
Setelah menyebarkan kesadaran spiritualnya sampa batas yang ia bisa, Fang Li Dao berdecak kesal karena tidak menemukan satupun sumber air di sekitarnya.
"Bau jaring ini sangat menjijikan, aku tidak kuat." Fang Li Dao terus-menerus merasa ingin muntah, ia kemudian melesat dengan cepat melewati pepohonan di sekitarnya.
Sudah satu jam penuh Fang Li Doa berlari tanpa henti, akhirnya ia melihat ujung hutan yang selama ini ditunggunya.
Ketika keluar dari hutan tersebut, Fang Li Dao menemukan sebuah desa yang terbilang cukup luas. Senyum lebar terukir di wajahnya saat ia menemukan sebuah sumur di bagian luar desa tersebut.
"Aku akan membersihkan jaring laba-laba yang menjijikkan ini sebelum mencari penginapan di desa." Fang Li Dao melesat ke arah sumur tersebut, dan ketika dirinya sampai-- ia langsung membuka penutup kayu yang menutupi sumur lalu mulai mengambil air di dalam sumur tersebut dengan cara menimbahnya menggunakan tali dan ember.
Tanpa banyak berpikir lagi, Fang Li Dao langsung membasuh tubuhnya dengan timbaan air yang pertama, dan ia melakukan secara berulang kali.
Apa yang dilakukan oleh Fang Li Dao menarik perhatian beberapa warga di desa tersebut, mereka mengawasi bocah berusia 8 tahun itu dari kejauhan sambil memasang ekspresi yang buruk.
Setelah menimba air yang ke delapan kali, Fang Li Dao menghentikan aktivitas saat menyadari ada banyak pasang mata yang mengamatinya dari kejauhan.
"Perasaanku saja atau mereka sedang menatap diriku dengan ekspresi yang buruk?" Fang Li Dao bergumam, ia berpikir kalau dirinya melakukan kesalahan karena telah menimbah air milik mereka, "Ah, apakah mereka kesal karena aku memakai air di sumur ini?" Fang Li Dao bertanya-tanya dalam hati, ia mulai berpikir untuk memberikan mereka uang ganti rugi karena telah memakai sumur tanpa izin.
Fang Li Dao kemudian kembali menutup sumur dengan penutup kayu, ketika ia ingin beranjak pergi dari sana-- suara panggilan terdengar di telinganya.
"Anak muda, berhentilah..."
Fang Li Dao menoleh ke arah sumber suara tersebut dan ia menemukan seorang kakek tua datang menghampirinya bersama dengan dua orang pria paruh baya di belakangnya.
"Anak kecil... Kamu berasal dari mana?" kakek tua itu bertanya ketika sudah dia sudah berada di dekat Fang Li Dao.
Fang Li Dao sendiri terdiam sejenak mendengar itu, lalu menjawab, "Saya berasal dari sebuah desa yang ada di utara, kakek."
"Ah, ternyata kamu orang luar, ya." kakek tua menganggukkan kepalanya berulang kali sebelum menatap sumur yang tidak jauh dari tempatnya berada, "Apa kamu tau ini sumur apa?"
__ADS_1
Fang Li Dao tersentak dan ia buru-buru menundukkan badannya, "Saya minta maaf kakek karena telah memakai sumur ini tanpa izin, saya siap untuk memberikan ganti rugi yang setimpal!" Fang Li Dao meminta maaf dengan tulus.
"Hm?" kakek tua sedikit mengangkat alisnya, "Sepertinya kamu salah paham anak kecil..." ucapnya dan dengan segera melenajuti, "Sebenarnya sumur ini sudah tidak pernah dipakai oleh warga desa karena sumur ini dikenal sebagai sumur terkutuk."
Fang Li Dao sedikit terkejut mendengarnya, ia mengalihkan pandangannya pada sumur tersebut sejenak lalu kembali menatap kakek tua di depannya, "Memangnya terkutuk seperti apa, kek? Saya rasa tidak ada sesuatu yang janggal pada sumur itu." tanya Fang Li Dao penasaran.
Kakek tua tampak ragu untuk menjawabnya, sampai akhirnya ia menghela nafas berat dan mulai menjelaskan secara singkat, "Bagian terkutuk dari sumur itu adalah, siapa saja yang telah memakai air yang ada di dalam sumur tersebut-- dia akan mati dalam kurun waktu 24 jam."
Mendengar itu membuat Fang Li Dao tersedak nafasnya sendiri, ia melihat raut wajah kakek tua di depannya sangat serius dan membuatnya ragu untuk berpikir kalau dia sedang berbohong padanya.
