System Sang Immortal

System Sang Immortal
Labyrinth of The Death VIII


__ADS_3

"Ada yang aneh..." Wyvern berkata dalam hati, lalu melanjutinya setelah berhasil memeriksa Mana dari semua manusia itu, "Hanya ada satu orang saja yang Mana Circle-nya di tingkat sepuluh, sedangkan sisanya berada di bawah itu."


"Apa ada seorang Penyihir kuat yang sedang menyamar? Tapi itu mustahil, meskipun Penyihir tersebut mempunyai Mana Circle yang lebih tinggi dariku, aku pasti bisa merasakannya meskipun dia sudah berusaha menyembunyikannya. Kalaupun semisalnya ada Pneyihir yang bisa melakukannya tanpa kudasari, Tuan yang sudah mengamati mereka dari awal pasti akan memperingatkanku sebelum aku pergi kemari."


Wyvern terdiam cukup lama dan mencoba untuk memikirkan segala kemungkinan yang terpikirkan olehnya.


Di sisi lain, Tiger terjatuh duduk dengan nafas memburu sedangkan Merlin masih menatap waspada Wyvern yang berada jauh di depannya.


"Kalian... Apa kalian baik-baik saja?" Gwen langsung bertanya setelah sampai di tempat mereka berdua, raut wajahnya terlihat khawatir-- dan itu lebih ditunjukkan pada Merlin.


"Ya, kami baik-baik saja." jawab Merlin tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kita beruntung, Wyvern itu tiba-tiba saja menghentikan serangannya tanpa alasan yang jelas." Tiger menambahkan.


Gwen tidak mengatakan apa-apa dan matanya menatap ke Wyvern yang masih diam di tempatnya, "Dia sangat kuat, kemungkinan besar Mana Circle-nya berada di atas kita semua."


"Aku setuju." Merlin mengangguk pelan, lalu berkata dengan tenang, "Sepertinya kita harus mundur untuk sementara waktu, kita harus memikirkan rencana yang matang terlebih dahulu."


"Tidak mungkin Wyvern itu akan mengabaikan kita." ucap Tiger cepat, dan segera menimpalinya, "Kita semua sudah kehabisan banyak Mana, aku sudah terluka-- begitupula dengan Merlin. Yuna juga mustahil untuk menyembuhkan kita mengingat sebagian besar Mana-nya sudah dihabiskan untuk sihir deteksi."


Gwen terdiam sejenak dan raut wajahnya begitu serius, semua perkataan Tiger itu benar-- mereka tidak bisa kabur dari Wyvern tersebut dan juga mengalahkannya adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.


"Sepertinya aku harus mengeluarkan Kerberos, meskipun aku tidak tau kekuatannya secara pasti-- tetapi aku yakin kalau dia pasti lebih kuat dari Wyvern itu." Merlin berkata, dan hendak membuka portal dimensinya.


Tetapi niat Merlin langsung diurungkan ketika Wyvern tersebut mengangkat sayapnya dan mulai terbang ke langit.


"Tsk, aku harus segera mengeluarkannya." Merlin berdecak kesal dan mulai bersiap, namun Gwen mengangkat tangannya seolah memberi tanda untuk berhenti, "Ada apa?"


Ketika Merlin bertanya demikian, Gwen menunjuk ke atas langit biru yang sudah tidak terdapat Wyvern lagi.


"Dia... Kabur." ucap Gwen, nadanya terdengar ragu.

__ADS_1


"Apa...?" Tiger dan Merlin berkata dalam waktu yang bersamaan, mereka sangat terkejut sekaligus bingung.


"Melihat dia menghentikan serangannya di saat terakhir, ada dua kemungkinan yang ada." Gwen menenangkan dirinya dan mencoba menebak apa yang terjadi, "Yang pertama, dia sudah kehabisan Mana dan kembali untuk memulihkannya. Kedua, dia sengaja pergi karena ingin membiarkan kita semua hidup dan menghiburnya kembali di pertempuran selanjutnya."


Bam!


Tiger memukul lantai labirin hingga retak, ia menggertakkan giginya dan bangkit berdiri, "Brengsek itu ternyata meremehkan kita, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."


Tiger berjalan pergi ke rombongan setelah berbicara demikian, dia merasa sangat marah karena telah diremehkan. Menurutnya, kematian jauh lebih baik daripada harus diperlakukan seperti itu.


Gwen hanya menatap Tiger dalam diam, sedangkan Merlin menyimpan kembali pedangnya di Soul Storage lalu melangkah pergi dari sana.


"Lebih baik kita beristirahat dan memulihkan Mana kita kembali." Merlin berkata, tanpa menoleh ke belakang.


