Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
58. Kamu Bahagia, Bukan Aku!


__ADS_3

"Assalamualaikum." Suara seseorang terdengar dari luar langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Refleks kami semua menoleh ke arah asal suara. Dua orang lelaki dewasa terlihat di sana.


"Pak. Itu, Pak. Tolong usir dia dari sini." Tunjuk Sinta entah pada siapa, tapi yang jelas dia meminta mereka mengusir Mas Hilman dari sini.


"Tolong, Pak. Mbak Ayu gak mau tapi dia masih memaksa!" Teriak Sinta lagi dengan emosi. Kini rotan pemukul kayu yang ada di tangannya teracung ke arah Mas Hilman.


Pak RT dan bapaknya Sinta datang mendekat ke arah kami.


"Mas Hilman, apakah ada suatu hal yang perlu Mas Hilman sampaikan, sampai bertamu di jam malam seperti ini? Saya mendapatkan laporan dari Bapaknya Sinta kalau di rumah ini terjadi kegaduhan. Apa benar?" tanya Pak RT pada Mas Hilman dengan sopan.


"Kenapa Pak RT nanya lagi sih? Sudah jelas dia membuat gaduh dan mengganggu ketentraman rumah ini, masih saja ditanya!" seru Sinta dengan nada gemas.


"Sinta!" tegur Pak Handoyo seraya menyimpan telunjuknya di depan mulut. Seketika Sinta terdiam mendapat teguran dari sang ayah.


"Ada masalah apa sampai saya mendapat laporan dari Pak Handoyo kalau di rumah ini terjadi kegaduhan? Bisa kita bicarakan bersama?" tanya Pak RT dengan sabar dan sopan.


Mas Hilman terlihat diam.


"Pak RT, saya ingin pisah dengan Mas Hilman, tapi Mas Hilman tidak mau." Aku berucap mewakili dia yang hanya diam. Mas Hilman kini menatapku dengan tajam. Seperti dari dalam sorot matanya melakukan protes.


"Bisa kita bicarakan bersama? Saya sebagai ketua RT tidak mau jika warga saya mengalami kesulitan." Pak RT menunjuk ke arah sofa dengan sopan.


"Maaf, Pak RT. Ini bukan urusan Pak RT. Ini urusan rumah tangga saya bersama dengan istri saya," ujar Mas Hilman akhirnya. Dia sekali lagi menyusut hidungnya dengan sapu tangan hingga bersih.


"Jika masih bisa dibicarakan dengan baik-baik, tidak apa-apa. Tapi ini sudah ada yang melapor pada saya dan dari Mbak Ayu juga sepertinya enggan dengan pertemuan ini. Apa Mbak Ayu terganggu dengan kedatangan Mas Hilman?" Kali ini Pak RT bertanya kepadaku.


"Jujur iya, Pak RT. Saya merasa terganggu setiap kali suami saya datang, hanya untuk mengatakan saya harus berpikir dengan jernih agar tidak berpisah dengan dia. Tapi saya tidak mau. Saya tidak mau bersama lagi dengan Mas Hilman."

__ADS_1


"Ayu! Kenapa kamu ceritakan urusan rumah tangga kita kepada orang lain?" bentak Mas Hilman padaku.


"Urusan rumah tangga kita, tapi kalau aku sudah tidak nyaman dengan kamu dan tidak mau mempertahankan pernikahan ini, lalu kamu terus paksa aku. Apakah aku harus memakai topeng dan berpura-pura baik-baik saja?! Aku harus berpura-pura bahagia dengan pernikahan yang sudah mulai tidak jelas ini, begitu?" tanyaku padanya.


"Kamu bahagia dengan aku, Yu. Hanya saja kamu belum bisa sepenuhnya menerima dia dan anak aku!" ujar Mas Hilman.


Aku tertawa pelan mendengar dia yang bicara seperti itu, lalu sedikit menyusut air mataku yang keluar dari sudut mata. Semua yang ada disana menatapku dengan heran.


"Hanya kamu yang bahagia dengan dia, Mas. Hanya kamu. Aku enggak. Kamu hanya berikan ucapan-ucapan untuk menenangkan aku, tapi tidak untuk berusaha membahagiakan aku," ucapku kepadanya.


"Sudahlah, Mas. Aku sudah bilang kalau aku mau menyerah. Bahkan sedari dulu aku sudah mengatakan hal itu, bukan?" tanyaku pada Mas Hilman.


