
"Itu siapa?" tanya Gara dengan menunjuk ke arah Ibu. Tatapannya dia alihkan kepadaku, tapi tangan kecil itu masih tidak dia turunkan.
"Gara, tangan kamu gak sopan, Nak! Maaf, Bu, Ayu." ucap Arga, dia memperingatkan Gara, berbicara dengan nada yang terdengar tidak enak hati. Dia mendekat ke arah Gara dan menurunkan tangan kecil itu dari udara.
"Itu Ibu Tante," jawabku. Ibu dan Gara saling bertatapan. Aku sedikit khawatir, meskipun aku yakin Ibu tidak ada masalah dengan seorang anak, tapi ini adalah Gara, anak dari Arga. Takut jika Ibu bicara sesuatu yang membuat suasana tidak enak.
Gara tidak lagi bertanya, tapi tidak aku sangka jika anak itu kemudian melompat ke atas brankar Ibu dengan cepat sehingga aku maupun Arga tidak sempat melarang dia.
"Ini sakit ya, Nek?" tunjuk Gara pada perban di kepala Ibu. Semua orang terdiam melihat apa yang Gara lakukan. Aku dan Arga saling berpandangan satu sama lain, sedangkan Ibu menatap Gara dengan tatapan yang aku tidak tahu bagaimana mengartikannya.
"Sakit, ya?" tanya Gara sekali lagi. Tangan anak itu mengusap kepala Ibu dengan pelan. Arga terkesiap melihat apa yang dilakukan anaknya.
"Besok kalau Gara sudah jadi dokterrll, Nenek perrliiksa sama Garrlla ya!" ucap anak itu dengan riang.
"Dak sakit kok kalau Garrlla suntik, Garrlla akan suntik dengan pelan. Sakit sedikiiitt aja, kayak di gigit semut, Nek. Garrlla juga akan kasih Nenek obat rasa stloberrlli, biar Nenek gak pahit makan obatnya," ucap anak itu lagi. Dia kembali mengusap kepala Ibu. Ibu masih terdiam, tatapannya tidak teralihkan dari anak itu.
"Ga-Gara! Turun, Nak. jangan seperti itu. Gak baik!" Arga mendekat dan mengangkat tubuh Gara dari atas brankar. Ibu menatap keda ayah dan anak itu dengan tajam.
"Maaf, Bu. Maafkan kelakuan putra saya. Saya kurang mendidiknya dengan baik," ucap Arga merasa tidak enak hati. Dia menurunkan Gara di lantai.
Gara mencebik kesal dengan perlakuan sang ayah. Dia mengerucutkan bibirnya dan berbicara dengan keras.
"Papa ih! Garrlla kan sedang bicarrla sama Nenek, biar Nenek gak takut kalau disuntik sama dokterrll!" ucap Gara dengan kesal. Tangannya bertolak di kedua pinggangnya yang kecil. Gara menatap kesal pada ayahnya.
__ADS_1
Arga menunduk, memposisikan satu lututnya di lantai. Dia menatap anaknya itu dengan lembut, mengusap rambut anaknya dengan sayang."Tapi ibunya Tante Ayu sedang sakit, butuh istirahat. Gara gak boleh naik ke atas tempat tidur, ya. Jadi anak yang baik!" tutur Arga.
Rasanya menyenangkan sekali melihat ayah dan anak ini. Bagaimana Arga mencoba untuk menjadi ayah yang baik untuk Gara yang bisa membuat anaknya itu menurut padanya, tanpa ditemani seorang istri yang bisa membantunya menjaga dan mengajari Gara.
"Jadi, Garrlla salah?" tanya Gara pada ayahnya, kedua tangannya telah dia turunkan dari pinggang. Arga mengangguk.
"Iya. Lain kali tidak boleh, Sayang."
"Tapi Papa gak larrllang Garrlla kalau garrlla sama Oma!" ucap anak itu lagi. Arga terlihat kebingungan untuk menjawab.
"Itu ... karena ... em ... pokonya Gara ga boleh lakukan itu lagi, ya. Ibu Tante Ayu kan sedang sakit, nanti kalau kena yang sakit kan kasihan Ibunya Tante Ayu. Kalau Oma kan gak ada yang berdarah, jadi Gara gak apa-apa kalau naik ke kasur Oma," jawab Arga sekenanya. Sedikit masuk akal untuk mengajari anak agar mudah dimengerti olehnya.