Gwen mengangguk pelan dan mengikuti Merlin dari belakang, ia menatap ke langit sebelum menghembuskan nafasnya dari mulut, "Apa Dungeon tingkat empat memang sesulit ini?" Gwen bergumam sembari memejamkan matanya perlahan.


......................


"Apa dia sebenarnya adalah bos Dungeon?" Yohan yang sudah mendengar situasi sebelumnya langsung bertanya.


Suasana hening sejenak ketika Yohan menanyakan hal tersebut, sampai akhirnya Gwen menjawab setelah memikirkannya selama beberapa saat, "Kemungkinan besar, iya. Karena ini adalah Dungeon tingkat empat, rasanya mustahil kalau dia bukanlah boss-nya."


"Begitu, ya." Yohan mengangguk serius, lalu berkata, "Di pertarungan selanjutnya, lebih baik aku ikut berpartisipasi. Kita mungkin bisa mengalahkannya jika bekerja sama dengan baik."


"T-tapi, bagaimana dengan kami?" Yuna mengangkat satu tangannya, raut wajahnya terlihat gelisah, "Jika Wyvern itu mengubah target dan berniat lebih dulu menghabisi orang-orang lemah sepertiku, maka melakukannya bukanlah sesuatu yang sulit bagi dia."


"Yuna benar, nyawa mereka bisa terancam jika kau tidak berada di barisan belakang." Gwen membenarkan perkataan wanita berambut pirang itu.


"Santai saja, kita hanya perlu menghabisi dia sebelum mengubah targetnya." Yohan menanggapi sembari melipat kedua tangannya di depan dada, nadanya terdengar sangat yakin.


"Kau pikir akan semudah itu? Dia sangat kuat, mengalahkannya dengan cepat adalah sesuatu yang terdengar mustahil." Tiger membalasnya acuh tak acuh.

__ADS_1


"Hm, kau tidak yakin? Tiger, apa kau menjadi tidak percaya diri setelah gagal membunuhnya?" Yohan bertanya dengan nada yang terdengar mengejek.


"Huh? Apa kau bilang!?" Tiger mengeluarkan aura intimidasi, dan membuat lantai labirin yang dipijakinya retak.


"Kau tuli atau apa? Haruskah aku mengulangi perkataanku?" Yohan kembali bertanya tanpa mengubah nada mengejeknya.


"Bocah brengsek, untuk orang yang hanya mengamati dari jauh-- berani bertingkah sombong?!" Tiger melangkah mendekati Yohan dan hendak menghajarnya, tetapi Merlin berdiri di antara mereka berdua sembari memasang raut wajah dingin.


"Kalian tidak berpikir untuk bertengkar di situasi sekarang ini, bukan?" Merlin bertanya, meskipun suaranya cukup kecil tetapi bisa didengar oleh semua anggota grup yang ada di sana.


"Aku ingin memukul pecundang itu! Berani sekali dia mengejekku ketika dia sendiri tidak berbuat apapun dalam pertarungan itu!" Tiger mengumpat keras sembari melototi Yohan.


Yohan sendiri tertawa kecil sebelum membalasnya, "Tidak berbuat apapun? Lalu, kau pikir apa yang kulakukan dengan menunggu di barisan belakang? Lucu sekali."


"Apa?! Mau kuhajar kau?!" Tiger mengeraskan ototnya sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Berhenti..." Gwen berkata sekali, tetapi tidak di dengar oleh mereka berdua, "Kubilang berhenti!"


Whooosh!


Aura dingin berwarna biru cerah merembes keluar dari tubuh Gwen dan membuat semua orang yang ada di sana menjadi diam membeku.


"Berhenti bertengkar seperti anak kecil dan mulai sekarang dengarkan aku. Tidak ada komplain atau semacamnya, mengerti?!" Gwen bertanya, dan mendapatkan anggukkan dari Yohan juga Tiger


Melihat mereka yang sudah cukup tenang, Gwen menarik kembali auranya. Suasana di sana menjadi hening, jejak dingin yang dikeluarkan oleh wanita berambut biru itu masih ada dan belum menghilang sedikitpun.


"Memperlambat gerakan, ya? Dia berbakat dalam menggunakan elemen es." Fang Lin yang mengamatinya dalam diam-- berkata dalam hati, untung saja dirinya tidak membuat gerakan tiba-tiba ketika hal itu sedang berlangsung, "Omong-omong, sudah hampir malam, ya. Tidak terasa..."


Fang Lin bisa menemukan langit yang sudah berubah menjadi warna oren keemasan, "Sepertinya Wyvern tadi sudah melaporkan keanehan barusan pada sosok yang sedari tadi mengamati kami dari luar formasi sihir ini. Mungkin sebentar lagi, dia akan turun tangan."


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2