
Whoosh!
Tiba-tiba saja, Fang Lin muncul di depan mulut Gua yang berjarak beberapa belas kilometer dari kota Heinz.
Tanpa banyak bicara, Fang Lin langsung masuk ke dalam Gua sembari menyebarkan Kesadaran Spiritualnya, alisnya sedikit terangkat ketika menemukan sesuatu yang menarik.
"Ternyata kau seorang manusia, ya?"
Setelah berjalan beberapa belas meter di dalam Gua, Fang Lin tersenyum tipis ketika menemukan seorang pemuda berambut putih sedang mengawasi Yuna yang tidak sadarkan diri.
"Apa...?"
Pemuda itu tampak terkejut dengan kemunculan Fang Lin, dia langsung melesat maju ke arahnya karena mengira manusia asing itu adalah salah satu anggota dari kelompok sebelumnya.
Fang Lin tentu langsung melumpuhkan pemuda itu menggunakan aura Naganya.
Brugh!
Pemuda itu terjatuh dalam posisi tengkurap, matanya melebar karena merasa tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya sekarang ini.
"Karena kau sudah menyelamatkan Yuna, aku tidak akan membunuhmu." Fang Lin berjalan santai mendekati perempuan berambut pirang yang tergeletak pingsan di tanah, lalu membopongnya, "Sampai jumpa..."
Whooosh!
Fang Lin menghilang dari tempatnya bersama dengan Yuna, dan tekanan asing yang menimpa pemuda itu seketika menghilang seolah tidak pernah ada.
Pemuda tampan itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, kejadian yang terjadi barusan menbuatnya cukup syok.
***
Kota Heinz, lorong sepi.
Fang Lin menghela nafas panjang ketika muncul dari balik bayangan, ia menatap Yuna yang dirinya bopong dan terdiam sejenak.
"Kalau aku membawanya ke tempat Gwen atau Yohan, itu akan menimbulkan beberapa kecurigaan yang tidak perlu." Fang Lin bergumam, dan kemudian ia memutuskan untuk membawanya ke penginapan.
Tetapi bukan Fang Lin yang akan membawanya melainkan Boneka Bayangannya yang sudah berubah wujud menjadi seorang perempuan cantik.
"Ambil koin emas ini dan bayar penginapan untuk semalam, jaga dia sampai sadarkan diri lalu jelaskan bahwa kau yang telah menyelamatkannya dari Gua itu."
"Saya mengerti, Raja." Boneka Bayangan itu menundukkan badannya setelah menerima sejumlah koin emas dari Fang Lin.
Fang Lin sendiri mengangguk pelan dan kemudian menyuruh boneka bayangan itu menggantikan dirinya untuk membopong Yuna.
__ADS_1
Setelah semua itu, Fang Lin menghilang dari sana sementara Boneka Bayangan membawa Yuna keluar dari lorong tersebut dan berjalan menuju ke penginapan terdekat.
***
Hutan Wantral berada jauh di barat dari kota Heinz, hutan tersebut sangatlah luas dan dipenuhi oleh berbagai jenis monster yang tak terhitung jumlahnya.
Bagi para pemburu di kota Heinz, melakukan perjalan ke hutan ini membutuhkan waktu setidaknya lebih dari satu minggu meskipun sudah menggunakan familiar atau sihir transportasi.
Namun bagi Fang Lin, dia hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk sampai ke hutan Wantral menggunakan kecepatan cahaya.
Ketika sampai, Fang Lin bisa merasakan energi kegelapan yang cukup murni memenuhi sebagian besar wilayah hutan.
"Sepertinya ini akan jauh lebih menarik dari sebelumnya." Fang Lin tersenyum tipis, lalu menyebarkan Kesadaran Spiritualnya.
Di dalam Kesadaran Spiritualnya itu, Fang Lin bisa menemukan seorang perempuan cantik berambut hitam panjang yang sedang duduk sambil memandangi api unggun di depannya.
Mungkin jika dilihat secara normal dia seperti seorang Pemburu yang sedang beristirahat di tengah hutan, tetapi nyatanya bukan.
Perempuan itu adalah seorang Necromancer yang harus dibunuhnya, Fang Lin bisa mengetahuinya setelah Mata Dewa-nya diaktifkan.
"Kalau dia seorang pemburu, mungkin setara dengan pemburu tingkat Platinum atau Diamond." Fang Lin bergumam sebelum alisnya mengerut karena menyadari sesuatu, "Kalau begitu, bukankah ini adalah misi mustahil bagi para pemburu di tingkat Gold? Kenapa level kesulitannya tidak ditingkatkan?"
