
Setelah berada tepat di depan kedai, Fang Lin bisa menemukan dua orang Golden Soul sedang memapah seseorang yang sebelumnya mereka panggil dengan sebutan Tuan muda.
Mereka berdua menyadari keberadaan Fang Lin dan jelas sekali hal itu membuat keduanya ketakutan.
"Kalau kau berani melukai kami maka keluarga Pien tidak akan memaafkanmu!" ucap salah seorang Golden Soul buru-buru.
Temannya yang satu lagi mengangguk beberapa kali, lalu mengatakan hal yang hampir serupa.
"Keluarga Pien? Jadi itu keluarga yang harus kuhancurkan, ya?" Fang Lin menyeringai kecil dan membuat mereka berdua terkejut.
"Apa-apaan kau, dasar bajingan! Keluarga Pien adalah keluarga terbesar di kota ini, bahkan keluarga dari pemimpin kota tidak berani menyentuh kami!" Golden Core itu tampak marah, tetapi dia masih ketakutan.
"Peduli apa diriku ini dengan ucapanmu?" Fang Lin menggelengkan kepalanya pelan, "Kalau aku mau menghancurkan Dunia ini, aku mungkin bisa melakukannya."
Ucapan Fang Lin tidak hanya mengejutkan kedua Golden Soul itu, namun semua orang yang berkerumun di sana.
"Apa-apaan perkataannya itu? Arogan sekali!"
"Apa dia meremehkan semua orang di Dunia Wuxing ini?"
Semua orang mulai membicarakan Fang Lin dengan tatapan dingin sekaligus Niat Membunuh, jelas sekali perkataan yang dilontarkan pemuda itu membuat mereka marah.
Fang Lin sendiri tidak terlalu peduli karena memang dirinya mengatakan yang sebenarnya, kemudian ia kembali berkata, "Sepertinya kau membutuhkan bukti, ada di mana letak kediaman keluarga Pien? Aku akan menghancurkannya sekarang juga."
Semua orang yang ada di sana tidak ada yang tidak menahan nafas mereka, semuanya terkejut sekaligus takjub dengan keberanian pemuda itu.
Sementara dua Golden Soul yang berasal dari keluarga Pien langsung menggertakkan gigi mereka, mau sampai kapan Fang Lin memprovokasi mereka?
Suasana hening dan tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan Fang Lin, bukan karena mereka tidak tau tetapi itu sangat beresiko dilakukan.
Semisalnya ada seseorang yang memberitahu letak kediaman keluarga Pien dan hasilnya Fang Lin gagal dalam menghancurkannya ataupun melarikan diri karena ketakutan, maka itu artinya orang yang memberitahukan Fang Lin letak keluarga Pien berada akan menerima akibatnya.
Fang Lin menghela nafas ketika melihat tidak ada seorangpun yang berbicara, ia kemudian mengangkat tangan kanannya ke arah dua Golden Soul yang sedang memapah Tuan muda mereka.
Keduanya tentu menjadi waspada, tiba-tiba saja Tuan muda mereka seakan ditarik oleh sesuatu dan lepas dari tangan mereka.
Whooosh!
__ADS_1
Tangan kanan Fang Lin yang sudah terangkat ke depan langsung mencengkram leher pria paruh baya yang datang kepadanya.
"Kuhitung sampai tiga, kalau kalian berdua tidak berbicara maka aku akan mematahkan leher tuan muda kalian." ucap Fang Lin, dan tatapannya menjadi dingin yang menandakan kalau dirinya tidak sedang main-main.
Fang Lin mulai menghitung dari angka tiga, namun baru beberapa saat setelah itu-- sebuah siluet pedang raksasa muncul di atas langit.
Semua orang yang berada di sana menjadi begitu terkejut dan melarikan diri sejauh mungkin.
Sementara itu, Fang Lin hanya diam tampan bereaksi sedikitpun berbeda dengan Golden Soul di dekatnya yang memaksa ekspresi lega sekaligus senang.
Siluet pedang itu tidak bergerak sama sekali, Fang Lin bisa melihat kalau ada seseorang yang berdiri di ujung gagang pedang.
Seorang pria tua berjubah abu-abu melipat kedua tangannya di belakang pinggang, kedua matanya terbuka lebar dan menatap Fang Lin dengan tatapan penuh Niat Membunuh.
"Jadi, siapa kau ini?" Fang Lin bertanya dengan santai pada pria tua itu tanpa melepaskan leher Tuan muda keluarga Pien dari cengkeramannya.
