
Fang Lin yang sudah sampai di medan tempur langsung keluar dari kapal Star Universe-nya, Ia dengan segera menyimpan kapal terbang-nya itu lalu melesat terbang ke titik tengah kedua kubu tersebut.
Fang Lin dapat melihat, Padang rumput yang tadi-nya di penuhi warna hijau kini telah berubah menjadi warna merah darah.
Melihat mayat-mayat dari kedua kubu tersebut membuat Fang Lin merasa sedih, "Meskipun aku telah membunuh miliyaran monster, Namun entah kenapa rasa-nya sangat berbeda ketika melihat jutaan mayat manusia" Gumam Fang Lin menghela nafas panjang.
Fang Lin kemudian mengaktifkan mata dewa-nya untuk mencari keberadaan klan Xia. Butuh beberapa saat untuk Fang Lin menemukan mereka, Ia saat ini melihat Xia Jun yang sedang mengarahkan anggota klan Xia untuk menyerang kubu Alam 100 Pelangi.
Klan Xia berada di barisan tengah, Jadi mereka membutuhkan waktu untuk bertemu dengan kubu Alam 100 Pelangi.
"Mungkin sekitar 1 minggu untuk mereka bertemu dengan kubu Alam 100 Pelangi" Gumam Fang Lin lalu membuat kursi es di langit.
Fang Lin kemudian duduk di kursi es yang baru dibuat-nya lalu memerhatikan peperangan itu dari atas awan.
Perang antara Alam 100 Pelangi dan Alam Agung semakin meriah, Ribuan mayat langsung memenuhi padang rumput dan darah mereka mengalir ke tanah sehingga membuat genangan darah yang mengerikan.
Di sisi lain, Pria berjubah kuning berdecak kesal ketika melihat pasukan dari Alam 100 Pelangi kalah jumlah, "Dong Zhu, Kau benar tidak ingin menambah-kan jumlah pasukan?" Tanya pria berjubah kuning tersebut sambil melirik Dong Zhu yang ada di sebelah-nya.
Pria paruh baya berjubah ungu yang di panggil Dong Zhu itu hanya menggelengkan kepala-nya pelan, "Tidak... Raja melarang kita untuk melakukan itu, Karena gelombang pertama hanya untuk tes kekuatan dari kubu musuh" Jawab Dong Zhu dengan nada tenang.
"Haish... Aku merasa bersalah, Karna membiarkan mereka menjadi alat untuk mengetes kekuatan musuh" Ucap pria berjubah kuning mendesah pelan.
"Jung Xi, Kurangi sifat naif-mu. Di setiap perang akan ada-nya korban dan juga pengorbanan, Jadi wajar-kan saja jika hal ini terjadi di peperangan" Balas Dong Zhu menasihati.
Pria berjubah kuning yang di panggil Jung Xi hanya menghela nafas panjang, Ia menggelengkan kepala-nya lalu terbang ke dalam benteng.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Dong Zhu saat ia melihat Jung Xi ingin kembali ke benteng.
Jung Xi sendiri hanya menggelengkan kepala-nya dan menjawab, "Tidak ada... Aku hanya ingin merenung saja" Jawab Jung Xi dengan nada pelan.
__ADS_1
Dong Zhu yang mendengar itu hanya menghela nafas pelan, "Jangan terlalu lama, Kau disini adalah salah satu pemimpin pasukan dari Alam 100 Pelangi. Jadikan diri-mu berguna agar kematian mereka tidak sia-sia" Ucap Dong Zhu acuh tak acuh.
Mendengar itu Jung Xi tidak menanggapi-nya melainkan terbang ke dalam benteng.
Di sisi lain, Wen Li pemimpin pasukan dari Alam Agung hanya menatap peperangan di depan-nya dengan tenang, Ia melirik mata-nya ke samping dan mendapati Dian Wu yang baru sampai ke dekat-nya.
"Hey, Wen Li... Apakah aku boleh maju?" Tanya Dian Wu dengan nada yang sedikit tidak sabar.
Wen Li sendiri yang mendengar-nya langsung menggelengkan kepala-nya cepat, "Tidak untuk sekarang tuan muda, Jika di gelombang pertama tidak ada masalah serius maka anda tidak di-perbolehkan maju" Ucap Wen Li menjelaskan.
Dian Wu yang mendengar-nya langsung berdecak kesal, Ia kemudian terbang kembali ke tenda sambil berharap akan ada masalah di gelombang pertama.
