
"Ikuti aku..." Fang Lin berjalan menjauh dari sana, ia pergi ke tempat yang redup dengan cahaya api unggun.
Yohan sendiri tidak memikirkan apapun dan mengikuti pemuda bermantel hitam itu dari belakang.
Setelah mereka sudah berjarak beberapa puluh meter dari rombongan, Fang Lin berhenti melangkahkan kakinya-- begitu juga Yohan.
"Ayo pemula, buka kupluk mantelmu." Yohan tersenyum tipis, ia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Tentu, berdirilah di depanku. Meskipun kita sudah cukup jauh, tapi ada kemungkinan orang lain memperhatikan secara diam-diam dari jauh." Fang Lin membalasnya dengan tenang.
Yohan mengangguk paham, lalu berjalan dan berhenti ketika sudah berhadap-hadapan dengan Fang Lin.
"Aku harap kau memegang perkataanmu." Fang Lin memegang sisi kupluknya, lalu perlahan membukanya sembari mengangkat kepala.
Yohan yang sedari tadi tenang, melebarkan matanya karena terkejut. Jantungnya seakan berhenti sesaat ketika mendapati wajah Fang Lin yang sangat tampan.
"S-sialan... Ternyata kau tidak membual, ya." Yohan benar-benar tak menyangka, padahal dirinya sudah memperkirakan beberapa kemungkinan tetapi hal ini jauh melampaui ekspetasinya.
Fang Lin hanya tersenyum untuk menanggapi itu, ia dapat merasakan beberapa pasang mata yang sedang menatapnya dari arah rombongan. Karena posisinya membelakangi mereka, ia hanya akan memperlihatkan rambut putih dan juga tengkuk leher yang mulus.
"Ternyata mereka tidak sepenasaran itu, kupikir akan ada orang yang memakai Kesadaran Mana untuk melihat wajahku dengan jelas." Fang Lin berkata dalam hati, ada sedikit kekecewaan dalam hatinya.
"Baiklah, baiklah... Aku percaya padamu, pemula!" Yohan tersenyum sembari memegang kedua pundak Fang Lin, kemudian dia pergi dari sana dan meninggalkannya.
"Hm?"
Sesaat setelah Yohan pergi, ada seseorang yang menggunakan Kesadaran Mana untuk mengetahui wajah Fang Lin.
"Hahaha... Kau tampaknya juga penasaran dengan wajahku, Colin." Fang Lin jelas langsung mengetahui asal-usul Kesadaran Mana tersebut, tetapi dirinya akan memilih untuk tidak menghiraukannya.
Fang Lin memakai kupluknya kembali, lalu kembali ke arah rombongan.
Di sisi lain, Yohan tertawa cukup lantang sembari berjalan kembali ke api unggun, tentu saja hal tersebut mengundang perhatian Yuna, Colin dan Tiger-- sedangkan sisanya bertindak acuh tak acuh.
Ketika Yohan sudah kembali ke tempat duduknya, ia membuat sebuah pernyataan, "Sepertinya di dalam grup ini, posisi Merlin sebagai orang tampan nomor satu sudah disingkirkan."
__ADS_1
Mendengar hal itu hanya beberapa orang saja yang bereaksi, seperti Tiger, Yuna dan Colin. Merlin dan Gwen tetap memperlihatkan ekspresi datar, sedangkan Rian sudah tertidur pulas sesaat setelah api unggun diciptakan.
"Benarkah?! Apakah wajah pemula itu sangat tampan?!" Tiger bertanya, dia tidak menatap Yohan melainkan Fang Lin di kejauhan yang duduk bersandar di samping Colin.
Yuna juga bereaksi tetapi dia tidak sampai pada tahap bertanya.
"Ya, ya. kenapa juga aku berbohong." Yohan menyeringai, matanya teralih kepada Merlin, "Hohoho... Seperti biasanya, kau tidak peduli dengan hal semacam ini, Merlin."
"Hentikan omong kosongmu, Yohan. Apa kau tidak ingin beristirahat?" Merlin tidak menatap lawan bicaranya, dan perhatiannya terus mengarah ke api unggun.
"Tentu saja aku mau, tapi tidak sekarang. Aku masih cukup segar saat ini." Yohan tidak memudarkan seringainya, lalu perhatiannya teralih pada Gwen.
Yohan tidak mengatakan apapun, tetapi dirinya tau kalau Gwen sepertinya cukup penasaran tentang pemula.
Di sisi lain, Colin yang mendengar pembicaraan mereka langsung menatap ke arah Fang Lin yang ada di sebelahnya, "Sepertinya kau memang benar-benar tampan, ya? Tidak biasanya Yohan memuji orang lain."
