
Pov Ayu.
"Hehe, kan Risma cuma mengeluarkan pendapat aja, Mbak. Daripada Mbak sendiri, Mas Arga juga sendiri. Lagian kan kalau Mbak sama Mas Arga, maaf-maaf nih ya, Mbak. Kan Mas Arga sepaket sama Gara. Kalau di mall kan istilahnya buy one get one free."
Astaghfirullah, ya ampun si Risma ini. Apa dia tidak bisa menjaga ucapannya? Aduh! Malu sekali aku ini sama Arga!
"Risma, udah ah. Malu jangan bicara lagi!" ujarku padanya seraya melotot tajam.
"Ih, Mbak mah malu kenapa? Lagian kan aku gak salah, emang gitu kan istilahnya?" Risma bicara sekali lagi, membuat pipi ini merasa merah karena malu, terutama kepada Arga dan juga sopir yang ada di sampingnya.
"Sssttt, sudah-sudah. Makin ngaco kamu bicara! Diam!" bentakku pelan. Risma hanya tersenyum seraya menunjukkan dua jarinya berbentuk V.
Setelah itu kembali keheningan yang melanda di dalam mobil ini. Arga juga sedari tadi diam, sedangkan Risma memainkan hpnya tanpa suara.
Aku jadi gak enak hati sama Arga.
Kami sudah sampai di basemen mall yang kami datangi tadi. Sudah agak sepi karena ini hampir jam sembilan malam. Mobil Arga berhenti di dekat motorku terparkir.
"Mana kuncinya?" Arga memutar tubuhnya seraya menadahkan tangan.
"Eh? Apa?" tanyaku bingung.
"Sini kunci motor kamu, biar Pak Umar yang bawa motornya. Kamu dan Risma aku antar pulang," ucap Arga, tangannya masih menggantung di udara meminta kunci motor.
"Eh, gak usah. Kami pulang sendiri saja," ucapku.
__ADS_1
"Yu, jangan membuat aku merasa bersalah. Aku sudah menyita banyak waktu kalian, dan ini juga sudah malam. Aku tidak mau kepikiran karena melepaskan kalian pulang hanya berdua saja," ujarnya dengan nada yang mantap. Aku jadi sedikit gemetar karena dia menatapku seperti itu.
Arga menundukkan pandangannya, membuat aku lega. Segera aku mengambil kunci motor dan aku serahkan padanya.
"Pak Umar, tolong bawa motornya. ikuti saya dari belakang, ya." Arga menyerahkan kunci motor pada pria setengah baya itu. Segera Pak Umar keluar dari mobil dan menuju ke arah motorku.
Arga beralih ke kursi pengemudi. Dia menunggu Pak Umar menyalakan motor, baru kemudian menyalakan mobilnya kembali.
"Em ... apa ada salah satu dari kalian mau di depan? Rasanya aneh sekali aku cuma sendirian," ucap pria itu menatapku dan Risma bergantian. Aku menatap Risma, dia sedang menguap dengan lebar sambil menutupi mulutnya.
"Mbak Ayu saja, lah. Aku ngantuk kalau di depan gak bisa rebahan," ucap Risma cepat sebelum aku bicara. Ya ampun anak ini.
Arga menatap ke arahku. Aku bingung jadinya. Tadinya berharap Risma yang akan pindah di depan, tapi anak ini malah bilang mengantuk dan alasan ingin rebahan.
"Ah, enaknya bisa rebahan!" Suara di belakang terdengar mengesalkan, saat aku melirik, benar saja dia sedang tiduran memenuhi kursi penumpang di belakang. Duh, ini anak bikin malu saja!
"Ya sudah kalau enak rebahan, tiduran saja. Nyamankan diri kamu," ucap Arga. Dia malah mendukung Risma.
"Gak apa-apa, ya Mas, aku rebahan. Ngantuk banget nih, hawanya enak di mobil, adem sih!"
Arga hanya terkekeh mendengar Risma mengatakan hal itu. Aku membuang wajah yang sudah memanas karena malu dengan tingkah anak itu, melihat ke arah luar memang lebih baik dari pada bersitatap dengan pria ini.
Mobil berjalan perlahan meninggalkan basemen. Di belakang Pak Umar membawa motorku.
"Terima kasih, ya. Sudah mau menenangkan Gara," ucapnya membuat aku menoleh kepadanya.
__ADS_1
"Eh, iya. Sama-sama," jawabku.
"Aku bingung, kalian ketemu dimana dulu sampai Gara selalu bercerita tentang Tante Baik?" tanya Arga.
Aku jadi malu karena Gara memanggilku dengan sebutan itu.
"Em, kami gak sengaja bertemu di taman." jawabku singkat.
"Ooh, pantas saja. Dia bilang kamu suapi dia dan antar ke sekolah," ucap Arga.
Eh, kalau Gara bilang aku menyuapi dan antar ke sekolah bukankah berarti dia juga harusnya sudah mendapat jawaban dimana kami bertemu? Sepertinya tidak mungkin kalau tidak bertanya hal itu.
"Iya, aku antarkan dia ke sekolah," jawabku. Tak ada lagi pembicaraan di antara kami hingga terdengar deru mesin mobil yang halus dan napas Risma yang terkadang kasar. Aku menoleh ke belakang, dia sudah terlelap ke alam mimpi, kedua matanya tertutup.
"Yu, kamu sudah pisah dengan suami kamu?" tanya Gara. Duh, ini pasti karena ucapan Risma tadi.
"Iya." Aku tak mau mengelak, memang ini adalah kenyataannya.
"Apa kamu gak bahagia dengan suami kamu?" tanyanya lagi.
Aku sejenak diam, bingung akan menjawab apa.
"Maaf, kamu gak perlu jawab. Maafkan aku yang sudah lancang," ucapnya.
"Kamu harus lebih hati-hati, karena dengan kamu hidup sendiri, semakin banyak cobaan dan godaan yang mendekat sama kamu. Terutama para lelaki. Kamu harus hati-hati, ya."
__ADS_1