
Fang Lin yang masih menunggu Anna kembali mendengar suara berisik dari luar kelas, karena merasa penasaran ia menyebarkan Kesadaran Spiritual dan menemukan banyak perempuan sedang berdiri di lorong.
"Ada apa itu? Jangan bilang..."
Bam!
Pintu kelas terbuka lebar dan seorang pria yang tampaknya kesal langsung memandangi Fang Lin, "Hei, anak baru! Tolong urus para wanita itu, mereka datang untuk mencarimu!"
Pemuda itu adalah teman sekelasnya, sepertinya dia kesal karena ada banyak murid wanita dari berbagai kelas dan tahun ajaran memenuhi lorong.
Fang Lin tentu saja mengabaikannya tetapi ia diam-diam melakukan telepati pada Dulhan dan meminta bantuannya tentang masalah ini.
Beberapa saat setelah telepatinya dengan Dulhan selesai, beberapa Guru mulai berdatangan dan membubarkan rombongan murid perempuan yang kini sedang membicarakan dirinya.
Fang Lin hanya menyaksikan itu tanpa berbicara sedikitpun, begitupula dengan beberapa murid yang berada di dalam kelas.
Setelah itu berlalu, Anna datang sembari tersenyum. Dia mendekati meja Fang Lin, lalu tanpa banyak bicara langsung mengeluarkan makanan ringan dan minuman instan yang dipesan oleh pemuda itu.
"Wah... Terima kasih, Anna. Aku akan membalasmu suatu hari nanti." ucap Fang Lin berterima kasih.
"Hahaha... Aku menolongmu dengan tulus, jadi tidak perlu sampai membalasnya." Anna menanggapi sembari tertawa kecil, "Kalau begitu, aku akan kembali ke tempat dudukku. Selamat tinggal."
"Ya, selama tinggal." Fang Lin mengangguk pelan.
Setelah Anna pergi dari sana, Fang Lin yang hendak memakan makanan ringannya langsung terhenti ketika melihat segerombolan perempuan yang tidak lain murid kelasnya datang mendekati mejanya.
"Ah, ada apa ini?" Fang Lin bertanya sembari memasang ekspresi bingung.
"Hehehe... Kami ingin memberikan makan siang untukmu, Fang Lin!" jawab salah satu dari mereka dengan lantang.
Fang Lin sedikit mengerutkan alisnya, sebelum ia bisa mengatakan sesuatu-- ada berbagai macam makanan dan minuman diletakkan di mejanya.
"Selamat menikmati makan siangmu, Fang Lin!"
Mereka langsung pergi usai mengucapkan hal itu secara bersamaan.
Fang Lin sendiri menatap semua makanan dan minuman itu dalam diam, helaan nafas keluar dari mulutnya lalu mulai memakannya sebelum waktu istirahat habis.
"Wahh~ Enak sekali ya jadi populer." dari kejauhan William berdecak kagum, ia kemudian melirik ke arah Finn yang berada di sebelahnya, "Apakah kau tidak kesal setelah kepopuleranmu diambil olehnya?"
"Huh, apa yang kau bicarakan? Untuk apa aku merasa kesal?" Finn sama sekali tidak mengerti alasan William bertanya demikian.
"Siapa yang tau? Biasanya ada banyak murid perempuan yang datang ke mejamu tetapi sekarang sudah sangat jarang semenjak kedatangan murid baru itu." ucap William dengan santai.
"Ada-ada saja kau ini, aku malah senang kalau murid baru itu yang menjadi pusat perhatian di kelas. Dengan begitu, fokusku dalam latihan tidak akan terganggu lagi." Finn menanggapi sembari tersenyum, perasaan senang terlihat jelas di wajahnya.
Mendengar tanggapan positif dari temannya itu membuat William menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepalanya pelan, matanya kemudian melirik ke arah Albert yang sedari tadi melamun, "Oi, bocah besar. Apa yang sedang kau pikiran?"
__ADS_1
"Eh, tidak, aku tidak sedang memikirkan apapun." Albert tersentak, lalu menggelengkan kepalanya cepat.
"Kau aneh semenjak keluar dari Dungeon, apa.yang terjadi?" William bertanya, lalu menambahkan, "Apakah anak baru itu melakukan sesuatu padamu?"
"Aku tidak mau menceritakannya, ini cukup sulit untuk kubicarakan..." suara Albert terdengar pelan sembari menatap William dengan tatapan rumit.
Finn dan William sedikit mengerutkan alis mereka, tentu saja Albert mempunyai masalah dengan anak baru itu.
"Ceritakan saja, bukankah kami berdua adalah temanmu? Tidak perlu ragu." ucap Finn dengan mata yang menatap lurus ke pemuda berbadan besar itu.
William juga melakukan hal yang sama, ia cukup penasaran dengan apa yang diperbuat oleh Fang Lin sehingga membuat Albert bertingkah seperti itu.
Albert sendiri terdiam selama beberapa waktu sebelum mulai menceritakan situasi ketika dirinya berada di Dungeon dari awal hingga akhir.
......................
Setelah Finn mendengarkan cerita Albert, ia langsung menatap William dengan tatapan penasaran, "Apa kau memang mempunyai niat buruk dengan anak baru itu?"
