System Sang Immortal

System Sang Immortal
Fang Lin Vs Xu Yuan VI


__ADS_3

Satu minggu lebih berlalu.


Tubuh Xu Yuan sudah dipenuhi dengan luka robek yang begitu dalam, armor merah gelapnya sudah dihancurkan oleh Fang Lin beberapa hari yang lalu.


Berbeda dengan Xu Yuan, kondisi tubuh Fang Lin masih sehat bugar meskipun ada beberapa luka di tubuhnya yang tidak bisa beregenerasi, itu sama sekali tidak mempengaruhinya. Walaupun Xu Yuan menggunakan pedang Pembunuh Absolute, tetapi yang masih diuntungkan di sini adalah Fang Lin karena dia adalah pemilik dari domain Penjara Es Suci.


Saat ini, Fang Lin sedang menggunakan Yeoui untuk menyerang Xu Yuan. Karena luka yang dimiliki musuhnya itu, pergerakannya menjadi lambat seiring berjalannya waktu.


"Aku harus cepat mengakhiri ini..." Fang Lin menciptakan rantai dari berbagai arah untuk menjerat Xu Yuan, dan ia sedikit terkejut karena itu berhasil.


Pasalnya dari kemarin Fang Lin sudah melakukan hal yang sama, tetapi Xu Yuan dengan mudahnya menghindari itu semua.


Kini, tangan dan kaki Xu Yuan langsung terjerat dengan rantai es, dia mencoba untuk melepaskannya namun semua usaha yang dilakukannya sia-sia.


"Sial, sial, sial. Rantai keparat!" Xu Yuan terus-menerus mengumpat dalam hati.


Fang Lin yang melihat raut wajah Xu Yuan mulai menunjukkan ketakutan langsung terkekeh pelan, ia kemudian memotong tangan musuhnya itu yang memegang pedang Pembunuh Absolute.


"Akhhhh! Bajingan! Kenapa kau memotong tanganku, sialan!" Jerit Xu Yuan kesakitan.


"Oh, oh. Adegan ini, apa kau tidak teringat dengan sesuatu?" Fang Lin menyeringai, raut wajahnya tampak menakutkan.


Xu Yuan tidak tau apa yang dibicarakan oleh Fang Lin, hingga akhirnya ia teringat pernah memotong lengan Fang Qin yang tidak lain ayah dari musuhnya itu.


"Bangsat... Kau... Jadi, ingin balas dendam, ya? Keparat..." Xu Yuan menggertakkan gigi.


Fang Lin terkekeh pelan, ia kemudian mengambil pedang Pembunuh Absolute dengan tangan kirinya, "Sayang sekali, padahal kemampuan dari pedang ini sangatlah hebat. Tapi, kau tidak bisa menggunakannya dengan benar..." Fang Lin mendecakkan lidahnya beberapa kali, lalu menyimpan pedang tersebut di inventorynya.

__ADS_1


"Sekarang, kartu As-mu sudah tidak ada. Apa kau masih punya rencana yang lain lagi, Xu Yuan?" Tanya Fang Lin dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Kemenangannya sudah di depan mata, jadi dirinya ingin bermain-main sedikit untuk terakhir kalinya.


Xu Yuan tidak menahan amarahnya, elemen Es milik musuhnya adalah suatu kecurangan. Dia sangat iri, karena pedang Pembunuh Absolute yang diberikan gurunya tidak sebanding dengan Elemen Es milik Fang Lin


"Bajingan curang! Dasar kau makhluk hina!" Xu Yuan berteriak putus asa, matanya benar-benar menunjukkan amarah yang luar biasa.


Fang Lin menggelengkan kepalanya pelan, "Astaga... Meski sudah terpojok, mulutmu sungguh tajam. Sudah berapa banyak orang yang dibuat sakit hati oleh mulut sampahmu itu?" Tanya Fang Lin, lalu menarik rambut Xu Yuan menggunakan tangan kiri.


"Sebenarnya aku ingin langsung membunuhmu, tetapi aku tidak mau membiarkanmu seenak itu." Fang Lin berkata dan sorot matanya berubah menjadi dingin, "Kau sudah membunuh orang-orang berhargaku, apalagi karenamu ketiga kekasihku terpencar ke tempat yang tidak kuketahui. Bukankah tidak adil jika aku membunuhmu dengan cepat?"


