
"Perkenalkan, nama dia adalah Fang Lin-- seorang pemula yang berhasil aku rekrut." Colin menunjuk ke arah Fang Lin, dan memperkenalkannya pada enam anggota lainnya.
"Aku Yuna, seorang Priest-- Circle-4!" seorang wanita berambut pirang panjang memperkenalkan dirinya dengan antusias.
"Yo! Pemula! Aku Tiger, itu adalah nama julukanku! Aku ada seorang Warrior Circle-7!" seorang pemuda berbadan kekar yang mempunyai tinggi lebih dari dua meter-- tersenyum sambil mengangkat jempolnya.
"Aku Rian, salam kenal." pemuda lainnya memperkenalkan diri tanpa adanya semangat, ia mempunyai rambut hitam yang berantakan dan kedua pelupuk matanya sangat hitam seolah tidak pernah tidur seumur hidupnya.
"Aku Gwen." seorang wanita cantik memperkenalkan dirinya dengan nada acuh tak acuh, ia mempunyai rambut dan mata berwarna biru cerah.
"Pemula, kenapa kau mengenakan mantel? Omong-omong, namaku adalah Yohan. Seorang Penyihir Circle-8, dan mempunyai Peringkat Gold." Yohan merangkul Fang Lin dengan santai, lalu berbisik, "Kalau kau menjadi beban, aku akan meninggalkanmu."
"Hahahaha..." Yohan langsung tertawa lantang usai membisikkan itu, lalu melepaskan rangkulannya dan kembali ke posisi semulanya.
"Aku Merlin." seorang pemuda berambut pirang mengangkat satu tangannya ke atas, ia tampak tidak peduli dengan kehadiran Fang Lin.
Colin yang melihat cara perkenalan beberapa dari mereka hanya menggeleng pelan sembari menghela nafas panjang, "Jangan anda pikirkan ucapan Yohan barusan, dia memang suka seperti itu."
Fang Lin diam-diam mengangkat sudut bibirnya lalu mengangguk pelan, "Tidak masalah, lagipula aku memang menjadi beban kalian." sahutnya menanggapi, "Omong-omong, jangan berbicara formal denganku. Kita memang tidak seumuran, tapi kau adalah seniorku di grup ini."
"Oh, hehehe... Maaf, itu sudah menjadi kebiasaanku." Colin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia kemudian menatap Gwen dan bertanya, "Ketua, kapan kita akan berangkat."
"Sekarang."
Usai mengucapkan hal itu, Gwen mulai melangkahkan kakinya dan berjalan menuju ke pintu gerbang keluar kota Heinz.
"Eh, sekarang?" Colin cukup terkejut dan segera menatap Fang Lin, "Teman pemula, apa kau sudah mempersiapkan diri? Perjalanan menuju Labyrinth of The Death akan memakan waktu seharian penuh."
"Sudah. Aku adalah seorang pengembara, sedari awal aku memang sudah mempersiapkan seluruh kebutuhanku untuk perjalanan jangka panjang." Fang Lin menjelaskan walaupun tidak ada yang bertanya mengenai itu.
Colin mengangguk paham dan tidak bertanya lebih jauh lagi, mereka semua kemudian mengikuti Gwen dari belakang.
Ketika sudah beberapa ratus meter dari kota Heinz, Gwen langsung menghentikan langkahnya-- begitu juga dengan yang lain.
"Ada apa?" Fang Lin bertanya pada Colin yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Ah, kita akan menggunakan elang es milik ketua Gwen untuk pergi ke Dungeon itu." jawab Colin cepat, dan sesaat setelah itu-- lingkaran sihir yang ukurannya cukup besar muncul di atas tanah depan Gwen.
Beberapa saat kemudian, seekor elang es raksasa perlahan keluar dari lingkaran sihir itu.
"Apa kau terkejut?" Colin bertanya sembari menoleh ke arah Fang Lin, ia tidak bisa memastikan secara pasti reaksi dari pria bermantel hitam itu-- karena kupluk yang dikenakannya.
"Aku... Terkejut."
Meskipun berkata demikian, Fang Lin tidak menunjukkan raut wajah terkejut sedikitpun-- karena hal tersebut bukanlah sesuatu yang hebat baginya, ia sengaja menjawab seperti itu agar Colin tidak menaruh kecurigaan padanya.
"Aku mengerti perasaanmu itu, hahaha..." Colin mengakhiri kata-katanya dengan tertawa kecil, ia sendiri juga terkejut saat menyaksikan itu untuk pertama kalinya.
Gwen kemudian naik ke leher elang es raksasa itu, dan diikuti oleh anggota lainnya.
Ketika mereka semua sudah naik, elang es mulai mengangkat tubuhnya dan mengepakkan sepasang sayapnya yang lebar.
Elang es mulai mengangkat ke udara dan terbang di langit dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Jangan lupa untuk berpegangan, tekanan anginnya sangat kuat dan bisa membuatmu terjatuh kapan saja jika lengah." Colin mengingatkan sembari memegang erat tubuh elang es dengan kuat.
