
Arga datang dan mendekat ke arahku. Dia terlihat sangat khawatir. dengan cepat berjongkok di lantai dan menyibak rok panjang.
"Kaki kamu bengkak lagi. Apa mau sekalian diperiksakan?" tanya Arga dengan khawatir. Aku menggelengkan kepala. Kegiatan hari ini sudah cukup lelah untukku, lagi pula dokter juga tidak mengatakan hal ini sebagai hal yang berbahaya.
"Tidak perlu, aku masih ada obat di rumah. Pulang saja yuk, aku capek," ucapku kepadanya. Arga berdiri dan mengganggukan kepala, dia menggandeng tanganku dan kami berjalan dengan pelan menuju keluar dari rumah sakit. Gara sudah menunggu di depan mobil, dia terlihat sudah bosan di wajahnya.
"Mama, papa, Abang lapar!" ucapnya sedikit merengek.
Ya ampun, aku sampai lupa. Ini sudah lebih dari jam tujuh malam, tentu saja jam makan malam sudah terlewat.
"Maafin Mama, Abang. Gara-gara Abang ikut ke sini jadi belum makan ya?" Aku mengelus kepalanya. Dia mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Ya sudah, setelah ini kita akan makan di mana? Mau pulang atau makan di luar?" tanya Arga.
Gara mengangkat kepalanya masih dengan bibir yang cemberut. "Makan di luar!" ucapnya tanpa ada senyum.
"Oke, Mama akan nurut ke mana Abang mau makan. Yang penting sudah makan kita pulang ya, Mama capek," ucapku kepadanya. Kali ini Gara mengubah wajahnya menjadi tersenyum. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Arga khawatir.
"Enggak lah, lagian makan kan juga duduk, nggak jalan-jalan."
"Ya sudah, nanti aku bantu urut kaki kamu ya." Aku mengangguk memberikan senyum dan juga mengelus pipinya. Mengucapkan kata terima kasih meski dia belum melakukannya sama sekali. Perhatiannya terlalu baik, selalu membuatku menjadi wanita yang sangat beruntung.
Aku masuk ke dalam mobil, Arga juga sama, berjalan berputar menuju belakang kemudi. Kami pergi dari sana setelah itu.
Setelah makan malam kami pulang ke rumah. Mbak Sus dan Mbak Sari membantu menurunkan barang-barang yang ada di mobil, sedangkan Arga memapahku ke dalam kamar. Hal itu dilihat oleh Gara dan membuat anak itu bertanya, "Mama kenapa? Apa Mama sakit?"
"Nggak apa-apa kok, kaki Mama cuma capek aja, nanti kalau sudah diurut sedikit juga baikan," jawabku.
"Abang jangan lupa bersih-bersih dulu ya sebelum belajar dan tidur. Malam ini belajar sama Mbak Sari ya? Nggak apa-apa kan?" tanyaku kepadanya. Dia mengangguk sambil menjawab tidak apa.
Aku dan Arga melanjutkan perjalanan ke kamar. Beruntung kamar kami ada di lantai bawah sehingga aku tidak perlu naik turun tangga. Duduk di tepi kasur, aku menyibak rok, terlihat kakiku yang kini semakin bengkak. Arga mengambil kayu putih di dalam laci dia menaikkan kakiku ke atas kasur lalu mulai mengurutnya dengan hati-hati. Aku bersandar pada kepala ranjang dengan bantal yang disimpan di bawah punggung, menikmati pijatan lembut dari tangan suamiku di sana.
"Sudah enakan belum?" tanya Arga, tidak menghentikan pijatan di kakiku.
"Dipijat sama suami sendiri enaklah, siapa juga yang nggak akan enak?"
Tiba-tiba saja dia menatapku dan mengerling nakal. "Kalau pijatan yang lain?" Dia bertanya dengan ada yang menyebalkan menurutku. Tidak tahukah dia kalau bahasan seperti ini saja membuat aku ingin? Ah dasar dia menyebalkan!
Arga tertawa kecil, dia tidak menghentikan laju tangannya pada kakiku. Sangat nyaman sekali, kaki yang sedari tadi pegal kini sudah sedikit lebih nyaman.
__ADS_1
"Sudah, Pa. Kakinya sudah enakan." Aku meminta dia untuk berhenti.
"Beneran sudah?"
"Iya sudah enakan kok. Kamu juga pasti capek dari tadi belum istirahat."
"Tidak masalah, aku capek tapi tidak membawa beban di perut. Hanya membawa lemak." Dia berkelakar sambil tertawa. Aku pun sama tertawa karenanya. Perut kami sama-sama buncit bedanya perutku berisi bayi dan perutnya berisi lemak.
"Ma, aku mau bicara kira-kira kamu setuju apa tidak?"
"Bicara apa?"
"Aku ingin memperkerjakan Hilman di pabrik kira-kira bagaimana pendapat kamu?" tanya Arga kepadaku.
"Eh, kamu beneran mau lakukan itu?" tanyaku tidak percaya sampai aku menegakkan diriku.
"Aku masih memikirkannya, belum bicara juga sama dia."
