
Setelah mereka berhasil menenangkan diri selama waktu yang ditentukan oleh Fang Lin, suasana tetap hening dan tidak ada yang seorangpun yang berani berbicara.
"Sepertinya tidak perlu basa-basi lagi. Aku akan mengubah ingatan kalian tentangku dan juga kejadian ini..." ucap Fang Lin yang langsung pada intinya.
"Eh, apa maksudmu?"
Yohan menjadi orang yang pertama kali angkat bicara, meskipun dirinya ketakutan dengan keberadaan Fang Lin tetapi akal sehatnya masih bisa menangani hal itu.
"Sesuai dengan ucapanku barusan, ingatan kalian tentang kejadian ini akan kuubah..."
Sebenarnya Fang Lin tidak memerlukan izin untuk mengubah ingatan mereka, tetapi dirinya bukanlah tipe orang yang melakukan sesuatu seenaknya sendiri.
Yah... Bahkan jika mereka menolak, Fang Lin akan tetap mengubah ingatan mereka. Jadi bisa dibilang, hal yang dilakukannya saat ini adalah suatu formalitas belaka.
"Apa alasanmu melakukan hal itu pada kami?" Merlin bertanya, di antara yang lainnya-- dia adalah orang yang paling tenang.
Fang Lin mengangkat pundaknya dan menjawab dengan nada acuh tak acuh, "Aku hanya tidak ingin ada masalah di masa depan nanti, bahkan jika kemungkinannya cuma satu persen."
Merlin terdiam sejenak ketika mendengarnya, ia sudah mempunyai beberapa jawaban mengenai alasan Fang Lin melakukan tindakan seperti itu.
"Aku sangat penasaran dengannya, haruskah aku menyimpan ingatanku tentangnya secara diam-diam di tempat lain?" Merlin bertanya dalam hati, dan pada saat itu juga bulu kuduk-nya berdiri karena merasa merinding.
"Aku tidak akan memaafkan orang yang hendak melakukan tindakan bodoh." Fang Lin menatap Merlin, kedua pupil matanya sudah berubah menjadi warna emas terang.
Merlin menelan ludahnya, dia kemudian mendapatkan telepati dari Gwen untuk tidak melakukan sesuatu yang ceroboh.
Fang Lin sendiri tentu bisa mendengar seluruh percakapan yang dilakukan oleh Merlin dan Gwen ketika mereka berdua berkomunikasi lewat telepati, Mata Dewa-nya sungguh berguna untuk situasi semacam ini.
"Apakah kau juga harus mengubah ingatanku?" Yohan mengangkat tangan kanannya ketika bertanya demikian, ia tidak bisa menatap langsung mata Fang Lin.
Apa yang dikatakan oleh Yohan tentu saja membuat Merlin, Gwen dan Yuna terkejut.
"Kau tidak akan mati, aku akan menghilangkan racun itu dari tubuhmu." ucap Fang Lin tenang, ia sudah mengetahui maksud dari perkataan Yohan.
Yohan sendiri melebarkan matanya, ia jelas tidak langsung percaya dan menunjukkan raut wajah ragu. Tetapi ekspresinya itu seketika berubah menjadi kepanikan pada saat api berwarna emas membakar dirinya.
__ADS_1
"T-tunggu... T-tidak panas?" Yohan merasa terkejut ketika menyadari sesuatu, ia sama sekali tidak merasakan panas meskipun api emas tersebut membakar seluruh tubuhnya.
"Apa-apaan itu...?" Yuna melebarkan matanya ketika melihat api emas yang membakar tubuh rekannya itu, ia perlahan berjalan mendekati Yohan, "Murni sekali... Apa ini sungguhan?"
Mendengar hal itu membuat Gwen sedikit mengerutkan alianya, ia kemudian melirik ke arah Merlin dan menemukannya yang memasang ekspresi gelisah.
"Ada apa?" Gwen langsung bertanya.
Merlin terdiam sejenak sebelum menjawab, "Api emas itu membuat perasaanku menjadi gelisah, aku tidak terlalu yakin... Tetapi, sepertinya api itu bisa membunuh Iblis."
"Melihatmu sampai gelisah seperti ini, apa mungkin api emas itu lebih mengerikan dari elemen cahaya yang merupakan lawan alami kaum Iblis?" Gwen mencoba menebak.
"Aku tidak tau... Tapi yang pasti, aku bisa mati jika terbakar api itu." Merlin menanggapi tanpa mengalihkan pandangannya.
Gwen mengangguk pelan seolah memahami sesuatu, ia tidak bertanya lebih jauh karena hal tersebut masih belum pasti dan hanya sekadar spekulasi saja.
