System Sang Immortal

System Sang Immortal
Mansion Gwen


__ADS_3

Fang Lin keluar dari ruangan Vulhan dan berjalan ke tangga menuju lantai dasar, ketika dirinya baru menginjak anak tangga pertama-- ia mendengar suara keributan di bawah.


Suara itu terdengar familiar, pada saat Fang Lin sudah mencapai lantai dasar-- ia melihat Yohan yang sedang menghajar salah seorang pria berusia 25-an.


Di lokasi kejadian, ada banyak orang yang sedang menonton itu dan di antara mereka ada Gwen dan juga Yuna.


"Oh, cepat juga." ucap Fang Lin, lalu mendekati keributan tersebut.


"Mengakulah, bajingan! Yuna sendiri yang bilang kalau ada seseorang memukulnya dari belakang! Kalau bukan kalian, memangnya siapa lagi?!" Yohan menarik kerah pria itu, dia mengepalkan tinju kanannya ke atas seolah sudah siap memukulnya kapan saja.


"K-kau salah paham... B-bukan aku yang melakukannya..." pria tersebut menangis setelah wajahnya hancur sehabis dipukul oleh Yohan.


"Bukan kau? Itu artinya benar ada yang memukul Yuna, 'kan?!" Yohan memukul sekali lagi laki-laki itu.


"I-iya... F-fredin yang melakukannya."


"Fredin? Siapa dia?" Gwen bertanya, bukan pada pria yang dihajar oleh Yohan melainkan wanita berambut pendek di dekatnya.


Wanita tersebut adalah salah satu anggota di kelompok Yuna sebelumnya, wajahnya kini terlihat pucat pasi dan ketakutan.


"D-dia adalah putra dari Keluarga Astrom, bangsawan kelas tiga yang memimpin kota ini."


"Hm, sialan itu?" Yohan mengerutkan alisnya, "Kalau tidak salah Yuna pernah menolak lamarannya, bukan? Apakah dia punya dendam karena itu?"


"Y-ya, dia juga dalang dari rencana kami..."


"Si brengsek itu..." Yohan menggertakkan gigi, lalu menoleh ke Gwen dan berbicara dengannya lewat telepati, "Sulit untuk menyentuhnya kalau begitu."


"Kau benar. Untuk sekarang, mari kita bawa mereka ke Mansion-ku." Gwen menanggapi, dan memberikan arahan.


"Aku mengerti." Yohan memutuskan telepati tersebut, lalu mengangkat pria yang baru saja dihajarnya.


Sementara Gwen menggunakan elemen es-nya menahan seorang pria dan tiga wanita yang menjadi pelaku atas percobaan pembunuhan Yuna.


Melihat mereka pergi keluar dari Serikat Pemburu, kumpulan Warrior dan Penyihir langsung membubarkan diri masing-masing.


Fang Lin sendiri mengikuti mereka dari kejauhan, ada beberapa orang yang berperilaku sama dengannya.


Karena tidak mau mengundang perhatian orang lain, Fang Lin menggunakan sihir Stealth-nya dan membuat seluruh keberadaannya menghilang total.


***


Rombongan Gwen yang sedang berjalan di alun-alun kota Heinz menjadi pusat perhatian sebagian besar penduduk dan juga pemburu.


"Apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa wajah pria itu babak belur?"


"Sepertinya mereka tahanan."


"Lihatlah wajahnya, sampai hancur begitu."


Beberapa penduduk dan pemburu membicarakan mereka, Gwen beserta yang lainnya tidak menghiraukan itu. Tujuan mereka saat ini adalah Mansion Gwen.


***


Setelah beberapa menit berjalan, rombongan Gwen akhirnya sampai di sebuah Mansion besar, halamannya sangatlah luas dan ada beberapa penjaga yang menjaga di depan gerbang.

__ADS_1


Kriettt~


Gerbang perlahan terbuka dan rombongan Gwen masuk ke dalamnya.


Fang Lin langsung mengikuti mereka dari belakang tanpa ketahuan, sedangkan para pemburu yang bersamanya dari Serikat Pemburu langsung menyerah ketika rombongan tersebut masuk ke dalam gerbang Mansion.


"Nona Muda, siapa mereka?"


Seorang pelayan pria tua datang menghampiri rombongan Gwen yang baru saja melewati gerbang Mansion, dia mempunyai wajah yang ramah tetapi dalam sekali lihat Fang Lin langsung mengetahui kalau pelayan tersebut adalah seorang Assassin.


"Mereka telah mencoba membunuh Yuna, tapi ceritanya kurang jelas jadi aku berniat memanggil kakak untuk membaca ingatan mereka dan memproyeksikannya di Cermin Proyeksi." Gwen menjelaskan situasinya.


"Saya mengerti, Tuan Muda sedang berlatih pedang di taman belakang. Apakah saya harus memanggilnya kemari?"


"Tidak perlu, aku yang akan pergi ke sana."


"Baik, Nona Muda. Mari saya antar..."


Pelayan tersebut membimbing mereka menuju ke taman belakang yang dimaksud olehnya.


***


Dari kejauhan, Gwen bersama rombongan bisa menemukan seorang pemuda tampan berambut dan bermata biru yang sedang berlatih pedang seorang diri.


Dia berhenti ketika menyadari hawa kehadiran orang lain di dekatnya, alisnya sedikit terangkat melihat adik perempuannya itu membawa banyak orang ke taman belakang.


