
Yohan juga terpana ketika melihat perempuan cantik yang ditampilkan di Cermin Proyeksi, Gwen juga penasaran dengan itu sehingga dirinya juga melihatnya.
"Wanita itu... Cantik sekali, tubuhnya juga sangat mantap." Yohan merasa jantungnya berdegup kencang.
"Kau mesum sekali, Yohan." Yuna menatap pemuda berambut coklat itu dengan tatapan jijik.
"Ini adalah reaksi normal, lagipula kau saja juga begitu ketika melihat rupa si pemula." balas Yohan, nadanya terdengar sedang mengejek.
Yuna tersentak dengan pipi yang sedikit merah merona, "I-itu berbeda!"
"Apanya yang berbeda? Aku masih ingat wajahmu sangat merah waktu itu, bahkan berbicara saja sudah kesulitan..."
"Jangan bercanda! Aku hanya kagum, itu saja!"
Yohan tentu tidak percaya dan mengeluarkan beberapa kata yang mengejek Yuna.
"Kalian berdua, hentikan." ucap Gwen, nadanya terdengar sedikit kesal.
Yohan yang sedang mengejek Yuna langsung menutup mulutnya, ia tidak mau memancing kemarahan Gwen karena itu cukup menyeramkan baginya.
Melihat tingkah mereka membuat Eric tertawa kecil, ia menatap adik perempuannya dan bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Aku mungkin akan meminta tanggung jawab pada semua orang yang terlibat pada insiden itu, tapi semuanya tergantung pada Yuna sendiri."
"Hm, kalau tidak salah orang yang memukul Yuna sampai pingsan adalah Fredin dari Keluarga Astrom, bukan?"
"Apakah kakak pernah bertemu dengannya?"
"Ya, aku pernah beberapa kali terlibat dengannya." Eric mengangguk ketika menjawab pertanyaan dari Gwen, "Apa kau juga akan melibatkan dia?"
"Tentu saja, dia adalah dalangnya."
"Aku mengerti, tapi jangan sampai berlebihan."
"Ya."
Eric tidak mencoba menghentikan adik perempuannya, ia kemudian menatap Ron dan memintanya untuk menyimpan kembali Cermin Proyeksi.
Setelah Ron pergi sembari membawa Cermin Proyeksi, Eric menatap rombongan orang yang dibawa oleh Gwen, "Seharusnya ada dua perempuan lagi, 'kan? Apakah kalian masih belum menangkapnya?"
"Mereka berdua pergi bersama anak yang bernama Fredin itu, tampaknya mereka bertiga sekarang ada di kediaman keluarga Astrom." Yohan yang menanggapi pertanyaan itu.
"Begitu, ya." Eric mengangguk beberapa kali, lalu kembali bertanya, "Apakah kalian membutuhkan bantuanku?"
"Itu tidak diperlukan, kak. Aku bisa mengurusnya sendiri." Gwen menggeleng pelan ketika menjawab itu, ia tidak mau merepotkan Eric lebih jauh lagi.
"Baiklah, jika ada sesuatu yang kamu inginkan, boleh katakan padaku." Eric berkata demikian sebelum masuk ke dalam Mansion.
__ADS_1
Gwen tidak mengatakan apa-apa, ketika kakaknya itu sudah menghilang dalam pandangannya-- ia menatap Yuna, "Menyentuh keluarga Astrom cukup beresiko, apakah kamu masih ingin melanjutkannya atau tidak?"
"Tidak perlu sampai sejauh itu..." Yuna menggeleng pelan, dan menambahkan "Karena aku sudah mengetahui niat buruk mereka, aku tidak lagi bergaul dengan mereka. Terima kasih Yohan, Gwen... Tanpa kalian mungkin aku akan kesulitan saat ini."
"Eh, mereka itu sudah sepantasnya untuk dihajar satu persatu sampai babak belur, takutnya suatu hari nanti mereka akan mengulangi hal yang sama." Yohan merasa tidak puas dengan ucapan Yuna, namun tampaknya perempuan berambut pirang itu sudah membulatkan tekadnya.
"Tidak apa, Yohan. Kekerasan bukan segalanya..." Yuna menggeleng pelan sembari tersenyum.
Yohan tadinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi Gwen mendahuluinya.
"Baiklah, kalau keputusanmu begitu, kami berdua tidak akan memaksa." sahut Gwen, lalu menatap rombongan yang dibawanya dengan tatapan dingin, "Tetapi setidaknya mereka harus meminta maaf padamu, bukan?"
"Y-ya... Maafkan perbuatan kami, Y-yuna."
