
Setelah Yue kembali ke Dunia Jiwanya bersama dengan Elisa, keheningan malam menyelimuti Fang Lin.
"Sayang sekali, misiku gagal kali ini." Fang Lin bergumam, pandangannya mengarah ke langit gelap sebelum menghilang dari tempatnya dalam sekejap.
***
Di lorong sepi kota Heinz, Fang Lin muncul di sana dengan mantel hitam yang ia kenakan.
Ketika Fang Lin hendak keluar dari lorong tersebut, ia merasakan beberapa kehadiran yang sedang berjalan ke tempatnya berada.
Tentu saja mereka mempunyai tujuan sendiri, dan Fang Lin langsung menggunakan sihir Stealth agar tidak menarik perhatian mereka.
Tiga pemuda datang dan mereka mengenakan seragam yang sama, jas berwarna biru tua dan terdapat lambang bintang di bagian dada kiri.
Dua dari pemuda itu mulai memukul pemuda yang datang bersama mereka, mereka berdua mengeroyoknya sampai babak belur dan kemudian pergi dari sana setelah mengucapkan beberapa kata kasar.
"Ugh..." pemuda itu mengerang kesakitan, dia mengambil kacamatanya yang dihancurkan, "Para bajingan itu, suatu hari aku akan membunuh kalian."
Pemuda itu mengutuk dua orang yang baru saja menghajarnya setelah menyimpan kacamatanya yang rusak di kantong jas.
Fang Lin tadinya tidak ingin muncul dan hanya berniat mengamatinya saja, tetapi melihat mata pemuda itu membuatnya memutuskan untuk muncul.
Kemunculan Fang Lin yang entah dari mana membuat pemuda itu terkejut bukan main, dia yang sudah bangkit berdiri kini kembali jatuh terduduk di tanah karena saking terkejutnya.
"S-siapa kau?" tanya pemuda dengan raut wajah ketakutan, karena Fang Lin tidak memperlihatkan wajahnya dan mempunyai penampilan yang mencurigakan jelas membuatnya berpikiran macam-macam.
"Aku seorang Pemburu, jangan khawatir." ucap Fang Lin, lalu melanjutinya, "Aku melihatmu ditindas sebelumnya dan itu cukup menyenangkan untuk ditonton."
Pemuda itu mematung sejenak sebelum bangkit berdiri, ia tidak berniat unfuk menanggapi Fang Lin dah hendak pergi dari sana.
"Hei, apakah kau ingin membalas mereka?" Fang Lin bertanya ketika pemuda itu sudah berjarak beberapa belas meter darinya, melihatnya memperlambat langkahnya membuat ia melanjuti perkataannya, "Aku bisa melatihmu menjadi kuat, tentu saja hal itu tergantung seberapa besar usahamu."
Kali ini, pemuda itu menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh ke belakang, "Apa tujuanmu melakukan ini? Aku yakin punya tujuan tertentu, bukan?"
"Hm, tidak tuh. Aku hanya iseng saja, sekalian mengisi waktu luangku." Fang Lin menjawab dengan santai.
Pemuda itu mengerutkan alis dan kemudian berbalik lalu menghampiri Fang Lin, "Kurasa tidak ada salahnya untuk menerima tawaranmu, tetapi aku tidak mempunyai bakat yang bagus dan murid akademi dilarang keluar dari wilayah akademi jika tidak mempunyai alasan tertentu."
Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya setelah mendengar kata akademi dari mulut pemuda itu. Setaunya di kota Heinz hanya ada satu akademi saja, yaitu, Akademi Bintang.
Fang Lin tidak menanggapinya selama beberapa waktu dan berpikir sejenak, ia kemudian mengangguk beberapa kali lalu berkata, "Kalau begitu aku akan menjadi murid baru di sana, kau berada di kelas apa?"
Pemuda itu langsung terkejut ketika mendengarnya, "A-apa kau serius? Aku di kelas 1-D."
Fang Lin tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, "Aku tidak akan menjelaskan rencananya, tunggu saja beberapa hari lagi."
__ADS_1
"A-ah, baik."
"Omong-omong, siapa namamu?"
"Arthur, namaku adalah Arthur Nelton."
"Kalau begitu Arthur, pulanglah ke Akademi."
"Tentu saja."
Arthur berbalik dan kemudian berjalan pergi dari sana, setelah beberapa langkah-- ia berhenti lalu menoleh ke arah belakang, "Apa kau... Orang yang kuat?"
"Tentu saja, apa kau perlu pembuktian?"
"Tidak, tidak perlu. Aku percaya dengan kata-katamu..." Arthur beranjak pergi usai berkata demikian.
***
Serikat Pemburu.
"Masih ramai ternyata..."
Fang Lin mengedarkan pandangannya, karena ia baru pergi selama kurang dari satu jam maka waktu masih berada di tengah malam dan suasana di Serikat Pemburu tidak berubah banyak setelah kepergiannya terakhir kali dari sini.
Fang Lin berjalan ke meja resepsionis dan menemukan pemuda sebelumnya, dia sedang membaca sebuah buku dengan serius sehingga tidak menyadari keberadaanya.
Ucapan yang dilontarkan Fang Lin membuat pemuda itu sedikit tersentak, "Ya, ada apa?"