"Gwen? Apa yang terjadi?"


"Halo, kak Eric..." Yohan menyapa dengan suara santai.


"Hahahaha... Ada suatu insiden sehingga mengharuskanku datang kemari, jadi-"


Ketika Yohan sedang berbicara, Gwen langsung memotongnya.


"Tolong baca ingatan salah satu dari mereka dan proyeksikan ke dalan Cermin Proyeksi, kak. Yuna hampir dibunuh oleh mereka, jadi aku ingin mengetahui situasinya lebih jelas."


Eric terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan, "Aku mengerti. Ron, bawakan Cermin Proyeksi."


"Baik, Tuan Muda."


Pelayan tua yang membawa Gwen beserta rombongannya bernama, Ron. Dia langsung pergi dari sana setelah mendapatkan perintah dari Tuan Mudanya.


Di sisi lain, Fang Lin mengamati mereka sembari melipat kedua telapak tangannya di belakang pinggang. Rencana dan penyelidikan yang ingin mereka lakukan saat ini mungkin berpotensi membuka topengnya.


"Kalau ular raksasa itu ditemukan, dan mereka mengetahui kalau dia adalah manusia transformasi. Cepat atau lambat situasi akan menjadi merepotkan."


Fang Lin memutar otaknya dan melakukan beberapa pertimbangan.


Beberapa saat kemudian, Ron kembali sembari membawa Cermin setinggi dua meter dengan lebar satu meter.


"Terima masih, Ron." ucap Eric ketika melihat pelayan itu sedang menyangga cermin menggunakan batang besi.


"Sama-sama, Tuan Muda." Ron menjawab ketika cermin tersebut sudah bisa berdiri dengan bantuan penyangga besi.


Eric kemudian menatap Gwen, dan bertanya, "Siapa orang yang ingin kubaca ingatannya?"

__ADS_1


"Nih, dia aja." Yohan menjawab, dia menarik kerah pria yang wajahnya sudah hancur karenanya.


Eric tidak memasang raut wajah jijik atau semacamnya, ia memegang kepala pria itu menggunakan tangan kanannya lalu mulai melakukan sihir pembaca ingatan.


Setelah itu, Eric melepaskan tangannya lalu memegang Cermin Proyeksi di dekatnya. Cahaya terang keluar dari cermin tersebut selama beberapa detik, kemudian meredup dan memperlihatkan kejadian sewaktu di Gua.


Gwen dan yang lainnya langsung memperhatikan peristiwa yang terjadi pada Yuna di Cermin Proyeksi.


Ketika kelompok Yuna kabur dari ular raksasa dan kembali ke kota Heinz, Yohan bereaksi ketika menemukan Fang Lin yang mengenakan mantel hitamnya melewati mereka.


"Apa yang dia lakukan di tengah malam seperti itu?" Yohan bertanya-tanya.


Gwen dan Yuna baru menyadari keberadaan Fang Lin di dalam Cermin Proyeksi, tetapi mereka tidak terlalu menghiraukannya karena itu pasti hanya sebuah kebetulan saja.


"Ular sebesar itu, apakah dia yang menyelamatkanku?" tanya Yuna penasaran.


Setelah peristiwa dari kejadian Yuna telah habis, Cermin Proyeksi kembali menjadi normal.


"Mungkin saja, karena yang tersisa di Gua itu hanya ada kau dan ular itu." Eric menjawab, lalu bertanya, "Omong-omong, kau ada di mana setelah sadarkan diri?"


"Aku berada di sebuah kamar Penginapan, ada seorang wanita yang bersamaku saat itu." Yuna langsung menjawab.


"Hm, wanita? Bisakah aku memeriksanya?" Eric meminta izin.


"Tentu." Yuna mengangguk pelan.


Eric mendekati Yuna dan kemudian membaca sebagian kecil ingatannya.


"Cantik sekali..."


Setelah membaca ingatan tersebut, Eric berkata dengan perasaan kagum.


Tentu saja hal itu membuat sebagian besar orang di sana terkejut, tak terkecuali Gwen.


Gwen sendiri tau kalau kakaknya jarang sekali memuji seorang wanita, dia selalu bersikap dingin tetapi hal itu malah membuatnya menjadi populer.


"Bisakah aku melihatnya?!" Yohan bertanya, raut wajahnya terlihat sangat antusias.


Eric menganggukkan kepala dan ketika ingin mendekati Cermin Proyeksi, Gwen langsung menghalanginya.


"Tidak perlu, kak Eric. Lebih baik kita sudahi di sini..."


"Eh, eh! Kenapa? Aku penasaran, loh!" Yohan langsung mengeluh.


"Kita kemari untuk memperjelas kejadian yang terjadi pada Yuna, tujuan kita sudah selesai." Gwen membalas dengan suara dingin.


"Cih, pelit." Yohan langsung memasang ekspresi malas.


"Hahaha... Kau boleh melihatnya, Yohan. Lagipula kalian masih cukup senggang, bukan?" Eric tertawa kecil, dan mengizinkan Yohan untuk melihatnya.


"Hahahaha! Kau memang pengertian, kak Eric! Silahkan lakukan!" jawab Yohan senang, dirinya memasang senyum mengejek meskipun Gwen terkesan tidak peduli.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2