
Bam!
Mu Lan terpental ke daratan ketika menerima serangan dari Hiu Petir, muntahan darah keluar dari mulutnya dan beberapa tulang rusuknya patah.
Dua ras Xana yang masih tersisa langsung menghampiri Mu Lan tanpa peduli lagi dengan musuh mereka, belum sempat keduanya sampai-- ratusan serangan petir datang dan mengenai mereka berdua.
Mata Mu Lan melebar sempurna ketika menyaksikan itu, tubuh dari kedua ras Xana itu menjadi gosong dan salah satu dari mereka langsung terbunuh seketika di tempat kejadian.
"Tidak..." suara serak Mu Lan terdengar, air mata perlahan turun dari pipinya dan ia mulai menyesali keputusannya yang telah mengajak mereka ke wilayah ini untuk mencari musuh.
Melihat raut wajah keputusasaan Mu Lan membuat Ming Kau tertawa lantang, adegan ini adalah yang paling ia sukai-- di saat mental musuh berada di titik paling rendah.
"Jangan ada yang menyerang, aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri." Ming Kau mengangkat tangan kanannya ke atas, sebuah tombak petir seukuran 8 meter muncul, "Karena kau sudah berhasil menghiburku, maka kuberikan kematian yang mudah."
Whooosh!
Tombak petir itu melesat di udara dan mengarah ke tempat perempuan bergaun biru itu berada. Mu Lan sendiri yang mengetahuinya tidak hanya tinggal diam, ia mengerahkan sisa energi spiritualnya untuk menciptakan ratusan dinding pelindung-- meskipun tau kalau semua itu tidak ada gunanya tetapi setidaknya ia masih mempunyai keinginan untuk hidup.
__ADS_1
Bam! Bam! Bam!
Ledakan beruntun terjadi ketika tombak petir itu menghancurkan dinding pelindung milik Mu Lan.
"Adik, aku harap kamu bisa selamat. Maafkan aku karena selama ini tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu." Mu Lan tersenyum pahit saat menggumamkan itu.
Ketika tombak petir itu menghancurkan dinding pelindung terakhir, Mu Lan yang hendak memejamkan matanya langsung mengurung niat saat melihat punggung seseorang muncul tepat di hadapannya.
Diablo sendiri mengangkat tangan kanannya ke depan, pusaran hitam kemudian muncul dan menyerap tombak petir itu tanpa tersisa sedikitpun.
"Terima kasih, aku baik-baik saja." Mu Lan mengangguk, lalu memastikan situasi di sekitarnya, "Siapa kau? Apakah kau bala bantuan dari ras Xana?"
Diablo tidak menjawab, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan Mu Lan langsung ikut menatap ke arah yang sama.
Dari kejauhan, Mu Lan dapat melihat Bao En yang sedang menangis dibalik sebuah penghalang, tentu saja setelah melihat itu membuatnya mengerutkan alis.
"Apa yang-"
__ADS_1
"Jangan salah paham, aku menempatkannya di sana agar dia tetap aman. Kalau kau mau, pergilah ke tempat adikmu berada... Aku mau menghabisi ikan-ikan ini." Diablo berkata dengan acuh tak acuh, sorot matanya kemudian teralih kepada puluhan Hiu Petir yang menatap dirinya dengan tatapan terkejut.
Mu Lan terdiam sejenak mendengarnya, ia menatap Diablo untuk sementara waktu sebelum terbang ke tempat adiknya berada.
Di sisi lain, kehadiran Diablo tentu saja membuat Ming Kau sangat terkejut. Serangan tombak petirnya barusan setidaknya bisa menghancurkan sebuah benua besar sekalipun, tetapi bagaimana mungkin pemuda berambut putih itu bisa melenyapkan serangannya? Apalagi tanpa adanya dampak sedikitpun.
"Dia sangat berbahaya..." Ming Kau berpikir dalam hati, "Apa kau adalah bala bantuan yang mereka panggil?"
Diablo memiringkan kepalanya sembari tersenyum mengejek, "Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Lebih baik kau mati saja, dan simpan pertanyaanmu itu sampai bertemu dengan Dewa Kematian."
Sesaat setelah Diablo berkata seperti itu, seluruh Hiu Petir yang ada di wilayah itu ditelan oleh kegelapan tak berujung. Tentu saja itu membuat Ming Kau dan yang lainnya menjadi panik, dan tanpa mereka sadari-- kepala mereka sudah lepas dari tubuh.
"Kalian beruntung, aku memberikan kematian tanpa rasa sakit sedikitpun." Diablo melenyapkan domainnya usai mengatakan itu.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE >> COMMENT.
__ADS_1