Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
150. Pemberian Arga


__ADS_3

Alhamdulillah, acara telah selesai dilaksanakan dengan sangat baik. Kini keluarga Arga sedang bersiap untuk pulang.


Selama dalam acara tadi, aku hanya diam. Arga juga sama. Lebih banyak yang lain yang berbicara maupun menjawab. Tidak tahu mereka membicarakan apa, aku tidak bisa jelas mendengarnya. Malah sibuk dengan batinku sendiri. Malu juga karena di tatap terus oleh Arga dan juga jadi bahan godaan yang lainnya.


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Terima kasih atas sambutan baik dari Ibu Diah sekeluarga," ucap Papa seraya bersalaman dengan Mamang dan juga Pak RT. Mereka pamit setelah menikmati makan malam yang agak terlambat dari biasanya karena acara lamaran tadi. Gara sudah tertidur di gendongan yang lainnya,


"Terima kasih juga, karena keluarga Bapak sudah menunjukkan itikad baik kepada keponakan saya. Nak Arga, setelah ini jaga Ayu baik-baik, ya. Jangan sakiti hatinya." Mamang memberi peringatan kepada Arga. Arga tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Tentu Mang, saya akan menjaga Ayu dengan segenap hati saya," ucap Arga. Mamang tersenyum, menepuk pundak Arga cukup keras.


"Sebelum saya bisa membawa Ayu ke pelaminan, saya mau titip Ayu sama Ibu dan keluarga di sini. Jangan sampai Ayu ada yang melirik, tolong katakan sama dia, Ayu sudah ada yang punya dan sebentar lagi akan dihalalkan," ujar Arga. Beberapa orang tertawa mendengar ucapan pria itu, sedangkan aku menundukkan kepala semakin dalam. Rasanya malu sekali dia menggombal di depan banyak orang. Duh, kenapa juga harus bicara seperti itu sih? malu!


Arga dan keluarganya benar-benar pulang, menyisakan beberapa hantaran yang tadi mereka bawa ke sini. Entah apa aku tidak tahu isinya apa. Aku tidak meminta, juga tidak tahu jika akan ada acara seserahan seperti tadi. Dia tidak bicarakan hal itu padaku sama sekali.


Beberapa mobil yang tadi ada di halaman rumah kini sudah tidak ada, aku hanya mengantar Arga dan keluarganya sampai teras rumah.

__ADS_1


"Arga bawa hadiah apa, Yu?" tanya Bibi menyenggol lenganku pelan.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak tau, Bi. Ayu juga gak tau kalau Arga akan bawa hantaran kado segala," jawabku pada Bibi. Bibi hanya manggut-manggut saja.


Kembali ke dalam rumah, aku melihat Ibu yang sedang berbicara dengan Pak RT di ruang tamu. Makanan masih tersuguh di depan kami, Bibi sedang membereskan yang lainnya bersama dengan Yu Tarni, gelas bekas minum keluarga Arga tadi juga beberapa piring kue basah yang hanya tinggal sedikit.


"Pak RT, terima kasih Pak RT sudah banyak membantu kami. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar juga berkat Pak RT."


"Sama-sama, Bu Diah. Saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk membantu masyarakat sekitar, kan sudah sepatutnya saya sebagai aparat desa juga ikut membantu.


Pak RT kemudian pamit, Ibu membekali Pak RT satu kantong plastik sedang makanan ringan yang tersisa masih banyak, beberapa macam lauk pauk yang sudah dimasak tadi siang untuk keluarga Pak RT di rumah, tidak lupa juga di dalam sana di selipkan amplop. Entah berapa, Ibu tadi berkata biar Ibu yang mengisinya.


Aku memperhatikan Bibi yang sedang menyapu lantai. Sesekali pandangannya terfokus pada benda terbungkus kertas kado di sudut ruangan. Sangat jelas sekali sedari tadi aku perhatikan Bibi sepertinya penasaran.


"Aku gak tau kalau Arga akan bawa beginian." Ku ambil satu kotak kado berukuran yang lumayan menurutku.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ternyata Arga perhatian juga, ya." Ibu datang mendekat dan duduk di sampingku. Tak lama, Mamang mendekat dan berkata jika kursi sofa akan segera dibawa masuk. Kami sedikit menyingkir sambil mengangkat satu persatu kado dan memindahkannya ke atas meja yang lain.


Selesai dengan kursi yang kini sudah masuk, aku memanggil semua orang untuk berkumpul dan melihat isi dari kado tersebut. Wajah Bibi semringah dan berjalan dengan cepat mendekat ke arah kami.


Satu persatu aku membuka kado yang ada di sana, yang lain memperhatikan dengan diam. Tas, sepatu, baju, kerudung. Ada beberapa, lebih dari satu.


"Ini buat Bibi." Ku sodorkan satu tas tangan berwarna hitam padanya. Bibi hanya terpaku melihat tas tersebut.


"Eh, itu ... itu kan pemberian dari Arga," ucap Bibi terbata. Aku tersenyum dan menyuruh Bibi menerimanya.


"Iya, bawaan Arga, tapi tadi aku sudah telepon dia, dan ini barang boleh buat Bibi. Arga gak khususin barang itu buat aku juga kok, Bi. Malah dia bilang bagikan saja dengan yang lainnya," terangku.


Wajah Bibi terlihat bahagia dan sedih secara bersamaan, terharu.


"Aduh, terima kasih, ya. Terima kasih, Yu. Pak tingali, ieu tas meuni alus pisan(Pak ini lihat, sangat bagus sekali). Ih ieumah atuh hade jang ka ondangan oge! (Ih, ini bagus sekali, pantas untuk ke udangan juga!)" ucap Bibi seraya melihat terus tas tersebut dengan mata yang besar. Tanpa sadar aku tersenyum melihat raut wajah Bibi yang seperti itu.

__ADS_1


"Itu kan punya Ayu, jangan diambil atuh, Mah!" tegur Mamang pada Bibi. Bibi mengerucut sebal.


"Tidak apa-apa, Mang. Kata Arga memang itu gak khusus buat aku kok, buat siapa aja yang mau." Bibi tersenyum senang seraya mengucapkan kata terima kasih padaku, sedangkan Mamang tersenyum kecil, sedikit merah wajahnya.


__ADS_2