System Sang Immortal

System Sang Immortal
Kekasih Fang Lin?!


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa di sekitarnya tidak ada orang lain, Fang Lin membatalkan sihir Stealth-nya.


Saat ini, Fang Lin berada di lorong gedung Akademi yang sangat sepi. Ia kemudian berjalan menuju ruang kelasnya yang jaraknya beberapa ratus meter dari tempatnya sekarang berada.


Fang Lin tidak menemukan banyak murid, ia berpapasan dengan beberapa murid dari kelas yang berbeda.


"Wah... Tampan sekali."


"Siapa dia? Aku baru pertama kali melihatnya."


Setiap wanita yang melihat Fang Lin selalu membicarakannya, ada yang berbisik dan ada juga yang terang-terangan.


Setelah sampai di kelas, Fang Lin bisa menemukan beberapa murid di sana dan kebanyakan dari mereka adalah pria.


Fang Lin duduk di kursinya, lalu memandangi jendela dengan tangan kanan yang menopang dagunya.


......................


Sepuluh menit sebelum kelas dimulai, para murid perempuan mulai berdatangan dan alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan Fang Lin sudah duduk di tempatnya.


"Bagaimana bisa dia di sana?"


"Aku sudah mengawasi kamar asramanya sejak pagi, tapi bagaimana mungkin dia sudah berada di kelas...?"


Murid perempuan bertanya-tanya, dan beberapa dari mereka mulai mendatangi Fang Lin.


"Halo, Fang Lin. Masih ingat namaku tidak?"


"Fang Lin, selamat pagi!"


"Apakah kamu mau sarapan?"


Beberapa perempuan mulai menanyainya sembari berusaha mendekati Fang Lin.


"Apakah kalian tidak punya kegiatan yang lain?"


Ketika Fang Lin sudah muak dengan pertanyaan mereka semua, ia bertanya dengan nada acuh tak acuh.


"Eh, kegiatan kami kan mengobrol denganmu, hehehe..."


"Betul itu, lagipula sekalian mengisi waktu luang."


Para perempuan itu menjawab dengan berbagai jawaban yang berbeda dan membuat Fang Lin menghela nafas panjang.


"Hei, hei. Fang Lin, cincin di jari manismu sangat indah... Itu pasti mahal, bukan?"


Seorang perempuan bertanya, dan Fang Lin langsung menatap jari manis tangan kanannya, sebuah ide tiba-tiba saja terbesit dalam pikirannya.


"Ya, begitulah..." Fang Lin langsung memasang senyum lembut dan membuat para perempuan kegirangan.


"Kyaaa~ Senyumannya sangat manis!"


"Jantungku... Berdebar sangat kencang."


"Aku tidak percaya bisa melihat sesuatu yang indah seperti itu!"

__ADS_1


Perkataan lebay yang keluar dari mulut para perempuan itu membuat murid laki-laki yang ada di kelas mual.


"Hei, kalian. Hentikan itu! Perkataan kalian benar-benar membuatku jijik."


"Dasar kampungan, apakah kalian tidak pernah melihat cowok tampan sebelumnya."


Beberapa murid laki-laki mulai mengeluarkan kata-kata mengejek.


"Apa sih kalian? Jangan iri dong!"


"Mereka juga pasti senang jika berada di posisi Fang Lin."


"Hiraukan saja mereka, untuk apa menanggapi laki-laki bau!"


Balasan mengejek keluar dari mulut murid perempuan, dan tentu saja murid laki-laki yang terlibat tidak bisa menerimanya.


"Cowok setampan dia pasti sudah mempunyai kekasih, buktinya cincin indah di jari manisnya."


Seorang murid laki-laki berkata demikian, dan seketika suasana kelas menjadi dingin.


"Dasar bodoh, kau pikir memakai cincin artinya mempunyai kekasih? Sungguh kuno!"


"Aksesoris cincin bisa berguna untuk meningkatkan kemampuan, bisa saja itu artefak untuk bertarung."


Murid perempuan jelas tidak menerimanya, tetapi Fang Lin yang sudah mendengar keributan mereka sedari tadi langsung memanfaatkan kesempatan emas ini.


"Perkataan dia benar, kok. Aku mempunyai kekasih dan cincin ini adalah tanda hubungan kami."


Ketika Fang Lin berbicara demikian, sebagian besar murid perempuan langsung menatap dirinya, mereka memberikan tatapan tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya barusan.


Murid laki-laki yang mengatakan kalau Fang Lin pasti sudah mempunyai kekasih langsung tersenyum lebar.


"K-kami tidak percaya, tidak ada buktinya!"


"Benar, bisa saja kamu mengarangnya."


Fang Lin sudah memperkirakan kata-kata mereka dan diam-diam tersenyum tipis, "Kalau begitu, apakah kalian mau melihat buktinya?"


