System Sang Immortal

System Sang Immortal
Mengembara Di Alam Tanah Kultivator


__ADS_3

Setelah itu, tiga hari berlalu.


Fang Lin bersama anak-anaknya kini sedang berhadap-hadapan dengan kelima Istrinya dan juga orang tuanya.


"Cucu-cucuku yang manis, jika kalian sudah tidak kuat mengembara lagi-- kalian hanya perlu berteriak 'nyerah' saja, ya! Pasti ayah kalian akan langsung membawa kalian pergi dari sana..." Xia Mei memeluk kelima cucunya dengan erat, matanya kemudian mengarah ke Fang Lin dan berkata dengan raut wajah serius, "Jangan biarkan mereka mendapatkan trauma, mengerti?!"


Fang Lin menganggukkan kepala sembari tersenyum, "Aku mengerti, bu." jawab Fang Lin dengan suara tenang, lagipula jika anak-anaknya mendapatkan trauma saat mengembara-- ia pasti bisa menyembuhkannya dengan mudah menggunakan Api Emas.


Xia Mei terus memeluk cucunya dengan erat, sampai ia berhenti melakukan itu ketika Qixuan Yihua merasakan sesak.


"Nenek tenang saja, kami pasti akan baik-baik saja." Fang Hai tersenyum tipis saat berkata demikian.


"Ouh... Cucuku yang manis, nenek pasti akan sangat merindukanmu." Xia Mei kali ini memeluk Fang Hai seorang diri.


Fang Hai tersenyum dan ia membalas pelukan neneknya itu, "Aku juga pasti akan merindukanmu, nenek."


Mereka semua mengucapkan salam perpisahan dalam waktu terbilang cukup lama. Ketika itu selesai, Fang Lin izin pamit pada kedua orang tuanya dan juga kelima Istrinya.


"Dadah~" Kelima anak Fang Lin melambaikan tangan mereka masing-masing sebelum menghilang dari sana dalam sekejap.


***


Alam Tanah Kultivator, Kekaisaran Wei.


Di sebuah Gunung besar, Fang Lin dan kelima anaknya muncul di sana.


"Tempat ini adalah Alam Tanah Kultivator." Fang Lin tersenyum lebar kepada anak-anaknya itu, lalu berkata, "Kalian semua akan berada di sini selama satu tahun penuh, dan jika kalian sudah tidak sanggup-- cukup katakan menyerah dan ayah akan langsung datang ke tempat kalian berada."


Fang Lin kemudian mengingatkan sekali lagi pada anak-anaknya untuk tidak mudah percaya dengan perkataan orang yang baru dikenal, tidak sampai di sana ia juga menjelaskan hal-hal lainnya selama beberapa waktu.


"Ayah akan memisahkan kalian ke beberapa wilayah yang berjauhan, tapi ada kemungkinan kalian bisa bertemu satu sama lain karena ukuran Alam ini yang tidak terlalu luas." ucap Fang Lin, lalu bertanya dengan suara tegas, "Apakah kalian sudah siap?"


"Kami siap, ayah~!" jawab mereka berlima serempak.


Fang Lin tersenyum senang, ia diam-diam menempatkan komandan makhluk bayangannya ke masing-masing bayangan anaknya-- meski dirinya mengawasi mereka secara langsung, akan tetapi masih ada rasa kekhawatiran di dalam dirinya.


Setelah itu, Fang Lin meminta Fang Hai untuk mengembara di Kekaisaran ini-- sedangkan keempat anaknya yang lain ia pindahkan ke Kekaisaran yang berbeda-beda.


***


Kekaisaran Tang, hutan belantara.


Fang Lin dah Qixuan Yihua muncul di bawah sebuah pohon yang cukup lebat. Fang Lin sendiri langsung jongkok dan ia mengelus pelan kepala putrinya itu, "Apakah kamu takut?"


Qixuan Yihua menggeleng pelan dan menjawab sambil tersenyum lebar, "Aku sama sekali tidak takut, ayah pasti akan selalu menjagaku!"

__ADS_1


Fang Lin tersenyum tipis mendengarnya, "Ayah memang akan menjagamu, tetapi bukan berarti setiap kamu mempunyai masalah ayah akan datang. Tujuanmu mengembara agar kamu tau seberapa keras orang-orang di luaran sana dan bagaimana cara kamu menghadapi masalah yang akan datang padamu..." jelas Fang Lin sambil tersenyum.


