System Sang Immortal

System Sang Immortal
Turnamen Semesta XXIX


__ADS_3

Fang Lin merasa kalau kesulitan menjadi sedikit bertambah setelah Ariel mendapatkan buff dari Selaphiel, namun bukan berarti ia kalah dalam pertarungan ini.


Ariel memang bertambah kuat tetapi kemampuan Fang Lin masih berada jauh di atasnya.


"Apa kalian sudah membawanya?" tanya Fang Lin penasaran melalui telepati.


"Ya, kami sudah membawa Mahkota milik Jegudiel dan Raguel, Tuan. Total yang kami bawa ada 5 Mahkota, dua di antaranya adalah milik Raguel." balas Diablo melapor.


"Begitu, ya? Itu bagus." ucap Fang Lin, lalu melanjutinya, "Kalian berdua kembali lah lebih dulu, aku akan melakukannya ketika kalian sudah cukup jauh dari sini."


"Kami mengerti, Tuan."


Mereka berdua menjawab dengan patuh, lalu pergi dari sana tanpa disadari oleh musuh karena sihir Stealth milik Tuan mereka.


Rencana cadangan Fang Lin adalah membawa Mahkota milik Malaikat inti yang telah berhasil dirinya bunuh, itu adalah rencana yang di mana semuanya telah melenceng cukup jauh.


"Oi, ada yang mau aku tanyakan padamu!" ucap Ariel dengan suara lantang.


"Hm? Sekarang ini kita saling bertukar serangan, apa kau ingin menggantinya menjadi bertukar kata?" tanya Fang Lin sembari tersenyum tipis.


"Apa yang telah kau lakukan pada Jegudiel? Apa kau menghapus ingatannya secara permanen, huh?" Ariel tetap bertanya tanpa menanggapi ucapan Fang Lin


"Tidak ada untungnya bagiku untuk menjawab pertanyaanmu." Fang Lin mendengus kecil.


"Dasar brengsek! Akan kupastikan kau menjawab pertanyaanku!" serangan beruntun Ariel berubah menjadi serangan tinju energi, dan itu jelas memberikan dampak yang lebih besar daripada serangan sebelumnya.


Fang Lin tidak mengatakan apa-apa karena serangan semacam itu tidak sampai membuatnya terluka, ia kemudian mencari tau di mana kedua bawahannya itu berada dan menemukan mereka sudah cukup jauh dari sini.


"Seharusnya aku sudah bisa pergi dari sini..." ucap Fang Lin dalam hati, kemudian melanjutinya, "Aku sebenarnya ingin menghabisi mereka berdua, tetapi itu pasti akan memakan waktu yang lumayan lama dan ada kemungkinan kalau rekan-rekan mereka datang untuk mengawasi."


Fang Lin sudah memikirkan banyak variabel di kepalanya mengenai masalah ini.


"Sayang sekali, tapi aku harus pergi." Fang Lin menciptakan serangan berdampak area yang bisa membuat pertukaran serangan mereka berhenti.


"Keparat! Jangan pergi!" Ariel melesat maju setelah serangan dampak area itu telah berakhir, namun sialnya ia sama sekali tidak menemukan Fang Lin di sekitar sana, "Bajingan itu... Dia berhasil pergi!"


Ariel kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Selaphiel dan Jegudiel, lalu menemukan mereka berdua baik-baik saja.


"Jegudiel! Apa yang telah terjadi? Kenapa kau tidak melakukan sesuatu ketika dia membunuh Selaphiel?!" tanya Ariel, ia sebenarnya sangat waspada sekarang ini.


Jegudiel tetap diam sampai akhirnya matanya terpejam dan dia langsung jatuh ke daratan karena telah kehilangan kesadaran sepenuhnya.


Ariel sedikit melebarkan mata karena terkejut dan mau tak mau menangkap pemuda itu dengan hati-hati, ia sejenak menatap Jegudiel dalam diam, "Dia sudah benar-benar kehilangan kesadaran, apa yang terjadi sebenarnya?"


Selaphiel yang dari kejauhan datang menghampiri sembari menatap Jegudiel, "Sebelum aku dibunuh, raut wajahnya benar-benar datar tanpa adanya ekspresi sedikitpun. Apakah dia sedang dirasuki oleh sesuatu?" tanya Selaphiel penasaran.