Mata William sedikit bergetar ketika mendapati pertanyaan Finn, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menjawab, "Sepertinya anak baru itu yang terlalu sensitif, aku hanya menanyakan tempat tinggal kekasihnya saja dan dia berpikir kalau aku mempunyai niat buruk? Itu konyol."
Finn sendiri merasakan aneh ketika mendengar William menanyakan hal itu pada Fang Lin, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya karena berpikir kalau William hanya kebetulan bertanya saja.
"Omong-omong, membuat Albert tunduk hanya dengan niat membunuh... Siapa dia sebenarnya?" William bertanya-tanya, dia berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Finn sendiri mengetahui hal itu, namun ia memilih untuk diam dan kemudian melirik ke arah Fang Lin yang sedang makan dengan lahap.
"Entahlah... Tapi kupikir, tidak ada bagusnya untuk mengganggu dia." ucap Finn setelah terdiam sejenak.
"Sepertinya Finn tidak bisa kumanfaatkan, aku harus menemukan orang lain yang bisa mencari tau asal usul anak baru itu dan juga kekasihnya."
William menginginkan kekasih Fang Lin semenjak pertama kali melihat wanita itu dalam lukisan tersebut, tetapi ia tidak mau bertindak bodoh dan memilih memakai cara rapi.
***
Kelas akhirnya berlalu dan semua murid bisa kembali ke Asrama.
Fang Lin sendiri langsung pulang karena ia tidak mempunyai janji dengan siapapun.
Setelah sampai di kamar asramanya, Fang Lin berbaring di atas kasur dan memejamkan Kesadaran Spiritualnya yang mencangkup seluruh daratan Dunia Evangellion.
Saat ini, Fang Lin berniat mencari kota untuk menjadi tempat tinggal sementara keluarganya dan juga para bawahannya.
Fang Lin bisa menemukan makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya sedang melakukan berbagai macam aktivitas.
Setelah satu batang dupa terbakar, Fang Lin menarik kembali Kesadaran Spiritualnya dan menghela nafas panjang lewat mulut.
"Ada beberapa kota yang pas untuk ditinggali mereka, bukan kota besar tetapi mempunyai wilayah yang cukup luas dan pemimpin yang baik."
__ADS_1
Fang Lin tidak akan mencari kota besar untuk ditinggali keluarganya dan juga para bawahannya, salah satu alasannya adalah ia tidak ingin kehadiran mereka menarik perhatian orang-orang besar di Dunia Evangellion ini.
Setelah merencanakan semua persiapannya di masa depan nanti, Fang Lin bangkit dari tenpat tidurnya dan pergi ke kamar Arthur untuk melatihnya.
***
Waktu berlalu dengan sangat cepat, sudah dua minggu semenjak Fang Lin menjadi murid di cabang Akademi Bintang.
Fang Lin sudah berusaha untuk tidak menonjol setelah kejadian di Dungeon buatan, tentu saja ada beberapa masalah yang membuatnya sedikit kesal tetapi itu bisa ia hadapi tanpa harus membuat adanya korban jiwa.
Hari ini adalah hari terakhir Instruktur Argon mengajar di kelas ini. Dia sekarang sedang berdiri di balik podium dan menatap seisi kelas dengan tatapan tenang.
"Setelah dua minggu mengajar di kelas ini, aku bisa melihat kalau sebagian besar dari kalian sudah berkembang cukup pesat." Instruktur Argon berhenti sejenak usai mengucapkan itu, "Kalian mempunyai potensi besar, yang bahkan tidak kalah dengan murid di Cabang Utama. Aku harap, kalian terus memanfaatkan seluruh potensi kalian supaya bisa menjadi kuat dan membanggakan Akademi Bintang."
"Terima kasih atas ajarannya, Instruktur!"
Semua murid kelas berkata secara serempak, tak terkecuali Fang Lin sendiri.
Instruktur Argon tersenyum tipis, "Kalau begitu, kelas berakhir. Sampai jumpa... Semoga di masa depan nanti kita bisa bertemu kembali."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Instruktur Argon keluar dari kelas.
Fang Lin langsung berdiri ketika Instruktur Argon sudah keluar kelas, sebagian besar murid juga melakukan hal yang sama dan mereka beranjak pulang ke asrama.
"Fang Lin, tunggu..."
Suara perempuan memanggilnya dari belakang, Fang Lin mengenali suara tersebut dan ia menoleh ke arah samping.
"Apakah kamu punya waktu luang?" Anna bertanya sembari tersenyum.
"Kenapa memangnya?" Fang Lin sedikit mengangkat alisnya.
"Aku mau mengajakmu makan malam." jawab Anna cepat.
Fang Lin terdiam sejenak mendengar itu sebelum menganggukkan kepalanya pelan, "Hm, kalau begitu, mari pergi."
Senyum Anna semakin melebar, mereka berdua kemudian pergi keluar bersama tanpa peduli banyak murid yang menatap keduanya.
"Ugh... Apakah mereka berdua pacaran?"
"Itu tidak mungkin, Fang Lin mempunyai kekasih yang jauh lebih cantik dari Anna."
"Bisa saja dia selingkuh, bukan?"
"Aku tidak tau, tapi kurasa Fang Lin bukan orang yang seperti itu."
Para murid perempuan mulai membicarakan Fang Lin dan Anna sembari menatap punggung mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.