"Hehehe... Tenang saja, ayah. Aku paham, kok." balas Qixuan Yihua terkekeh pelan, "Kalau begitu, aku pergi dulu, ayah. Sampai jumpa!"


"Ah..." Fang Lin melihat anaknya mulai pergi menjauh setelah mengatakan itu, ia hanya tersenyum dan berkata dengan suara lantang, "Hati-hati, ya!"


"Baik, ayah!"


Fang Lin tersenyum dan ketika anaknya sudah tidak berada dalam jarak pandangnya lagi, ia langsung menghilang dari tempatnya dalam sekejap.


***


Di Kekaisaran Wei, Fang Hai kini sudah berada di sebuah kota yang ukurannya tidak lebih dari seperempat tempat tinggalnya di Istana Es.


"Ah, apa aku diharuskan untuk mengantri?" Fang Hai bisa melihat antrian panjang untuk masuk ke dalam kota tersebut, ia terdiam sejenak untuk berpikir sebelum ikut antri di urutan paling belakang.


.....


Beberapa batang dupa berlalu.


Fang Hai akhirnya sampai di pintu masuk kota tersebut, seorang penjaganya menatapnya dari bawah sampai atas lalu menyeringai lebar karena berpikir kalau Fang Hai adalah anak dari pedagang kaya.


"Biaya masuk ke kota ini adalah satu koin emas, jika kau tidak mampu membayarnya-- maka pergilah dari sini!" ucap penjaga dengan nada acuh tak acuh.


"Aku mampu, kok." Fang Hai melambaikan tangannya ke samping, dan muncul satu koin emas di atas telapak tangannya, "Nih..." Fang Hai mengulurkan tangan kanannya.


Mata penjaga tersebut langsung berbinar ketika melihat koin emas yang ada di tangan Fang Hai, ia langsung meraihnya dengan kasar lalu memeriksa keaslian dari koin tersebut.


"Ini asli, hehehehe..." Penjaga itu terkekeh senang, ia melirik Fang Hai dan melambaikan tangannya seolah sedang mengusir, "Masuklah! Kau mengganggu antrian!"


Fang Hai terdiam sejenak mendengar itu sebelum melangkah kakinya memasuki kota. Ketika memasukinya, ia tertegun saat melihat suasana kota yang cukup ramai-- senyum lebar terukir jelas di wajahnya dan ia bergumam, "Woah~ Jadi ini adalah suasana kota yang diceritakan ibu, ya..."


"Oi, bocah! Ngapain kau diam di jalanan?!" seorang pria paruh baya menyenggol Fang Hai, ia mengumpati Fang Hai dan pergi dari sana dengan perasaan marah.


Fang Hai hanya bisa tertegun ketika hal itu terjadi, "Benar-benar kasar... Sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Ibu, tidak peduli siapapun dirimu-- jika kau terlihat lemah maka kau akan diperlakukan layaknya sampah."


"Kalau begitu, haruskah aku membunuhnya agar orang lain tidak meremehkanku?" Fang Hai memikirkan hal itu sejenak sebelum menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak. Ibu bilang untuk tidak membunuh sembarangan orang, dan juga kalau aku terlalu sering membunuh-- aku bisa saja ketagihan." Fang Hai beranjak pergi dari sana usai mengucapkan hal itu.


Selama Fang Hai melewati bangunan-bangunan yang ramai, ia baru menyadari kalau ada banyak pasang mata yang sedang tertuju padanya, "Apa yang terjadi? Kenapa orang-orang menatapku dengan tatapan yang berbeda-beda?" Fang Hai bertanya-tanya dalam hati, ketika ia masih memikirkan hal tersebut-- sekelompok pria yang berjumlah lima orang datang dan menghalanginya.


"Siapa kalian?" Fang Hai bertanya, ia sedikit berwaspada sekarang ini.


"Tidak usah banyak tanya bocah, cepat ikuti kami." salah seorang pria meraih tangan Fang Hai dan membawanya paksa ke sebuah gang sepi.


Saat berada di gang sepi, Fang Hai menyipitkan mata saat melihat mereka mengeluarkan sebilang pedang dari sarung yang terikat di pinggang.

