
Alam Tanah Kultivator, Kekaisaran Shu.
Di sebuah hutan yang sangat luas, terlihat seorang pria tampan berjubah hitam mewah sedang berjalan santai di antara pepohonan.
"Aku sedikit menyesal karena telah memberikan seluruh koin emasku kepada Diablo." Ucapnya lalu menghela nafas panjang.
Fang Lin tidak langsung kembali ke kapal terbang Star Universe karena dirinya mempunyai beberapa alasan. Salah satunya adalah, dia tidak ingin nyawa para bawahannya semakin terancam dengan ada dirinya.
Memang fungsi bawahan adalah menjaga tuannya agar tetap aman, namun Fang Lin saat ini adalah seorang buronan para Dewa. Jika ia terus berada di dekat mereka, yang ada dirinya akan kerepotan karena harus menjaga mereka yang masih lemah.
Dengan kekuatannya yang sekarang, para bawahannya menjadi tidak berguna kecuali beberapa saja. Jadi Fang Lin akan memberikan mereka waktu untuk berkembang tanpa dirinya.
Fang Lin juga akan mencari cara untuk menghidupkan kembali kedua orang tuanya dan Shui Ru. Mungkin ia akan memulainya dalam 1 bulan lagi, karena saat itu system sudah selesai upgrade dan kemungkinan besar Yue memiliki cara untuk menghidupkan kembali makhluk hidup.
.....
Fang Lin terus berjalan di hutan belantara hingga akhirnya dia keluar dan mendapati sebuah kota yang sangat luas.
"Sudah lama aku tidak melihat suasana seperti ini." Fang Lin tersenyum tipis dan kemudian berjalan menuju kota tersebut.
Di perjalanan, Fang Lin memakai sebuah topeng hitam polos, ia tidak ingin wajahnya yang begitu tampan menarik perhatian banyak wanita.
Tidak butuh waktu lama bagi Fang Lin untuk sampai di pintu gerbang kota tersebut. Saat ia ingin memasuki kota, penjaga gerbang kota menahannya dan memintanya untuk mengeluarkan kartu Identitas.
Fang Lin langsung menggarukkan kepalanya yang tidak gatal ketika dirinya diminta kartu Identitas, "Hehehe... Kartu Identitasku telah hilang, bisakah aku melewati saja tanpa harus menunjukkannya?"
Penjaga gerbang menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak bisa! Jika mau masuk ke kota, kau harus memiliki kartu Identitas. Tetapi tenang saja, kau dapat membuatnya jika ingin, aku yang akan mengawalmu kesana." Ucapnya dengan nada tegas.
Fang Lin terdiam ketika mendengarnya, ketika ia ingin berkata sesuatu, tiba-tiba saja seseorang dari antrian belakang datang menghampirinya.
"Maaf... Aku adalah temannya. Biarkan dia lewat, karena kami satu rombongan." Seorang pria tampan berambut hijau berkata dengan nada ramah.
Fang Lin yang mendengarnya sedikit mengangkat satu alisnya, namun dia hanya diam.
__ADS_1
Ketika mendengar itu, penjaga gerbang tersebut langsung menundukkan badannya, "Maafkan saya, tuan muda Lu. Saya tidak tau jika dia adalah teman anda..."
"Hahahaha... Tak perlu sampai seperti itu. Ini hanya kesalahpahaman saja." Ucap Lu Tong dengan tawa kecil. Ia kemudian menatap Fang Lin, lalu memberinya kode untuk berjalan melewati gerbang.
Fang Lin sendiri langsung berjalan memasuki kota. Sebenarnya ia bisa saja memasuki kota ini tanpa harus melewati gerbang kota, namun entah kenapa dirinya tidak ingin melakukan hal tersebut.
Ketika sudah berada di dalam kota, Fang Lin menatap ke sekelilingnya, ia tersenyum tipis dan tak lama kemudian sekelompok orang datang menghampirinya.
"Halo tuan... Bisakah kita berbicara sebentar?" Dia adalah Lu Tong dan berserta rombongannya.
Mendengar itu Fang Lin langsung menatap ke arah Lu Tong, "Apa niatmu?" Tanyanya dengan nada malas. Ia tau kalau pria tampan berambut hijau di depannya ini tidak semata-mata membantunya saja secara percuma.