"Aku ingin bertemu Vulhan, bisakah kau mengaturnya?" tanya Fang Lin penasaran.
"Ah, ada urusan apa anda dengan Ketua?"
"Aku gagal dalam menyelesaikan misiku."
"Kalau anda gagal dalam misi, tidak perlu sampai membicarakannya pada Ketua."
"Benarkah? Kalau begitu, sampai jumpa."
"Ya..."
Pemuda itu sedikit keheranan dengan tingkah Fang Lin, tetapi ia tidak memikirkannya lebih jauh dan kembali membaca buku novelnya.
Di sisi lain, Fang Lin pergi ke toilet umum Serikat Pemburu, ia kemudian melakukan teleportasi dan muncul di tempat Vulhan berada.
Vulhan yang berada di ruangannya dan sedang membaca beberapa dokumen langsung terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Fang Lin di dekat pintu keluar.
__ADS_1
"Pemburu Fang Lin, apa itu kau?" Vulhan bertanya untuk memastikan.
"Ya, aku adalah pemburu Fang Lin." ucap Fang Lin sambil menganggukkan kepala, lalu melanjutinya, "Maafkan aku karena telah lancang datang ke ruangan ini tanpa seizin darimu."
"Tidak masalah." Vulhan bangkit berdiri dari kursinya, "Melihatmu datang diam-diam kemari, apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ya, ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu." Fang Lin menjawab dan sekali lagi mengangguk.
"Baiklah, mari duduk, pemburu Fang Lin." Vulhan mempersilahkan pemuda bermantel hitam itu untuk duduk di bangku dekat meja kerjanya.
Fang Lin mengikuti arahan Vulhan, ia kemudian mulai membicarakan alasan mengapa dirinya di sini.
......................
"Hm, kau mau masuk ke dalam cabang Akademi Bintang?" Vulhan mengerutkan alisnya ketika Fang Lin meminta hal tersebut, "Apa alasannya?"
"Alasannya, ya? Untuk mencari pengalaman tentu saja." jawab Fang Lin, lalu menambahkan, "Aku juga ingin melatih seseorang di sana, setelah kurasa dia sudah cukup kuat maka aku akan keluar dari akademi itu."
"Huh, siapa anak itu?" tanya Vulhan penasaran.
"Aku tidak bisa menjawabnya." Fang Lin menggeleng pelan kepalanya, "Apakah kau bisa membantuku, pak Tua? Aku akan memberikan sejumlah koin emas untuk biaya pendaftaranku masuk ke dalam akademi, tentu saja itu termasuk dengan biaya jasa yang telah kau lakukan."
Vulhan tampak berpikir ketika mendengar itu, ia tidak terlalu tertarik dengan koin emas yang ditawarkan oleh Fang Lin tetapi dirinya lebih ingin membangun relasi dengan dia.
"Aku bisa mendaftarkan dirimu ke Akademi Bintang, hanya saja kau harus melewati pemeriksaan kemampuan, elemen, umur dan beberapa hal lainnya. Apa kau bisa melakukannya?" Vulhan bertanya, raut wajahnya terlihat serius.
Fang Lin tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya perlahan, "Tentu, aku bisa memanipulasi semuanya."
"Aku mengerti, datanglah besok lusa pagi hari dan aku pasti sudah menyelesaikan pendaftaranmu." ucap Vulhan setelah mereka selesai memutuskan.
"Terima kasih, Vulhan." Fang Lin bangkit berdiri, lalu mengeluarkan sebuah cincin dimensi ciptaannya, "Di dalam sini ada satu juta koin emas, itu adalah uang untuk pendaftaran dan sisanya adalah jasa untukmu."
"Apa?" Vulhan sedikit terkejut ketika mendengarnya, ia memakai cincin penyimpanan yang ada di atas meja dan melihat isinya, "Kurasa ini terlalu banyak, pemburu Fang Lin. Kau hanya perlu mengganti biaya pendaftaran akademi saja."
"Pak tua, aku paham kau ingin membangun relasi denganku, tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan itu..." Fang Lin berkata seolah sudah membaca pikiran Vulhan, ia kemudian menambahkan, "Karena cepat atau lambat aku akan pergi dari dunia ini, jadi kebaikanmu yang sekarang ini bisa saja sia-sia."
Vulhan terdiam sejenak usai mendengar itu, perkataan Fang Lin jelas membuatnya berpikir kalau dia bukanlah orang dari dunia ini.
"Jadi Dunia Atas, ya?" Vulhan bergumam dan tentu bisa didengar oleh Fang Lin, ia kemudian melepaskan cincin tersebut dan meletakkannya kembali di atas meja "Itu tidak masalah, Pemburu Fang Lin. Aku akan menganggap ini sebagai kenangan berharga yang bisa kuceritakan pada keluargaku kelak."
"Baiklah, aku tidak akan memaksa." sahut Fang Lin, lalu mengambil kembali cincin penyimpanannya, "Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa..."
"Ya, hati-hati, pemburu Fang Lin." Vulhan tersenyum, Fang Lin sendiri kemudian menangkupkan tangannya dan kemudian menghilang dalam sekejap mata dari ruangan tersebut, "Salam yang selalu dia gunakan saat berpamitan sungguh aneh, haruskah aku mencari tau artinya?"
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.