
Benar saja setelah aku menceritakan apa yang tadi terjadi ternyata Dini emosi. Dia bertanya kepadaku siapa orang yang telah mengatakan seperti itu. Terlihat sekali wanita itu dari raut wajahnya dan tingkah lakunya yang meremmas dengan kuat bagian bawah pakaiannya hingga menjadi kusut.
"Enak aja dia bisa ngomong kayak gitu. Yang mana sih orangnya? Biar aku datangin dia dan aku lakban tuh mulutnya!" Ucap dini yang masih emosi.
Meski aku ingat dengan wajah wanita-wanita itu, tapi aku juga tidak akan memberitahu Dini. Bisa gawat kalau sampai benar dia melabrak mereka.
"Sudah lah jangan dipermasalahkan lagi, kalau memang mereka punya pemikiran seperti itu ya bagaimana lagi. Yang penting kan kita yang menjalani tidak sama sekali," ucapku padanya.
"Ya tapi kan dampaknya kena sama Gara juga, Yu!" Seru wanita itu masih terlihat emosi.
Memang benar sekali tadi saja berdampak kepada Gara, tapi apakah jika masalah ini berlanjut semua akan selesai?
"Nanti juga mereka akan diam sendiri. Sudah jangan emosi seperti itu."
"Kamu harus laporkan sama suami kamu."
Aku menggelengkan kepala. "Kalau tidak mencelakai siapapun tidak perlu."
"Iya memang tidak mencelakai, tapi untuk kesehatan mental Gara," ucap wanita itu menggebu-gebu.
"Sebentar lagi jam pulang mereka. Ayo kita mendekat ke kelas dan menyambut kepulangan anak-anak kita," ucapku lalu menarik tangannya.
Waktu memang masih ada lima belas menit lagi, tapi aku tidak mau terus-terusan melihat Dini yang emosi seperti ini. Rasanya ngeri juga melihat wajahnya tadi.
Tibalah saat bel berbunyi dengan nyaring jam pulang anak-anak. Gara keluar dari dalam kelas itu bersama dengan Selvi. Sedari tadi aku memperhatikan dia tidak pernah berbicara dengan anak yang lainnya. Hanya dengan Selvi-lah Gara bisa tersenyum dan tertawa.
"Pulang saja sama aku, yuk. Aku antar sampai rumah," ajak wanita itu saat kami berjalan keluar dari area sekolah.
"Terima kasih, tapi kami akan dijemput oleh papa."
"Cie yang udah punya bebeb, segala Ayang," ucap wanita itu sambil tersenyum geli.
Aku sudah tidak perlu malu lagi, justru kini bangkai dengan laki-laki yang menyemat status sebagai suamiku. Di saat waktu sibuknya dia masih tetap bisa mengantar jemput kami. Tidak peduli dengan adanya sopir yang ada di rumah yang kini sedari kemarin dan entah sampai kapan berganti profesi menjadi tukang kebun.
"Ya sudah kami duluan ya." Dini melambaikan tangannya kepada kami begitu juga dengan putrinya yang sangat manis. Kami membalas lambaian tangan mereka.
__ADS_1
Sedikit takut dengan pembicaraan orang-orang yang seperti tadi, aku mengajak Gara untuk menunggu di sebuah warung yang tidak jauh dari sekolah. Ini aku lakukan untuk menghindari Gara mendengar hal-hal yang tidak diinginkan seperti tadi.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Gara kepadaku dengan bingung.
"Em ... Mama ingin membeli sesuatu."
"Kan ada itu di sana saja!" Tunjuk Gara pada minimarket yang ada di seberang jalan.
"Di sini sajalah Mama sedang tidak ingin menyeberang. Atau Gara mau beli sesuatu?" Tanyaku pada anak itu. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Aku membawanya masuk ke dalam sebuah warung kecil, sebenarnya tidak ada hal yang penting yang ingin aku beli. Niat ku hanya menjauhkannya dari lirikan-lirikan orang-orang yang hanya ingin membuatnya sedih. Tidak berapa lama Arga menelpon kami. Aku segera mempercepat transaksiku dengan pemilik warung ini, kemudian membawa Gara keluar.
Arga terlihat mengerutkan keningnya saat aku masuk ke dalam mobil.
