System Sang Immortal

System Sang Immortal
Puncak Perang II


__ADS_3

Setelah telepatinya dengan Dao Yen terputus, Diablo terdiam sejenak dengan mata yang terpejam. Ia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali membuka matanya.


"Qianchen, sebentar lagi aku akan bertarung dengan Dewa Iblis. Apa kau yakin ingin terus bersamaku?" tanya Diablo memastikan, lalu melanjutinya, "Jika kau masih mau, aku tidak berjanji kalau kau akan tetap aman. Dewa Iblis memang lemah dan aku bisa dengan mudah mengalahkannya, tetapi aku yakin dia sudah menyiapkan beberapa trik sampai berani berperang dengan Aliansi Istana Iblis-- walaupun sudah mengetahui keberadaan diriku." jelas Diablo panjang lebar.


Lian Qianchen tidak langsung menjawab usai mendengarnya, ia saat ini masih mencerna perkataan Diablo.


Beberapa saat kemudian, Lian Qianchen menggelengkan kepala dan menjawab, "Aku tidak akan ikut denganmu. Tapi itu bukan karena aku takut, ya! Kalau aku memaksakan diri untuk ikut, maka aku hanya menjadi bebanmu saja..."


"Hm? Kalau kau ikut, kau tidak akan jadi beban. Karena aku sudah lepas tangan, jadi hidup dan matimu tidak akan kupedulikan..." ucap Diablo dengan suara tenang.


"Hmph! Siapa yang tau? Bisa saja kau tidak rela aku mati karena teringat dengan kenangan yang telah kita lalui, lalu kau mengorbankan nyawamu agar aku bisa hidup lebih lama." balas Lian Qianchen dengan nada yang terkesan drama.


Diablo memiringkan kepalanya ketika mendengar itu, "Hey, haruskah aku memeriksa otakmu? Sepertinya kecurigaanku dari dulu terbukti benar, ada yang rusak di otakmu itu."


"Haha... Lucu! Dasar sialan."


"Aku tidak sedang bercanda, kau tau?"


"Akhh, Diablo! Kau yang gila, otakmu itu rusak! Bagaimana bisa kau mengabaikan wanita cantik sepertiku? Padahal ada banyak pria yang ingin menjadikanku sebagai istri!"


"Yasudah, nikah saja dengan pria yang sudah melamarmu? Kenapa kau harus mengejar sesuatu yang tidak pasti?"


"Tsk, itu namanya perjuangan, bodoh!"


Diablo menggelengkan kepalanya pelan mendengar itu, ia rasa berdebat dengan Lian Qianchen adalah sesuatu yang tidak mungkin dirinya menangkan.


Tidak mau berdebat lebih jauh lagi, Diablo langsung teleportasi ke lokasi Zhou Fan berada. Ia akan lebih dulu menempatkan Lian Qianchen di sana sebelum dirinya pergi ke wilayah musuh.


***


Whooosh!


Kemunculan Diablo dan Lian Qianchen tentu mengejutkan Dao Yen serta beberapa pilar yang ada di sana. Mereka bahkan begitu siaga sampai mengeluarkan senjata masing-masing.


"Ah, Diablo. Kau sungguh mengejutkan." Dao Yen menghela nafas pendek sebelum menyimpan kembali senjatanya, beberapa pilar juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Dimana pasukanmu?" Diablo mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan siapa-siapa selain mereka.


"Mereka sedang dalam perjalanan, mungkin akan sampai dalam setengah jam lagi." jawab Dao Yen cepat.


Diablo menganggukkan kepala dan ia menatap Lian Qianchen di sampingnya, "Tempatkan dia ke barisan pasukanmu. Aku akan pergi untuk sementara waktu..."


"Eh, memangnya kau mau ke mana?" Dao Yen bertanya dengan nada penasaran, "Bukankah kau bilang akan membantuku?"


"Aku mau ke tempat Tuan, dan aku akan kembali dalam beberapa jam lagi. Jadi, kau tenang saja..." jawab Diablo, lalu menatap Lian Qianchen, "Hey, kalau kau mati di medan perang-- aku akan menemukan mayatmu dan menguburkanmu dengan layak."


"Hmph! Dasar brengsek! Pergi sana..." ucap Lian Qianchen dengan nada kesal, dan ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Melihat itu membuat Diablo tertawa mengejek, ketika ia ingin pergi dari sana-- suara Dao Yen menghentikannya, "Diablo, memangnya kenapa kau ingin pergi ke tempat Tuan?"


"Hm? Kenapa aku harus memberitahumu?" Diablo sedikit memiringkan kepalanya, nadanya terdengar sedikit tidak senang.


