
Setelah mengaktifkan jurus kubah Darah Penghisap-- pandangan Ki Lian perlahan memudar, ia bisa melihat tiga Serigala Giok yang menjadi lawannya berusaha kabur dari tempat ini.
"Aku harap kalian mati di sini bersamaku..." Ki Lian bergumam sebelum pandangannya menjadi gelap gulita.
Perlu diketahui, ketika kubah Darah Penghisap sudah diaktifkan-- maka membutuhkan waktu setidaknya satu menit agar orang-orang yang ada di dalamnya menerima efek dari kubah ini. Tentu saja hal itu membuat Serigala Giok mempunyai kesempatan untuk kabur dari kubah itu.
Pada saat ketiga Serigala Giok hampir mencapai dinding kubah, mereka langsung melebarkan mata ketika mendapati sebuah dinding penghalang tak kasat mata yang menutupi bagian dalam kubah.
"Sialan! Siapa yang membuat itu?! Hancurkan cepat!" Serigala Giok yang tubuhnya dipenuhi luka berseru lantang.
Kedua Serigala Giok lainnya langsung mengangguk paham, mereka bertiga kemudian mengeluarkan jurus masing-masing dan mengarahkan serangan gabungan mereka di titik yang sama.
Bam!
Suara ledakan yang begitu dahsyat terjadi, kepulan asap langsung memenuhi area itu tetapi hanya berlangsung sementara saja. Nafas ketiga Serigala Giok itu langsung tertahan ketika mendapati penghalang yang baru saja mereka serang dalam kondisi baik-baik saja, tidak ada goresan sedikitpun dan terlihat seperti baru saja diciptakan.
"Apa-apaan ini! Bagaimana bisa tidak ada kerusakan sedikitpun?!" satu Serigala Giok menjadi sangat panik, ia kembali mencoba menyerangnya namun semua usaha yang ia lakukan sia-sia.
"Tidak mungkin! Aku tidak mau mati di sini! Senior, apa yang harus kita lakukan?!!" tanya Serigala Giok lainnya dengan wajah melas.
Serigala Giok yang dipenuhi luka hanya bisa diam, sorot matanya mengarah ke langit dan matanya melebar ketika menemukan seorang manusia dari luar kubah sedang tersenyum ke arahnya.
Bam!
__ADS_1
Belum sempat mengatakan sesuatu, tubuh mereka meledak menjadi potongan daging dan darah yang keluar dari sana perlahan menyatu dengan udara. Efek kubah Darah Penghisap baru saja aktif, dan membuat ketiganya terbunuh seketika.
Tidak hanya mereka bertiga saja yang bernasib seperti itu, Serigala Giok lainnya juga mengalami hal yang serupa. Kematian mereka dalam sekejap terjadi setelah berada di dalam kubah Darah Penghisap selama satu menit.
Perlahan, kubah Darah Penghisap itu mulai menghilang. Di sisi lain, Ki Muyang yang sama sekali tidak terpengaruh dengan kubah tersebut langsung menghampiri tempat Ki Lian berada.
Linangan air mata turun dari pelupuk matanya ketika menemukan Ki Lian yang sudah tergeletak di tanah dalam keadaan yang benar-benar sekarat.
"Tidak! Kau tidak boleh mati! Kau adalah saudaraku satu-satunya, kau tidak boleh mati!" suara serak keluar dari mulut Ki Muyang, ia menggendong Ki Lian di belakang punggung dan berniat untuk kembali ke wilayah ras Vampir Darah dengan harapan agar saudaranya itu bisa diselamatkan.
Ketika Ki Muyang hendak terbang, matanya melebar ketika seorang manusia muncul di hadapannya secara tiba-tiba. Ia mundur beberapa langkah dengan jantung yang sudah berdebar kencang, kemunculan manusia itu membuatnya berspekulasi kalau dia adalah sosok yang kuat.
"Sia-" belum sempat Ki Muyang berkata, Diablo lebih dulu berbicara, "Aku adalah orang dari Aliansi Istana Iblis, dan aku kemari karena ingin menolong dia..." Ucap Diablo sembari menunjuk ke arah Ki Lian yang sedang pingsan dalam kondisi sekarat.
