
Setelah keluar dari Serikat Pemburu, Fang Lin berjalan-jalan tanpa ada tujuan yang jelas. Pandangannya mengarah ke langit malam yang begitu sunyi, entah kenapa ia mulai berpikir untuk mencapai ranah Absolute.
"Butuh waktu ratusan ribu tahun lagi sebelum Turnamen sialan itu dimulai, aku penasaran sudah sekuat apa diriku pada saat itu?" Fang Lin termenung sejenak sebelum menghela nafas panjang, sulit baginya untuk membayangkan hal tersebut.
Fang Lin kemudian menepis seluruh pemikirannya tersebut dan menikmati suasana malam ini.
......................
Pagi telah tiba dan sinar matahari perlahan menyinari kota Heinz, sebagian besar penduduk mulai melakukan aktivitas mereka seperti biasanya.
Saat ini, Fang Lin sedang duduk di atas batang pohon rindang sembari memakan apel segar ciptaannya.
Karena Fang Lin mempunyai skill Creator, ia sudah sering melakukan eksperimen ke berbagai makanan yang pernah dirinya makan.
Salah satunya adalah, Fang Lin menciptakan sebuah apel, tetapi mempunyai rasa seperti durian. Memang terdengar aneh, namun rasanya luar biasa enak.
Ketika Fang Lin menikmati suasana ini dengan santai, alisnya sedikit terangkat ketika boneka bayangannya yang diperintahkan untuk menjaga Yuna sementara waktu sudah kembali.
"Lapor, Raja. Perempuan yang bernama Yuna sudah kembali ke rumahnya dalam keadaan aman." ucap boneka bayangan, lalu mulai menjelaskan situasinya lebih lanjut secara rinci.
"Bagus."
Setelah mendengar laporan dari boneka bayangannya, Fang Lin menganggukkan kepalanya perlahan.
"Yuna seharusnya belum tau kalau kelompoknya telah mengkhianatinya sedari awal, apakah dia dengan bodoh akan bertanya pada mereka atau menyelidiki peristiwa yang terjadi padanya secara diam-diam?"
***
Keesokan harinya.
Fang Lin datang ke Serikat Pemburu dan kemudian duduk di salah meja yang ada di sana, kemudian dirinya melakukan telepati pada Vulhan dan mengatakan bahwa dirinya sedang duduk di lantai dasar.
Tidak sampai satu menit, seseorang memanggil Fang Lin dan kemudian membawanya ke ruangan Vulhan.
Ketika Fang Lin memasuki ruangan tersebut, ia melihat kalau Vulhan tidak sendiri melainkan bersama seorang kakek tua lainnya.
Mereka berdua mempunyai lautan Mana yang hampir seimbang, tetapi kakek tua asing itu satu langkah lebih banyak dari Vulhan.
"Selamat datang, Pemburu Fang Lin."
Setelah pintu tertutup, Vulhan langsung menyapa Fang Lin sembari tersenyum ramah.
__ADS_1
Fang Lin berjalan mendekati kedua kakek tua itu dan kemudian berdiri di hadapan mereka berdua, ia tidak mengeluarkan satu patah katapun karena masih belum mengerti dengan situsasi sekarang ini.
"Perkenalkan, saya adalah Dulhan, seorang kepala sekolah dari cabang Akademi Bintang."
Kakek tua itu tersenyum hangat ketika memperkenalkan dirinya sendiri.
"Ah, namaku adalah Fang Lin. Salam kenal, pak tua." Fang Lin juga ikut memperkenalkan diri, meskipun ia yakin kalau kakek tua itu sudah mengenali dirinya.
"Begini, Pemburu Fang Lin. Dulhan adalah temanku... Setelah aku membicarakan dirimu yang ingin masuk ke dalam akademi, dia setuju untuk membantumu." ucap Vulhan menjelaskan situasinya, lalu menambahkan, "Jadi dirimu tidak perlu melewati pemeriksaan wajib untuk mendaftar, tetapi statusmu nantinya akan berada di dalam pengawasan kepala sekolah."
"Tapi itu akan menarik perhatian para pengajar yang mengajar di sana, bukan? Pasti akan merepotkan..." Fang Lin menggeleng pelan seolah dirinya menolak usulan tersebut.
"Itu tidak akan terjadi, Tuan pemburu. Yang mengetahui ini hanya saya seorang saja." Dulhan langsung menanggapi.
Fang Lin terdiam selama beberapa waktu untuk berpikir, kemudian bertanya, "Apa alasanmu membantuku?"
Fang Lin tidak sepolos itu, selain Vulhan adalah temannya, pak tua bernama Dulhan ini pasti mempunyai alasannya tersendiri untuk membantu dirinya.