__ADS_1


"Aku tau kau mempunyai banyak uang, bocah. Serahkan semuanya dan aku akan membiarkanmu pergi dari sini." seorang pria berwajah garang mengarahkan pedangnya ke leher Fang Hai.


Fang Hai terdiam sejenak melihat hal ini, ia menyimpulkan kalau mereka adalah seorang perampok yang suka mengambil harta orang lain.


"Paman, aku akan memberikan semua uangku. Tapi tolong, jauhkan pedang yang ada di leherku." ucap Fang Hai dengan suara ketakutan.


"Oh! Anak ini berani juga! Hahahaha..." pria itu tertawa lantang, diikuti oleh teman-temannya, "Tapi akan kuturuti permintaanmu!" timpalnya dan ia menurunkan pedangnya dari leher Fang Hai.


Fang Hai yang tadinya tampak ketakutan langsung menyeringai lebar, "Paman... Kalian sudah membuat kesalahan besar, tau?" kedua tangan Fang Hai dilapisi Qi dan dalam sekejap ia memenggal kepala pria dewasa yang sedang memegang pedang itu.


Kejadian itu membuat empat orang lainnya mematung karena terkejut, ketika salah satu dari mereka ingin melakukan sesuatu-- Fang Hai langsung membunuhnya dalam sekejap.


"Ah, baru juga datang-- bajuku sudah kotor saja." Fang Hai berdecak pelan, dan ia melihat kelima mayat tanpa kepala yang tergeletak di tanah, "Kenapa kalian berani merampok, ya? Padahal kalian tidak tau identitas orang yang dirampok." Fang Hai menggelengkan kepalanya pelan, menurutnya-- merampok tanpa mengetahui identitas target yang ingin dirampok adalah suatu kebodohan.


Fang Hai kemudian membersihkan tangannya, lalu mengganti pakaiannya yang dipenuhi banyak bercak darah.


"Merepotkan... Kalau aku bertemu orang seperti kalian, lebih baik aku kabur saja." Fang Hai melangkahkan kakinya keluar dari gang sepi tersebut.


***


Di kekosongan tanpa batas.


Saat ini Fang Lin sedang duduk di sebuah singgasana Es, tepat beberapa meter di hadapannya terdapat lima layar yang menampilkan aktivitas kelima anaknya yang baru saja mengembara di Alam Tanah Kultivator.


"Fang Hai, kau sungguh hebat." Fang Lin tersenyum puas saat melihat putranya itu membunuh lima orang perampok sekaligus tanpa berkedip sama sekali, pandangannya kemudian teralih ke arah Shui Ling Fang yang saat ini sedang melawan seekor ular raksasa ranah Transformasi.


***


Shui Ling Fang mendengus kesal melihat ular raksasa di depannya tidak terluka setelah menerima serangan darinya.


"Kalau ini terus berlanjut, aku tidak akan bisa menyelesaikan pertarungan dalam waktu dekat." Shui Ling Fang mengeluarkan sebuah pisau beracun, ia menyeringai tipis dan berkata, "Sebenarnya aku hanya membuat sedikit pisau racun saja, tapi kau sudah membuat kesalahan sampai membuatku harus memakainya. Sekarang, ayo kita lihat-- racun mana yang paling mematikan, racunmu atau racunku."


Shui Ling Fang mengalirkan Qi miliknya ke pisau tersebut dalam jumlah yang sangat banyak, ia kemudian bergerak dengan cepat di antara pepohonan lalu melemparkan pisau racun di tangannya sekuat tenaga.


Ular raksasa itu tadinya ingin menangkis pisau yang sedang mengarah ke tempatnya menggunakan ekor, akan tetapi ia tiba-tiba saja merasakan sinyal bahaya dan membuatnya berusaha untuk menghindari pisau itu.


Namun sayangnya usaha yang ular itu lakukan sia-sia, pisau racun racun tersebut menancap di tubuhnya dan membuatnya menggeliat kesakitan.


Tidak lama setelah itu, ular tersebut terjatuh ke tanah dan tubuhnya meleleh sampai tersisa tulang belulang saja.


"Hahahaha... Rasakan itu!" Shui Ling Fang tersenyum mengejek kepada mayat ular itu, "Racun yang ibu ajarkan memang sangat luar biasa!"


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2