"Waktunya kamu bahagia dengan dia. Aku ikhlas, Mas. Lagipula, benar apa yang Ibu kamu bilang. Tidak tahu sampai kapan aku akan memberikan kamu seorang anak, Mas. Aku hanya wanita yang tidak jelas. Ibu kamu juga sudah sangat sayang dengan Hana, lalu apa kamu juga tidak mengerti bagaimana perasaan aku melihat Ibu membedakan aku?" tanyaku pada Mas Hilman.


"Aku akan bilang pada Ibu untuk memberikan perhatian yang sama," ujarnya tak menyerah.


"Sudahlah. Kamu pulang saja. Aku tetap tidak mau kembali sama kamu," ucapku dengan lesu.


"Aku lelah berdebat terus sama kamu, Mas. Aku ingin meraih kebahagiaanku sendiri," ucapku lagi.


"Mas Hilman, apa sudah jelas dengan jawaban dari Mbak Ayu? Mohon Mas Hilman tidak lagi mengganggu Mbak Ayu, apalagi datang malam-malam begini dan membuat gaduh." Pak RT berbicara kepada Mas Hilman, Masih dengan nada suara yang ramah.


"Apa ini karena laki-laki itu?" tanya Mas Hilman padaku. Dia tidak menggubris ucapan dari Pak RT.


"Pak RT, saya datang kesini karena Ayu terlihat jalan dengan laki-laki lain. Apakah saya salah kalau saya datang kesini hanya untuk menanyakan hal itu? Dia ingin berpisah dengan saya karena laki-laki itu, Pak. Dia itu masih sah menjadi istri saya!" seru Mas Hilman pada Pak RT.


Rasanya aku ingin menghempaskan kepala Mas Hilman ke tembok saja. Biar dia bisa sadar dengan apa yang barusan dia katakan. Tadi dia bilang jika aku tidak boleh mengatakan urusan rumah tangga pada orang lain, tapi apa ini sekarang? Dia yang bercerita omong kosong yang belum dia yakini kebenarannya.

__ADS_1


"Pak RT tolong suruh laki-laki ini keluar dari rumah saya. Saya sudah tidak mau berurusan lagi dengan dia." Pintaku pada Pak Rt dengan memohon.


"Mas Hilman, tolong," ujar Pak RT seraya menunjuk ke arah pintu masih dengan sopan.


"Ayu ...."


"Oh ya, Mas. Dan aku minta sama kamu kalau kamu harus berikan buku nikah yang kamu sembunyikan. Atau kamu akan aku laporkan ke polisi atas kasus pernikahan tanpa izin dan sekarang menyembunyikan dokumen penting dari pemiliknya," ucapku pada Mas Hilman.


Dia menggelengkan kepalanya. Menatap kepadaku dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Aku gak nyangka kamu bisa usir aku, Yu. Kamu bukan Ayu yang aku kenal lagi," ucap Mas Hilman.


"Mas Hilman, tolong dengarkan apa yang Mbak Ayu minta, atau kami akan melakukan hal yang lebih tegas dari ini," ujar Pak RT dengan nada yang tegas.


Aku hanya diam tak berkata apa-apa, hanya menatapnya dengan tak takut sama sekali. Berharap jika dia tidak membuat gaduh karena pengusiran ini.


"Aku menunggu buku nikah itu dalam waktu dekat ini, Mas. Kalau kamu tidak mau juga menyerahkan buku itu, aku tidak akan segan untuk melakukan apa yang aku katakan tadi," ucapku dengan nada yang dingin.


Kini raut wajah itu tak lagi ramah. Disana tergambar kemarahan yang timbul setelah mendengar apa yang aku katakan barusan. Rahangnya mengeras, terlihat bibirnya bergetar seperti sedang menahan sesuatu.


Kepala itu sekali lagi menggeleng.


"Lakukan saja!" ujarnya dengan kesal, lalu kemudian dia berbalik dan berjalan melewati Pak RT dan juga bapak Sinta, meniggalkan kami tanpa pamit.


Kami menatap punggung itu yang kini menghilang di kegelapan malam. Terdengar bunyi mesin mobil yang menyala dan kemudian menjauh dari rumah ini.


Ibu menyentuh dadanya yang kini naik turun. Terlihat lemas hingga kini Sinta melemparkan rotan di tangannya dan menangkap tubuh lemah itu. Aku pun sama, menangkap tubuh Ibu yang kini sedikit terhuyung.

__ADS_1


"Ibu!"


__ADS_2