"Percaya atau tidak itu adalah urusanmu... Aku kemari dengan niat yang baik, jika kau percaya padaku maka orang sedang kau gendong itu akan selamat." Diablo berkata dengan raut wajah datar.
Ki Muyang sendiri langsung berpikir keras ketika mendengar itu, ia merasa dilema karena harus percaya dengan Diablo atau tidak, "Aku tau kalau Ki Lian tidak akan bisa selamat jika aku tetap bersikeras membawanya ke kediaman, namun aku juga tidak bisa mempercayai orang itu begitu saja." batin Ki Muyang sembari menatap Diablo, raut wajahnya kini terlihat sangat rumit.
Ketika sedang memikirkan itu, tubuh Ki Lian mendadak menjadi sangat panas seolah sedang terbakar oleh Api. Kejadian ini tentu saja berhubungan dengan kubah Darah Penghisap, setelah memakai jurus tersebut-- suhu tubuh penggunanya akan menjadi panas dan cepat atau lambat organ-organ dalamnya bakalan meledak satu per satu sampai tidak tersisa satupun.
Mengetahui hal itu membuat Ki Muyang panik, ia berulang kali mengumpat kesal lalu menatap Diablo, "Baiklah! Tolong bantu saudaraku!" ucapnya sambil meletakkan Ki Lian di tanah.
"Pilihan yang tepat..." Diablo mengangkat sudut bibirnya, telapak tangan kanannya kemudian menyentuh kening Ki Lian dan muncul sebuah pusaran hitam yang cukup untuk menutupi wajah pemuda itu.
__ADS_1
"Apa yang kau-" ucapan Ki Muyang terhenti ketika mendapati aura merah keluar dari tubuh Ki Lian dan terserap ke dalam pusaran hitam itu.
Ki Muyang mengaktifkan kemampuan mata bawaan Vampir Darah yang bisa melihat bagian dalam tubuh makhluk hidup seperti aliran darah, otot, tulang dan organ dalam. Nafasnya langsung tertahan ketika mendapati aura merah memenuhi tubuh Ki Lian, ia bisa melihat kalau ada energi kuat yang sedang menarik aura merah itu dari tubuh saudaranya.
"Dia benar-benar..." Ki Muyang tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia merasa malu karena sempat berpikir Diablo akan mencelakai saudaranya itu.
Selang beberapa waktu, hawa panas yang keluar dari tubuh Ki Lian kini sudah tidak ada lagi. Diablo sendiri mengepalkan tangan kanannya dan dalam sekejap pusaran aura hitam itu menghilang.
"Saudaramu sudah baik-baik saja... Dia sekarang sedang tertidur karena kelelahan setelah kehabisan Qi. Aku harap kau membawanya ke tempat aman, kubah yang dia ciptakan tadi menarik perhatian beberapa makhluk dari kubu Dewa Iblis." Diablo berkata dengan kedua tangan yang terlipat di belakang punggung.
Ki Muyang langsung menundukkan badannya serendah mungkin, ia mengucapkan rasa terima kasih yang begitu tulus dengan air mata lega.
"Tidak perlu berterima kasih, aku membantumu karena kita berada di kubu yang sama." balas Diablo datar.
Ki Muyang tetap berterima kasih dan ia kemudian bertanya, "Siapa namamu, Tuan? Aku ingin mengetahui nama yang menyelamatkan saudaraku."
"Namaku adalah Fang Dia." jawab Diablo sembari tersenyum tipis, ia rasa tidak ada bagusnya untuk memberikan nama asli kepada pemuda itu-- lagipula dirinya kini sedang menyamar dan tentu harus memakai nama samaran juga.
Ki Muyang tersenyum lebar sebelum kembali menundukkan badannya, "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, tuan Fang Dia! Saya akan selalu mengingat jasa anda" ucapnya dengan suara lantang, lalu menegakkan badannya, "Eh?! Kemana dia?"
Ki Muyang begitu terkejut saat dirinya tidak lagi menemukan keberadaan Diablo di depannya, ia terdiam sejenak untuk mencerna situasi sebelum menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, "Aku tidak tau kenapa tuan itu tiba-tiba pergi, tapi sepertinya dia ada urusan yang mendesak..." gumamnya dan ia kemudian membawa Ki Lian kembali ke wilayah ras Vampir Darah.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.