System Sang Immortal

System Sang Immortal
Labyrinth of The Death III


__ADS_3

Tiger menyerbu para Goblin menggunakan tangan kosongnya, setiap pukulan yang ia lancarkan berhasil membunuh lebih dari selusin Goblin.


Hanya dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh Goblin yang ada di sana terbunuh sehingga menciptakan genangan darah.


Puluhan orc sedari tadi tidak diam saja saat melihat para Goblin sedang dibantai, mereka juga menyerang Tiger tetapi manusia itu tidak menghiraukan mereka dan memprioritaskan semua Goblin terlebih dahulu.


"Gahahahaha! Lawan yang kuat harus disisakan paling terakhir!" Tiger berseru lantang sembari tertawa riang, fluktuasi energi di tubuhnya semakin membesar dan kemudian dia mulai melaju ke arah para Orc.


Kecepatannya meningkat dan membuat Tiger bisa sampai hanya dalam waktu beberapa detik saja, dalam sekali pukul ia berhasil membunuh satu Orc.


"Wah... Tiger menakjubkan, ya." Fang Lin berpura-pura kagum.


Colin mengangguk setuju, "Dia adalah orang terkuat keempat di grup ini, wajar saja jika kau kagum."


"Eh, kupikir dia yang kedua atau ketiga..." Fang Lin sedikit terkejut..


"Tidak... Biar kuberitahu, Merlin adalah orang terkuat pertama, lalu kedua Gwen, ketiga Yohan dan keempat Tiger." ucap Colin menjelaskan.


"Tunggu... Di grup ini, siapa yang peringkat Platinum?" tanya Fang Lin penasaran.


"Gwen, dia adalah pemburu tingkat Platinum." jawab Colin cepat.


"Bukankah Peringkat dihitung dari kekuatan?Seharusnya Merlin yang berada di peringkat Platinum, bukan?" Fang Lin sedikit memiringkan kepalanya karena menyadari suatu keanehan.


"Itu benar, tapi dari yang kudengar-- Merlin menyembunyikan kekuatannya sehingga dia hanya mendapatkan peringkat Silver saja."


"Begitu rupanya..." Fang Lin mengangguk pelan, ia bisa menemukan dalam kesadaran spritualnya kalau Merlin sedang menatap Colin dengan tatapan tajam, "Mereka sepertinya lagi berkomunikasi lewat telepati."


"Aduh... Pemarah sekali." Colin memasang raut wajah pahit.


"Ada apa?" Fang Lin bertanya seolah tidak tau apapun.


"Tidak ada, tidak ada." Colin menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Fang Lin tersenyum tipis dan tidak bertanya lebih jauh lagi, ia kembali memperhatikan Tiger yang sedang membunuh para Orc.


......................


Sepuluh menit berlalu, Tiger meninju Orc terakhir dan membuatnya terpental sampai menabrak dinding labirin sampai hancur.


"Uwahahahaha... Menyenangkan! Sangat menyenangkan!" Tiger tertawa lantang selama beberapa waktu.


"Ayo, lanjutkan perjalanan..." Gwen berkata dengan acuh tak acuh setelah Tiger selesai melawan para monster itu.


Merlin mengangguk sekali, lalu memerintahkan Harimau Hitam untuk kembali berjalan. Gwen mengikutinya dari belakang, begitu juga dengan Yuna dan yang lainnya.


Tiger sendiri tidak mengatakan apa-apa meskipun ditinggalkan, raut wajahnya sekarang sangat puas karena sudah membunuh banyak monster yang menghiburnya.

__ADS_1


......................


Waktu berlalu sangat cepat, sudah setengah hari lebih mereka menyusuri labirin tanpa ujung ini. Langit yang tadinya berwarna biru, kini menjadi gelap gulita. Untungnya, Yuna bisa menggunakan sihir cahaya sehingga tidak perlu khawatir tentang kegelapan.


"Tiger, kau belum lelah?" Gwen bertanya tanpa menoleh ke belakang.


"Heh, tenang saja. Meskipun aku yang selalu menghadapi para monster selama di perjalan, tetapi masih ada banyak sisa tenagaku." Tiger tersenyum lebar, semangatnya masih belum turun semenjak masuk ke dalam labirin.


"Eh, tapi kamu harus beristirahat, Tiger. Biarkan yang lain saja menghadapi monster selanjutnya." Yuna berkata dengan nada gelisah, dia adalah sosok wanita yang perhatian.


"Gahahaha! Tidak perlu, bahkan jika terus melanjutkan perjalanan sampai besok-- aku masih kuat!" Tiger tertawa lantang.


"Pemula, apa kau tidak lelah?" Rian bertanya, ini adalah kali kedua dia berbicara pada Fang Lin.


"Tidak, aku masih ada cukup tenaga." Fang Lin menjawab sembari menggeleng pelan.


"Bohong, aku bisa melihat mata pandamu dari balik kupluk mantelmu." Rian berkata, dan matanya teralih ke depan, "Gwen, ayo istirahat di sini. Kasihan pemula, sepertinya dia membutuhkan istirahat."


"Dia menggunakan namaku, padahal dia sendiri yang kelihatannya sudah lelah." Fang Lin berkata dalam hati, meskipun tau begitu ia sama sekali tidak protes.