Fang Lin terdiam sejenak dan memikirkan itu, ia kemudian mengingat kalau kertas misi tersebut cukup lusuh seperti sudah dipajang dalam waktu yang lama.
Fang Lin terbang turun dan mendarat beberapa ratus meter dari perempuan Necromancer itu, ia kemudian berjalan ke tempatnya sembari memegang pedang panjang berwarna perak di tangan kanannya.
Karena hawa kehadiran Fang Lin cukup lemah sekarang ini, perempuan Necromancer itu baru menyadari keberadaannya ketika dia sudah berjarak beberapa belas meter lagi.
"Um, halo?"
Fang Lin menyapa dengan ramah ketika mata mereka berdua saling bertemu, karena ia tidak mengenakan mantel hitamnya lagi-- perempuan itu seharusnya bisa melihat wajahnya dengan jelas berkat bantuan dari cahaya api unggun.
"Siapa kau?"
Perempuan itu tampaknya tidak tertarik dengan wajah tampan Fang Lin, dan bertanya.
"Aku seorang Pemburu dari kota Heinz, Fang Lin."
"Kota Heinz?" perempuan itu terlihat sedikit terkejut, wajar saja dia bereaksi demikian karena jarak dari Hutan Wantral ke kota itu sangatlah jauh, "Apa yang kau lakukan di hutan ini?"
"Aku mengambil sebuah misi untuk pergi ke hutan ini."
"Misi, ya... Misi apa?"
__ADS_1
"Ah, sebelum aku menjawabnya. Bisakah aku duduk di dekat api unggun dan mendengar namamu terlebih dahulu?" Fang Lin bertanya dengan hati-hati.
Perempuan Necromancer itu terdiam sejenak dan tampak berpikir, ia kemudian menghela nafas sebelum menganggukkan kepalanya.
Fang Lin tersenyum senang, lalu duduk bersebrangan dengan perempuan cantik itu. Mereka berdua kini hanya dipisahkan oleh api unggun saja.
Suasana hening terjadi selama beberapa waktu dan mereka masih saling menatap dalam diam.
"Namaku adalah Elisa, aku berasal dari Kerajaan Diamond."
Fang Lin mengangguk pelan, kemudian bertanya, "Lalu apa yang kau lakukan di sini?"
"Sebelum itu, bukankah kau harus menjawab pertanyaanku sebelumnya?"
"Kau benar juga." ucap Fang Lin, lalu melanjutinya, "Misiku adalah membunuh seorang Necromancer yang menguasai hutan ini."
Setelah Fang Lin memberitahukan misinya, tidak ada reaksi sama sekali dari Elisa. Dia seharusnya cukup terkejut mendengar itu, tetapi tidak mengekspresikannya.
Karena suasana hening, Fang Lin bertanya untuk memecahkan keheningan yang ada, "Sudah berapa lama kau tinggal di hutan ini?"
"Sudah lumayan lama, mungkin sekitar lima tahun lebih." Elisa menjawab tanpa berbohong.
"Benarkah? Itu sangat lama..." Fang Lin cukup terkejut karena dia berbicara jujur, "Apakah kau sudah pernah bertemu dengan Necromancer yang kubicarakan sebelumnya?"
"Sayangnya tidak." Elisa menggeleng pelan, dia berbicara jujur sebab dirinya sendiri adalah Necromancer yang dimaksud oleh Fang Lin, "Omong-omong, apa kau yakin bisa membunuhnya?"
Perubahan topik itu mungkin sedikit di luar perkiraan Fang Lin, tetapi dia tetap menjawab dengan nada yang sedikit sombong, "Heeh... Jangan meremehkan aku, meskipun hawa kehadiranku ini lemah-- aku adalah seorang pemburu di tingkat Gold."
Elisa mengangguk beberapa kali seolah dirinya percaya pada perkataan Fang Lin.
"Kenapa kau tinggal di hutan ini sangat lama?" Fang Lin bertanya karena penasaran.
Elisa tidak menjawab melainkan terdiam selama beberapa waktu.
"Aku hanya suka sendiri, dan juga hutan ini meninggalkan banyak kenangan untukku." raut wajah Elisa tampak menunjukkan sedikit kemuraman.
Fang Lin mengetahuinya hanya saja dirinya berpura-pura bodoh.
"Memangnya kenangan apa itu? Sehingga kau berani tinggal di hutan ini dalam waktu yang lama?"
"Aku tidak akan membicarakan itu, apalagi pada orang asing sepertimu." Elisa menggeleng pelan, kemudian aura kegelapan merembes keluar dari tubuhnya dan berniat untuk menekan Fang Lin, "Mau sampai kapan kau berakting seperti orang bodoh?"
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.