
Brugh!
Setelah pecahan energi itu menghilang, Mika jatuh berlutut ke tanah dengan linangan air mata di wajahnya. Dia menangis dan menggetarkan daratan sampai membuat pemukiman modern di sekitarnya runtuh.
Fang Lin tidak menyaksikan tangisan bawahannya itu melainkan pergi dari sana menggunakan teleportasi, ia tidak mau mengganggunya karena dia pasti membutuhkan waktu untuk sendiri.
Setelah berada di pinggir lautan, Fang Lin menatap langit senja dalam diam. Untuk kesekian kalinya, helaan nafas keluar dari mulutnya dan bergumam, "Aku jadi sedikit kepikiran gara-gara itu..."
Bukan karena Fang Lin terbawa suasana dengan pesan yang ditinggalkan oleh Yun Shandes melainkan peninggalannya tersebut.
Meninggalkan pesan untuk orang-orang yang dia sayangi, Fang Lin sedang memikirkan hal itu saat ini.
"Kematian bukanlah hal yang tidak mungkin bagi seorang Absolute sekalipun, aku mungkin bisa saja gagal dalam memenangkan Turnamen ini." Fang Lin melipat kedua tangannya di depan dada, raut wajahnya terlihat rumit saat ini.
Fang Lin terdiam dan larut ke dalam pemikirannya tersebut, tidak lama setelah itu Mika muncul tepat di belakangnya dan langsung menundukkan badannya.
"Maafkan saya, Tuan." ucap Mika, nadanya terdengar sangat menyesal.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan... Aku sudah memahami situasinya, nona Lien Juan." Fang Lin tersenyum tipis, lalu melanjutinya, "Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan. Apakah kau berbohong mengenai namamu?"
"Tidak, saya sama sekali tidak berbohong, Tuan." Mika menggeleng kecil, lalu menjelaskan, "Lien Juan memang nama saya yang dahulu, dan saya memutuskan untuk merubahnya setelah pemukiman modern mulai berkembang cukup besar..."
"Begitu, ya? Syukurlah kau tidak berbohong..." Fang Lin berbalik, dan berkata, "Kita akan kembali ke kubah tempat asalku, apa kau ingin melakukan sesuatu sebelum pergi dari sini?"
Mika tidak langsung menjawab dan memejamkan matanya perlahan, ia menghembus nafasnya dari mulut sebelumnya menggelengkan kepalanya pelan, "Saya rasa tidak ada, Tuan." jawab Mika dengan suara tenang.
"Baiklah, kalau begitu kita kembali."
Fang Lin bersama bawahan barunya itu teleportasi ke Menara Puncak Batu, kemudian memasuki portal tersebut secara bergantian.
"Sayang?" Yue sedikit melebarkan matanya karena terkejut melihat kemunculan Fang Lin dari portal.
__ADS_1
"Eh, sedang apa kamu di sini?" Fang Lin bertanya sambil memiringkan sedikit kepalanya.
"Aku tadinya ingin menggunakan klon untuk mengawasi dari kejauhan, tapi kurasa itu sudah tidak diperlukan." Yue tersenyum pahit, lalu matanya teralih ke seorang perempuan cantik yang memakai kemeja kasual, "Omong-omong, siapa dia?"
"Ah, dia adalah Absolute yang tersisa di sana. Namanya..." Fang Lin terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Mika, "Kau ingin dipanggil siapa?"
"Ah, iya..." Mika tersentak dari lamunannya, kemudian menjawab, "Anda bisa memanggil saya Mika atau Lien Juan."
"Hm, bisakah kamu menjelaskan situasinya?" Yue bertanya dengan nada penasaran, kalau dia berasal dari kubah sebelah maka itu artinya dia berada di pihak Yun Shandes.
Fang Lin mengangguk kecil, ia tidak memberikan penjelasan tetapi mengirimkan ingatannya di kubah sebelah pada istrinya itu.
Yue sendiri menerima ingatan dari suaminya, lalu melihat ingatan tersebut dalam diam. Setelah itu, ia menatap Mika dan bertanya, "Apa kau sungguh yakin dengan kesepakatan itu? Suamiku adalah orang yang membunuh mantan kekasihmu itu, dan kau memberikan hidupmu padanya untuk menolong mereka yang bahkan bisa kau ciptakan dengan mudah."
Meskipun Yue telah mengetahui alasan Mika bertindak demikian, ia ingin memastikan sekali lagi dengan mata kepalanya sendiri.