Colin tampaknya tidak berniat memberitahu kalau dia sudah melihat wajah Fang Lin lewat Kesadaran Mana.
"Hahaha... Begitulah, aku tidak pernah berbohong, bukan?" Fang Lin menanggapi sembari tertawa kecil.
"Sepertinya iya..." Colin mengangguk pelan, lalu melanjutinya, "Omong-omong, apakah kau tidak ingin beristirahat?"
Fang Lin melakukan posisi meditasi, lalu memejamkan matanya perlahan.
"Eh, apa kau beristirahat dengan posisi semacam itu? Memangnya bisa, ya?" Colin bertanya-tanya sembari memperhatikan postur Fang Lin, dia bisa melihat sedikit wajah orang itu dari samping.
"Aku sudah terbiasa dengan postur semacam ini untuk beristirahat." Fang Lin menjawab dengan tenang.
"Baiklah jika itu membuatmu nyaman, selamat malam." Colin tidak bertanya lebih jauh lagi, lalu sedikit menjauhkan dirinya dari Fang Lin dan melakukan posisi berbaring.
***
Keesokan harinya, mereka kembali melakukan perjalanan menggunakan kuda peliharaan Merlin.
"Tunggu... Kenapa buntu?" Merlin bertanya-tanya karena dia adalah satu-satunya orang yang menyebarkan Kesadaran Mana.
__ADS_1
Gwen mengerutkan alisnya, ia tidak bertanya lebih jauh dan ikut menyebarkan Kesadaran Mana-nya ke depan.
Beberapa saat kemudian, Gwen menghentikan rombongan dan perhatiannya langsung tertuju pada Yuna.
"Kenapa bisa salah, Yuna? Bukankah kau sudah memeriksanya?" Gwen bertanya, ia sedikit memiringkan kepalanya.
"Benarkah? Seharusnya di depan bukanlah jalan yang buntu, ini sangat aneh." raut wajah Yuna tampak kebingungan, ia kemudian memutuskan untuk melakukan kembali sihir deteksi.
Setelah beberapa waktu, cahaya yang keluar dari tubuh Yuna mulai menghilang dan ia menatap Gwen dengan tatapan bersalah, "Maafkan aku, kita sepertinya telah salah jalan." ucapnya dengan suara pelan, "Aku benar-benar minta maaf... Aku sama sekali tidak mengerti, seharusnya ini adalah jalan yang benar tetapi entah kenapa bisa berubah."
Gwen terdiam sejenak dan raut wajahnya terlihat serius, ia memikirkan beberapa spekulasi di dalam otaknya sekarang.
"Sepertinya ini bukan kesalahan dari sihir Yuna, tetapi pola jalur labirinnya yang berubah." Gwen bergumam, suaranya sangat pelan dan hanya bisa didengar oleh dirinya seorang saja, "Namun untuk sekarang, kesampingkan masalah tersebut."
Gwen kemudian meminta Yuna untuk memberitahu jalan yang benar. Merlin tetap berada di barisan paling depan untuk berjaga-jaga jika ada serangan mendadak.
......................
Waktu berlalu selama beberapa jam, rombongan Gwen berhenti ketika Merlin mengumumkan kalau ujung jalan yang ada di depan mereka adalah jalan buntu.
Yuna sendiri tidak bisa untuk tidak terkejut ketika mendengarnya, ia tak menyangka kalau dirinya mengalami kesalahan untuk yang kedua kalinya.
Melihat raut wajah Yuna membuat Gwen menjelaskan spekulasi yang sudah dipikirkannya sedari tadi.
"Sepertinya sihirmu tidak salah, Yuna. Pola jalur labirin ini sepertinya akan berubah dalam waktu tertentu, aku meyakini kalau perubahan jalur labirin akan berubah setiap jam-nya." Yuna menjelaskan, suaranya tenang dan sedikit lantang.
"Eh, bukannya itu menjadi aneh? Kemarin perjalanan kita lancar-lancar saja." Tiger sama sekali tidak mengerti.
"Ini hanyalah spekulasi tanpa bukti, aku tidak mengatakan kalau apa yang kupikirkan itu benar." jawab Gwen.
"Lalu, kita mau bagaimana?" Yohan bertanya sembari meregangkan tubuhnya.
"Kita akan menunggu di ujung jalan buntu labirin ini, dan memastikan sendiri perubahan yang ada." jawab Gwen, lalu segera melanjutinya, "Tapi itu tidak pasti, karena aku sendiri tidak tau-- seberapa besar skala perubahan pola jalur labirinnya."
Gwen mendiskusikan beberapa pemikirannya kepada seluruh anggota, lalu mereka semua memutuskan untuk menunggu di ujung jalan buntu dan membuktikan perubahan pola jalur dungeon.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.