"Aku mengerti." Fang Lin mengangguk paham, ia mulai memegang tubuh elang es dengan kedua tangannya.
......................
Beberapa dari mereka juga mulai memerhatikan Fang Lin, salah satunya adalah Gwen.
"Aku menggunakan Mana agar kupluk ini tidak lepas..." Fang Lin menjawab dengan cepat, ia jelas berbohong-- karena dirinya meniadakan beberapa hukum yang membuat mantel ini tidak bisa lepas dari tubuhnya.
"Wah... Kau mau melakukannya seharian? Bukankah itu akan membuat dirimu kelelahan?" Tiger mulai mendekati Fang Lin dan memasang senyum lebar, "Buka kupluknya, aku jadi penasaran dengan wajahmu!"
Sebenarnya tanpa melepas kupluk mantel sekalipun orang-orang sudah bisa melihat wajah Fang Lin, tetapi pemuda itu selalu menundukkan kepalanya ketika ada seseorang yang mencoba memperhatikan wajahnya.
"Hei, wajahku ini tampan. Aku takutnya kalian terpesona saat melihat wajahku, terutama dua wanita yang ada di sini."
Ucapan yang dilakukan oleh Fang Lin langsung membuat suasana menjadi hening selama beberapa waktu, sampai akhirnya-- gelak tawa yang lantang keluar dari mulut Tiger.
__ADS_1
Colin dan beberapa orang lainnya juga tertawa tetapi tidak semeriah Tiger, yang diam hanyalah Gwen dan Merlin saja.
"Hahahaha... Kepercayaan dirimu sungguh membuatku terpukau, pemula. Aku suka itu!" Yohan berkata sembari memegang perutnya yang mulai kesakitan.
"Pemula, karena kau bilang begitu-- aku tidak akan memaksamu. Hahahaha~" Tiger menimpali sembari tertawa, dan ia mulai kembali ke tempatnya.
Fang Lin sendiri tidak terlalu menanggapi tawa mereka, "Hmph, padahal aku hanya mengatakan kebenaran saja."
......................
Perjalanan berlalu tanpa adanya hambatan, dan akhirnya mereka sampai di sebuah gurun tanpa ujung.
Gwen menurunkan elang es raksasa di satu tempat, lalu turun dari atas sana. Hal serupa juga dilakukan oleh Fang Lin dan yang lainnya.
"Kau pasti penasaran di mana letak dungeon Labyrinth of The Death, bukan?" Colin bertanya sambil menatap Fang Lin, dan kemudian melanjutinya tanpa menunggu tanggapan dari orang itu, "Letaknya ada di sana... Pusaran pasir hisap itu."
Tidak jauh dari tempat mereka berada, ada sebuah pusaran pasir hisap yang diameternya mencapai 15 meter.
"Pusaran pasir hisap itu akan membawa kita ke pintu masuk Labyrinth of The Death, dan setelah melewati pintu dungeon itu-- kita tidak akan bisa kembali pulang sebelum berhasil menyelesaikannya."
"Bukankah itu artinya Labyrinth of The Death sangat berbahaya? Kenapa kalian berusaha untuk menyelesaikan dungeon semacam ini?"
"Ah... Itu..." Colin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak tau harus bagaimana cara untuk menjawabnya.
"Sepertinya ada sesuatu... Jika kau tidak mau menjawabnya, lebih baik jangan dipaksakan." Fang Lin berkata dengan suara tenang, meskipun Colin menyembunyikan sesuatu-- ia sebenarnya bisa dengan mudah membaca pikirannya, tetapi dirinya tidak punya niatan untuk melakukan itu karena akan merusak kesenangannya nanti.
"Terima kasih atas pengertiannya, teman pemula." Colin tersenyum masam, ia merasa sedikit bersalah karena tidak bisa menjawan pertanyaan itu.
Fang Lin sendiri tersenyum tipis dan kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
Ketika mereka semua sampai di depan pusaran pasir hisap, Gwen yang berada di paling depan menghentikan langkahnya dan berbalik, "Setelah kita memasuki Dungeon ini, sudah tidak ada pilihan untuk kembali. Jadi, aku ingin memastikannya sekali lagi-- apakah kalian semua sudah siap untuk mempertaruhkan nyawa demi menyelesaikan dungeon ini?" Gwen bertanya pelan-- tapi suaranya bisa didengar jelas oleh semua anggota, sesaat ia melirik ke arah Fang Lin karena menurut perspektifnya-- pria bermantel hitam itu adalah orang yang paling lemah di grup ini.
Suasana hening dan tidak ada siapapun yang ingin mengajukan keluhan.
Gwen sendiri kembali menatap Fang Lin selama beberapa saat sebelum melompat masuk ke dalam pusaran pasir hisap tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> VOTE >> COMMENT.