"Ohhh ...." Kepala anak itu mengangguk. Dia kemudian menoleh pada Ibu dan mendekat.
"Nenek, Garrlla minta maaf. Garrlla tadi salah. Garrlla dah buat Nenek sakit, ya?" tanya Gara menatap Ibu dengan lekat. Ibu terlihat jadi salah tingkah sedangkan Gara masih menata Ibu seperti menunggu jawaban. Arga dari tempatnya kini berdiri.
Ada rasa hangat yang aku rasakan di dalam hati melihat interaksi Gara dengan ibu. Mungkin, jika aku punya anak, Ibu akan lebih bahagia daripada ini, senyum Ibu merekah sambil terus bicara dengan Gara. Sayang sekali, aku harap senyuman Ibu tulus untuk Gara, bukan palsu dan hanya sekedar untuk menjaga perasaannya.
"Gara, apakah sudah? Ayo kita kembali ke ruangan Oma. Oma pasti sudah menunggu kita," ucap Arga mengajak Gara.
Gara menoleh, dia menganggukkan kepalanya. Poni yang sudah mulai panjang terlihat naik turun.
"Nek, Garlla pamit ya. Besok Garrlla bawakan sayurrll buat Nenek, biar nenek cepat sembuh! Dadah, Nenek!" Gara mengangkat tagannya dan melambai pada Ibu.
__ADS_1
Ibu mengangguk seraya tersenyum tipis dan membalas lambaian tangan Gara. Arga juga pamit kepada Ibu dan sekaligus meminta maaf atas perlakuan Gara tadi kemudian dia pergi dengan menggandeng tangan Gara.
Kini hanya aku berdua dengan Ibu sepeninggal kepergian kedua laki-laki ayah dan anak itu. Kami hanya diam. Aku sedikit takut sebenarnya dengan apa yang mungkin akan Ibu katakan setelah ini.
"Ayu harap Ibu gak akan marah dengan anak Arga, dia memang anak yang sangat aktif," ucapku seraya menunduk dari pandangan mata Ibu. Helaan napas yang sedikit keras terdengar.
"Sudah lah. Namanya juga anak-anak, harus di jaga saja supaya dia tidak nakal," jawab Ibu. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku kira Ibu akan marah padaku karena kehadiran Arga seperti tadi, apalagi barusan dengan adanya Gara.
"Tapi kehadiran Arga tidak ada hubungannya dengan Ayu, Bu. Jangan Ibu salah sangka kepada kami. Ayu sudah mencoba untuk menjauhi dia seperti apa yang Ibu minta. Kami tidak punya hubungan apa-apa," ucapku lagi. Sungguh takut jika Ibu bicara aku anak yang tidak penurut seperti tempo hari.
"Tadi, Arga telepon dan bilang kalau mendapati Ibu masuk ke rumah sakit ini, kebetulan Ibu Arga juga sedang dirawat di sini, Bu. Dia juga yang suruh sopirnya buat jemput Ayu karena dia menunggu Ibu di luar ruangan ini. Dia ingin memastikan kalau Ibu baik sampai Ayu datang," tuturku. Aku masih menunduk, tidak berani membalas tatapan Ibu.
"Ayu harap, Ibu percaya dengan kata-kata Ayu." Aku bicara sekali lagi, tapi Ibu hanya diam, tidak menanggapi.
Lagi-lagi helaan napas Ibu terdengar kasar. "Kalau itu yang kamu katakan, Ibu percaya." Suara Ibu terdengar pelan, tapi masih bisa aku dengar dengan jelas.
"Kamu sudah makan, Yu?" tanya Ibu selanjutnya. Aku menggelengkan kepala, memang tadi sewaktu berangkat kesini masih jam sebelum makan siang.
"Ibu lapar? Ayu carikan bubur?" tanyaku pada Ibu.
"Enggak, Kamu cari makan buat kamu saja. Tadi kan dokter bilang, makanan ibu akan diantar sama perawat sebentar lagi."
"Sudah, kamu ke kantin dulu. Ibu tidak apa-apa ditinggal sendiri. Sudah gak apa-apa kok!"
__ADS_1
Suara ketukan di pintu terdengar nyaring. Aku tidak tahu siapa lagi yang datang kemari, saat aku membuka pintu terlhat Nira dengan senyumnya.
"Mbak Ayu, ini dari pak Arga buat makan siang Mbak Ayu sama Ibu," ucap wanita itu