
Ketika Fang Lin memasuki gerbang Dungeon, ia bisa menemukan jalan lurus yang diapit oleh dinding hitam raksasa.
Meskipun kepala Fang Lin menunduk ke bawah, ia dapat mengetahui keseluruhannya secara pasti lewat kesadaran spiritual.
Dinding raksasa itu mempunyai tinggi seribu meter dan memperlihatkan langit biru di atasnya, jika dilihat hanya dengan mata biasa-- mungkin orang lain akan berpikir untuk mencapai puncaknya, tetapi semua itu tidak lebih dari sekadar ilusi semata.
Faktanya mereka semua sekarang berada di sebuah formasi sihir yang jangkauan luar biasa besar, mustahil untuk naik ke atas dinding karena tidak akan bisa dicapai meskipun sudah mencapai ketinggian lebih dari seribu meter.
"Namun di mataku formasi ini hanyalah mainan anak-anak, menggunakan Qi Dewa saja-- aku bisa menghancurkan formasi ini dengan mudah."
Memang perkataan Fang Lin terdengar arogan tetapi tidak bisa dipungkiri kalau itu adalah kebenarannya, meskipun begitu-- tidak ada niat bagi dirinya untuk menyelesaikan dungeon ini dengan mudah.
"Suasananya suram sekali, ya." Rian menguap sembari memperhatikan sekitarnya, "Aku penasaran, monster apa yang tinggal di tempat membosankan semacam ini."
"Gahahahaha.... Apapun monsternya, tinjuku bisa menghadapinya!" Tiger tertawa lantang.
"Bukankah tempat ini sangat menyeramkan? Meskipun terang, tapi aku merasa merinding dengan suasananya." Yuna berkata sembari memegang lengan Gwen.
"Yuna, kamu tenang saja. Sembunyi di belakangku dan aku akan senantiasa melindungimu!" Yohan menyeringai menggoda.
"Tidak mau! Wlee..." Yuna menjulurkan lidahnya.
Yohan berdecak pelan, lalu tatapannya mengarah ke arah Fang Lin yang berjalan di samping Colin, "Hei, pemula! Kenapa kau diam saja, apakah kau mulai menyesali pilihanmu untuk masuk ke dalam sini?" Yohan bertanya sembari tersenyum mengejek.
"Ah, tidak sama sekali." Fang Lin menggeleng pelan, sebenarnya ia ingin menambahkan kata-kata 'menyenangkan' tetapi dirinya mengurungkan niat itu karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada mereka.
"Hahahaha... Pemula, jangan berbohong. Aku dulu pernah mengalami hal yang sama sepertimu sewaktu pertama kali memasuki Dungeon, ini adalah pengalaman umum di antara para pemburu!" Yohan tertawa lantang, dan ia kemudian memasang ekspresi seolah mengenang masa itu.
"Sudah, jangan sering menghiraukan Yohan. Dia adalah tipe pria yang suka bercanda." Colin yang berada di samping, membisikan itu dengan suara pelan.
Fang Lin sendiri hanya mengangguk pelan untuk menanggapinya.
......................
Setelah beberapa menit berjalan lurus ke depan, mereka akhirnya menemukan dua belokan ke arah barat dan timur. Tentu saja dari kedua jalan itu, salah satunya adalah jalan buntu.
__ADS_1
"Yuna, giliranmu." Gwen berkata, dan membuat wanita cantik berambut pirang di sampingnya mengangguk kuat.
Yuna memejamkan mata dan mengeluarkan sebuah tongkat cantik berwarna kuning dari udara kosong, lingkaran sihir muncul di kakinya dan kemudian fluktuasi energi menyelimuti tubuhnya.
Sing...
Suara mendesing muncul, lalu energi yang keluar dari tubuh Yuna mulai menyebar dengan sangat cepat ke dua jalur bercabang itu.
Beberapa menit berlalu, energi kuning yang keluar dari tubuh Yuna menghilang dan kemudian matanya perlahan kembali terbuka.
"Jalur kiri adalah jalur buntu, jadi kanan adalah jalur yang benar." ucap Yuna, dan dengan segera melanjutinya, "Omong-omong, ada beberapa Goblin dan Orc di jalur kanan..."
"Terima kasih, Yuna." Gwen berkata, lalu menoleh ke arah Merlin, "Keluarkan peliharaanmu."
Merlin yang sedari tadi diam menganggukkan kepalanya, tangan kanannya terangkat ke depan dan muncul sebuah portal berwarna merah darah.
Tidak lama setelah itu, beberapa kuda keluar dari sana. Kuda tersebut berwarna coklat kemerahan, sepasang tanduk hitam ada di atas kepala mereka.
