
Fang Lin tidak melanjutkan ucapannya lalu memesan kamar yang tersisa, Ia akhirnya memilih satu kamar dengan Mue Lian karena dirinya malas untuk berpindah ke desa lainnya.
"Untuk satu minggu? Tuan kenapa lama sekali di desa ini?" Tanya nenek tersebut dengan heran.
"Mencari tempat yang damai untuk bersantai, Jadi berapa harga untuk satu minggu?" Ucap Fang Lin sambil mengeluarkan 3 koin emas.
"Hanya 7 silver tuan" Ucap nenek tersebut dengan sopan.
Fang Lin sedikit terkejut ketika mendengar itu, "Ambil kembaliannya" Ucap Fang Lin sambil menaruh 3 koin emas ke meja tersebut.
Nenek itu langsung melebarkan matanya saat melihat 3 koin emas tepat didepannya, Karena dia sangat jarang mendapatkan koin emas saat seorang tamu menginap disini, "T-tuan... Bukankah ini terlalu banyak?" Tanya nenek tersebut dengan terbata-bata.
"Itu tidak banyak, Anggap saja itu sebuah tip" Ucap Fang Lin sambil tersenyum.
Nenek tua tersebut dengan cepat memberikan kunci kamar yang kosong kepada pemuda berjubah biru didepannya, Di sisi lain Fang Lin langsung mengambil kunci tersebut dan berjalan ke arah tangga bersama Mue Lian.
Nenek tersebut langsung menunduk ke arah pemuda berjubah biru yang sedang berjalan ke arah tangga, "T-terima kasih tuan, A-anda dapat tinggal semau anda" Ucap nenek tersebut dengan hormat.
Fang Lin hanya mengabaikan perkataan nenek tersebut dan terus berjalan menuju lantai 2.
.....
Saat ini Fang Lin dan Mue Lian sudah berada di kamar tersebut, Fang Lin yang melihat isi kamar dari penginapan menjadi sedikit terkejut, "Kamar ini cukup mewah tetapi biayanya hanya satu silver untuk satu hari? Astaga..." Ucap Fang Lin saat melihat kamar yang mungkin setara dengan kamar mewah di kota-kota besar.
Fang Lin lalu membuka jendela kamarnya dan terlihat banyak warga yang sedang beraktivitas seperti biasanya, "Haah... Inilah pemandangan damai yang aku inginkan" Ucap Fang Lin sambil menghela nafas panjang.
Lalu memalingkan wajahnya dan melihat Mue Lian sedang bermeditasi di kasur yang cukup luas, "Baru saja datang, Dia sudah berkultivasi saja" Ucap Fang Lin menggelengkan pelan lalu menghampiri kasur yang Mue Lian tempati, Dia lalu menaruh pedangnya di samping kasur.
~Brukkk~
__ADS_1
Fang Lin langsung merebahkan dirinya di kasur dan menutup matanya perlahan, "Sudah ribuan tahun aku tidak tidur di kasur" Ucap Fang Lin pelan dan beberapa saat kemudian langsung tertidur pulas.
Di sisi lain Mue Lian membuka matanya secara perlahan lalu melirik ke arah Fang Lin, "Fang Gege kamu cepat sekali tertidur..." Gumam Mue Lian tersenyum sambil mengelus kepala Fang Lin dengan pelan.
Mue Lian akhirnya memposisikan dirinya menjadi tidur sambil menghadap ke arah Fang Lin, Kemudian ikut tertidur secara perlahan.
.....
Fang Lin membuka matanya dengan cepat, "Berisik sekali mereka" Gumam Fang Lin pelan saat mendengar suara yang berisik dari lantai bawah.
Fang Lin yang melihat Mue Lian sedang tertidur hanya tersenyum lembut, Lalu memegang pipi Mue Lian dengan tangan kanannya kemudian mengecup dahi Mue Lian, "Kamu sangat cantik walaupun sedang tertidur" Gumam Fang Lin sambil tersenyum lalu berdiri dari tidurnya dan keluar kamar.
Fang Lin langsung menuruni tangga dan saat dilantai bawah terlihat banyak pria yang sedang mengobrol disertai tawa sambil bermabuk-mabukan meminum alkohol.