"Bukankah sepantasnya aku yang bertanya demikian?" pria tua itu melempar kembali pertanyaan Fang Lin.
"Apakah dia ini keluargamu?" Fang Lin tidak berniat menjawab pertanyaan yang dilemparkan kembali padanya, ia mengajukan pertanyaan lain.
Pria tua itu tidak menanggapi, dia hanya berdiri diam tanpa bergerak sedikitpun.
Kedua Golden Soul itu langsung menangkap pria paruh baya yang tidak lain adalah Tuan muda mereka.
Whooosh!
Mereka berdua dengan cepat pergi dari sana sembari memapah pria paruh baya itu, sementara Fang Lin hanya menatap dalam diam sampai keberadaan mereka menghilang dari pandangannya.
Whoooosh!
Setelah itu, aura Saint tingkat sembilan dan Niat membunuh yang begitu kental terarah pada Fang Lin.
"Kau sudah membuat kesalahan besar, kematianmu akan sangat menyakitkan!" Pria tua itu berseru keras, dia melompat ke udara dan pada saat yang bersamaan siluet pedang raksasa itu mulai bergerak ke tempat Fang Lin berada.
"Kesalahan?" Fang Lin mendengus kecil sebelum menciptakan siluet pedang dari Qi Dewa, "Seharusnya kau mengatakan itu pada anakmu, mendidiknya saja tidak becus."
Swoooosh!
__ADS_1
Fang Lin mengayunkan pedangnya secara diagonal ke langit dan dalam sekejap ledakan energi yang begitu dahsyat terjadi sehingga membuat area dalam jangkauan sepuluh kilometer rata dengan tanah.
Boooom!
Kepulan asap yang tercipta karena dampak dari ledakan itu memenuhi area sekitar selama sepuluh detik sebelum akhirnya menghilang dalam sekejap karena angin kencang.
Pria tua yang berada di atas langit tidak terlalu terkejut melihat pemuda itu diam di tempatnya tanpa menerima luka sedikitpun.
"Sudah kuduga, kau bukanlah bocah biasa." pria tua itu berkata, sebilah pedang pendek dan sebuah perisai hitam gelap muncul di kedua tangannya.
"Kultivator pengguna perisai? Itu cukup mengejutkan." ucap Fang Lin dengan senyum tipis di wajahnya
Pria tua itu tidak mengatakan apa-apa dan fluktuasi energi menyelimuti tubuhnya, pedang pendek di tangan kanannya mulai memanjang sementara perisai hitamnya mengeluarkan aura Iblis yang cukup kental.
"Meskipun dia bukanlah lawan yang tak bisa kukalahkan tetapi setidaknya aku harus serius, bukan?" Fang Lin menambah Qi yang membentuk siluet pedang di tangan kanannya.
Whooosh!
Sesaat setelah itu, pak tua itu muncul di hadapan Fang Lin dan mulai melakukan ribuan serangan dalam waktu kurang dari sedetik saja.
Bagi Fang Lin ini adalah serangan yang mudah dibaca, ia menangkis semuanya tanpa menghindari satu serangan pun.
Semakin lama pak tua itu menyerang, kedua matanya semakin melebar karena mendapati Fang Lin bisa menangkis seluruh serangan yang ia kerahkan sembari memperlihatkan wajah santai seolah tak terganggu sama sekali.
"Keparat..." pria tua itu mundur menjauh, lalu menusuk pedangnya ke arah Fang Lin.
Whooosh!
Aura hitam muncul dan melesat ke arah Fang Lin berada dengan kecepatan secepat cahaya.
Karena jarak di antara mereka terlalu dekat, insting Fang Lin langsung berjalan dan menangkis serangan tersebut tanpa bisa dilihat oleh mata lawannya.
"A-apa...?" pak tua merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang ini, ia tidak mengerti ke mana hilangnya serangan itu.
"Sepertinya kecepatan reaksiku menjadi tumpul karena sudah tidak lama bertarung dengan lawan yang levelnya seperti ini." Fang Lin bergumam, mungkin kalau hal ini terjadi pada kondisi primanya mungkin serangan tadi bisa dia tangkis dengan mudah.
Fang Lin menggelengkan kepalanya pelan saat memikirkan itu, tetapi mulai dari hari ini dirinya akan mengasah kembali kemampuan bertarungnya dengan cara mengacaukan Alam Semesta ini.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.