"Tidak, jiwanya hanya ada satu dan aku tidak merasakan apapun yang asing di tubuhnya." Ariel menggelengkan kepalanya.


"Lalu, apa yang terjadi?" Selaphiel sedikit mengerutkan alisnya.


Ariel yang tadinya ingin mengatakan sesuatu langsung tersentak ketika mendapatkan telepati dari kejauhan


"Ariel, Selaphiel! Di mana Mahkota milik Jegudiel?!"


Azrael dan beberapa Malaikat inti lainnya datang, raut wajah mereka terlihat panik.


Ariel dan Selaphiel saling menatap satu sama lain dengan kedua mata yang terbuka lebar, setelah hening selama beberapa saat Ariel langsung melesat dengan cepat pergi dari sana dan jelas mengejutkan Malaikat inti yang baru saja datang.


"Mahkotanya dicuri oleh Manusia itu! Cepat pergi!" Selaphiel berseru sembari memapah Jegudiel.


Azrael, Remiel dan Phanuel jelas terkejut mendengar itu, tanpa banyak berpikir lagi mereka bertiga langsung menyusul Ariel yang sudah menjauh.


Sementara itu, melalui Kesadaran Spiritualnya Fang Lin bisa menemukan Ariel yang sedang melesat ke arahnya dengan sangat cepat.


"Yah, ini sedikit lebih cepat dari perkiraanku." gumam Fang Lin yang terus menatap ke arah depan, "Aku sepertinya tidak perlu mengulur waktu, mereka sudah pasti bisa sampai ke wilayah sebelum mereka."


Kejar-kejaran itu berlangsung selama lebih dari satu batang dupa terbakar, Ariel dan Malaikat inti lainnya tidak dapat mengejar Fang Lin meskipun mereka telah menggunakan teknik yang bisa meningkatkan kecepatan.


Sesaat setelah kedua bawahan Fang Lin melewati wilayahnya, keempat Malaikat inti yang mengejar mereka langsung mematung di tempat.


Tentu saja Fang Lin mengetahui alasan mereka seperti itu, ia hanya mengangkat sudut bibirnya dan juga melewati perbatasan wilayahnya.


Fang Lin kemudian diam di perbatasan wilayah dan menunggu Leng Jin serta Diablo kembali setelah menempatkan Mahkota yang mereka bawa ke pemukiman.


Tidak lama setelah Fang Lin diam di perbatasan wilayah, Diablo dan Leng Jin muncul di belakangnya lalu melaporkan kalau semua Mahkota yang mereka bawa telah disimpan di tempat barang-barang berharga.


Fang Lin hanya mengangguk kecil untuk menanggapinya, dengan Mata Dewanya ia bisa melihat keempat Malaikat inti itu masih diam di tempat.


"Meskipun rencananya gagal di pertengahan tapi setidaknya aku pulang membawa beberapa Mahkota." Fang Lin tersenyum tipis, lalu melihat tabel yang memperlihatkan peserta di urutan sepuluh besar, "Langsung naik ke peringkat enam, ya?"


Fang Lin berada di posisi enam setelah mempunyai delapan Mahkota di wilayahnya.


"Tuan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Diablo bertanya karena merasa penasaran.


Fang Lin tidak langsung menjawab dan memikirkan itu untuk sementara waktu, "Entahlah... Aku masih belum tau apa yang akan dilakukan para Malaikat itu, tapi yang pasti aku akan tetap di sini sampai mereka kembali ke tempat mereka." ucap Fang Lin dengan tenang.


"Saya mengerti, Tuan." Diablo menjawab dan tidak bertanya lebih jauh lagi.


......................


Kurang lebih enam jam berlalu dan akhirnya para Malaikat inti yang mengejarnya menghilang dari sana.


"Mereka akan balas dendam atau fokus ke pertandingan, ya?" Fang Lin bertanya-tanya dalam hati, kalau diteliti melalui ingatan Jegudiel mereka pasti akan diam dan memilih untuk fokus mengumpulkan Mahkota, "Sepertinya aku harus pergi seorang diri untuk mencari Mahkota lainnya..."


