
Pov Hilman.
Pekerjaanku kini semakin berat saat pabrik melakukan ekspor ke luar negeri. Banyak dari kami yang harus ikut lembur untuk lancarnya kegiatan semua ini. Dengar dari beberapa orang yang lain, Arga sudah beberapa hari tidak datang ke kantor. Aku jadi khawatir, biasanya dia hanya datang dua hari atau tiga hari tidak hadir, tapi ini sudah lima hari dia tidak datang. Ah, memang bos, bebas untuk datang dan pergi seenaknya.
Rasanya aku ingin bertanya, tapi pada siapa? Aku jelas tidak punya nomor hp Ayu, nomornya yang aku tahu sudah tidak aktif lagi. Mungkin saja dulu karena aku sering meneror dia, maka dari itu dia mengganti nomornya.
Aku tengah berjalan ke ruangan kantor untuk melaporkan catatan barang masuk saat berpapasan dengan sekretarisnya. Iseng saja aku bertanya pada wanita itu.
"Oh, Pak Arga lagi liburan sama keluarganya di desa," ucapnya menjawab pertanyaanku dengan nada yang berbisik, juga tatapannya yang beredar ke sekeliling, tidak ada orang lain di dekat kami. Aku menghela napas, terlihat tatap curiga dari wanita dengan satu anak itu.
"Kenapa Pak Hilman?" tanya dia dengan sedikit kerutan di wajah.
__ADS_1
"Eh, gak apa-apa. Saya kira Pak Arga sakit, gak kelihatan dari kemarin."
Wanita itu menempelkan telunjuknya di depan bibir. "Sssttt, saya cuma bilang ini sama Pak Hilman aja loh, yang lain jangan sampai tau. Nanti gimana lagi pikiran orang lain, lagi ekspor gini bos malah liburan. Saya bilang gini karena Pak Hilman temannya Pak Arga. Katanya sekalian bawa Bu Ayu ketemu keluarganya, buat syukuran empat bulanan di kampung," ucapnya lagi yang membuat aku terkejut.
"Ayu ... maksud saya istri Pak Arga hamil lagi?" tanyaku dengan kaget, secepat itu setelah kemarin dia baru saja mengundangku ke acara aqiqah anak mereka?
"Iya, Pak Arga bilang gitu sih."
"Oh, saya gak tau kalau lagi liburan. Syukur kalau begitu, saya ikut senang dengan berita ini. Saya kira Pak Arga sakit gak masuk," ucap ku sambil tersenyum.
"Eh, saya kira Pak Hilman sudah tau," ucapnya. Aku menggelengkan kepala dan pamit pada wanita itu, hendak melanjutkan mencari seseorang untuk memberikan laporan. Wanita itu mengangguk dan kami berpisah di sana.
__ADS_1
Alhamdulillah jika Ayu sekarang sudah bahagia. Tidak seperti diriku yang hanya bisa membuatnya terbelenggu dengan diriku. Sadar jika aku saat bersama dengannya tidak pernah membawa dia pergi ke luar, apalagi menjenguk saudaranya yang ada di luar kota. Selain karena pekerjaan ku, aku juga lebih sering membawa Ayu ke rumah ibu saat ada waktu senggang.
Ah, rasanya menyesal juga melepaskan dia. Andai waktu itu aku bisa mengerti akan dia, andai waktu itu aku bisa membuat dia bahagia, andai ....
Hanya mengandalkan 'andai' aku tidak akan bisa membuat Ayu kembali kepadaku. Ayu sudah menjadi ratu yang bahagia di tangan laki-laki yang tepat. Menjadi sosok yang bahagia dan sempurna di tangan laki-laki itu. Jelas aku kalah, tapi sudahlah. Sesal memang tidak bisa lagi membuat hidupku akan bahagia jika terus memikirkan itu.
Getar telepon terasa dari dalam saku celanaku. Ku ambil hp dari sana dan melihat pesan dari ibu, hanya permintaan untukku segera pulang ke rumah.
Aku berdecak kesal, tidak tahu karena apa, tapi hanya membaca permintaan ibu saja. Kesal rasanya jika sering kali menyuruh pulang dan ternyata hanya rengekan ibu yang meminta ini dan itu. Terakhir saja ibu meminta ku membayarkan hutang di toko.
Aku meneruskan pekerjaan tanpa menggubris panggilan di telepon lagi.
__ADS_1