
Aku tersentak mendengar ucapan Gara, tak menyangka jika anak sekecil Gara bisa bicara seperti itu. Apa ayahnya yang menyuruhnya?
"Garrlla mau bobo diusap lagi sama Tante Baik! Garrlla bosen diusap sama Mbak Nirrlla terrllus!" ucap anak itu lagi. Aku tertegun mendengar ucapannya. Terdengar di belakang Gara suara sang ayah yang memberi peringatan terhadap putranya agar tidak bicara seperti itu.
Aku hanya tertawa pelan mendengar Gara yang patuh pada ucapan ayahnya.
"Sudah belum hpnya? Papa ngantuk, ini sudah malam. Gara juga harus sudah tidur," ucap suara Arga.
"Dak mau!" Teriak Gara dengan keras hingga telingaku sakit mendengar teriakan anak itu.
"Garrlla mau dengerrll cerrlliita darrlli Tante Baik!" seru anak itu lagi.
"Gara, Tante Ayu juga harus tidur. Ini sudah malam. Gara anak baik, kan?" Terdengar bujuk halus Arga.
"Dak!! Garrlla bukan anak baik!!" teriak Gara lagi, lalu terdengar teriakan lain dari Gara dengan suara keras, sepertinya sang ayah tidak berhasil membujuk Gara. Dia terus berteriak jika dia bukan anak yang baik jika keinginannya tidak dituruti.
"Gara," panggilku.
"Gara anak baik, anak soleh. Tidur, ya. Ini sudah malam, Sayang," ucapku membujuknya.
"Garrlla mau dengerrll cerrllita," ucapnya dengan nada manja. Kini suasana di sana terdengar lebih tenang.
"Gara bisa minta Mbak Nira yang cerita. Jangan ganggu Tante Ayu, ya," pinta sang ayah pada putranya.
"Dak mau! Garrlla mau Tante Ayu!" Anak itu kembali berteriak.
"Arga, sudah. Biarkan saja. Aku gak apa-apa." Entah Arga dengar atau tidak aku bicara seperti itu, tapi kemudian kini Gara terdiam.
"Gara sekarang tidur, Tante akan cerita," ucapku pada anak itu.
"Horlleeee!" teriaknya dengan nada yang girang. Seulas senyum tersunging di bibirku saat mendengar suara itu.
"Garrlla tidur!" teriaknya lagi dari sana.
Aku bertanya pada Gara, cerita apa yang dia mau. Dia menyebutkan sebuah judul dan ternyata dia memilih Tiga Beruang Dan Seekor Serigala.
__ADS_1
Aku tidak terlalu tahu dengan cerita itu, gegas aku mencari judul yang Gara maksud di laptop. Dengan sedikit membaca apa yang ada disana, aku segera bercerita.
Entah apakah anak itu tidur atau tidak, tapi sekarang suasana di sana lebih tenang dari yang tadi.
Aku bukan pencerita yang baik, tapi hanya sekedar membacakan saja apa yang ada di laptop. Cukup terhanyut juga dengan apa yang aku baca. Pikiranku jadi terbawa suasana, jika saja aku punya anak, mungkin saja anakku juga akan memintaku untuk membacakan sebuah cerita.
Tak ada suara yang terdengar dari kejauhan sana membuat aku berpikir jika Gara mungkin sudah tertidur.
Kucoba untuk memanggilnya tapi tak ada sahutan suara darinya. Hingga akhirnya suara yang lain membuatku tertegun.
"Gara sudah tidur," ucap laki-laki itu. Suaranya terdengar sangat lembut hingga membuatku merasa aneh.
"Oh, syukurlah kalau Gara sudah tidur. Apa dia sudah tidur dengan nyenyak?" tanyaku, ada sedikit khawatir dengan anak itu.
"Aku kira sudah," jawab Arga.
"Syukur, deh. Kalau begitu aku juga mau tidur," pamitku.
"Iya. Terima kasih ya karena kamu sudah mau direpotkan lagi. Maaf," ujarnya.
"Tidak apa-apa. Gara masih kecil. Sudah ya, aku tutup teleponnya."
"Selamat malam," jawabku.
Aku menutup telepon dari Arga. Rasa di dalam dada ini terus berdebar kala mendengar suara lembutnya.
Ya Allah apa yang terjadi sama aku? Kenapa dengan diriku ini?
Aku mengenyahkan segala rasa yang ada di dalam hatiku dan memutuskan untuk tidur saja, daripada rasa ini semakin tak karuan dan membuat aku bingung. Mencoba untuk membuat suatu cerita juga tak bisa berpikir dengan baik, malah ketik hapus, ketik hapus sedari tadi.
Malam semakin larut tapi aku tidak bisa tidur juga. Aku pergi ke dapur, karena tidak tidur ternyata membuat ku lapar.