"Ah, itu... Aku hanya penasaran bagaimana kau dan Vulhan bisa sedekat ini, mengingat dirimu baru mendaftar menjadi Pemburu minggu lalu, aku tidak yakin Vulhan mau melakukan hal merepotkan seperti ini untuk pemburu baru sepertimu." Dulhan memberitahu alasannya tanpa berbohong sedikitpun.
"Begitu, ya..." Fang Lin tidak terlalu terkejut mendengarnya, memang aneh kalau Vulhan bersedia membantunya tanpa ada alasan yang jelas apalagi dirinya adalah seorang Pemburu baru di serikat ini, "Kenapa kau tidak bertanya langsung pada dia saja?"
"Yah, dia sudah berjanji padaku untuk tidak memberitahu tentangku kepada orang lain." Fang Lin menyahuti, kemudian menambahkan, "Vulhan tertarik padaku karena aku lebih kuat darinya."
Alis Dulhan seketika mengerut ketika mendengarnya, "Kau... Lebih kuat dari Vulhan?"
Fang Lin tidak menanggapi melainkan memindahkan mereka berdua ke dimensi kekosongan tanpa batas.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Fang Lin mengejutkan mereka berdua.
"Apakah kau berpikir kalau pemburu tingkat Gold bisa melakukan hal semacam ini?" Fang Lin tersenyum tipis, dan membuat kedua kakek tua itu tersentak.
Dulhan terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan, "Aku mengerti... Tampaknya Vulhan ingin membangun relasi denganmu, ya? Kau seperti permata yang akan menyinari Serikat Pemburu kelak."
"Sayangnya, Pemburu Fang Lin tidak bisa membangun relasi denganku." ucap Vulhan sembari menggeleng pelan.
"Apa?!" Dulhan cukup terkejut, lalu menanyakan alasannya.
"Pemburu Fang Lin bukan dari dunia ini, suatu saat nanti dia akan kembali ke tempatnya berasal." jawab Vulhan memberitahu.
Fang Lin tidak mengatakan apapun ketika Vulhan berkata demikian, ia kemudian menimpali, "Dia bilang kalau bantuannya terhadapku hanya untuk dijadikan sebagai kenangan sebelum aku pergi dari dunia ini."
__ADS_1
"Kenangan? Apa benar begitu?" Dulhan bertanya, ekspresi terlihat sedikit tak percaya.
Vulhan tersenyum lalu mengangguk pelan, ia kemudian memberitahu alasannya, "Aku merasa pemburu Fang Lin adalah orang yang sangat hebat. Dia terasa berbeda dari orang-orang kuat yang pernah kutemui sebelumnya, jadi aku memutuskan untuk membantunya tanpa menerima imbalan apapun dari dia."
Suasana hening sejenak ketika Vulhan menyelesaikan kata-katanya. Dulhan sendiri diam-diam menghela nafas panjang sembari menggeleng pelan, "Kau dari dulu memang punya pemikiran yang sulit untuk dipahami."
"Hahahaha... Aku senang kau berpikir seperti itu." Vulhan langsung tertawa kecil.
"Baiklah, Tuan pemburu. Karena aku sudah menemukan jawab atas pertanyaanku, aku akan membantumu memasuki akademi." ucap Dulhan dengan tenang.
"Terima kasih, pak tua. Kalau begitu sebelum kita kembali, bisakah kau berjanji satu hal padaku?"
"Hm, apa itu?"
"Jangan menceritakan diriku kepada siapapun."
"Tentu, aku berjanji.
Fang Lin mengangguk pelan dan tidak berkata lebih jauh, ia kembali memindahkan mereka berdua ke ruangan Vulhan sebelumnya.
Setelah kembali, mereka bertiga saling bertukar kata selama beberapa menit.
"Datanglah besok ke Akademi, aku akan menempatimu di kelas 1-D sesuai dengan yang dirimu inginkan." ucap Dulhan sembari tersenyum.
Fang Lin mengangguk pelan, "Ya, aku mengerti."
Dulhan tersenyum dan kemudian berpamitan pada mereka berdua sebelum melakukan teleportasi.
Setelah itu, hanya ada Fang Lin dan Vulhan saja di ruangan ini.
"Omong-omong, pak tua. Apakah Dulhan akan menepati janjinya?" tanya Fang Lin penasaran.
Vulhan mengangguk sekali dan menjawab dengan percaya diri kalau Dulhan akan menepati janjinya.
"Baiklah, aku senang mendengarnya. Karena jika dia menepati janjinya, aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenagaku." ucap Fang Lin tenang, lalu keluar dari ruangan itu.
Vulhan mematung selama beberapa waktu setelah mendengar ucapan dari Fang Lin, "Apakah itu... Sebuah peringatan?"
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1