Meskipun belum pasti apakah mereka akan balas dendam atau tidak tetapi Fang Lin lebih suka mencegah daripada mengobati, ia akan bermain aman untuk saat ini.

__ADS_1


***


Setahun lebih kembali berlalu dan hanya dengan seorang diri saja Fang Lin berhasil mengumpulkan 21 Mahkota di wilayahnya.


Semenjak kematian Jegudiel dan Raguel, Fang Lin tidak lagi pernah melihat jejak dari para Malaikat itu. Sepertinya mereka lebih fokus mengumpulkan Mahkota daripada balas dendam yang belum tentu bisa mereka menangkan.


Saat ini dalam tabel peringkat sepuluh besar, Fang Lin bisa melihat dirinya berada di urutan ke tiga. Posisi pertama ditempati oleh seseorang yang bernama Gumalo, dan yang ke dua ditempati oleh Kirisan.


Dalam urutan ke sepuluh besar itu, Fang Lin bisa menemukan Cassiel dan juga Sariel, kedua Malaikat itu berada di urutan sembilan dan sepuluh.


"Tersisa enam bulan lagi dan Turnamen Semesta akan berakhir..." gumam Fang Lin menatap langit sore, lalu melanjutinya, "Karena aku berada di urutan ketiga, haruskah aku diam sampai semua ini berakhir?"


Fang Lin memikirkan itu selama beberapa waktu sebelum menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, tidak... Aku tidak boleh lengah, meskipun jarak antara aku dan urutan di bawahku cukup jauh tetapi bukan sesuatu yang mustahil kalau mereka bisa melompatiku."


Karena pertandingan telah mendekati akhir, jumlah peserta pastinya sudah berkurang banyak dan mereka jelas memiliki lebih dari satu Mahkota di wilayah mereka.


Kalau satu peserta yang berada di bawah peringkat sepuluh berhasil membunuh salah satu dari sepuluh besar, dia pasti akan langsung loncat ke urutan yang tinggi dan mungkin bisa menjadi peringkat pertama.


"Aku harus mengumpulkan setidaknya lebih dari 30 Mahkota, dengan begitu posisiku sebagai sepuluh besar dapat diamankan." Fang Lin mengangguk beberapa kali, dan kemudian mengabari pada semua bawahan inti di ranah Absolute untuk selalu waspada karena dirinya akan pergi keluar sampai beberapa bulan ke depan.


Setelah itu, Fang Lin langsung melesat ke satu arah dengan sangat cepat. Dirinya sudah mempunyai satu wilayah untuk dijadikan target, ia sudah menganalisa kekuatan tempurnya dan dari perkiraan kasar peserta itu jauh lebih lemah darinya.


"Dia mempunyai 11 Mahkota, jika aku berhasil menghabisinya maka aku akan mempunyai 32 Mahkota."


Posisi itu sudah lebih dari cukup untuk mengamankan posisinya di sepuluh besar.


......................


Fang Lin melesat di udara selama kurang lebih tiga jam lamanya, sesampainya di wilayah tersebut dirinya disambut oleh Laser Pembunuh dari balik wilayah perbatasan.


Tentu saja Fang Lin memilih untuk menghindarinya karena itu jauh lebih menguntungkan daripada menangkisnya.


Dari balik kubah energi yang melindungi perbatasan, Fang Lin bisa menemukan enam Absolute yang memaksa ekspresi serius. Di antara mereka ada wajah yang cukup familiar, Childe.


Fang Lin memang sudah mengetahui kalau targetnya adalah Childe, ia mengangkat sudut bibirnya ketika melihat setitik kegelisahan di wajah anak kecil berambut emas itu.


Fang Lin mengeluarkan pedang Pembunuh Absolute dari sarungnya, lalu mengeksekusi tekniknya ke kubah energi yang melindungi wilayah tersebut.


Booooom!


Ledakan yang cukup besar terjadi dan kubah energi itu langsung hancur dalam sekali serangan saja.


Ketika Fang Lin berhasil menghancurkan kubah energi itu, serangan Laser Pembunuh berhenti dan enam dari ketujuh Absolute melesat ke arahnya lalu melancarkan serangan dengan sangat agresif.


