
Di tengah-tengah pertarungan, ada orang lain yang menghampiri mereka berdua. Penampilannya seorang kakek tua berambut putih, wajahnya berkeriput dan memakai baju serta jubah putih polos.
Meskipun terlihat rentan, tetapi sebagian besar orang bisa memperkirakan kalau dia adalah seorang Kultivator kuat termasuk Fang Lin sendiri.
"Oh, pak tua itu... Dia lebih kuat daripada dua kultivator paruh baya yang sedang bertarung." suara Fang Lin terdengar tertarik.
Kemudian Fang Lin bisa melihat kalau kakek tua tersebut berhasil menengahi pertarungan dengan cara mendominasi mereka berdua, itu adalah cara yang efektif di Dunia yang memakai hukum rimba.
Setelah itu, makanan yang Fang Lin pesan dibawa datang oleh pelayan perempuan, ekspresinya datar saat datang maupun pergi dan entah kenapa hal itu membuatnya sedikit kecewa.
Namun Fang Lin tidak memikirkan itu lebih jauh dan ia langsung memakan makanan di meja dengan lahap.
Selama di kedai ini Fang Lin sama sekali tidak menemukan informasi berharga sedikitpun, bahkan tidak ada di antara mereka yang membicarakan masalah kota ini.
Fang Lin kemudian mencari tau pembayaran macam apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang di kota ini, dirinya menemukan kalau mereka menggunakan keping emas untuk melakukan transaksi.
Karena sudah mengetahuinya, Fang Lin menggunakan skill Creator untuk menciptakan koin emas tersebut. Dia tanpa basa-basi langsung memanggil pelayan sesaat setelah menyelesaikan makanannya, lalu pergi dari sana ketika pelayan yang datang padanya menerima uangnya.
***
Karena tidak menemukan sesuatu yang menarik Fang Lin langsung pergi dari kota itu, dia juga menyebarkan Kesadaran Spiritualnya sampai radius seratus kilometer untuk mencari tau keadaan sekitarnya.
Baru beberapa menit setelah Fang Lin melesat terbang, jauh berada di depannya ada seorang kakek tua yang berhenti sambil mengeluarkan aura mendominasi.
Ketika Fang Lin sudah mempersempit jarak sampai belasan meter, ia berhenti karena tampaknya orang tua itu sedang menunggunya.
Kakek tua itu adalah sosok yang menengahi pertarungan di antara dua paruh baya sebelumnya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu dariku, pak tua?" Fang Lin bertanya dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
"Entahlah, bagaimana menurutmu?" kakek tua itu memberikan jawaban yang ambigu sehingga membuat Fang Lin memutuskan untuk diam.
Keheningan berlangsung selama satu batang dupa terbakar, kakek tua itu menghela nafas sebelum bertanya, "Berada di mana tingkat kultivasimu?"
Fang Lin tidak menjawab dan mencoba untuk membaca ingatan kakek tua di depannya, tetapi dia tampaknya cukup sensitif sehingga aura mendominasi yang merembes keluar dari tubuhnya semakin membesar.
"Apa yang hendak kau lakukan, bocah?" kakek tua itu memasang ekspresi dingin.
Fang Lin sebenarnya cukup terkejut tetapi memilih untuk tidak mengekspresikannya, "Aku baru datang ke Alam Semesta ini, jadi aku belum mengetahui sistem kekuatan di sini." Fang Lin akhirnya memutuskan untuk jujur, siapa tau dirinya bisa mengorek informasi dari kakek tua di depannya.
"Benarkah? Tapi, bukankah di setiap Alam Semesta mempunyai basis kultivasi yang sama? Apa kau benar-benar dari Alam Semesta lain?" kakek tua itu tampak curiga.
Fang Lin diam-diam tersenyum kecut, itu adalah informasi yang baru baginya. Ternyata Multiverse ini murni mempunyai kekuatan Kultivasi.
"Aku benar berasal dari Alam Semesta lain, tapi aku tidak pernah ingat kalau aku mengatakan Alam Semesta itu ada di Multiverse ini." jelas Fang Lin dengan tenang.
Mata kakek tua itu sedikit melebar selama beberapa saat, "Begitu, ya? Itu cukup mengejutkan."
Kakek tua itu mengangguk beberapa kali seolah sedang memahami sesuatu dalam pikirannya, ketika ia hendak mengatakan sesuatu-- pemuda di depannya lebih dulu mengajukan sebuah pertanyaan.
"Jadi, ada berapa ranah kultivasi di Dunia ini?" tanya Fang Lin penasaran.
"Apa kau penasaran?"
"Tentu saja, itu akan menjadi informasi yang berharga untukku.
Kakek tua itu terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ranah kultivasi di Multiverse ini ada enam. Dimulai dari Mortal Ascension, Profound Immortal, Golden Soul, Saint, Heavenly God dan yang terakhir Supreme Being."
'Eh?" Fang Lin sedikit bereaksi, lalu bertanya, "Lalu dibagi berapa tingkat dari setiap ranah?"