Dalam sekali lihat, Fang Lin bisa mengetahui kalau ketujuh kuda itu bersangkutan dengan Iblis. Bukan semata-mata dirinya melihat dari penampilannya saja, ia mengetahuinya karena masing-masing dari kuda itu mengeluarkan aura iblis.
"Wah... Mau dilihat berapa kalipun, dia terlihat seram, ya." Colin mundur selangkah sembari menelan ludahnya, "Apa kamu tidak takut dengan monster itu, Fang Lin?"
"Hm? Aku takut... Tapi karena hewan buas itu di pihak kita, aku tidak terlalu mengekspresikannya." Fang Lin menjelaskan dengan suara yang pura-pura bergetar.
"Ah, begitu..." Colin mengangguk paham, lalu memandangi Merlin yang menaiki punggung harimau hitam itu.
Gwen beserta yang lainnya juga mulai menunggangi kuda, Colin sendiri memberitahu kalau mereka akan mengikuti Merlin dari belakang.
"Apa dia yang akan memimpin jalan?" Fang Lin bertanya sembari naik ke atas punggung kuda.
"Begitulah." Colin mengangguk, lalu berkata dengan suara pelan, "Perlu kau tau, di antara kita semua, Merlin adalah sosok yang paling kuat. Bahkan Tiger yang mempunyai harga diri tinggi mengakuinya setelah kalah duel puluhan kali."
"Benarkah? Sungguh menakjubkan..." Fang Lin berdecak kagum, tentu saja dirinya hanya berpura-pura saja.
"Ya, sebenarnya aku ingin menceritakan lebih jauh lagi tentangnya... Tapi, baru saja dia menelepatiku untuk tidak berbicara macam-macam kepadamu." Colin berbisik, meskipun tau hal ini sia-sia.
__ADS_1
"Ahaha... Kau sungguh jujur." Fang Lin tertawa hambar saat mengatakan itu.
"Ekhem, kalau begitu, jalan duluan. Aku akan berada di barisan belakang." Colin mengubah topik pembicaraan, dan Fang Lin hanya mengangguk patuh lalu mulai menjalankan kudanya.
......................
Setelah melakukan perjalanan dengan menunggangi kuda selama beberapa puluh menit, Merlin yang berada di barisan paling depan langsung berhenti ketika melihat ratusan goblin serta puluhan orc menghalangi jalan.
"Siapa yang ingin menghabisi mereka?"
Ketika Gwen menanyakan hal tersebut, Tiger melompat dari kudanya dan mendarat tepat di depan harimau hitam.
"Guahahahaha! Hampir saja aku mati kebosanan!" Tiger berseru lantang, lalu aura berwarna coklat merembes keluar dari tubuhnya.
Tubuh Tiger yang kekar perlahan dilapisi oleh Zirah transparan, seluruh otot di tubuhnya mengencang dan lantai yang dipijakinya hancur oleh tekanan kekuatan.
"Ayo bersenang-senang!" Tiger meraung senang, ia kemudian melesat dengan cepat ke arah para Goblin dan Orc yang berdiri belasan meter di depannya.
"Jadi mereka adalah Orc, ya..." Fang Lin bergumam, suaranya bisa didengar oleh Colin yang berada tidak jauh dari tempatnya berada.
"Ah, apa kau baru pertama kali melihat monster seperti mereka?" tanya Colin penasaran.
"Aku sudah pernah melihat Goblin, tapi tidak dengan Orc." jawab Fang Lin cepat.
"Yah, itu tidak mengherankan mengingat kau adalah seorang pemula." Colin menganggukkan kepalanya beberapa sekali seakan mengerti sesuatu, "Biar kujelaskan, Orc itu seperti orang tuanya Goblin. Maksudku, mereka sama-sama hijau tetapi mempunyai ukuran tubuh yang dua hingga sepuluh kali lipat lebih besar dari manusia dewasa, kekuatannya bahkan bisa menghancurkan sebuah gunung dalam sekali pukulan. Meskipun begitu, ada cukup banyak kelemahan di tubuh Orc sehingga dia dikategorikan sebagai Monster tingkat Gold ke bawah."
"Huh, monster tingkat Gold? Memangnya ada yang seperti itu?" Fang Lin langsung bertanya ketika menemukan suatu keanehan.
"Hahahaha... Itu hanya ungkapan saja, monster Orc terkuat biasanya hanya sebanding dengan para pemburu di tingkat Gold." Colin menjelaskan setelah tertawa kecil.
"Ah, aku mengerti." Fang Lin mengangguk paham, lalu memperhatikan cara Tiger menghabisi seluruh monster itu.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1