Setelah makan barulah rasa kantuk datang. Masa bodoh dengan berat badan yang mungkin akan bertambah, jika lapar tengah malam jangan di tahan, itu menjadi prinsip ku kini.
Pagi setelah memasak aku bicara dengan Ibu mengenai aku yang ingin bekerja. Ibu tidak mengizinkan awalnya tapi setelah mendengar alasanku akhirnya Ibu luluh juga.
__ADS_1
Aku bersikukuh ingin bekerja karena dari menulis tidak selalu bisa diandalkan. Memang pendapatan bisa melebihi dari gaji kebanyakan, tapi semua tergantung hoki. Beberapa judul yang aku buat selama ini lebih dari dua, tapi yang membawa hoki hanya dari satu judul yang aku buat sekarang ini, yang lainnya pendapatan hanya sedikit, itu pun jika aku tidak punya novel yang masih berjalan rasanya akan sulit juga untuk mendapatkan uang.
"Tapi kamu juga harus urusin KTP kamu dulu, Yu. KTP kamu kan masih status menikah. Kartu keluarga juga masih sama dengan Hilman, kan?" ucap Ibu yang akhirnya setuju aku untuk bekerja.
Aku hampir melupakan hal penting itu. Selama ini aku belum mengurus kartu identitasku karena sibuk dengan kesehatan Ibu dan juga sibuk dengan kehidupan nyataku.
"Iya, Bu. Ayu akan bereskan soal KTP dan pindah KK sama Ibu lagi. Nanti sore Ayu akan tanya sama Pak RT syarat apa saja untuk pengajuan pindah KK dan ganti KTP," ucapku pada Ibu.
Setelah mendapatkan izin, aku pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan warung dan juga dapur sekalian. Beruntung aku cukup mandiri dan bisa mengendarai motor sendiri, jadi aku tidak perlu bingung dan menyusahkan orang lain untuk antar jemput.
Wanita memang harus bisa hidup mandiri. Bukan apa-apa, tapi hidup itu tidak selalu manis. Boleh jika kita berpikir dan menumpukan harapan besar pada pasangan kita untuk selalu membahagiakan istri, tapi ingat juga jika semua itu bisa saja hanya sementara. Bukan aku mendoakan yang tidak baik, tapi masa depan siapa yang tahu, kan? Aku contohnya!
Bersyukurlah dengan kalian yang mempunyai suami yang baik dan juga perhatian, tapi jangan juga menjadikan diri kita sebagi orang yang manja. Tetap wanita harus bisa mandiri!
Pasar ini tidak terlalu besar, tapi cukup lengkap dengan apa yang ada di dalamnya, sayur, daging, bahkan toko baju dan sepatu serta tas juga ada di bagian utara pasar.
Terlebih dahulu aku mencari kebutuhan warung, melengkapi apa yang sudah berkurang dari sana. Dua dus makanan ringan serta kopi dan yang lainnya sudah aku bawa dan kusimpan di motor.
Kembali aku menuju ke dalam pasar untuk membeli sayuran, sekalian ada di sini aku akan mengisi stok sayur di kulkas juga.
Aku berjalan ke arah tempat daging berada. Hanya tinggal satu tempat yang masih buka, yang lainnya sudah kosong di kiri kanannya.
"Ayam satu ekor, Mas. Minta di potong ya. Sama ati ampela setengah kilo," pintaku pada penjual. Pria muda itu menyahut dan segera menimbang ati ampela serta memotong daging ayam yang aku pinta menjadi beberapa bagian. Aku memperhatikan tangan cekatan itu memotong daging dengan terlihat mudah.
"Eh, ini ... yang di pinang Kyai Amrul kan?" tanya seseibu yang baru saja datang beberapa menit yang lalu dan menunggu giliran.
Aku menoleh pada wanita yang aku perkirakan seusia dengan Ibu.
"Benar! Ini yang dari Desa Talang! Maasyaallah, ayune!" serunya seraya mengusap lenganku. Aku belum sempat menjawab tadi, keburu Ibu ini berbicara lagi.
"Eh, Bu. Bukan ...."
"Alhamdulillah kalau Ustadz Zain akan dapat istri yang cantik seperti ini. Ini Bibinya loh, Nduk. Bibinya Ustadz Zain, adik dari Ibunya Zain!" serunya sambil menepuk dadanya seakan dia ingin meyakinkan jika beliau adalah Bibi dari orang yang dimaksud.
"Ibu lihat kamu dari hpnya Mas Zain. Ternyata aslinya lebih cantik. Maasyaallah!" Dia tertawa, hingga terlihat kerutan di bawah matanya. Aku sempat terkejut dengan apa yang dia katakan. Uztadz Zain punya fotoku? Dari mana?
__ADS_1
"Ini loh, Mas. Calon istri keponakan saya." tunjuk Ibu itu pada penjua daging. Pria muda itu hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Bu yakin, kalau wanita ini calon dari Ustadz Zain?" suara seseorang terdengar di belakang kami.