Xu Yuan melebarkan mata, tiba-tiba saja ia sudah berada di sebuah tempat yang mengerikan, "Cih, ilusi? Kau pikir aku bodoh?"


"Hahahaha... Tentu saja, kau itu pintar. Berbanggalah karena aku memujimu..." Suara Fang Lin menggema di tempat mengerikan itu, "Tempat ini adalah ilusi nyata, rasa sakit yang kau terima akan ribuan kali lebih kuat dari biasanya..."


Xu Yuan menggertakkan gigi, ia mencoba menggunakan kekuatannya tetapi tidak ada pengaruh sedikitpun, "Sialan... Aku harus cari cara untuk keluar dari sini."


"A-apa?! Sejak kapan!" Xu Yuan melebarkan mata, ia sebenarnya tidak mau percaya namun yang mengatakan itu adalah musuhnya sendiri, "Akhhhhhh!!!"


Xu Yuan berteriak kesakitan ketika dirinya dikuliti oleh energi tak kasat mata, ia menangis kencang karena tidak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya.


Di sisi lain, Fang Lin yang mengetahui semua itu langsung tertawa sekencang-kencangnya, entah kenapa balas dendam yang ia lakukan saat ini sangatlah menyenangkan.


***


Dunia Abyss.


Jong Hyun yang sekarang sedang melawan Diablo begitu terkejut ketika hubungan jiwanya dengan Xu Yuan terputus, "Tuan... Apa yang terjadi padamu?!" Batinnya bertanya-tanya.

__ADS_1


Sedangkan Diablo yang mengetahui kalau Jong Hyun sedikit menurunkan perhatiannya langsung mengambil kesempatan itu untuk melancarkan serangan terkuatnya.


Tiba-tiba saja enam segel sihir yang membentuk kubus muncul dan mengurung Jong Hyun. Kakek tua itu terkejut, dia mencoba untuk teleportasi ke tempat lain tapi tidak bisa.


"Segel kuno apa ini?" Jong Hyun menyebarkan Kesadaran Spiritualnya dan mencari tau segel yang mengurungnya.


Diablo sendiri memejamkan mata, disaat yang bersamaan segel sihir yang dia ciptakan bersinar terang.


Tak lama kemudian, cahaya yang keluar dari segel sihir itu menghilang dan Jong Hyun sudah tidak ada di sana. Kakek tua itu menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


"Segel Kehampaan, berhasil..." Diablo membuka matanya perlahan, ia sedikit mengangkat sudut bibirnya.


Segel Kehampaan adalah sihir yang memindahkan suatu objek ke sebuah dimensi hampa, waktu tidak berjalan di sana dan objek yang dipindahkan akan terkurung selamanya tanpa ada satu orangpun yang bisa mengeluarkannya.


Diablo baru pertama kali memakai sihir itu, karena nona Yue yang mengajarinya. Dia sebenarnya tidak suka dengan Segel Kehampaan, karena itu membuat musuhnya mudah dikalahkan. Tetapi sekarang adalah masa peperangan, bermain-main dengan musuh adalah ide yang buruk.


Diablo menghela nafas panjang, pandangannya menyapu area bawah dan mendapati ribuan Naga mulai bermunculan entah dari mana asalnya.


Para Naga itu mempunyai basis kultivasi yang setara dengan Dewa Inti. Perbedaan kekuatan tempur antara kedua kubu mulai melebar, yang paling dirugikan adalah kubu Xu Yuan. Meski menang dalam hal jumlah, tetapi tidak dengan kekuatan.


"Merepotkan... Tapi, menyenangkan..." Diablo terkekeh, lalu melesat maju dan menyerang para naga yang baru berdatangan itu.


Di sisi lain, Fang Lin sedang mengamati area medan pertempuran. Sebenarnya ia bisa saja langsung mengakhiri ini, tetapi ia tidak mau melakukannya karena ingin para bawahan intinya mendapatkan pengalaman dari pertempuran ini.


"Ngomong-ngomong, aku tidak pernah melihat bawahan langsung Xu Yuan. Dimana mereka berada? Apa mereka sudah tau kalau tuannya telah mati?" Kepala Fang Lin saat ini sedang dipenuhi dengan banyak pertanyaan.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2