
Go Men sampai di tempat yang prajuritnya katakan, Ia melihat banyak kera api yang mati namun tidak semuanya ada juga yang terluka parah, Go Men mengedarkan pandangannya dan mencari istrinya.
Tak butuh waktu lama, Go Men melihat istrinya tergeletak di tanah sambil memeluk anaknya, Dirinya langsung menghampiri istrinya dengan perasaan takut.
"Istriku! Apa kamu baik-baik saja?" Ucap Go Men mencoba menyadarkan istrinya.
"Ah... Sayang, Kamu sampai" Ucap istri Go Men dengan suara lemah.
Istri Go Men mencoba bergerak, Namun tubuhnya saat ini sudah tidak ada tenaga.
"Jangan bergerak dulu, Aku akan menyembuhkan mu" Ucap Go Men mengaliri Qi ke istrinya.
"Bagaimana dengan anak kita?" Lanjutnya dengan nada gelisah, Ia melihat anaknya tidak sadarkan diri.
"Sayang... Kamu tidak perlu menyembuhkanku, Itu sia-sia" Ucap Istri Go Men yang mencoba menepis tangan suaminya.
"Maafkan aku, Aku tidak bisa menyelamatkannya, Aku dan anak kita sudah terkena panah yang beracun" Ucap Istri Go Men mengeluarkan air matanya sambil melihat anaknya.
Go Men hatinya sesak mendengar anaknya yang tiada, Akan tetapi Go Men tetap mencoba menyembuhkan istrinya walaupun istrinya menolak.
"Tidak! Pasti... Aku pasti akan menyembuhkanmu!" Ucap Go Men dengan suara serak.
"Cukup sayang... Lebih baik kamu gunakan untuk para prajurit yang memiliki kesempatan untuk hidup" Ucap suara istri Go Men yang melemah namun masih memeluk anaknya.
"Dia tidak bisa diselamatkan, Lebih baik kau bicara yang terakhir kalinya" Ucap Yun Feng yang tiba-tiba muncul.
"Diam kau! Kau tau apa!!" Teriak Go Men marah ketika mendengar ucapan dari Yun Feng.
"Haah... Terserahmu, Aku akan membantu menyembuhkan prajuritmu yang masih bisa diselamatkan" Ucap Yun Feng pasrah seraya berjalan pergi.
"Tenang saja... Jangan pikirkan ucapan serigala bodoh itu, Aku akan mencoba mengeluarkan racun dari tubuhmu" Ucap Go Men yang tetap mengalirkan Qi ke istrinya.
"Itu tidak perlu sayang, Dengarkan kata-kata terakhirku, Kamu harus berjanji untuk menjaga anak kita yang pertama, Lalu lindungilah para kaum kita seperti kau melindungi keluargamu" Ucap istri Go Men memegang tangan suaminya.
"T-tidak... Sayang... Kamu harus selamat!" Ucap Go Men menatap istrinya dengan tatapan sedih.
Namun beberapa setelah mengatakan itu, Istri Go Men menutup matanya perlahan sambil tersenyum.
"Sayang... Tidak... Sayang bangunlah! Sayang?!" Teriak Go Men menampar pelan pipi istrinya.
__ADS_1
~GROARRGGHHHH~
"Manusia!!! Kalian sungguh bajing*n!!!" Teriak Go Men dengan keras sambil menangis.
Disisi lain para prajurit mulai berdatangan satu persatu, Melihat raja mereka menangis membuat hati mereka menjadi sesak, Melihat ratu, pangeran beserta teman-teman mereka mati membuat para prajurit kera api marah.
(Flashback Off)
***
Kini Go Men berserta seluruh ras kera api berada di luar kediaman raja kera api, Mereka saat ini memandangi mayat pangeran dan teman-teman mereka dengan tatapan yang bercampur aduk.
"Aku tidak tau harus berbicara apa, Tapi aku berharap kalian bisa menerima kepergian teman-teman kalian" Ucap Go Men menatap para ras kera api.
"Raja! Ini sudah keterlaluan! Apakah raja akan diam setelah manusia membunuh kawanan kita? Bahkan pangeran ikut terbunuh!" Teriak kecil salah satu prajurit.
"Itu benar raja! Bahkan jika lawan kita manusia yang kuat, Kami para prajurit kera api tidak akan takut!" Timpal salah satu prajurit.