Pertempuran akhirnya terjadi, Fang Lin dengan serius menghadapi mereka semua.


"Mereka cukup kuat..."


Kekuatan tempur mereka tidak terlalu jauh dari perkiraan Fang Lin sebelumnya, jadi untuk saat ini ia tidak terlalu khawatir.


......................


Sekarang Fang Lin sedang bertarung satu lawan satu melawan Absolute yang tersisa, sementara Childe sudah melarikan diri ke perbatasan sisi lain.


Entah apa yang dipikirkan oleh Childe, Fang Lin bisa melihat melalui Kesadaran Spiritualnya kalau dia sedang bersembunyi dibalik ratusan kubah energi di tingkat Semesta tahap tiga.


"S-sial! Matilah kau!"


Absolute yang menjadi lawannya melakukan serangan beruntun menggunakan tombak perak yang cukup mewah dari berbagai arah.


Lawannya sekarang ini sudah putus asa apalagi Fang Lin berhasil membunuh lima Absolute sekaligua dalam kurun waktu empat bulan saja.


Fang Lin menangkis semua serangan tombak itu dengan cepat, lalu mengeksekusi teknik Penghunus Surga ketika ada kesempatan


Swooooosh!


Serangan itu berhasil menciptakan bolongan yang hanya menyisakan kepala dan kakinya saja. Karena jiwanya ikut menerima dampak yang sama, Absolute itu langsung lenyap tidak lama setelahnya.


Sisa dari tubuh Absolute itu jatuh ke daratan dan Fang Lin langsung pergi dari sana tanpa memperhatikannya sedikitpun.


Di sisi lain, raut wajah Childe terlihat panik setelah mengetahui bawahan terakhirnya telah berhasil dibunuh oleh Fang Lin.


"Sial! Sial! Sial! Sial! Kenapa dia mengangguku? Bajingan tengik! Mentang-mentang aku lebih lemah darinya, dia sengaja mengincarku untuk mendapatkan Mahkota?!" Childe merasa sangat geram saat ini, dirinya kemudian tersentak ketika melihat Fang Lin mendarat dan berdiri di luar kubah energinya.


"Kau! Apa yang kau inginkan sebenarnya?!" Childe langsung nenunjuk ke arah Fang Lin, tatapannya terlihat sangat marah dengan perasaan yang tercampur aduk.


Fang Lin mengangkat sudut bibirnya, lalu menatap ke arah belasan Mahkota yang diletakkan di tanah, "Kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas?"


"Oi! Aku ini adalah rekanmu di pertandingan sebelumnya, seharusnya kita tidak mengincar satu sama lain dan saling bekerja sama! Kenapa kau begini kepadaku?!" luapan emosi diluapkan Childe melalui kata-kata.


"Kita dulu memang rekan tetapi itu hanya sementara saja..." balas Fang Lin, lalu melanjutinya, "Lagipula, di mataku nyawa kalian semua hanya berharga di pertandingan sebelumnya. Apakah sekarang ini aku mempunyai alasan untuk tidak tega membunuhmu?"


"Dasar brengsek, kau memang benar-benar bajingan!" Childe mengepalkan kedua tangannya dengan erat, lalu bertanya, "Jadi, kau menginginkan semua Mahkota ini? Begitu?!"


"Tentu, karena kau bisa dibilang pernah menjadi rekanku, aku akan memperlambat diriku untuk kembali ke wilayahku agar kau mempunyai waktu dua bulan kurang untuk menikmati sisa hidup." Fang Lin memberikan penawaran yang sangat gila di telinga Childe.


"Tidak, daripada aku mati lebih baik aku terus seperti ini." Childe mulai tersenyum, tapi itu lebih seperti senyuman pasrah dan menyerah pada takdir.


"Oh, menarik..." Fang Lin sebenarnya cukup kecewa dengan keputusan Childe, tetapi di sisi lain ia kagum karena anak kecil berambut enas itu terus mempertahankan Mahkota miliknya sampai ke titik darah penghabisan, "Kalau begitu, aku tidak akan sungkan."


