasitas Mana-mu maka akan semakin kuat dirimu. Mungkin kau berpikir demikian, tetapi aku akan membuktikannya sekarang padamu."
"Majulah menggunakan seluruh kekuatan penuhmu, lakukan dengan niat membunuh atau apapun itu. Aku akan menghadapimu tanpa Mana sedikitpun dan hanya menggunakan kekuatan fisik saja." Fang Lin menambahkan, ia sengaja menggunakan nada yang terdengar arogan agar William terprovokasi.
"Bajingan ini... Jangan sampai kau menarik kata-katamu!"
Tentu saja William mengamuk karena baru saja dihina oleh orang yang ia anggap lemah, ia bergerak maju dengan Mana melimpah yang merembes keluar dari tubuhnya.
Karena William mempunyai Mana Circle di tingkat lima, ia mampu menciptakan puluhan serangan energi dalam waktu yang sangat singkat.
Fang Lin tentu tidak tinggal diam begitu saja, ia bergerak dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata dan muncul di belakang William.
Bugh!
Fang Lin menendang bokong William sehingga membuatnya terseret di lantai arena.
Bam!
Sementara itu, puluhan serangan energi mengenai lantai arena dan menciptakan bunyi yang keras.
"Mana Circle digunakan sebagai tolak ukur kemampuan seseorang adalah hal yang wajar, tetapi bukan berarti kau harus merasa lebih superior dari orang lain yang mempunyai Mana Circle di bawahmu."
Fang Lin mengatakan demikian sembari memberikan tatapan dingin.
William menoleh ke belakang dengan tatapan marah, urat-urat di wajahnya mulai bermunculan dan itu membuatnya terlihat cukup seram.
"Aku akan memberimu sebuah pelajaran, ini mungkin akan berguna di masa depan. Jadi tanamkan kejadian ini sedalam-dalamnya di otakmu itu."
Setelah Fang Lin mengucapkan hal tersebut, ia kembali maju ke arah William dan mulai memberikan rentetan serangan yang tidak akan membuatnya terluka parah.
Semua murid yang berada di luar arena sangat terkejut ketika melihat William dihajar sepihak oleh Fang Lin tanpa bisa melakukan perlawanan.
__ADS_1
"Bagaimana... Bisa?"
"Oi, oi... Dia peringkat delapan, loh. Anak baru itu, dia menghajar lawannya seperti meninju samsak."
Di antara mereka semua, Arthur adalah satu-satunya orang yang tidak terkejut sama sekali dengan hal itu tetapi dia tetap memasang ekspresi kaget agar tidak menimbulkan kecurigaan dari orang lain.
"Aku tau kalau Master bisa mengalahkan William dengan mudah, tetapi kenapa dia bertindak seperti ini? Bukankah Master adalah tipe orang yang tidak suka menonjol?" Arthur bertanya-tanya dalam hati.
......................
Satu batang dupa terbakar.
Pertandingan antara Fang Lin dan William akhirnya dihentikan ketika pemuda itu sudah kehilangan kesadarannya.
"Tidak kusangka, harga dirimu sangat tinggi." Fang Lin bergumam sembari menatap William yang tergeletak di depannya.
Tim medis yang sudah berjaga di pinggir ruang latihan langsung datang setelah Instruktur Argon menghilangkan arenanya.
Mereka dengan segera memeriksa William, lalu membawanya pergi setelah melakukan pemeriksaan selama beberapa waktu.
Sementara Fang Lin langsung mendapatkan banyak tatapan dari para murid laki-laki maupun perempuan, sepertinya semua orang di kelas mulai tertarik padanya.
"Yah, aku tidak terkejut."
Fang Lin tetap memasang ekspresi datar meskipun mendapatkan banyak tatapan dari anak-anak kelasnya.
***
"Aku harap kalian semua bisa belajar dari latih tanding hari ini."
Usai berkata demikian, Instruktur Argon keluar dari kelas. Suasana hening terjadi karena mereka masih mengingat jelas pertarungan antara Fang Lin dan juga William.