Suasana langsung menjadi tegang usai Diablo menyelesaikan kata-katanya, Dao Yen diam-diam menelan ludah kasar dan berkata sembari tersenyum masam, "Yah... Tak apa kalau kau tidak mau mengatakannya."


Diablo terdiam sejenak sebelum menghilang dari sana dalam sekejap. Sedangkan Dao Yen hanya mematung di tempat, ia pikir identitas aslinya akan ketahuan.


"Kau benar, jantungku terasa ingin copot." balas pilar lainnya.


"Hey, berhentilah berbicara..." Mo Fuli mengingatkan sambil melirik Kaisarnya yang memasang ekspresi serius.


Kedua pilar yang mendengarnya langsung menutup mulut dengan kedua tangan, dan mereka menundukkan kepala karena takut dimarahi oleh Zhou Fan.


"Sialan... Aku terlalu gegabah! Apa dia menyadarinya?!" jantung Dao Yen saat ini berdebar kencang, kegelisahan mulai menyelimuti hatinya, "Apa aku harus memberitahukan hal ini pada Dewa? Tapi, bisa-bisa aku dibunuh karena telah memberikan kabar semacam ini."


Dao Yen berpikir cukup keras, dan ia kemudian menghela nafas panjang sebelum menelepati Dewa Iblis.


***


Di atas langit yang gelap gulita, Diablo melayang dengan kedua tangan yang melipat di belakang punggung. Ia berbohong soalnya dirinya pergi menemui Tuannya, karena ada rasa kecurigaan terhadap Zhou Fan yang sedikit bertingkah aneh.


Beberapa puluh kilometer di depan Diablo saat ini terdapat sebuah pasukan yang jumlahnya terbilang sangat fantastis. Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Zhou Fan mengenai jumlah perkiraan musuh tidaklah bohong.

__ADS_1


"Jika aku tidak menggunakan sihir Stealth. Sudah pasti keberadaanku akan diketahui meskipun telah menyembunyikannya sebaik mungkin..." gumam Diablo, lalu melanjutinya, "Aku tidak melihat keberadaan Dewa Iblis, di mana dia?"


"Haruskah aku membantai mereka sekarang juga? Tapi, bagaimana jika dia (Dewa Iblis) kabur karena tau tidak ada harapan untuk menghadapiku lagi?" banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Diablo, ia mengelus dagunya dan memasang ekspresi wajah serius.


Selang beberapa waktu, Diablo menepis seluruh pikirannya saat ia merasakan fluktuasi energi Iblis yang cukup besar dari arah depan. Ia langsung memfokuskan kesadaran spiritualnya dan menemukan beberapa Iblis kuat datang dari robekan dimensi.


"Tidak ada Dewa Iblis, siapa mereka?" Diablo bertanya-tanya dalam hati, "Hm? Itu... Apa?"


Diablo melihat kalau salah satu dari empat Iblis yang baru saja datang dari robekan dimensi mengeluarkan sebuah senjata seperti meriam.


Sesaat setelah meriam itu dikeluarkan, robekan dimensi lainnya muncul dan memuntahkan tiga Iblis yang mempunyai kekuatan setara dengan empat Iblis sebelumnya.


Ketika Tujuh Iblis itu datang, mereka langsung berlutut ke satu arah yang hanya terdapat udara kosong.


"Apa yang mere-" Diablo tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Dewa Iblis tiba-tiba saja muncul di hadapan ke tujuh Iblis tersebut, "Hoo... Tanpa dicari, tikus itu keluar dengan sendirinya."


Diablo tidak langsung bergerak, ia memejamkan mata dan memfokuskan indra pendengarannya.


Hanya butuh beberapa detik saja, Diablo bisa mendengar percakapan yang dilakukan oleh Dewa Iblis bersama ke tujuh Iblis itu dengan sangat jelas.


"Iblis itu, dia sedang pergi ke tempat orang yang dipanggil 'Tuan' olehnya." ucap Dewa Iblis dengan nada serius.


"Bukankah itu kabar bagus, Dewa? Kita tinggal memanfaatkan kesempatan emas tersebut untuk menyergap kubu musuh."


"Apa kau pikir kita bisa menghabisi pasukan kubu musuh hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja?! Bodoh!"


"Tidak, Dewa. Tapi setidaknya kekuatan tempur mereka sudah melemah, dan presentase kemenangan kita semakin tinggi walaupun Iblis itu sudah kembali."


"Jika Iblis itu sudah kembali maka tidak ada harapan bagi kita untuk menang." Dewa Iblis berdecak kesal, "Berhentilah mengatakan hal yang tidak penting, cepat isi energi kalian ke Meriam Nirwana sampai penuh. Gunakan jenis energi terbaik kalian, sebab semakin bagus energinya semakin kuat juga daya serangannya.


"Kami mengerti, Dewa."


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2