Suasana menjadi hening selama beberapa waktu, Fang Li Dao cukup ketakutan setelah mendengar kabar itu, "Apakah sudah ada korban dari sumur terkutuk ini?" tanya Fang Li Dao penasaran.
"Tentu saja sudah, kalau belum-- bagaimana caranya sumur itu dikenali sebagai sumur terkutuk?" kakek tua itu menggelengkan kepalanya tak berdaya, ia rasa seorang anak kecil tetaplah anak kecil.
Fang Li Dao menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum pahit ketika mendengar itu, ia kemudian kembali bertanya, "Bagaimana cara korbannya mati?"
"Kalau tidak salah, tubuh korban akan tercabik-cabik sampai mengeluarkan organ dalamnya, dan kedua bola mata beserta lidah di mulutnya akan menghilang seakan diambil oleh sesuatu." jawab kakek tua secara detail.
Kakek tua itu memasang raut wajah sedih dan membuat perasaan gelisah Fang Li Dao semakin membesar, "Maafkan aku, nak. Sudah lebih dari seratus tahun aku hidup semenjak sumur terkutuk itu ada dan aku sama sekali belum pernah mendengar ada seseorang yang pernah lolos dari kematian."
Keringat dingin mulai bermunculan di wajah Fang Li Dao, jantungnya berdebar tak karuan dan ia mulai merasakan takut yang belum pernah dirasakannya selama hidup.
Fang Li Dao menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dari semua kemungkinan-- hanya ada satu penjelasan saja yang menurutnya paling masuk akal, "Sepertinya bukan kutukan melainkan kerjaan seorang makhluk halus."
"Makhluk halus? Bagaimana kamu mengetahuinya?" tanya kakek tua dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Ah, aku hanya menebak-nebak saja." jawab Fang Lin, dan ia bertanya, "Apakah kakek sedari awal tau kalau yang melakukannya adalah makhluk halus?"
"Aku masih tidak yakin, tetapi ada beberapa rumor kalau sumur terkutuk itu memang dihuni oleh makhluk halus yang sangat kuat."
__ADS_1
Fang Li Dao terdiam dalam waktu yang lama setelah mendengarnya, ia kemudian menggelengkan kepalanya dan memilih untuk memikirkan itu nanti.
"Terima kasih atas informasinya, kakek." Fang Li Dao menundukkan badannya, lalu bertanya, "Omong-omong, kek. Apakah di desa ini ada penginapan?"
Kakek tua sedikit mengangkat alisnya, ia merasa keheranan melihat Fang Li Dao sudah tidak terlihat ketakutan lagi, "Ada satu penginapan di sini, tapi kakek rasa pemiliknya tidak akan mau menerimamu..."
Karena Fang Li Dao sudah terkena sebuah kutukan, pasti pemilik penginapan tidak akan sudi menerimanya sebab kalau anak kecil itu mati-- dia akan direpotkan untuk mengurus mayatnya.
Raut wajah Fang Li Dao menjadi muram ketika mendengar itu, "Begitu, ya... Kalau begitu, aku izin pergi dulu, kek." suara Fang Li Dao terdengar lemas, ia berbalik dan hendak pergi dari sana.
"Menginaplah di rumahku, nak. Tapi dengan syarat, kamu harus pergi sejam sebelum kutukan itu aktif..."
Tentu saja perkataan yang dilontarkan kakek tua langsung membuat dua pria paruh baya dibelakangnya terkejut.
"Ayah, sepertinya itu adalah tindakan yang berlebihan. Bagaimana kalau dia mati lebih cepat sebelum kutukan akitf? Itu nantinya akan sangat merepotkan kita."
"Itu benar, ayah. Coba pikirkan ulang..."
"Keputusanku sudah bulat, jangan ada yang protes kalau kalian masih ingin tinggal di rumah ayah."
Kedua pria paruh baya itu langsung membisu ketika mendengarnya, mereka menghela nafas panjang dan pasrah untuk apa yang terjadi ke depannya.
Fang Li Dao langsung menoleh ke arah kakek tua itu, dan senyum lebar terukir jelas di wajahnya, "Tentu saja aku mau, kek." jawabnya tanpa pikir panjang.
"Hohoho... Baiklah, kalau begitu-- ayo ikuti aku." kakek tua itu berbalik, dan ia berjalan memasuki desa.
Fang Li Dao mengangguk cepat, ia mengikuti kakek tua itu dari belakang bersama dengan kedua pria paruh baya di dekatnya.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.