System Sang Immortal

System Sang Immortal
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

"Kita kembali... Aku tidak punya pemikiran untuk memecahkan situasi aneh ini." Gwen sudah menyerah setelah memutar otaknya dalam waktu yang lama, ia kemudian menyuruh semua anggota untuk bersiap.


Ketika Gwen hendak melakukan sihir es-nya, Merlin berseru ketika menyadari sesuatu, "Berhenti! Jangan ada yang bergerak!"


Sebagian besar anggota langsung menghentikan pergerakan mereka setelah mendengar seruan Merlin.


"Wah, kau benar-benar cepat tanggap, ya?" Colin merasa cukup kagum.


Gwen yang baru mengerti situasinya melebarkan mata ketika menemukan benang tipis berwarna emas yang membatasi pergerakan dirinya.


Tidak hanya dia saja tetapi Fang Lin, Yohan, Merlin dan Yuna juga mendapatkan situasi yang sama.


"Apa maksudnya ini, Colin?" Gwen bertanya sembari menyebarkan Kesadaran Mana-nya, ia bisa menemukan Tiger dan Rian memasang ekspresi datar seolah sudah menduga hal ini.


"Apa maksudnya, ya..." Colin berpura-pura tidak tau, lalu tertawa kecil, "Entahlah... Kami hanya seorang pembunuh bayaran yang sedang dalam proses penyelesaian misi."


"Pembunuh bayaran?!"


Semua orang yang tidak tau apapun menjadi terkejut ketika mendengar hal itu, bahkan Fang Lin sendiri tak terkecuali.


"001, berhenti membicarakan sesuatu yang tidak penting. Bunuh saja langsung mereka." Rian berkata sembari menguap pelan.


"Brengsek, kita sudah saling mengenal selama satu tahun lebih. Bagaimana mungkin kalian adalah seorang pembunuh bayaran?! Berhenti bercanda dan hentikan ini!" Yohan tidak bisa menerima situasinya, ia marah dan membuatnya sedikit bergerak.


Tes...


Bagian tubuh Yohan yang dibatasi oleh benang emas itu langsung terluka dan mengeluarkan tetesan darah segar.


"A-apa..." Yohan melebarkan mata, padahal dia sudah melindungi seluruh tubuhnya dengan Mana tapi bagaimana bisa benang emas tersebut bisa melukainya hanya dengan sedikit bergerak saja?


"Ups... Tampaknya lehermu hampir terpenggal, Yohan." Colin tersenyum mengejek, "Kau terluka dengan benang ini, dan itu artinya tubuhmu sudah terinfeksi racun. Dalam sepuluh menit, otakmu akan meleleh tanpa disadari dan kau akan terpotong menjadi beberapa bagian oleh benang emas-ku karena sudah kehilangan kendali atas tubuhmu."


"Brengsek..." Yohan menggertakkan giginya sembari mengutuk keras Colin di dalam hatinya, aura membunuh merembes keluar dari tubuhnya.


"Jadi selama ini kalian bertiga adalah seorang pembunuh, begitu? Lalu mendekati kami setelah memalsukan masa lalu beserta identitas kalian." Gwen menyimpulkan satu hal usai berpikir sejenak.

__ADS_1


"Sesuai dengan perkiraanku, Gwen. Kau adalah wanita yang pintar dan cantik..." Colin berdecak kagum setelah mendengar kesimpulannya.


"Misi apa yang kalian terima?" Merlin bertanya, tatapannya terlihat sangat dingin.


"Uwah... Kau dari dulu memang sangat menakutkan." ucap Colin dengan nada yang berpura-pura ketakutan, ia kemudian menjawab, "Kami diperin... Ups, aku lupa kalau tidak boleh menyebutkan misiku pada pihak yang terkait."


"001, berhentilah bermain-main. Kita harus membunuh mereka selagi ada kesempatan." Tiger yang sudah mengamati sejauh ini akhirnya angkat bicara, "Ah, tapi jangan membunuh Yohan. Dia harus mati di tanganku sebelum otaknya meleleh."


"Heh! Jika kalian melepaskanku dari kekangan benang ini, maka penyesalan yang akan kalian dapatkan nantinya." Yohan berkata tanpa perasaan takut sedikitpun, meskipun mengetahui kematian sudah menunggu dirinya.


"Haha... Lelucon yang bagus." Rian tertawa tetapi tidak benar-benar tertawa.


"Dasar bocah biadab ini, bahkan kau masih bertingkah arogan setelah mendapati situasi semacam ini?" Tiger dari kejauhan merasa sangat kesal, namun untuk sekarang ia tidak bisa menghampiri Yohan karena benang emas yang dikendalikan oleh Colin sangatlah banyak.