......................
Sudah hampir 1 minggu peperangan antara Alam 100 Pelangi dan Alam Agung di mulai.
Kubu dari Alam 100 Pelangi mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan mereka kalah jumlah dengan musuh.
Di sisi lain, Fang Lin yang sebelum-nya menatap malas perang tersebut kini langsung merubah raut wajah-nya menjadi serius, "Sebentar lagi Klan Xia akan melawan kubu 100 Pelangi" Gumam Fang Lin pelan.
Salah satu alasan Fang Lin datang ke peperangan ini adalah melindungi Xia Jun, Ia melakukan itu karna memang semata-mata tidak ingin ibu-nya bersedih.
Fang Lin memang membenci Xia Jun, Namun ia tidak terlalu membenci-nya ketika mengetahui kalau Xia Jun sangat sayang pada putri-nya.
Xia Jun sebenar-nya ingin membahagiakan putri-nya dengan cara sendiri, Namun sayang-nya cara-nya terlalu kuno dan membuat Xia Mei salah paham.
Fang Lin sendiri tau hal ini disaat ia menatap mata Xia Jun sesaat sebelum pergi dari klan Xia bersama ibu-nya.
Saat ini Xia Jun telah berperang dengan kubu Alam 100 Pelangi. Xia Jun sendiri sebenar-nya berada di ranah Holy Dao bintang 7, Namun karena sebuah artefak ia kini terlihat seperti seorang Immortal.
__ADS_1
Fang Lin juga mengetahui hal tersebut, Namun ia hanya diam meskipun hal itu melanggar peraturan perang.
Salah satu peraturan yang di tetapkan kedua kubu adalah Gelombang pertama sampai kelima hanya boleh mengeluarkan ranah Immortal saja. Jika salah satu dari kedua kubu melanggar peraturan, Maka Alam Tinggi yang mengawasi perang ini akan menindaklanjuti kecurangan tersebut.
Sudah hampir 27 hari perang tersebut berlangsung. Kini pasukan yang berada di kubu Alam 100 Pelangi hanya tersisa 500 ribu orang saja, Sedangkan untuk kubu dari Alam Agung masih tersisa 7 juta orang.
Tentu hal ini membuat Jung Xi menggigit bibir bawah-nya, "Hey Dong Zhu, Bukan-kah sudah saat-nya untuk menghentik-kan perang?!" Tanya Jung Xi dengan nada yang sedikit tinggi.
Dong Zhu yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala-nya pelan, "Belum, Sebentar lagi..." Ucap Dong Zhu yang terus menatap ke arah medan tempur.
Jung Xi berdecak kesal ketika mendengar itu, Ia terlalu khawatir saat ini sehingga tanpa sadar ia menggigit bibir bawah-nya hingga berdarah.
3 Hari telah berlalu, Kini pasukan Alam 100 Pelangi tersisa 100 ribu orang. Di sisi lain, Dong Zhu yang terus di desak Jung Xi untuk menhentikan perang hanya menghela nafas panjang, "Baik-lah, Kita hentikan sementara dulu peperangan ini" Ucap Dong Zhu lalu mengeluarkan sebuah terompet besar dari udara kosong.
~TUUUUUUUUUUTTTTT~
Sesaat setelah terompet itu berbunyi, Pasukan yang tersisa dari kubu Alam 100 Pelangi langsung mundur dari medan pertempuran.
Beberapa saat setelah terompet yang Dong Zhu bunyikan berhenti, Sebuah suara terompet kembali terdengar, Namun kali ini suara-nya berasal dari kubu Alam Agung.
Sesaat setelah terompet yang dibunyikan dari Alam Agung berhenti, Pasukan yang berasal kubu Alam Agung juga ikut mundur dari medan pertempuran.
Kini kedua kubu saling mundur satu sama lain dan berhenti berperang, Mereka kini menunggu gelombang ke-2 di mulai.
Di sisi lain, Jung Xi menghela nafas panjang ketika melihat kedua kubu berhenti berperang, "Haah... Akhir-nya perang telah berhenti, Meskipun sementara hal ini sudah cukup bagi-ku" Gumam Jung Xi senang.
Dong Zhu yang mendengar gumaman Jung Xi langsung menatap-nya dengan sinis, "Jika kau takut dengan jatuh-nya korban di peperangan, Maka berhenti-lah menjadi seorang kultivator" Cibir Dong Zhu sambil menyimpan terompet-nya kembali.
Bersambung...
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.