
Pagi tiba.
Fang Lin dan Shui Ru sedang tertidur berpelukan tanpa menggunakan busana sedikitpun.
Fang Lin perlahan membuka matanya dan mendapati wajah Shui Ru yang cantik, ia tersenyum tipis lalu bangkit berdiri dari tempat tidur.
"Gege?" Suara pelan keluar dari mulut Shui Ru.
"Tidur saja kembali jika kau lelah, aku hanya pergi berjalan-jalan di luar istana." Ucap Fang Lin dan diangguki oleh wanita cantik itu.
Shui Ru kembali tidur sedangkan Fang Lin memakai kembali jubah hitam miliknya.
Setelah memakainya, Fang Lin teleportasi ke luar istana, ia membiarkan penghalang Qi di kamarnya tetap aktif untuk berjaga-jaga saja.
Fang Lin kemudian menyebarkan kesadarannya setelah di luar istana, ia mendapati beberapa bawahan intinya sedang melakukan latihan fisik, termasuk Li Fan muridnya.
Ketika Fang Lin melangkahkan kakinya ke lokasi para bawahan itu, tiba-tiba saja Yue muncul di hadapannya.
"Oh, Yue... Ada apa?" Tanya Fang Lin dengan langkah yang sudah terhenti.
Yue menatap Fang Lin dengan tatapan malas lalu bertanya, "Kapan anda ingin melakukan penerobosan ke Dewa Tahta?"
Fang Lin terdiam sejenak untuk memikirkannya lalu menjawab, "Mungkin nanti siang, memangnya ada apa?"
"Tidak ada. Saya pergi dulu..." Yue menghilang dari sana tanpa menunggu ucapan tuannya.
Fang Lin mengangkat satu alisnya ketika melihat tingkah Yue yang ketus, "Hmm? Aneh sekali melihatnya begitu cuek kepadaku." Gumamnya pelan dan tak sengaja terlintas ucapan Shui Ru tadi malam.
"Tidak mungkin dia kesal padaku karna melakukannya dengan Shui Ru bukan?" Fang Lin terheran ketika memikirkan itu. Sebab saat dirinya pertama kali berhubungan intim, Yue sama sekali tidak bereaksi sedikitpun, padahal waktu itu ia melakukannya dengan dua wanita.
"Sudahlah... Sulit mengerti jalan pikirannya." Fang Lin menggelengkan kepalanya pelan lalu pergi ke tempat para bawahan intinya latihan.
Sesampainya di sana, Fang Lin meminta mereka untuk tidak menyambutnya dan mereka menurutinya dengan patuh.
Fang Lin kemudian mendekati satu-persatu para bawahan inti yang sedang latihan fisik, lalu mengobrol tentang perkembangan mereka.
Setelah lima bawahan telah Fang Lin ajak bicara, ia kini mendekati Yang Jian dan mengobrol dengannya.
Di sela-sela obrolan, Yang Jian menceritakan tentang Naga abu-abu yang mengalahkan Khatz dalam satu serangan sewaktu di kompetisi penghancuran kristal.
Fang Lin yang mendengarnya merasa tertarik, ia kemudian meminta pria paruh baya berjubah hijau tua itu untuk menceritakan detail tentangnya.
Saat Yang Jian menyelesaikan ceritanya, Fang Lin terdiam sejenak dan kemudian bertanya untuk memastikannya, "Jadi kau menggunakan Transformasi Iblis Leviathan? Dan kau menggunakan suatu skill yang memanggil Naga itu?"
"Benar, tuan. Seumur hidup, saya baru pertama kali memakai perubahan Iblis Leviathan dan memakai salah satu jurus terkuatnya. Saya sendiri tak menyangka kalau jurus yang saya pakai dapat sekuat itu" Jawab Yang Jian memberi penjelasan.