Lu Tong yang mendengarnya sedikit terkejut, ia tersenyum dan kemudian memberikan penawaran pada Fang Lin.
Lu Tong, dia adalah putra pertama dari keluarga Lu. Dia memiliki adik perempuan yang bernama, Lu Xian. Adiknya tersebut saat ini sedang menderita suatu penyakit yang aneh, dan dia harus dibawa ke salah satu tabib terkenal yang berada di kota Jhang Wen.
Karena perjalanan tersebut akan memakan waktu yang sangat panjang, Lu Tong menyewa pasukan Serigala Hitam untuk berjaga-jaga jika ada perampok yang menyerang. Namun dia belum merasa puas dan menyari kultivator pengembara yang kuat.
Lu Tong tertarik kepada Fang Lin karena samar-samar dirinya merasakan aura yang sangat kuat keluar dari tubuh pria berjubah hitam itu. Penglihatannya mengenai orang lain sangat jarang meleset, jadi dirinya cukup percaya kalau Fang Lin adalah kultivator kuat.
Usai menjelaskan itu semua, Lu Tong diam dan menunggu jawaban dari Fang Lin.
Fang Lin sendiri terdiam dan memikirkan penawaran dari pria berambut hijau itu.
"Bayaranku sangatlah mahal... Memangnya kau sanggup?" Tanya Fang Lin santai.
Ketika Lu Tong ingin menjawabnya, tiba-tiba saja salah satu orang dari rombongan yang dibawanya berkata, "Kau meminta bayaran mahal? Apakah kau sedang bergurau sekarang? Kau saja terlihat sangat lemah, bagaimana jika nanti ada sekelompok perampok yang datang menyerang? Mungkin kau akan lari terbirit-birit." Ucap pria botak berbadan kekar dengan nada merendahkan.
Ucapan dari pria botak itu mengundang gelak tawa dari rombongan Lu Tong.
Fang Lin yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, "Terserah saja... Kau pikir aku peduli?"
Pria botak itu mengerutkan alisnya ketika mendengar balasan Fang Lin, disaat dirinya ingin menanggapi kembali perkataan pria berjubah hitam itu, Lu Tong lebih dulu memotongnya.
__ADS_1
"Aku menyewa kau dan kelompokmu untuk melindungiku, bukan untuk yang lain. Jadi aku mohon untuk tidak ikut campur dalam negoisasiku." Ucap Lu Tong dan membuat pria botak itu mendengus pelan.
Lu Tong kembali menatap Fang Lin lalu berkata, "Baiklah... Aku akan membayarmu dengan mahal, namun akan kulakukan setelah kita semua sampai disana."
"Baiklah. Kapan perjalanan akan dilakukan?" Tanya Fang Lin penasaran.
"Besok. Pastikan dirimu sudah berada di luar gerbang kota, pagi-pagi buta." Jawabnya cepat.
Fang Lin menganggukkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya.
Melihat itu Lu Tong ikut mengulurkan tangannya, ia mengira kalau Fang Lin ingin berjabat tangan dengannya.
Plak.
"Tidak, tidak. Aku tidak berniat untuk berjabat tangan, tapi aku ingin meminta beberapa koin emas." Ucap Fang Lin setelah menepis tangan Lu Tong.
Lu Tong terkejut mendengarnya, begitu juga dengan rombongan yang dibawanya.
"Memangnya untuk apa?" Tanya Lu Tong.
"Aku sama sekali tidak memegang uang, dan aku ingin menyewa penginapan malam ini."
Mendengar itu, Lu Tong sedikit tak menyangka. Dia menghela nafas panjang, lalu memberikan penawaran kepada Fang Lin untuk menginap di kediaman Lu.
Fang Lin yang mendengarnya langsung setuju, "Baiklah... Ayo pergi." Ucap Fang Lin santai.
Melihat kelakuan Fang Lin membuat Lu Tong menggelengkan kepalanya pelan. Ia menjadi sedikit ragu, apakah Fang Lin benar-benar orang kuat atau hanya seorang penipu.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
Note: Alurnya akan lambat, karena Author lagi gak ada ide.
__ADS_1