"Saya mengetahuinya dan saya sangat yakin dengan kesepakatan itu. Tuan memang telah membunuhnya, tapi itu jauh lebih baik daripada dia dilahap oleh tekniknya sendiri."
"Dilahap oleh tekniknya sendiri? Apa maksudmu itu?" Fang Lin kali ini bertanya, Yue juga penasaran dengan itu.
"Teknik yang melahap penggunanya?" Fang Lin sedikit mengerut alisnya, lalu menatap Yue, "Apa kamu mengetahui teknik semacam itu?"
"Biasanya itu adalah teknik perangkap yang diciptakan oleh eksistensi tertentu, mereka akan mengambil keuntungan dari orang yang memakai teknik ciptaannya tetapi sang pengguna juga mendapatkan balasan yang setimpal. Sederhananya, kedua belah pihak saling diuntungkan dalam kasus ini..." jawab Yue menjelaskan.
"Tapi pada akhirnya itu adalah jurus yang merugikan penggunanya." timpal Fang Lin sembari menggeleng kecil, lalu menatap istrinya "Jadi, jawaban yang diberikan Mika sudah bisa memuaskanmu?"
"Ya, begitulah..." Yue mengangguk sekali saat menjawabnya.
Fang Lin tersenyum tipis, lalu mengajak mereka untuk kembali ke pemukimannya.
Setelah berada di wilayah pemukiman, Fang Lin memanggil Diablo dan memintanya untuk memperkenalkan Mika pada semua bawahan yang ada.
__ADS_1
Diablo tentu saja menerima tugas yang diberikan Tuannya dengan senang hati, dia membawa Mika pergi dan memperkenalkan pada orang-orang di sekitarnya.
"Kupikir kau akan ada di sana berhari-hari, tapi aku salah sangka rupanya." Yue sebenarnya cukup terkejut karena Fang Lin kembali dalam beberapa jam saja.
"Aku menemukan beberapa hal yang menarik di sana, apalagi kertas ini..." Fang Lin memunculkan secarik kertas bertuliskan 'Akses Keluar'.
Yue yang melihat itu sedikit mengerutkan alisnya, "Bisakah aku melihatnya?" Yue mengulurkan tangan kananya.
Fang Lin mengangguk kecil, lalu memberikan secarik kertas tersebut pada Yue. Ia sedikit mengangkat satu alisnya melihat istrinya itu terlihat serius memandanginya.
"Itu adalah Artefak tingkat Semesta, bukan? Aku belum memeriksa kegunaannya, apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Fang Lin penasaran.
Fang Lin menemukan secarik itu di dekat rekaman yang ditinggalkan Yun Shandes, melihat itu adalah Artefak tingkat Semesta jadi ia membawanya tanpa banyak berpikir.
"Ini adalah Artefak yang bisa membuat seseorang keluar dari Dunia Abyss meskipun dia bukan seorang peserta." ucap Yue memberitahu, lalu melanjutinya, "Tapi kemungkin besar ini tidak akan berguna setelah Turnamen Semesta dimulai."
"Mungkin? Apa itu artinya ucapanmu masih tanpa bukti?" Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya.
"Ya, begitulah..." Yue mengangguk, dan mengembalikan kertas tersebut pada suaminya, "Sosok yang memberikan ini pada Yun Shandes, mungkin adalah salah satu pendiri Turnamen Semesta."
"Huh...?" Fang Lin sedikit melebarkan mata karena terkejut, "Bagaimana kamu tau?"
"Karena tidak mungkin bagi seorang Absolute mampu menciptakan Artefak semacam ini, bahkan mereka sendiri saja tidak bisa keluar dari Dunia ini jika statusnya bukan seorang Peserta." Yue menjelaskan dengan penjelasan yang mudah dimengerti, "Kalau bukan sosok yang terlibat dalam Turnamen Semesta, memangnya siapa lagi yang bisa melakukannya?"
Fang Lin terdiam karena tidak bisa menemukan jawabannya, ia menatap secarik kertas itu dalam diam sebelum menghembuskan nafas panjang dari mulutnya.
"Ya, kamu benar. Tapi, kenapa dia memberikan ini pada Yun Shandes?"
"Entahlah, aku sendiri masih memikirkannya..."
Mereka berdua membicarakan topik itu selama beberapa waktu sembari berjalan ke Istana Es yang berada di tengah pemukiman.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.