Yang Jian tentu merasa bersalah kepada Khatz. Ia sebenarnya sudah mencoba meminta maaf atas kejadian tersebut, tetapi rubah ungu ekor 9 itu terus menghindarinya.
Khatz sepertinya trauma kepada Naga itu sampai-sampai tidak mau mendekati Yang Jian.
Fang Lin terdiam sejenak mendengarnya, ia kemudian menghubungi Yue lewat telepati dan bertanya kepadanya mengenai kejadian ini.
"Ah, anda membicarakan Naga itu? Saya tidak mengetahui detailnya, tetapi yang pasti dia berasal dari Alam Semesta yang berbeda." Jawab Yue cepat.
"Alam Semesta yang berbeda? Apakah kau tau lebih tepatnya dimana?" Tanya Fang Lin penasaran.
"Alam Semesta tidak terbatas, tuan. Mustahil bagi saya untuk mengetahuinya, kecuali sang Absolute Universe."
Fang Lin hanya mengangguk ketika mendengarnya lalu menyudahi obrolan tersebut, ia kemudian menatap Yang Jian dan berkata, "Tenang saja. Aku akan berbicara kepada Sylvia dan mungkin aku akan menyembuhkan ketakutan Khatz."
Yang Jian menundukkan badannya ketika mendengar itu, "Terima kasih, tuan!" Ucapnya dengan suara lantang.
"Ya. Kalau begitu lanjutkan latihanmu..." Fang Lin berjalan pergi usai mengatakannya.
__ADS_1
Yang Jian sendiri mengangguk patuh dan kembali melanjutkan latihan fisiknya.
Saat ini Fang Lin sedang berjalan menuju ke tempat tinggal Sylvia.
Tidak butuh waktu lama bagi Fang Lin untuk berada di depan pintu masuk rumah yang menjadi tempat tinggalnya Sylvia.
Fang Lin langsung mengetuk pintu rumah tersebut dan tak lama kemudian seorang wanita cantik membukanya, dia tidak lain adalah Sylvia yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Oh, tuan? Apa yang anda lakukan sepagi ini?" Tanya Sylvia penasaran.
Fang Lin tersenyum dan menjawab, "Aku ingin mengobrol sesuatu, bolehkah aku masuk?"
Sylvia terdiam untuk mencerna perkataan Fang Lin, ia kemudian membukakan pintu selebar-lebarnya dan membiarkan tuannya itu masuk.
Di sisi lain, Li Fan yang sedang latihan fisik langsung menghentikannya ketika mengetahui gurunya memasuki rumah Sylvia, "Haah... Apakah guru ingin menjadikan dia sebagai calon istri?" Gumamnya bertanya sembari menghela nafas pasrah.
Li Fan langsung melakukan posisi telentang di hamparan padang rumput dan memikirkan tentang Sylvia. Ia berpikir kalau dirinya menyukai wanita elf itu semenjak mereka berdua berada di kelompok yang sama.
***
Di Rumah Sylvia.
Fang Lin tanpa banyak basa-basi langsung bertanya mengenai kondisi Khatz, dan ketika ditanya seperti itu wajah Sylvia berubah menjadi muram.
"Semenjak siuman dari pingsannya, dia menjadi lebih pendiam dari sebelumnya dan juga tubuhnya sedikit bergetar ketika Yang Jian mendekatinya. Aku juga sudah mengetahui tentang Naga itu , tetapi aku sama sekali tidak mengetahui kenapa Khatz bisa setakut itu." Sylvia berkata dengan suara pelan.
"Bisakah kau panggilkan dia sekarang? Aku ingin berbicara sebentar dengannya..."
Sylvia menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Maaf tuan. Saya tidak bisa menghubunginya, dia selalu menolak panggilan telepati saya."
Fang Lin terdiam sejenak ketika mendengar itu, ia kemudian memegang pundak Sylvia dan membuat wanita elf bergaun putih itu terkejut.
"Eh? Ada apa tuan?" Sylvia bertanya dengan wajah sedikit memerah.