"Dari warung beli apa?" Tanyanya sambil menilik plastik kresek yang aku bawa.
"Cuma makanan ringan, mau?" Tawarku padanya. Aku mengeluarkan beberapa makanan ringan yang aku beli dari dalam warung kecil tadi.
"Aku sedang menyetir, tolong suapi." Ucap laki-laki itu dengan manja. Meski memang benar dia sedang menyetir, tapi ....
Ya sudah lah!
Aku melihatnya dengan kasihan. Apakah hal yang seperti tadi sangat mengganggunya? Apakah aku harus membicarakan ini dengan Arga?
"Tumben sekali anak itu sangat baik," ucap Arga yang baru saja mendekat ke arahku.
Aku masih bingung, apakah aku harus memberitahunya atau tidak?
Arga hendak melangkahkan kakinya, tapi aku memanggil dia sehingga dia berhenti dan menoleh.
"Iya, ada apa?"
"Aku ingin berbicara sesuatu. Boleh?"
"Bicara apa?" tanya Arga padaku.
__ADS_1
"Ini ...." Aku bingung apa yang harus aku katakan? Apakah ini akan jadi masalah atau tidak?
"Ada apa, Yu?" tanyanya kembali.
"Tidak jadi," ucapku takut. Aku melangkahkan kaki meninggalkan Arga seorang diri di sana.
Gegas aku menyusul Gara ke kamarnya. Tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak itu. Apalagi dengan sikapnya yang seperti tadi, terlihat tidak bersemangat sama sekali membuat aku merasa bersalah juga. Ini tandanya aku masih belum bisa menjadi Ibu yang baik untuk dia.
"Gara," panggilku saat membuka pintu kamarnya. Anak itu sedang berbaring tengkurap memeluk bantal guling dengan sangat erat. Dia masih belum membuka seragamnya sama sekali. Bahkan, sepatu juga masih terpasang pada kedua kakinya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa masih sedih?" tanyaku pada anak itu. Aku mendekat dan duduk di sampingnya, mengelus rambutnya yang halus. Gara hanya diam tidak berbicara sama sekali. Dia menyembunyikan wajahnya pada bantal guling kesayangan.
"Hei, kamu kenapa sih? Kalau kamu sedih Mama juga sedih," ucapku dengan pelan. Ku buka sepatu yang ada pada kakinya beserta kaos kaki yang dia pakai, lalu menyimpannya di bawah ranjang. Anak itu masih terdiam, sepertinya hal ini sedikit serius sehingga dia tidak mau berbicara sama sekali.
"Aku mau tidur, Ma," ucap anak ini.
Dia memang tidak ingin bercerita dan aku tidak bisa memaksanya sama sekali.
Aku keluar dari kamar itu dengan hati yang sedih melihatnya.
"Ada apa?" Suara besar itu mengagetkan aku yang baru saja menutup pintu kamar Gara. Sampai-sampai hampir terlonjak karena aku kira tidak ada dia di sini.
"Ada apa dengan Gara?" tanya harga sekali lagi. Dia menatapku dengan tajam membuat aku menundukkan kepala.
"Itu ... anu ...." Aku masih bingung, tapi juga jika tidak bercerita tentulah dia akan marah. Ini berhubungan dengan putra tersayangnya.
"Kita bicara di bawah saja," ucapku pada akhirnya. Arga mengagukan kepala dan mengikutiku turun ke lantai bawah.
Kami kini berada di dalam kamar.
"Ada apa?" Dia menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya di atas kasur.
"Tadi ...." Aku menceritakan apa yang terjadi di sekolah. Arga mendengarkan dengan seksama, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi. Sampai ketika aku selesai bercerita dia mendengkus sebal.
Aku menunduk tidak berani menatap bola matanya yang dingin. Aku seperti tidak mengenali laki-laki ini.
__ADS_1
"Mulai besok kamu tidak perlu mengantar Gara ke sekolah," ucap laki-laki itu dengan tegas selalu kemudian berdiri dan pergi ke arah kamar mandi.
Aku menatapnya dengan bingung. Bukankah dengan tidak mengantar Gara ke sekolah itu akan membuat Gara semakin bersedih?