Salah seorang perempuan berlutut di hadapan Yuna, wajahnya terlihat pucat pasi dan sangat ketakutan.
"A-aku juga, a-aku minta maaf!"
"T-tolong maafkan kami, Yuna!"
Semua orang yang terlibat dalam insiden itu mulai mendatangi Yuna dan berlutut di hadapannya, meskipun sebagian besar dari mereka adalah orang yang membenci Yuna tetapi mereka tidak punya pilihan lagi.
Yuna tentu mundur beberapa langkah ketika melihat mereka berlutut di hadapannya, ia terdiam sejenak sebelum menghela nafas panjang, "Aku memaafkan kalian. Tolong jangan ulangi perbuatan yang sama, kesempatan ini mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya."
"Terima kasih! Terima kasih!"
"Yah, aku tidak terlalu terkejut."
Fang Lin sudah bisa memperkirakan hal ini sebelumya, ia kemudian pergi dari sana karena sudah tidak ada lagi tontonan yang menarik.
***
Keesokan harinya, Akademi Bintang.
Saat ini, Fang Lin sedang berdiri di depan gerbang Akademi Bintang. Gerbang tersebut sangat besar sehingga membuatnya sedikit mendongakkan kepalanya ke atas.
"Sepertinya kau sangat semangat ya, Tuan Pemburu."
Dulhan tiba-tiba saja muncul tepat di hadapan Fang Lin, tetapi itu sama sekali tidak membuatnya terkejut.
"Lumayan, pak tua. Aku tidak menyangka akan menjadi murid di sebuah Sekt- maksudku Akademi." ucap Fang Lin sembari tersenyum.
Dulhan terkekeh kecil, lalu berkata, "Ayo masuk, guru kelas 1-D sudah menunggu di ruanganku."
Ketika Dulhan selesai berkata demikian, mereka berdua langsung menghilang dari sana dalam sekejap mata.
***
__ADS_1
Di sebuah ruangan megah.
Dulhan bersama Fang Lin muncul di dalam sana, seorang perempuan berwajah cantik yang sedang duduk di sofa langsung bangkit berdiri dan segera memasang senyum terbaiknya.
"Mulai sekarang dia adalah Guru-mu, Rena." ucap Dulhan kepada Fang Lin sembari menunjuk ke arah perempuan cantik di depannya.
"Ah, ya. Namaku Fang Lin, salam kenal..." Fang Lin sedikit menundukkan kepalanya.
Rena tentu cukup terkejut dengan ketampanan Fang Lin, tetapi dia dengan cepat mengendalikan emosinya dan juga menundukkan kepalanya.
"Aku dengar kamu adalah murid rekomendasi dari kepala sekolah, kuharap kamu bisa melampaui ekspektasiku."
"Jangan berharap lebih, Guru."
Suasana menjadi hening ketika Fang Lin menanggapi Rena demikian, Dulhan sendiri tertawa karena itu cukup lucu.
"Hahahaha... Jawabanmu sungguh hebat, nak. Aku menyukainya."
Karena di hadapan orang lain, Dulhan tidak lagi memanggil Fang Lin dengan sebutan Tuan Pemburu.
Rena tersenyum pahit sebelum berkata, "Kalau begitu, ayo kita ke kelas barumu sekarang."
Fang Lin mengangguk, Rena sendiri langsung izin pamit undur diri ke kepala sekolah lalu menuntun murid barunya itu keluar dari sana dan menunju ke kelas.
"Setelah pelajaran telah selesai, aku akan meminta ketua kelas untuk membawamu berkeliling akademi ini dan menjelaskan semua peraturan tertulis maupun tidak tertulis."
Rena memulai obrolan ketika mereka berdua berjalan di lorong yang sepi.
"Aku mengerti." Fang Lin mengangguk pelan.
"Omong-omong, apa kau benar baru berusia 16 tahun?" tanya Rena penasaran.
"Ada apa memangnya?" Fang Lin sedikit mengangkat alisnya.
"Wajahmu terlihat dewasa dan tinggi badanmu di atas rata-rata dari anak seusiamu."
"Itu pasti berasal dari genetik orang tuaku, dan untuk tinggi badan aku mendapatkan nutrisi yang cukup baik."
Fang Lin tidak berbohong ketika menjawab demikian, wajahnya memang terlihat dewasa sama sepeti ayahnya sementara ia bisa menjadi setinggi ini berkat pil yang dulu dirinya pernah konsumsi.
"Begitu, ya. Anak orang kaya ternyata..." gumam Rena pelan.
Fang Lin tidak menanggapinya meskipun ia mendengar itu.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1