Fang Lin mengangkat tangan kanannya ke depan dan menyentuh kubah energi tersebut, tidak lama setelah itu aura biru menyelimuti telapak tangan kanannya.


Whooosh!


Dengan mudahnya aura biru tersebut melenyapkan lapisan pertama dari kubah energi.

__ADS_1


Childe yang melihatnya langsung menahan nafas karena terkejut, ia baru ingat kalau Fang Lin mempunyai teknik tingkat Kosmis yang bahkan mampu membunuh mahluk mengerikan itu.


Tanpa sadar Childe langsung melangkah mundur karena takut, setiap detiknya Fang Lin berjalan mendekati dirinya.


"Berhenti sialan! Berhenti!" Childe mengumpat dengan wajah yang penuh ketakutan, meskipun ia adalah seorang Absolute tetapi dirinya sudah melihat kalau lawannya yang ini mempunyai kemampuan mengerikan.


Fang Lin tidak mendengar seruan Childe, ketika lapisan kubah energi telah hancur, dirinya bisa menemukan Childe yang ketakutan sampai jatuh terduduk.


"Walaupun keputusanmu mengecewakanku, tapi aku tetap tidak akan membunuhmu." Fang Lin mengangkat sudut bibirnya sembari mengangkat semua Mahkota yang ada menggunakan energinya.


"T-tunggu... Tunggul dulu!" Childe memanggil ketika Fang Lin berbalik dan hendak pergi dari sana.


"Hm, apa?" Fang Lin menoleh ke belakang, ekspresinya terlihat bingung.


"B-biarkan aku hidup, jangan bawa Mahkotaku!" seru Childe memohon.


"Kenapa aku harus menurutimu?" Fang Lin berbalik, ia sedikit memiringkan kepalanya.


"Itu, aku akan menggantikannya dengan Mahkota milik orang lain!" balas Childe, nada suaranya cukup tinggi.


"Oh, bagaimana jelasnya?" Fang Lin menjadi sedikit tertarik.


Childe terdiam sejenak untuk memenangkan dirinya, lalu menjelaskan kalau dia akan menghabisi peserta lain dan memberikan semua Mahkota yang ia peroleh padanya.


Kalau Fang Lin membiarkan Mahkota Childe dan membuatnya tidak didiskualifikasi, anak kecil berambut emas itu akan berusaha membunuh peserta lain lalu mempersembahkan Mahkota yang didapatnya pada Fang Lin.


"Kalau kau tidak mendapatkannya, bagaimana?" tanya Fang Lin setelah Childe mengakhiri penjelasannya.


Childe sendiri langsung membisu karena dia sendiri tidak tau harus berbicara apa.


Melihat Childe tidak memberikan tanggapan membuat Fang Lin memikirkan beberapa keuntungan serta kerugiannya.


Fang Lin memikirkan kesepakatan yang diajukan oleh Childe, lalu menganggukkan kepalanya sekali, "Aku sudah buat keputusan." ucap Fang Lin, lalu segera melanjutinya, "Kalau dalam tiga hari terakhir kau masih belum memberikan lebih dari tiga Mahkota padaku, aku akan langsung mengambil Mahkotamu, setuju?"


"I-itu..." ekspresi Childe menjadi tegang kembali setelah cukup tenang sebelumnya, ia membisu selama beberapa saat sebelum menganggukkan kepalanya mengerti, "Baiklah, aku mengerti."


Fang Lin tersenyum tipis, lalu meletakkan kembali Mahkota yang mengukir nama Childe ke tanah, "Aku harap kau berhasil." ucap Fang Lin, lalu melesat pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.


Childe sendiri langsung jatuh terduduk ke tanah lalu memegang Mahkota miliknya, hembusan nafas keluar melalui mulutnya karena lega bisa berhasil melakukan negoisasi dengan Fang Lin.


"Dia memberikan waktu sampai tiga hari sebelum Turnamen Semesta berakhir, huh... Ini benar-benar menyebalkan." Childe menatap langit, perasaannya sedang tercampur aduk saat ini.


Perlu diketahui, jikalau peserta berhasil hidup setelah Turnamen Semesta berakhir, mereka tetap akan hidup tetapi tidak lagi bisa mengakses Dunia Abyss karena status mereka bukan lagi seorang Peserta.


