
Fang Lin kemudian mengeluarkan selembar kertas kosong, lalu menuliskan isi perjanjian di sana.
Perempuan cantik itu bisa mengetahui kalau lembaran kertas tersebut adalah Artefak tingkat Kosmis, ia cukup terkejut tetapi tidak sampai membuat ekspresi di wajahnya.
"Omong-omong, siapa namamu?" tanya Fang Lin dengan perhatian yang terus menuju ke kertas di tangannya.
"Namaku Mika Emora..."
"Mika Emora?" Fang Lin mengangguk beberapa kali, nama tersebut memang sudah terdengar umum di kubah ini, "Baiklah, silahkan lihat ini dan gunakan darahmu untuk mengaktifkan kontraknya."
Fang Lin mengulurkan tangan kanannya yang memegang lembar kertas tersebut usai menulis isi kontraknya.
Mika sendiri meraihnya dengan tenang, ia mulai membacanya dalam diam dan memperhitungkan setiap kalimat dalam kontrak tersebut.
Setelah beberapa saat, hembusan nafas keluar dari mulut Mika kemudian menggunakan darahnya untuk mengaktifkan kontrak di lembar kertas itu.
Fang Lin yang melihatnya langsung mengangguk puas, lalu mengambil kembali lembar kertas itu dan menyimpannya di inventory.
"Baiklah, kontrak sudah terjalin." ucap Fang Lin, lalu melakukan teleportasi ke puncak Menara Batu yang berada di tengah-tengah pemukiman itu.
"Ah, apa yang ingin anda lakukan, Tuan?" Mika bertanya melalui telepati, karena sudah resmi menjadi bawahan Fang Lin dia mendapatkan akses untuk melakukan itu.
"Bukan sesuatu yang penting." jawab Fang Lin, lalu menatap portal yang berada di puncak Menara Batu, "Ternyata aku cukup beruntung karena masih bisa kembali."
Fang Lin tersenyum senang setelah mengetahui kalau portal itu masih berfungsi dan bisa membawanya kembali pulang ke kubahnya. Ia kemudian menyuruh Mika untuk datang ke tempatnya, lalu bertanya, "Ke mana aku harus membawa tempat ini?"
"Bisakah saya mengirimkan lokasinya melalui ingatan?" tanya Mika meminta izin.
"Ya, tentu saja." Fang Lin mengangguk kecil saat menjawabnya.
Mika tanpa banyak berbicara lagi langsung mengirimkan lokasi untuk memindahkan pemukiman ini dari Dunia Abyss, lokasi yang ia berikan adalah Alam Semesta yang menjadi tempat dirinya lahir.
Setelah Fang Lin menerima ingatan tersebut, ia kembali bertanya, "Apa aku harus menciptakan planet di sana atau dimensi baru untuk mereka?"
"Jika anda tidak merasa keberatan, tolong ciptakan dimensi baru untuk mereka." jawab Mika dengan tenang.
__ADS_1
Fang Lin mengangguk paham dan langsung menciptakan dimensi baru di Alam Semesta itu dengan sistem Tata Surya yang sama seperti Alam Tanah Kultivator.
Hanya dalam sekejap bagi Fang Lin untuk menciptakan dimensi semacam itu, ia kemudian memindahkan pemukiman modern di kubah ini ke tempat tinggal baru mereka tanpa disadari oleh siapapun kecuali bawahannya itu.
"Jadi ini, dimensi barunya..." Mika mengedarkan Kesadaran Spiritualnya ke segala arah, dan menemukan planet yang tak terhitung jumlahnya tanpa adanya penghuni.
"Aku sudah melakukan sesuai dengan kesepakatan, apakah kau mempunyai sesuatu untuk dilakukan sebelum kembali?" tanya Fang Lin sembari menatap perempuan cantik itu.
"Tidak ada, Tuan. Keinginan saya telah tercapai, sekarang yang tersisa hanyalah tugas saya untuk mengabdi pada anda." ucap Mika Emora sambil menangkupkan tangannya.
"Baiklah, ayo kembali."
Mereka berdua kembali ke Dunia Abyss, pemukiman modern yang tadinya ada banyak sekali makhluk hidup kini telah menghilang tanpa tersisa sedikitpun.
Perlu diketahui, pemukiman yang ada di Dunia Abyss sekarang ini adalah yang asli sementara yang berada di dimensi ciptaannya adalah salinannya. Skill teleportasi ia gunakan untuk memindahkan mereka semua.
"Seingatku, portal itu terletak di wilayah padang rumput tapi kenapa sekarang berbeda?" Fang Lin yang sekarang ini berada di puncak Menara Batu bertanya karena baru menyadarinya.
"Ah, saya yang membuat wilayah padang rumput itu menjadi seperti ini. Karena portal tidak bisa digerakkan, jadi saya melenyapkan wilayah sekitarnya sampai menciptakan Menara Batu ini." jawab Mika dengan tenang.