"Eh...?"


Ketika Fang Lin menawarkan hal tersebut, seisi kelas menjadi hening. Sebagian besar murid yang tertarik dengan hal itu langsung menatap Fang Lin, sementara sisanya menatap ke papan tulis atau mengobrol ke sesama orang yang tidak tertarik.


Fang Lin tidak menunggu tanggapan mereka, ia mengeluarkan sebuah kertas lukisan yang menggambarkan dirinya bersama Yue.


Secara perlahan, Fang Lin meletakkan kertas lukisan tersebut ke atas meja dan para murid perempuan yang berada di sekitarnya langsung diam membeku.


Beberapa murid laki-laki yang penasaran mengapa murid perempuan di dekat Fang Lin pada diam mulai berdatangan.


"Gila! Cantik sekali!"


Seorang murid laki-laki yang pertama kali sampai ke dekat meja Fang Lin langsung terkejut melihat kertas lukisan yang ada di meja.


"Woah... Apa-apaan ini? Pacarmu malaikat, ya?!"


Murid laki-laki lainnya datang dan berkata dengan kagum. Tentu saja, perkataan itu membuat laki-laki lainnya datang untuk melihat lukisan tersebut.

__ADS_1


"Mustahil, memangnya ada wanita secantik ini di kota Heinz?"


Sebagian besar murid laki-laki mulai mendatangi meja Fang Lin, sementara murid perempuan langsung kembali ke meja mereka dengan suasana hati yang suram.


"Secantik itu, kah? Aku jadi penasaran."


Albert yang memandangi dari kejauhan merasa sangat penasaran, Finn yang melihat teman besarnya itu tersenyum tipis dan bangkit berdiri, "Ayo kita lihat bersama."


"Eh, benarkah?" Albert tersenyum senang sementara Finn menganggukkan kepalanya pelan.


Albert langsung berdiri dengan cepat ketika melihat anggukkan itu.


"Hei, William? Ikut tidak?"


Pemuda satunya yang sedari tadi mengamati dalam diam mulai berdiri, "Boleh saja."


Finn tersenyum dan bersama kedua temannya mereka menghampiri meja Fang Lin.


"Hei, aku ambil ya!"


Albert yang baru sampai langsung mengambil kertas lukisan itu seperti sedang merampas.


"Hei, Albert. Jangan bertindak seperti itu." Finn langsung mengatakan, lalu menatap ke arah Fang Lin, "Maafkan temanku ini..."


"Tidak masalah, lagipula tidak akan rusak." Fang Lin menyahutinya sembari mengangguk pelan.


"Sialan! Apakah wajah perempuan ini asli?" Albert bertanya pada Fang Lin sembari menunjukkan lukisan tersebut.


"Tentu saja, wajahku juga digambar dengan sangat detail, bukan? Apakah kau berpikir lukisan itu kebohongan?"


Karena lukisan itu hanya terbuat dari cat hitam dan putih, kecantikan yang mereka lihat dari Yue hanyalah sebagian saja.


Seandainya saja mereka melihat Yue secara langsung, Fang Lin cukup yakin kalau mereka akan menggila.


"Siapa nama kekasihmu? Seharusnya dengan kecantikannya yang seperti itu, namanya sudah pasti terkenal di mana-mana." William yang sedari tadi diam bertanya.


"Namanya adalah Yue. Dia tidak terlalu dikenal banyak orang karena kecantikannya itu tidak pernah diperlihatkan ke sembarang orang." ucap Fang Lin memberitahu.


"Oh, begitu... Lalu, di mana dia tinggal?" tanya William kembali.


"Hm, kenapa kau bertanya?" Fang Lin tidak menjawab pertanyaan tersebut.


William mengangkat pundaknya, "Aku hanya ingin tau, apakah itu sesuatu yang salah?"


"Yah, itu tidak salah. Tapi sayangnya aku tidak bisa mengatakannya, dia tidak mau tempat tinggalnya diberitahu kecuali dari mulutnya sendiri." Fang Lin menggelengkan kepalanya, ia membuat nada suara seolah menyesal.


William terdiam sejenak sebelum menghela nafas panjang, "Ya, sudahlah. Sayang sekali..."


Ketika William mengakhiri perkataannya, Guru Rena masuk bersama seorang pria botak licin yang tingginya dua meter lebih.


Finn dan murid lainnya langsung kembali ke tempat duduk masing-masing, sebelum pergi Albert mengembalikan kertas lukisan tersebut dan mengucapkan terima kasih.


Meskipun dia adalah seseorang yang mempunyai wajah seram dan tubuh besar, tetapi bagi Fang Lin dia tidaklah jahat berbeda dengan William yang mempunyai niat buruk dari percakapan sebelumnya.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2