"Aku akan mengobrol dengannya, dia berada di Dunia Pikiranmu bukan?" Tanya Fang Lin memastikan.
Fang Lin tidak mengatakan apapun setelah mendengar jawabannya, ia memejamkan matanya dan kembali membuka matanya perlahan.
Dalam sekejap Fang Lin sudah berada di tempat yang berbeda, sebuah lorong besi yang lantainya dipenuhi genangan air setinggi mata kaki.
Fang Lin sendiri langsung berjalan mengikuti lorong tersebut, hingga akhirnya ia keluar dari sana dan berada di ruangan yang sedikit gelap serta lembab.
Tepat di tengah-tengah ruangan tersebut terdapat rubah ungu berekor 9 yang sedang tertidur.
Rubah ungu itu membuka matanya perlahan dan menghela nafas panjang ketika mendapati sosok Fang Lin.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya acuh tak acuh.
Fang Lin tersenyum tipis dan menjawab, "Aku hanya ingin menyelidiki tentang Naga panggilan yang mengalahkan dirimu."
Raut wajah Khatz sedikit berubah ketika mendengarnya, ia kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Intinya dia lebih kuat darimu dan memiliki aura asing yang begitu menyeramkan."
Fang Lin menganggukkan kepalanya ketika mendengar itu lalu bertanya, "Bisakah kau menjelaskan ciri-cirinya secara detail kepadaku?"
Khatz terdiam sejenak mendengarnya, ia sekali lagi menghela nafas panjang dan sebuah bola cahaya kecil berwarna ungu muncul di depan kepalanya.
Bola cahaya tersebut melayang ke arah Fang Lin dan menembus dahinya.
Seketika muncul sebuah ingatan yang tidak lain adalah sudut pandang Khatz saat bertemu dengan Naga itu.
Setelah melihat ingatan tersebut, Fang Lin merenung sejenak dan berpikir segala kemungkinan, "Perkataannya membuatku berpikir kalau dia mengetahui identitas Yang Jian... Lalu untuk asalnya, aku tidak mengetahui pastinya tetapi dia memang berasal dari Alam Semesta yang berbeda atau dimensi lain." Batin Fang Lin lalu menatap kembali rubah ungu di depannya.
"Terima kasih atas informasi yang kau berikan... Sebagai gantinya, aku akan menyembuhkan ketakutanmu pada Naga itu." Ucap Fang Lin sambil tersenyum dan seketika seluruh tubuh Khatz terbakar oleh api emas.
__ADS_1
Khatz terkejut ketika melihat api emas tersebut membakar tubuhnya, ia hampir saja memberontak tetapi tidak jadi setelah menyadari kalau api emas itu tidak melukainya sama sekali.
Ketika Khatz ingin mengatakan sesuatu, Fang Lin tiba-tiba saja menghilang.
Khatz terdiam mendengarnya dan setelah api emas tersebut padam, ia tidak merasakan sesuatu yang spesial pada tubuhnya.
***
Fang Lin membuka matanya perlahan, ia langsung menarik tangannya yang memegang pundak Sylvia lalu berkata, "Khatz sudah kusembuhkan, kau mungkin sudah bisa mengobrol dengannya seperti biasa."
Sylvia yang mendengarnya langsung tersenyum lebar, "Benarkah?! Terima kasih, tuan!" Sylvia reflek memeluk pria tampan di depannya.
Fang Lin cukup terkejut namun ia tidak membalas pelukan tersebut, karena dirinya tidak ingin berlangsung lama.
"Guru! Aku ada pertanyaan untukmu!" Tiba-tiba saja pintu masuk rumah Sylvia terbuka dan memperlihatkan Li Fan yang tersenyum lebar.
Senyuman Li Fan langsung memudar ketika mendapati gurunya yang sedang berpelukan dengan Sylvia.