"Apa karena ini ada hubungannya dengan uang yang akan kamu bayarkan besok?" tanyaku.
"Tidak ada juga sih, untuk soal uang yang itu aku ikhlas mengeluarkannya. Aku cuma kasihan kalau dia terus bekerja seperti itu. Berapa penghasilan dia dari parkiran motor di mall?"
"Ya kalau aku sih terserah kamu saja, kamu kan bosnya kenapa kamu tanya sama aku?"
"Ya aku cuman tanya aja kira-kira dia bakalan mau atau tidak kalau aku tawari? Kamu kan ... pernah sama dia," ucapnya dengan pelan pada akhir kalimat.
"Kalau untuk soal itu aku kurang paham dia mau atau tidak, tapi tidak ada salahnya untuk menawarkan pekerjaan sama dia. Masalah dia mau atau tidak ya yang terpenting kamu sudah menawarkan dan ingin berbuat baik padanya," ucapku.
Aku juga kurang paham apakah Mas Hilman mau menerima pekerjaan ini? Mengingat Arga adalah suamiku sekarang, tapi jika pun benar Arga ingin merekrut Mas Hilman ke dalam perusahaannya aku berharap mereka berdua akan akur.
"Okelah kalau begitu besok aku akan bertemu dengan dia lagi, aku akan coba tawarkan sama dia."
"Memangnya ada posisi yang kosong?"
"Ada tapi bukan di kantor masalahnya. Bagian pengawas gudang, kemarin baru saja resign jadi tidak ada yang mengawasi. Kira-kira dia mau tidak ya menerima bagian itu?" tanya Arga kini melihat ke arah lain seperti menerawang.
"Coba saja dulu, kalaupun dia memang membutuhkan pekerjaan itu kan kita juga dapat pahala bisa membantu orang lain."
Arga tersenyum dan mengusap kepalaku.
"Memangnya pengawas gudang bayarannya berapa sih? Aku belum tahu, hehe."
__ADS_1
"Pokoknya ada kalau menurut aku lumayan namanya juga pengawas. Tapi ya, tanggung jawab pengawas juga besar makanya pembayaran yang akan aku berikan sama dia nanti itu sepadan dengan tanggung jawab yang akan dia pikul," ucapnya menerangkan.
"Kalau itu sih aku juga tahu. Aku kan cuma pengen tahu aja nominalnya berapa," jawabku sebal. Padahal apa salahnya juga jika dia menyebutkan nominal bayaran pengawas gudang tersebut, biar aku tidak penasaran.
"Kenapa kamu nggak tanyakan gajiku saja?" Dia tersenyum sambil mencubit hidungku.
"Berapa?"
"Kecil, sedikit sekali. Lebih banyak cintaku kepadamu," ucapnya sambil tertawa terkekeh. Aku semakin sebal sudah mendengarnya dengan serius dia malah menggombal seperti itu.
"Ih, dasar papa nyebelin! Aku udah dengar benar-benar loh. Kok jawabnya malah kayak gitu!"
"Haha, makanya jangan terlalu serius. Terlalu serius itu nggak rame!" ujarnya. Dia bisa sekali bilang seperti itu padahal tadi saja saat di rumah sakit justru dia orang yang sangat serius di sana, membuat kaku suasana.
Arga mendekat kepadaku dan tidur di atas pangkuan, wajahnya berhadapan dengan perutku yang buncit. Beberapa kali dia menciumi perut ini sehingga pergerakan di dalam sana terasa lumayan menyakitkan. Seakan sengaja ingin membuat banyak pergerakan, Arga terus aja mengelus dan menciuminya.
"Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya?" Dia menatapku, tapi tangannya masih mengelus lembut perut ini.
"Tidak tahu, kan nggak minta dokter buat kasih tahu. kemarin siapa yang pengen kayak gitu?" tanyaku. Bibir Arga kini mengerucut, kembali kepada posisinya semula mengelus dan menciumi perut ini lagi, membuat gerakan di dalam sana menjadi lebih sering dan terasa membuat linu.
"Aku kan tadinya ingin surprise, tapi kenapa jadi penasaran juga ya?"
"Sabar, bulan depan juga sudah keluar kok." Aku mengusap rambutnya selalu lembut tidak pernah terlihat kusam.
"Lama, aku gak sabar rasanya pengen cepetan gendong dia," ucapnya.
"Sama aku juga nggak sabar."
"Ma, kira-kira masih boleh nggak sih?"
"Boleh apa?"
"Itu ...."
"Main adu?" tanya ku menebak, dia menganggukkan kepalanya.
"Kalau kata dokter sih boleh, tapi kan gak boleh keras-keras pelan aja." Aku semakin curiga dengan pertanyaannya.
"Yuk. Ngadu, yuk." Ajaknya sambil kini duduk di dekatku. Aku tertawa, lucu rasanya jika dia mengatakan hal itu, tidak ada hal romantis yang terjadi di antara kami. Kenapa juga harus menyebutnya adu?
Memang menganuh sekali suamiku ini!
__ADS_1