"Benar raja! Bahkan jika kita mati, Kita mati dengan keadaan tidak menyesal karena mencoba membalaskan dendam mereka" Ucap satu prajurit lagi.
Go Men menggelengkan kepalanya pelan. "Aku bukan takut mati atau pengecut karena tidak membalas manusia yang membunuh anakku serta kaumku!" Ucap Go Men dengan lantang.
"Akan tetapi, Aku sudah berjanji kepada istriku untuk melindungi kalian! Aku sudah melanggar satu janjiku yaitu melindungi anakku satu-satunya, Jadi aku tidak ingin melanggar janjiku untuk melindungi Kalian" Lanjut Go Men.
Para petinggi dan prajurit kera api tertegun mendengar apa yang dikatakan rajanya, Memang dalam lubuk hati mereka yang terdalam, Mereka tidak ingin mati dan masih ingin bersama keluarga mereka.
"Renungkan itu, Dan kuburkan mereka" Ucap Go Men menunjuk mayat kera api lalu masuk kedalam kediamannya.
Go Min, Go Yeng dan Go Chun hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat Raja/kakaknya masuk kedalam dan tidak ingin melihat anaknya dikubur, Mereka tau kalau kakak mereka akan menangis jika melihat salah satu dari keluarganya dikubur.
***
Alam Dewa, Dikediaman Dewa Perang
Fang Lin saat ini masih terbaring di ranjang yang empuk, Namun beberapa saat kemudian Fang Lin perlahan membuka matanya.
"Uhh... Dimana aku?" Ucap Fang Lin melihat langit kamar yang asing.
Perlahan dirinya bangun dan mengedarkan pandangannya, Saat ini ia berada disebuah kamar yang cukup luas dan mewah, Terdapat cermin yang cukup besar dan di langit-langitnya terdapat lampu kristal yang cukup terang.
__ADS_1
Note: Gua bingung gimana mau jelasin ciri kamarnya.
"Ukh... Rambut merah sialan" Umpat Fang Lin ketika mengingat kejadian dirinya diserang.
"Ohh... Kau sudah sadar" Ucap seseorang dari luar kamar dan memasukinya.
"Dimana ini?" Tanya Fang Lin yang melihat Yuan Zhong.
"Kau buta? Sudah jelas ini dikamar" Ucap Yuan Zhong dengan muka datar.
"Ck, Aku sudah tau" Ucap Fang Lin berdecak kesal, Ia tau saat ini Yuan Zhong sedang balas dendam tentang kejadian tadi.
"Hahahaha, Rasakan itu" Tawa Yuan Zhong seraya mendekati Fang Lin.
"Bocah namamu siapa?" Ucap Yuan Zhong mendadak mendekatkan mukanya ke arah Fang Lin.
Fang Lin secara reflek langsung meninjunya dan melompat jauh.
~BUK~
"Bocah sialan, Malah meninjuku!" Umpat Yuan Zhong kesal.
"Itu salahmu! Mendekati muka jelekmu itu secara tiba-tiba" Balas Fang Lin kesal melihat tangannya memar setelah meninju muka Yuan Zhong.
"Hahahaha, Rasakan itu, Akibat dari meninju seorang dewa" Tawa Yuan Zhong melihat tangan anak kecil didepannya memar.
Fang Lin hanya mengabaikannya dan menggunakan pernafasan naga untuk menyembuhkan memarnya, Dan beberapa saat memar yang dialaminya sembuh seketika.
"Ohh... Teknik yang menarik, Pantas saja kultivasimu tinggi walaupun di alam rendah" Decak kagum Yuan Zhong yang melihat teknik pernafasan Fang Lin.
"Tentu saja, Aku yang terhebat" Gumam Fang Lin membanggakan dirinya sendiri walaupun dapat didengar oleh Yuan Zhong.
"Hmph, Aku menyesal memujimu" Dengus kesal Yuan Zhong.
Fang Lin hanya tertawa kecil mendengar itu. "Nama ku adalah Fang Lin, Untuk apa kau menanyakan itu?" Tanyanya dengan polos.
"Tentu saja aku harus tau siapa nama pewarisku bodoh" Ucap Yuan Zhong kesal.
Fang Lin mendengar itu hanya tertawa bodoh sambil menggarukan kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 COMMENT...