Gwen tidak bodoh, ia tau kalau Rian menggunakan nama Fang Lin untuk dirinya sendiri. Helaan nafas keluar dari mulutnya, lalu membuat perintah untuk berhenti di sini.


Merlin yang mendengarnya langsung menghentikan langkah harimau hitam, begitu juga dengan yang lainnya.


"Kita akan beristirahat sampai langit menjadi terang kembali." Gwen berkata demikian, lalu turun dari punggung kuda.


Di sisi lain, Yohan mengeluarkan tumpukan potongan kayu dari udara kosong, lalu menciptakan sebuah api unggun menggunakan elemen apinya.


"Akhirnya beristirahat!" Rian menjadi sangat antusias, ia langsung mengambil posisi berbaring di dekat api unggun.


Merlin, Yohan, Yuna, Tiger dan Gwen juga duduk mengelilingi api unggun. Sedangkan Fang Lin bersama Colin bersandar di dinding hitam labirin yang jaraknya belasan meter dari api unggun.


"Kenapa kau di sini, apa kau tidak merasakan kedinginan?" Colin bertanya untuk memecahkan keheningan yang ada.


"Hm... Aku hanya ingin sendiri?" Fang Lin menjawab, suaranya sedikit ragu.


"Eh, apa itu artinya aku mengganggumu?" Colin menjadi merasa tidak enak.


"Tidak. Maksudku, aku hanya ingin menjauh dari rombongan..." Fang Lin menggeleng pelan saat menjawab itu


"Kenapa memangnya?"


"Tidak ada alasan khusus, hanya sekadar ingin saja."


"Begitu... Omong-omong, apa kau lapar?" Colin mengeluarkan dua roti dari udara kosong, lalu memberikan satu pada Fang Lin.


"Ah..." Fang Lin sebenarnya ingin menolak, tetapi ada beberapa alasan yang membuatnya menerima roti itu, "Terima kasih."

__ADS_1


"Hahaha... Tidak perlu sungkan, kita adalah teman satu grup." Colin tertawa kecil.


Fang Lin tetap menundukkan kepalanya saat memakan roti tersebut.


"Oi, pemula! Kenapa kau terus memakai mantelmu? Apa kau tidak merasa gerah, hah?" Yohan menoleh ke belakang dan menatap Fang Lin.


"Tidak..." Fang Lin menjawab dengan singkat.


"Heeh..." Yohan menyeringai, lalu bangkit berdiri.


Yohan kemudian berjalan mendekati Fang Lin, dan berhenti tepat di depannya.


"Entah kenapa aku jadi penasaran dengan wajahmu, kenapa tidak membukanya?" Yohan bertanya sembari melakukan posisi jongkok, "Kau bilang wajahmu itu terlalu tampan, bukan? Lalu, kenapa kau takut membukanya? Seandainya kau berbohong dan wajahmu sangatlah jelek, aku bersumpah tidak akan mencelamu atau apapun itu."


Meskipun Yohan sudah mengetahui alasannya tetapi ia tetap bertanya, bukan karena ingin mengejek atau semacamnya tetapi dirinya benar-benar murni penasaran dengan wajah Fang Lin.


"Aku tidak mau terjadi sesuatu yang merepotkan."


"Heeh... Kau malah membuatku menjadi tambah penasaran." Yohan tersenyum lebar, lalu bertanya, "Baiklah, aku menyimpulkan kalau wajahmu itu jelek sehingga tidak mau menunjukkannya pada orang-orang terutama wanita. Jadi, bagaimana jika kau hanya menunjukkannya padaku seorang saja?"


Setelah Yohan selesai mengucapkan hal itu, suasana menjadi hening dan hanya ada suara kobaran dari api unggun saja.


"Kata-katamu sangat kejam, Yohan." Yuna yang sedari tadi diam menjadi sedikit kesal.


"Berhenti mengganggu pemula itu, Yohan." Gwen menimpali dengan acuh tak acuh.


Yohan menoleh ke belakang dan menemukan Gwen sedang menatapnya dengan tatapan tajam, ia terdiam sejenak lalu kembali menatap Fang Lin, "Cih, padahal aku hanya penasaran." Yohan bangkit berdiri dan memasang ekspresi bosan.


Ketika Yohan hendak pergi dari sana, Fang Lin menghentikan pergerakannya dengan berkata, "Baiklah, kalau kau sangat ingin melihat wajahku..."


"Woah! Benarkah?" raut wajah Yohan menjadi antusias.


"Tentu." Fang Lin bangkit berdiri usai menjawab itu, "Tapi setelah itu, jangan menggangguku lagi."


"Baik, baik! Aku mengerti." Yohan tanpa banyak berpikir panjang langsung menjawabnya.


"Eh, eh... Apa kau tidak apa-apa, Fang Lin? Kalau kau merasa risih, tidak perlu memaksakan diri untuk melakukannya." Colin yang menyaksikan dalam diam mulai bertindak.


"Hentikan itu, Colin. Jangan membuat dia berubah pikiran." Yohan memberikan tatapan tajam pada pemuda di samping Fang Lin.


Glek.


Colin menelan ludahnya dengan kasar, matanya kemudian mengarah ke Gwen dan ketika tatapan mereka saling bertemu, wanita cantik itu menggelengkan kepalanya pelan.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2