
"Jangan!"
"Kalau begitu, kamu saja yang aku pecat!"
Apa?!
Arga bicara dengan nada yang sangat ketus. Aku menatapnya tidak mengerti, sedikit marah juga. Tega sekali kalau aku dipecat olehnya. Dia memang bosnya, tapi tidak bisa begitu juga memecat aku dengan tiba-tiba tanpa kesalahan. Aku tidak salah dalam hal ini. Kalau aku dipecat aku akan dapat penghasilan dari mana? Tega!
"Kenapa harus aku yang kamu pecat?" tanyaku tak kalah ketus. Kesal, sebal, marah, pasalnya aku tidak merasa bersalah.
Awas saja kalau kamu beneran pecat aku, Ga!
"Iya, lah. Cepat atau lambat kamu akan aku pecat dan aku akan memindahkan kamu ke sini." Tunjuk Arga pada dadanya. "Ke hatiku," ujarnya dengan tersenyum lebar.
Aku yang semula ingin marah kini tidak bisa lagi, seakan amarahku meluap entah ke mana bagai asap rokok yang menghilang diterpa angin.
Aku memalingkan wajah ke arah lain. Tidak ingin semakin malu karena sedari tadi dia mencuri-curi melirikku di tengah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Kenapa diam?" tanya Arga.
Aku tidak menjawab, semakin memutar tubuhku memunggunginya. Terdengar suara tawa dari belakangku.
"Kamu ini lucu sekali. Kalau aku sedang tidak mengemudi, aku bakalan cubit pipi merah kamu," ucapnya masih dengan tawa kecil terdengar ringan.
Aaaahhh ... Aku mau turun saja!
Aku duduk dengan gelisah, bergerak dengan tidak nyaman. Satu tangan memegangi dada yang terus berdebar tidak karuan. Sakit dada ini, sesak. Apakah aku semakin menua? Semua mudah sekali terasa akhir-akhir ini. Dokter tolong!
__ADS_1
"Hei, berbalik ke sini, dong. Aku kan jadi gak bisa lihat wajah kamu," ucap Arga. Dia mencolek lenganku. Aku masih bergeming, tiba-tiba saja ingin jalanan menjadi pendek dan segera sampai di rumah.
Mobil terus berjalan menembus keramaian kota, tapi masih kondusif dan tidak menyebabkan macet seperti kota besar lainnya.
"Yu, aku minta maaf, ya. Aku belum bisa mengajak Papa ke rumah. Kondisi papa sedang tidak baik, tiba-tiba saja drop dan masuk rumah sakit. Jika aku bawa kerabat yang lain untuk meminta kamu kepada Ibu, bukannya tidak etis juga?" ucap Arga, kini nada yang riang tadi berubah menjadi sendu.
Aku menangkap kesedihan dari nada suara tersebut. Gegas berbalik untuk melihat keadaannya. Arga tersenyum kecil, tetapi kali ini tanpa suara seperti tadi. Raut sedih dan kecewa terlihat di sana. Bagaimana tidak, saat tahu Ibu memberikan restunya Arga sangat senang dan mengatakan untuk secepatnya membawa Ayahnya ke rumah. Mana tahu kalau sang Ayah mengalami sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Darah tinggi yang diderita dan urusan pekerjaan membuat kakek dari Gara menjadi kumat dan down.
"Tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang ini adalah kesehatan Tuan," ucapku.
Arga menoleh, terlihat raut wajahnya yang tidak suka. "Bukan Tuan, tapi sebentar lagi juga akan menjadi Papa kamu juga, Yu. Jangan sebut seperti itu lagi. Aku tidak suka. Panggil dia Papa juga!" ucapnya tegas.
Aku tersenyum meringis, memang tidak tahu harus menyebut Ayah Arga dengan sebutan apa. Kami belum resmi menikah, takut jika Ayah Arga tidak suka aku memanggilnya seperti itu.