Namun sebelum dikeluarkan dari Dunia Abyss, sebagian besar dari kepingan Jiwa Sejati mereka akan diambil dan membuat mereka kembali ke makhluk Fana yang tidak abadi.


Selain itu, teknik mereka yang berada di tingkat Semesta atau Kosmis akan dilenyapkan, semua teknik yang diajarkan oleh petinggi Absolute juga dilenyapkan. Sehingga nantinya, mereka hanya mempunyai ingatan selama hidup tetapi tanpa teknik apapun yang pernah mereka pelajari.


Bagi Childe sendiri itu lebih baik daripada dirinya didiskualifikasi dan dilenyapkan.


"Aku harus mengumpulkan Mahkota lebih dari tiga mau bagaimanapun caranya." Childe bangkit berdiri, lalu menatap Mahkotanya, "Aku harus melindungi Mahkota ini selama aku pergi, kuharap tidak ada bajingan sepertinya yang datang ke wilayah ini."


Childe benar-benar berharap dalam hatinya, lalu meletakkan Mahkota tersebut di tanah dan menggunakan ratusan lapisan pelindung untuk melindungi Mahkota itu.


Setelahnya, Childe langsung pergi dari sana untuk mencari wilayah peserta lain.


***


Sepanjang perjalanan, Fang Lin tersenyum senang karena mempunyai kesepakatan semacam itu dengan Childe.


"Sekarang aku hanya perlu bersantai sampai Turnamen ini berakhir." Fang Lin tersenyum senang, lalu memeriksa layar tabel yang memperlihatkan sepuluh besar, "Aku nantinya akan berada di urutan kedua karena mempunyai 31 Mahkota."


Setelah melewati perbatasan wilayahnya, peringkat Fang Lin langsung jadi ke angka dua dan melangkahi Kirisan yang mempunyai 29 Mahkota.


Fang Lin tersenyum melihatnya, lalu pergi ke pemukiman dan menyimpan semua Mahkota itu ke bangunan yang menyimpan barang-barang berharganya.


"Oh, kamu mendapatkan Mahkota lagi?" Yue datang menghampiri Fang Lin yang baru saja menutup pintu bangunan.


"Begitulah, aku berhasil merebutnya dari mantan rekanku saat di pertandingan pertama." Fang Lin berbalik dan menjawabnya sembari tersenyum lembut.


"Mantan rekan? Kau sungguh jahat, sayang..." Yue menggelengkan kepalanya pelan, ia dengan cepat mengerti situasinya.


Fang Lin tertawa kecil, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar, "Semua orang masih latihan tertutup, ya?"


"Ya, mereka punya keinginan untuk bertempur bersamamu. Jadi mereka ingin berusaha mencapai Absolute secepat mungkin..." jawab Yue dengan tenang.


"Keinginan mereka masih belum berubah dari dulu..." Fang Lin bergumam kecil, sebenarnya ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa membantu banyak dalam perkembangan mereka.


"Tak perlu merasa bersalah, untuk mencapai Absolute memang tidak semudah itu, dibutuhkan bakat yang memumpuni untuk mencapainya." Yue memegang pipi suaminya sembari tersenyum lembut.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Fang Lin bertanya, nadanya terdengar serius.


"Huh, apa maksudnya itu?" Yue sedikit tersentak, dan sedikit memperlihatkan raut wajah kebingungan.


"Setiap kali aku bertemu denganmu, kau tampak muram. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Fang Lin sekali lagi bertanya.


"Aku tidak mengerti, sepertinya kamu salah lihat..." Yue menggelengkan kepalanya, senyuman lembutnya itu sama sekali tidak luntur.


Fang Lin terdiam sejenak mendengar itu, sudah jelas kalau Yue sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi jika itu sesuatu yang penting, jangan ragu untuk memberitahukannya padaku, oke?" ucap Fang Lin sembari memegang kedua pundak istrinya.


Yue mengangguk kecil, lalu menjawab, "Tentu saja, sayang..."


Fang Lin kemudian memeluk istrinya itu, dan dia juga membalasnya dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2