__ADS_1
"Setiap ranah dibagi menjadi lima belas tingkat, tetapi untuk Supreme Being hanya ada empat tingkat saja antara lain, rendah, menengah, tinggi dan puncak." jawab kakek tua menjelaskan.
Fang Lin terdiam dalam waktu yang cukup lama sampai melepaskan hawa keberadaannya sampai batas tertentu sehingga membuat kakek tua itu sedikit terkejut.
"Kalau begini, aku berada di ranah apa?" Fang Lin bertanya karena merasa penasaran.
Kakek tua itu menatap Fang Lin dengan serius sebelum menjawab, "Mungkin sekitar Golden Soul tingkat dua."
"Begitu, ya? Dewa Pemula di tempatku setara dengan Golden Soul." Fang Lin mengangguk paham, dan ia sedikit meningkatkan hawa keberadaannya sampai Dewa Perunggu, "Biar aku tebak, kalau sekarang aku berada di ranah Saint?"
Fang Lin bertanya demikian dan membuat kakek tua di hadapannya tersentak dari lamunannya, "Itu benar..."
Fang Lin mulai mengerti gambaran besarnya dan ia menangkupkan tangannya untuk menunjukkan rasa hormatnya, "Terima kasih atas informasi yang kau berikan, pak tua."
Kakek tua itu menjadi sedikit gugup, meskipun dirinya adalah seorang Saint tetapi melihat pemuda di depannya tampak tenang saat menunjukkan hawa keberadaannya cukup membuatnya terkejut.
"Sama-sama..." jawab kakek tua itu.
Fang Lin tentu menyadari kegugupannya tetapi ia tidak menghiraukannya dan bertanya, "Lalu, apa alasanmu menghalangiku, pak tua? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"
"Ya, sebenarnya aku cukup penasaran akan sesuatu."
"Apa itu?"
"Bagaimana bisa tubuhmu menyerap semua energi di Dunia ini dalam posisi kesadaran penuh?" tanya kakek tua itu penasaran.
"Ah, kau bisa melihatnya?" Fang Lin sebenarnya cukup terkejut, padahal dirinya sudah berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin, "Aku mempunyai dua tubuh spesial, namanya adalah tubuh Tak Terbatas dan tubuh Terlarang. Karena hal itu, aku bisa menjadi sekuat ini di usia semua ini."
Fang Lin tidak berusaha berbohong mengenai fakta tentang tubuh spesialnya.
Kakek tua itu langsung menahan nafasnya ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh Fang Lin.
"Mustahil, dua tipe tubuh itu benar-benar ada ternyata?!"
Kakek tua itu menenangkan dirinya selama beberapa waktu, lalu menangkupkan tangannya ke arah Fang Lin, "Tubuhmu benar-benar berkah dari Surga, teman Dao. Aku sungguh takjub sekaligus iri."
Ketika kakek tua itu berkata demikian, Fang Lin langsung mengerutkan alisnya dan membuat orang tua itu sedikit keheranan.
"Apa ada yang salah dengan perkataanku? Apakah kau tidak suka dipanggil 'Teman Dao' oleh orang asing?" kakek tua itu bertanya-tanya, ia tidak berniat membiat Fang Lin tersinggung.
"Tidak, tidak. Aku hanya penasaran, apa itu teman Dao? Aku belum pernah mendengarnya sekalipun." ucap Fang Lin menjelaskan.
Kali ini, kakek tua itu yang mengerutkan alisnya, ia tidak pernah berpikir kalau Fang Lin tidak mengetahui hal paling dasar dalam Dunia Kultivasi.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
Note: kira-kira begini perbandingannya.
Tingkatan Kultivasi (Prajurit Dewa) -- Golden Soul
- Dewa Pemula (1-19)
- Dewa Hijau (1-19)
- Dewa Kuning (1-19)
- Dewa Biru (1-19)
__ADS_1
- Dewa Merah (1-19)
- Dewa Hitam (1-19)
- Dewa Terakhir (1-19)
Tingkatan Kultivasi (Jendral Dewa) -- Saint
- Dewa Asal Mula (1-29)
- Dewa Perunggu (1-29)
- Dewa Perak (1-29)
- Dewa Baja (1-29)
- Dewa Emas (1-29)
- Dewa Kristal (1-29)
- Dewa Giok (1-29)
Tingkatan Kultivasi (Raja Dewa) -- Heavenly God
- Dewa Petarung (1-39)
- Dewa Sejati (1-39)
- Dewa Bumi (1-39)
- Dewa Langit (1-39)
- Dewa Kuno (1-39)
- Dewa Tertinggi (1-39)
Tingkatan Kultivasi (Kaisar Dewa) -- Heavenly God
- Dewa Tahta (1-49)
- Dewa Dunia (1-49)
- Dewa Nirwana (1-49)
- Dewa Penguasa (1-49)
Tingkat Keabadian (Immortal God) -- Supreme Being
- Dewa Surgawi (1-59)
- Dewa Abadi (1-59)
- Dewa Mutlak (1-59)
- Dewa Semesta (1-59)
Tingkat Kemutlakan (Absolute)
- Absolute Universe
__ADS_1
- Celestial Absolute
- High Absolute