Beberapa saat kemudian, api emas yang membakar tubuh Yohan lenyap dan semua racun di dalam tubuhnya telah menghilang sepenuhnya.
"Sudah tidak ada satupun racun di tubuhmu." Fang Lin memberitahu sesaat setelah api emas miliknya lenyap.
"Aku tidak tau apa yang terjadi pada tubuhku, tapi... Aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya." Yohan bergumam pelan, suaranya bisa didengar oleh Fang Lin dan juga yang lainnya.
Yuna sendiri langsung mendekati Yohan, lalu memeriksa keadaannya tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
"Sulit dipercaya... Tubuhmu benar-benar bersih, tidak ada racun atau luka sedikitpun." Yuna menahan nafasnya dengan mata yang sedikit melebar.
"Sudah cukup untuk kagumnya." ucap Fang Lin, dan seketika membuat suasana menjadi hening, "Mulai sekarang, kalian hanya akan mengingat kalau aku adalah anggota baru yang lemah. Ada seseorang yang membunuh tiga pembunuh itu dan menyelamatkan kita semua, kemudian dia pergi tanpa berkata apapun."
Sesaat setelah Fang Lin berkata demikian, pupil mata mereka berempat langsung berubah menjadi kosong.
Namun, itu hanya berlangsung selama beberapa saat sebelum pupil mata mereka kembali menjadi hidup seperti biasanya.
"Sebenarnya siapa orang asing tadi?"
Fang Lin membuka percakapan, ia ingin memperkuat ingatan baru mereka dengan cara ini.
__ADS_1
"Sulit untuk menebak identitasnya, mungkin saja dia adalah seorang Saint-- mengingat kekuatannya yang luar biasa." Yohan menanggapi dengan raut wajah serius.
Yuna menangguk setuju sembari mengingat kejadian barusan.
Sedangkan Gwen dan Merlin hanya diam saja, tetapi nampaknya mereka sedang mengobrol lewat telepati.
Fang Lin mengetahuinya dan kemudian membaca seluruh ingatan mereka berdua, hal semacam ini adalah tindakan yang lancang tetapi dirinya ingin memastikan kalau tidak ada yang salah dalam perubahan ingatan mereka.
Fang Lin menganggukkan kepalanya sebanyak beberapa kali usai menyerap ingatan mereka berdua, ia tidak menemukan adanya kesalahan dalam kedua ingatan tersebut.
"Jadi begitu..."
Karena Fang Lin menyerap ingatan Gwen dan Merlin, ia jadi mengetahui alasan grup mereka masuk dungeon.
Ada seorang pencuri yang mencuri sebuah Artefak tingkat Legenda, dan pencuri tersebut menyamar menjadi seorang pemburu lalu memasuki sebuah kelompok.
Kemudian, pencuri itu bersama kelompok barunya sepakat untuk memasuki Labyrinth of The Death. Setelahnya, tidak ada kabar tentang dia lagi dan rumor mengenai Artefak tingkat Legenda yang hilang di dalam dungeon mulai menyebar ke seluruh sisi Kerajaan Baylon.
"Bagaimana bisa rumor itu menyebar?" Fang Lin melipat kedua tangannya di depan dada sembari memiringkan kepalanya.
Sebenarnya Gwen dan Merlin tidak sebodoh itu dengan mempercayai rumor tak berdasar, mereka berdua menjadi percaya setelah mendatangi seorang peramal terhebat sekaligus terpercaya.
"Mungkin aku harus menemui naga itu lagi dan bertanya mengenai hal ini." Fang Lin menganggukkan kepalanya seolah sudah memutuskan sesuatu.
"Oi, pemula. Kenapa melamun? Apa kau masih ketakutan dengan kejadian barusan?" Yohan bertanya sembari merangkul Fang Lin, "Aku tak percaya Colin adalah seorang pembunuh bayaran, apalagi dia sepertinya adalah pemimpin dari Rian dan juga Tiger. Tsk, padahal dia tampak seperti bocah penurut."
Yohan mengatakan hal itu dengan santai, sangat lucu kalau mengingat dia adalah orang yang hampir mati beberapa saat lalu.
"Hei, kenapa kau diam saja? Ternyata benar kau ketakutan, ya? Hahahaha..." Yohan memperkuat rangkulannya sembari tertawa, ia tidak berniat mengejek atau apapun itu-- melainkan mencoba menenangkan Fang Lin dengan caranya sendiri.
"Yah... Orang yang terlihat jahat tidak benar-benar jahat, aku sudah menemui banyak orang sepertinya di kehidupan sebelumnya." Fang Lin diam-diam tersenyum tipis.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1