"Iya, baik!" ucapku pasrah.
"Aku sudah menjelaskannya sama Ibu. Ibu mengerti, kok. Fokuskan saja dengan kesehatan Tu-Papa," ralatku sebelum aku mendapat teguran lagi. Sedih memang, karena semua yang direncanakan hanyalah sebuah rencana. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Arga menoleh ke arahku dan tersenyum. "Terima kasih, ya. Aku jadi merasa bersalah, kemarin aku bilang ingin cepat-cepat membawa Papa ke rumah kamu, tapi nyatanya malah Papa dirawat di rumah sakit," ucap Arga dengan sedih.
"Maaf, ya."
"Tidak apa-apa. Aku gak masalah, kok." Aku tersenyum mencoba untuk memperlihatkan kepadanya jika aku tidak masalah dengan hal itu. Cepat atau lambat kami akan tetap bersama.
"Lusa kan libur, kamu mau gak ketemu Papa di rumah sakit?" tanya Arga. Aku kaget, refleks menoleh ke arahnya. Tidak menyangka jika dia akan mengajakku ke rumah sakit untuk menjenguk Papa. Duh, aku rasanya ... harus siap, ini.
"Kalau tidak keberatan tentu saja," tambahnya.
__ADS_1
"Iya, tentu aku tidak keberatan. Hanya saja ... Aku deg-degan," ucapku padanya.
Arga tertawa kecil. "Cieee yang mau ketemu camer," ucapnya dengan nada menggoda. Aku jadi malu. Duh, Arga ini! Tidak menyangka kalau dia bisa jahil juga.
"Ga. Aku mau bicara sama kamu. Mungkin ini suatu permintaan juga."
"Apa?" Arga membelokkan mobil ke arah kanan, dari sini sudah dipastikan jalan menuju ke rumahku sudah tidak jauh lagi.
"Aku tahu rasanya ini bukan permintaan yang mudah buat kamu. Maaf, kalau aku mengajukan permintaan yang satu ini." Aku berdebar meski belum mengatakan apa-apa.
"Permintaan apa" tanyanya dengan lembut.
"Ibu. Kalau sudah menikah nanti, aku agak khawatir kalau meninggalkan Ibu sendirian. Em ... anu ...." Aku meliriknya dengan takut, keringat dingin mengucur di keningku saat ini. Dadaku juga masih berdebar semakin kencang. Tangan di atas pangkuan menggenggam erat baju yang aku pakai. Bagaimana kalau Arga tidak setuju?
"Kamu mau bawa Ibu tinggal bersama dengan kita?" tanya Arga, tidak ada nada kaget dan marah di sana.
Aku menunduk semakin dalam. Aku belum menjadi istrinya, tapi aku sudah mengajukan permintaan yang seperti itu. Aku hanya khawatir akan keadaan Ibu.
"Tentu saja, kenapa tidak? Kita akan urus Ibu bersama-sama," ucapnya. Dia mengambil tanganku dan mengelusnya pelan.
Aku menatap Arga tidak percaya, jika sedari kemarin aku berpikir Arga akan keberatan karena permintaanku, tapi kini dia setuju. Aku pikir, beberapa pria ada yang tidak mau mertuanya turut serta campur dalam kehidupan rumah tangganya.
"Kamu gak keberatan?" tanyaku lagi. Dia tersenyum, menggelengkan kepala.
"Sama seperti kamu. Aku juga ada Mama yang sekarang ini tinggal bersama dengan kami. Bertambah satu orang tua tunggal tentu bukanlah hal yang sulit. Malah bagus, Mama akan ada temannya," ucap Arga lagi.
Jujur saja, aku terharu mendengar ucapannya barusan. "Terima kasih." Suaraku tercekat di tenggorokan. Debaran jantung yang sedari tadi bertalu-talu kini sudah mereda, berganti dengan rasa bahagia.
__ADS_1