"Mau sampai ke ujung kubah sekalipun, pemukiman ini tidak akan bisa disembunyikan secara terus menerus. Tidak ada gunanya melarikan diri dan bersembunyi..." Mika menggelengkan kepalanya pelan, lebih baik ia menggunakan pemukiman tersebut untuk menarik minat kesepakatan bagi mereka yang dirinya tidak bisa hadapi.
Fang Lin mengangguk beberapa kali dan tidak bertanya lebih jauh lagi, "Omong-omong, selain pemukiman ini apakah ada tempat yang menarik?"
"Dahulu sempat ada wilayah yang Yun Shandes jadikan tempat tinggal, namun semua itu telah tenggelam oleh salju dan tidak pernah ada makhluk yang menyentuhnya." Mika memberitahu dengan tenang.
"Apa kau pernah memeriksanya isi dalamnya?" tanya Fang Lin penasaran.
"Saya tidak pernah melakukannya, Tuan." jawab Mika cepat.
"Kalau begitu, antarkan aku ke sana."
Fang Lin langsung meminta bawahan barunya itu mengantarnya ke wilayah yang dimaksud, kalau semisalnya itu adalah tempat tinggal Yun Shandes maka ada kemungkinan dia meninggalkan beberapa barang berharga.
Setelah berada di wilayah yang penuh salju, Fang Lin langsung menyingkirkan setiap salju yang ada di wilayah tersebut.
__ADS_1
Whoooosh!
Menghilangnya semua salju itu memperlihatkan sebuah pemukiman yang kerusakannya sudah mencapai 70%.
Fang Lin tidak merasakan sesuatu yang berbahaya di pemukiman itu dan sekitarnya, ia terdiam sejenak sebelum menyebarkan Kesadaran Spiritualnya dan memeriksa setiap sisi dari semua bangunan yang ada.
Tidak membutuh waktu yang lama bagi Fang Lin untuk memeriksanya, hembusan nafas keluar dari mulutnya karena tidak menemukan sesuatu yang berharga di sana.
"Hampir tidak apapun di sana..." Fang Lin memasang ekspresi kecewa, lalu mengangkat tangan kanannya ke depan dan sebuah kristal hitam berbentuk kotak muncul di atas telapak tangannya, "Aku hanya menemukan ini, dan sepertinya hanya Artefak penyimpanan suara."
Fang Lin memeriksa kristal hitam itu dan menemukan ada rekaman suara di dalamnya, "Hahaha, apa ini semacam wasiat?" gumam Fang Lin bercanda , lalu mengaktifkan Artefak tersebut.
'Juan'er, ini aku, Yun Shandes. Aku menyiapkan rekaman ini untuk berjaga-jaga kalau aku sudah tidak ada lagi, hehehe..."
Pada kalimat pertama itu Fang Lin mengangkat satu alisnya karena baru mengetahui kalau ini adalah rekaman dari Yun Shandes untuk orang lain, dan ia menyadari kalau bawahan barunya itu memberikan sedikit reaksi saat mendengar rekaman ini.
'Pertama-tama sepertinya aku harus minta maaf untuk yang terakhir kalinya atas apa yang terjadi pada keluarga serta klanmu, itu memang murni kesalahanku dan kau pantas untuk tidak memaafkanku.'
'Omong-omong, aku menggunakan teknik segel yang sangat kuat untuk melindungi rekaman ini, kalau seandainya segel itu lenyap dan siapapun bisa mengambilnya maka sudah dipastikan aku telah pergi.'
'Rekaman ini akan hancur setelah kamu mendengarnya, tetapi berbeda jika orang lain yang melakukannya. Jadi aku harap kamu bisa mendengarkan dengan seksama karena ini akan menjadi terakhir kalinya bagimu untuk mendengar suaraku.'
Yun Shandes mulai menceritakan dari awal dirinya bertemu dengan sosok bernama 'Juan'er' ini sampai akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih. Berbagai kenangan disampaikan melalui cerita, dan itu berlangsung cukup lama.
Fang Lin dan Mika mendengarkan rekaman itu dalam diam, meskipun isinya cukup lama tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mengantuk atau merasa bosan.
'Mungkin hanya itu yang bisa aku ceritakan, kuharap kamu sudah tidak mencintaiku. Jangan terpuruk karena kepergian diriku, aku akan terus mengingatmu sampai jiwaku lenyap sekalipun.'
'Lien Juan'er, aku sangat mencintaimu melebihi luasnya Alam Semesta. Aku harap kamu bisa hidup bahagia, dan lupakanlah diriku ini.'
Traaazh!
Setelah rekaman itu berakhir, kristal hitam berbentuk kotak tersebut hancur berkeping-keping menjadi pecahan energi dan menghilang sampai tak meninggalkan jejak sedikitpun.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.