Fang Lin sendiri langsung bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kelas, ia memasang raut wajah acuh tak acuh ketika merasakan seluruh tatapan kelas menuju ke arahnya.
***
"Mau tak mau aku harus menahan tatapan mereka semua selama beberapa waktu."
Fang Lin menghela nafas sesaat setelah menggumamkan hal tersebut.
Setelah keluar dari Akademi dan berjalan menuju Asrama, Fang Lin menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak.
"Aku sudah menunggu, loh. Apakah kau masih tidak ingin keluar, Ketua Kelas?"
Sesaat setelah Fang Lin berkata seperti itu, Anna tiba-tiba saja muncul tidak jauh dari Fang Lin. Dia sepertinya menggunakan sihir Stealth untuk mengikutiku sejauh ini.
__ADS_1
"Ara? Kamu sudah mengetahuinya, ya?" Anna tersenyum kecil dan berjalan mendekati pemuda tampan itu.
"Ara...?" Fang Lin sedikit mengerutkan alis dengan kata asing seperti itu, lalu menepis kebingungannya dan bertanya, "Ada apa, Ketua Kelas?"
"Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu mempunyai waktu luang?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku mau mengajakmu jalan-jalan, sekalian mentraktirmu makan malam."
"Aku hanya punya waktu luang sekitar dua jam, apa itu cukup?"
"Ya, itu cukup."
"Kalau begitu, baiklah."
Mereka berdua kemudian berjalan bersama, dan mulai mengobrol tentang hal yang tidak penting.
......................
"Aku tak menyangka loh, kalau kamu mempunyai kekuatan sehebat itu. Padahal hanya berada di Mana Circle tingkat tiga dan fisikmu tidak terlihat bagus seperti Albert." ucap Anna, kata-katanya terdengar memuji.
"Yah, itulah mengapa kau tidak boleh memandang sebelah mata pada orang yang terlihat lemah." balas Fang Lin tenang.
"Ahahaha... Kamu benar." Anna tertawa kecil, lalu menatap Fang Lin, "Omong-omong, apakah kamu adalah orang yang membuat Arthur berkembang?"
"Hm? Apa yang kau bicarakan?" Fang Lin menatap balik perempuan itu, dan mata mereka berdua saling bertemu.
Anna terdiam sejenak ketika mereka berdua saling bertatap mata, kemudian tawa kecil keluar dari mulutnya dan ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah depan, "Maaf, lupakan saja pertanyaan bodoh itu."
Fang Lin sedikit mengangkat alisnya, dan ia memasang ekspresi keheranan, "Aku penasaran, kenapa kau membicarakan dia dan menghubungkannya denganku?"
"Bagaimana ya menjelaskannya..." Anna menggaruk pipinya dengan satu jari, lalu melanjutinya, "Ketika aku sedang mengajakmu berkeliling Akademi, Arthur selalu mengikuti kita dari kejauhan. Dan pada saat aku kembali setelah membeli minuman instan untukmu, aku sudah tidak lagi merasakan hawa kehadirannya. Jadi, aku menyimpulkan kalian membicarakan sesuatu ketika aku sedang pergi."
"Ah, aku memang menyadari keberadaan anak itu. Kupikir dia mengikuti kita berdua karena dia menyukaimu..."
Karena kemampuan Fang Lin sudah ditunjukkan secara umum, ia mau tak mau juga harus mengakui kalau Arthur memang mengikuti mereka berdua pada saat itu.
Jika Fang Lin berpura-pura bodoh dan tidak mengetahui kalau Arthur mengikuti mereka berdua, mungkin hal itu akan menimbulkan kecurigaan.
"Hahaha... Mana mungkin dia menyukaiku, aku saja tidak merasa kalau dia pernah menatapku secara khusus." Anna menyangkalnya.
Fang Lin mengangguk beberapa kali dan tidak mengejar pembicaraan itu lebih jauh lagi, Anna sendiri langsung mengubah topik agar suasana tidak menjadi canggung.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.