Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
175. Ancaman Arga. "Tunggu Nanti Malam."


__ADS_3

Arga tersenyum menatapkku, ibu jarinya mengelus punggung tanganku dengan sangat lembut.


"Iya, mungkin saja Bapak datang dan ingin menyaksikan pernikahan kita, Yu," ucap Arga. Dia mengulurkan tangannya, mengusap air yang hampir jatuh dari sudut mataku. Aku menganggukkan kepala, bisa jadi seperti itu.


"Tapi bagaimana bisa?" tanyaku refleks, maksudku jiwa orang yang sudah meninggal apakah mungkin bisa hadir di saat-saat tertentu?


"Tentu saja bisa. Apa yang tidak bisa dengan kuasa-Nya?" ujar Arga membuat aku kembali menitikkan air mata. Ya, semua adalah kuasa-Nya. Apa yang Dia tidak bisa lakukan? Semua hal yang tidak mungkin bisa saja Dia lakukan hanya dengan kuasa yang Dia miliki. Allahu Akbar!


Ku cari sosok itu di belakang Ibu dan juga Mamang. Namun, sosok bayangan mirip dengan Bapak tidak lagi aku lihat di sana. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan aula yang luas ini, tapi tidak juga aku menemukan bayangan tersebut.


'Pak. Ayu kangen Bapak.' ucapku dalam hati. meski ini adalah pernikaha kedua ku, tapi rasanya ingin tetap dihadiri oleh Bapak dan menjadi saksi kebahagiaan kami berdua.


"Ayo, kita lanjutkan. Yang lain sudah menunggu kita ke sana," ucap Arga menarikku ke alam sadarku. Aku sedikit kecewa, sosok yang aku cari memang sudah tidak ada lagi di sana. Banyak orang yang memperhatikan kami dengan bingung, termasuk Ibu yang barusan akulirik. Tatapan Ibu terlihat bingung saat menatapku dan Arga yang berhenti melangkahkan kaki.


"Iya, ayo," ucapku. Aku dan Arga kembali melanjutkan perjalanan kami ke atas panggung.


Sekali lagi, aku edarkan pandanganku ke sekeliling, berharap jika aku bisa melihat sosok bayangan Bapak lebih lama lagi. Sosok yang sudah beberapa tahun ini meninggalkan kami berdua.


Semakin sore, tamu yang datang semakin membludak, kebanyakan tamu yang datang adalah rekan kerja Papa dan juga Arga, dengan balutan jas dan gaun mahal, mereka datang dan bersalaman dengan kami. Cukup ramah, tapi aku rasakan lirikan mata beberapa orang tidak mengenakkan di mataku. Terutama  lirikan mata para wanita muda yang menurutku ... entah lah, seperti yang tidak rela jika aku bersama dengan Arga.

__ADS_1


"Kamu gugup ya?" tanya Arga saat sekelompok tamu sudah turun dari panggung,


"Hem, ya." aku meringis, menunjukkan senyum kecil pada Arga.


"Jangan gugup begitu, di masa depan nanti kamu akan terbiasa bertemu dengan mereka, Yu. Mereka adalah rekan kerja maupun kenalan aku dan juga Papa, beberapa juga teman keluarga kami," ucap Arga. Aku mengangguk saja, membenarkan apa yang dia bilang. Di masa depan nanti, aku memang harus menyesuaikan diri dengan apa yang juga dihadapi keluarganya. Berbaur dengan masyarakat kelas atas yang terlihat selalu elegan dan juga modis.


"Iya, aku sedang coba untuk gak gugup, kok," ucapku padanya. Arga tersenyum, mengusap pipiku dengan lembut. Sorot matanya penuh kelembutan dan juga menghipnotis diriku sehingga membawaku ke dalam ingatan semalam.


"Hei, wajah kamu merah. Apa kamu sakit?" Dia bertanya dengan nada khawatir, aku membuang wajahku ke samping. Bukan sakit, tapi bisa-bisanya di waktu yang seperti ini aku malah membayangkan sesuatu hal yang mesum seperti itu.


"Enggak, kok. Gak sakit."


"Gak perlu, Ga. Aku gak sakit, kok. Cuma aku grogi saja lama-lama di sini," dusta ku. Jangan sampai dia tahu apa yang aku pikirkan.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan kepala kamu? Apa gak kersa sakit sekarang ini?"


"Enggak. Enakan setelah tadi dokter kasih salep," jawabku. Arga menghela napasnya lega setelah mendengar penuturanku.


"Alhamdulillah.Aku takut kalau kamu sakit, jangan paksakan untuk terus berdiri, ya." pintanya.

__ADS_1


"Iya, suamiku. Aku mengerti," ucapku. Arga tertegun, terdiam saat aku mengatakan hal itu.


"A-apa?" tanya Arga pelan. "Apa yang kau bilang tadi?" tanyanya lagi.


Malu. Aku malu. Rasa-rasanya ingin menutupi wajahku dengan sesuatu.


"Gak ada."


Aku berpaling dari menatapnya. Akan tetapi, dia mencengkeram lembut daguku dan mengalihkan wajahku kembali untuk menatap matanya.


"Coba bilang sekali lagi?" senyumannya terkembang sempurna.


"Bilang apa? Gak bisa diulang. Gak ada siaran ulang!" desisku, menjauhkan tangan Arga dari dagu. Aku duduk kembali di kursi pelaminan, menghindar dari tatapan Arga yang tiba-tiba berubah nakal. Arga duduk di sampingku, aku bergeser sedikit menjauh darinya yang semakin mendekat saja.


"Gak mau bilang ya sudah. Tunggu nanti malam, juga kamu pasti akan bilang sama aku," ucapnya ambigu.


"Heh? Bilang apa?" Dadaku berdebar membayangkan apa yangd ia katakan. 'Nanti malam'.


Apa dia mau ... mau 'itu' lagi?

__ADS_1


__ADS_2