Kedatangan Li Fan tentu membuat Sylvia melepaskan pelukan tersebut, wajahnya benar-benar memerah karena malu.
"Apa pertanyaan yang ingin kau tanyakan?" Tanya Fang Lin sambil berdiri.
Li Fan terdiam sesaat lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak jadi bertanya, maaf karna mengganggu kalian." Li Fan langsung pergi dari sana usai menyelesaikan kata-katanya.
Fang Lin sendiri langsung mengerutkan alisnya ketika melihat tingkah Li Fan, "Apa yang terjadi? Kenapa dia bertingkah seperti itu?" Batinnya bertanya-tanya dan kemudian izin pamit kepada Sylvia.
Setelah keluar dari rumah Sylvia. Fang Lin langsung menyebarkan Kesadaran Spiritualnya untuk mencari keberadaan Li Fan.
Tidak butuh waktu sampai 2 detik untuk menemukannya, ia langsung teleportasi ke tempat Li Fan berada.
Li Fan sendiri saat ini sedang memandang danau besar yang jaraknya beberapa kilometer dari tempat tinggal para bawahan inti.
Raut wajah Li Fan begitu sedih, suasana hatinya sedang berada dalam kondisi tidak baik.
Ketika sedang melamum, Li Fan sama sekali tidak menyadari kalau ada yang menghampirinya.
"Hei, apa yang kau lakukan disini?" Fang Lin bertanya dengan kedua tangan yang melipat di belakang punggung.
Li Fan tersentak mendengarnya, ia menoleh dan mendapati sosok gurunya, "Ah, Guru... Aku hanya menenangkan suasana hati saja." Jawabnya sambil tersenyum pahit.
Fang Lin tersenyum tipis mendengarnya, ia menatap ke danau dan kembali bertanya, "Memangnya kenapa? Apakah kau memiliki masalah?"
Li Fan terdiam sejenak ketika mendengarnya, ia menundukkan kepalanya untuk merenung lalu kembali mengangkat kepalanya, "Guru, saya ingin berbicara serius kepada anda." Li Fan berkata dengan raut wajah serius.
Fang Lin menoleh ke arah Li Fan begitu juga sebaliknya.
"Saya sebenarnya menyukai Sylvia! Jadi jika guru berkehendak, tolong jangan jadikan dia sebagai calon istri anda!" Li Fan berkata dengan suara lantang sambil menundukkan badannya serendah mungkin.
Fang Lin sendiri yang mendengarnya terdiam untuk mencerna kata-katanya lalu tertawa pelan, "Hahaha... Kenapa kau berpikir aku akan menjadikannya sebagai calon istriku?" Tanyanya penasaran.
Wajah Li Fan sedikit memerah, ia menegakkan kembali badannya dan menjawab, "Memangnya apa lagi? Guru masuk ke dalam rumahnya dan saat kulihat kalian sedang berpelukan."
Fang Lin tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, ia kemudian menjelaskan alasan mengapa dirinya memasuki rumah Sylvia dan juga berpelukan padanya.
Setelah mendengar penjelasan gurunya membuat Li Fan merasa malu, sedangkan Fang Lin yang melihat tingkah muridnya itu kembali tertawa pelan, "Kau tenang saja. Aku sudah cukup dengan 4 calon istri, mereka berempat saja sudah bagaikan bidadari, kenapa juga aku harus mencari calon istri lagi?" Ucap Fang Lin santai. Mempunyai 4 saja sudah melelahkan bagi dirinya.
"Maaf guru, saya telah salah paham kepada anda..." Li Fan merasa malu ketika mengatakannya.
Fang Lin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, ia menatap danau kembali dan berkata, "Tenang saja. Aku mewajarkan hal itu."
Li Fan hanya tersenyum ketika mendengarnya, ia ikut menatap danau yang tenang di depan mereka.
Keduanya kembali ke Istana setelah berdiam diri selama 10 menit.
__ADS_1
Bersambung....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.