Kedatangan Fang Lin membuat suasana disana menjadi hening dan beberapa saat kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka seperti sebelumnya.
Sekali lagi Fang Lin menjadi pusat perhatian saat mengeluarkan kendi tersebut, Namun Fang Lin mengabaikan tatapan dari mereka semua dan meminum santai kendi araknya.
Dalam beberapa menit, Fang Lin sudah meminum 3 kendi arak akan tetapi dirinya belum mabuk juga, "Sial... Aku ingin mabuk, Akan tetapi kandungan alkohol yang ada di tubuhku langsung dinetralkan begitu saja" Ucap Fang Lin dengan nada yang sedikit kesal, Padahal dirinya sudah membeli arak yang memiliki kandungan 75% alkohol, Akan tetapi dia belum saja mabuk.
Setelah berbicara seperti itu, Tiba-tiba 2 orang yang memiliki rambut putih dan rambut kuning datang ke arah meja Fang Lin.
Fang Lin hanya mengabaikannya walaupun sudah mengetahuinya dan melihat langit malam dari luar jendela, Saat dua orang tersebut sampai di meja Fang Lin, Dengan santainya mereka duduk di hadapan Fang Lin sambil tersenyum.
"Permisi tuan... Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Tanya pria tampan berambut putih tersebut dengan sopan.
Fang Lin langsung merespon itu dan melihat ke arah kedua orang yang mendatanginya, "Apa yang ingin kau tanya?" Ucap Fang Lin sambil menatap kedua orang yang berada didepannya.
"Kami ingin menanyakan, Kalau tuan berasal dari mana?" Jawab pria berambut kuning dengan ramah.
__ADS_1
Fang Lin yang mendengar itu menaikkan satu alisnya, "Kalian menanyakan darimana asal ku tetapi kalian tidak memperkenalkan diri kalian sendiri, Apakah itu sopan menurutmu?" Tanya Fang Lin dengan sinis dan membuat kedua orang didepannya menjadi terdiam.
"Ah... Maafkan kami tuan, Perkenalkan... Saya adalah Gu Shen dan ini adik saya Gu Min" Ucap si berambut putih lalu menunjuk ke arah adiknya yang berambut kuning.
"Perkenalkan saya Gu Min" Ucap Gu Min sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.
Fang Lin hanya menganggukkan kepalanya pelan saat mendengar itu, "Aku Fang Lin dan aku berasal dari desa di kekaisaran Tang" Ucap Fang Lin memperkenalkan dirinya.
Gu Shen dan Gu Min yang mendengar pernyataan itu langsung terkejut, Karena bagaimana mungkin pria tampan didepannya adalah seorang pria yang berasal dari desa? Sudah jelas sekali dari pakaian mewah dan kulitnya semulus giok jika pria didepannya adalah bangsawan bahkan terlihat sebagai anggota kerajaan.
Gu Shen langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali, "Tuan Lin, Apakah kamu sedang berbohong?" Tanya Gu Shen yang masih mempertahankan senyumannya.
"Aku sudah menjawab pertanyaan mu dengan sejujurnya, Bisakah kau pergi? Aku sedang ingin sendiri" Ucap Fang Lin dengan nada malas.
~BRUKKK~
"Bukankah kakak ku sudah menanyakannya dengan baik-baik?! Kenapa kau ingin mengusir kami?! Cepat jawab jika ingin kepalamu tetap utuh!!" Teriak Gu Min dengan nada kesal lalu menaruh pedangnya tepat di leher Fang Lin, Dia paling tidak terima jika kakaknya diperlakukan seperti itu.
Seketika ruangan yang tadinya berisik langsung menjadi hening, Semua orang yang berada disana langsung melihat ke arah meja Fang Lin.
Fang Lin melirik pedang yang berada tepat dilehernya lalu tersenyum tipis, "Oh? Berani sekali kau mengancamku? Bahkan raja iblis saja bisa ku buat pingsan" Ucap Fang Lin santai dan tiba-tiba pedang yang sedang Gu Min pegang langsung hancur berkeping-keping.
~Cracck~
Pecahan pedang Gu Min langsung terjatuh ke lantai dan membuat seluruh orang yang disana melebarkan mata.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1