Yohan tertawa mengejek, lalu membalasnya, "Kenapa? Tidak senang? Maju sini, dan bertingkahlah seperti seorang pecundang yang hanya berani bertindak ketika situasi diuntungkan."


"Bocah bangsat... Kau sudah kelewatan!" Tiger melangkah maju, tetapi aura membunuh yang sangat kental menghentikan dirinya.


"004, sekali lagi kau melangkah-- aku yang akan membunuhmu." Colin berkata, nadanya terdengar serius walaupun pada rekannya sendiri.


"Jangan membuatku tertawa..." Colin mendengus pelan, lalu melanjutinya, "Mereka sudah berada di dalam genggamanku, aku bisa membunuh mereka semua kapanpun aku mau."


Mendengar hal itu membuat ekspresi Rian menjadi malas, ketika dirinya hendak mengatakan sesuatu-- aura dingin yang datang dari Gwen memperlambat gerakan para pembunuh.


"Merlin, lakukan sesuatu!" Gwen berseru lantang.


Namun, sudah beberapa belas detik berlalu-- Merlin tidak bertindak apapun.


"Apa yang kau pikirkan, bodoh! Jangan melamun di saat seperti ini!" Gwen berteriak keras untuk menyadarkan pemuda berambut pirang itu.


"Percuma saja... Benang ini adalah senjata tingkat Mitos. Penyihir seperti kita tidak akan bisa lolos dari ini." Merlin menjelaskan tanpa bergerak sedikitpun.


"A-apa..." wajah Gwen menjadi pucat pasi setelah mendengar hal itu, aura dingin yang merembes keluar dari tubuhnya perlahan menghilang.


"Bahahahaha... Ekspresimu lucu sekali setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya!" Colin tertawa terbahak-bahak tanpa menggerakkan sedikitpun jari-jari tangannya yang mengendalikan benang emas.

__ADS_1


"Kau menakutkan sedari dulu, Gwen. Tapi... Aku sangat menyukai kecantikanmu itu." Rian tersenyum tipis, "Sayangnya, kita tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih intim karena sebentar lagi kematianmu akan datang."


Rian mengakhiri kata-katanya dengan menggelengkan kepalanya pelan.


Merlin yang mendengar itu tentu marah, hanya saja dirinya tidak bisa bertindak gegabah untuk sekarang.


"Aku sudah memanggil beberapa Iblis untuk datang kemari, tetapi mereka membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk bisa sampai." Merlin merapatkan giginya, lalu melanjutinya, "Aku harus mengulur waktu sebanyak mungkin."


"Kalian ini... Pembunuh dari organisasi mana?" Merlin bertanya sembari memutar otaknya.


"Heh... Si Tuan paling dingin ini mulai membuka topik, ada apa gerangan?" Colin tersenyum mengejek, ia memasang wajah seolah mengetahui semuanya.


Merlin menyadarinya akan tetapi tidak terlalu menghiraukannya, dan berkata, "Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui, organisasi mana yang mempunyai pembunuh seperti kalian."


"Geh, jangan membohongiku..." Colin menarik jari telunjuknya dan mempersempit jarak salah satu benang yang membatasi leher Merlin, "Apa kau sudah menghubungi bawahan Iblismu? Pangeran?"


"Pangeran...?"


Yuna yang tidak mengetahui apapun tentang Merlin langsung bertanya-tanya.


"Oh, Yuna... Kau masih belum mengetahuinya, ya?" Colin mengalihkan pandangannya ke wanita berambut pirang itu, "Merlin adalah keturunan Raja Iblis, Damian. Dia adalah penerus yang paling berpotensi untuk menjadi Raja Iblis selanjutnya."


"Hah..."


Yuna melebarkan mata dan keterkejutan jelas terukir di wajahnya, ia memang mengetahui kalau Merlin bersangkutan dengan Iblis tetapi dirinya baru tau kalau dia adalah anak dari seorang Raja Iblis.


"Sayang sekali ya, Yuna. Sepertinya cintamu padanya akan berakhir di sini, padahal kau sudah menerimanya ketika Merlin mengatakan kalau dia adalah manusia setengah Iblis." Colin berkata, nadanya terdengar bersimpati.


Seorang Priest seperti Yuna sangat memusuhi Iblis, mereka diibaratkan seperti air dan minyak-- yang tidak akan bisa disatukan.


Tetapi Yuna mencintai Merlin pada pandangan pertama, meskipun mengetahui kalau pemuda tersebut adalah setengah Iblis-- dia mengabaikannya dan berusaha mengejarnya.


Namun semenjak perkataan Colin masuk ke dalam telinganya, harapan Yuna untuk menjadi kekasih Merlin runtuh seketika. Dia adalah seorang Priest, mencintai setengah Iblis bukanlah masalah besar tetapi berbeda jika yang dicintainya adalah keturunan dari Iblis Sejati.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.


__ADS_2