
Pov Hilman.
Aku melihat dia. Wanita yang telah tulus menemaniku selama tujuh tahun di masa pernikahan yang sangat indah, berdiri menggandeng seorang anak laki-laki tampan di sampingnya. Dia terdiam di tempatnya, lurus menatapku hingga aku menjadi sangat rindu kepadanya.
Ingin aku berlari menghampirinya, tapi rasanya tidak mungkin karena anak yang dia gandeng sangat mirip sekali dengan laki-laki yang kini berstatuskan suaminya. Ya, dia telah menjadi milik orang lain. Resmi menjadi milik orang lain.
Rasa rinduku tak terbendung lagi, meski hati ini mengatakan tidak, tapi tubuh seolah telah berkhianat hingga kaki ini mulai bergerak. Namun, geraknya kini terhenti saat sebuah mobil hitam berhenti di depannya dan kemudian turun seorang laki-laki tampan dengan pakaian yang rapi keluar dari sana, membuat langkahku berhenti. Hatiku kini menciut bagai benda yang kehilangan udara.
Sadar dengan diri ini, menatap pakaian yang kini melekat di tubuhku. Tak mungkin aku menampakkan diri di hadapannya dengan penampilan seperti ini. Bagai bumi dan langit, meski aku sangat yakin sekali jika hatinya masih tetap sama, tak akan membedakan dengan status. Akan tetapi, nyali ini seakan tertampar untuk ke sekian kalinya. Harus rela melepaskan, harus ikhlas membiarkan dia bahagia dengan yang lain. Kini, aku hanya bisa menatapnya sebelum dia pergi. Ku putuskan untuk pergi dari sana sebelum aku hilang akal dan memaksanya turun.
Mobilnya kini telah menghilang berbaur dengan ramainya kendaraan di jalanan. Aku hanya bisa menatap dia dari balik mobil yang ada di dekatku.
Hampir satu tahun kami telah berpisah sebagai suami istri. Karena salahku dia menceraikan aku. Hampir lima bulan yang lalu juga kami terakhir bertemu. Sayang, aku yang kalap karena tidak tahu lagi harus bagaimana meminta dia untuk kembali malah memutuskan untuk menculiknya dan membuat dia semakin membenciku. Entah setan apa yang merasuki saat itu. Aku hanya ingin Ayu kembali.
Entah apakah dosaku terampuni atau tidak. Entah dia membenciku atau tidak, tapi aku tidak yakin juga dengan hal itu. Semoga saja Ayu masih tetap wanita yang sama, pemaaf dan juga lapang hatinya.
"Mas Hilman. Ke mushola gantian ya. Mau sekalian makan, nih," ucap salah satu rekanku sambil memberikan beberapa nomor pada kertas kecil di tangannya. Aku menerima kertas parkir tak resmi buatan kami sendiri. Jika ada razia polisi tentu saja keberadaan kami akan menjadi masalah dan kami akan di denda oleh karena hal itu. Akan tetapi, apa lagi yang bisa kami perbuat? Hanya pekerjaan ini yang sementara bisa aku lakukan.
"Oh, iya. Duluan aja, deh. Tapi jangan lama-lama, ya." Pintaku.
"Oke." Pemuda yang usianya jauh di bawahku melambaikan tangannya dan pergi dari hadapanku menuju warung tenda yang ada tak jauh dari mall tempat kami mencari nafkah.
Aku melanjutkan pekerjaanku. Meski hasil tidak seberapa, tapi lumayan lah, daripada harus menjadi pengangguran. Catatan hitam yang ada padaku membuat aku sulit diterima di perusahaan, juga karena usiaku yang sudah tidak lagi muda untuk melamar sebuah pekerjaan. Sekarang waktunya untuk generasi muda yang berkarya. Aku hanya pasrah, mungkin ini adalah salah satu karma yang aku dapatkan karena kesalahan fatal yang aku lakukan di masa lalu.
__ADS_1
Jika saja aku menolak dengan keras usulan ibu, pasti aku sekarang ini masih bersama dengan Ayu. Jika saja aku menurut apa yang Ayu katakan untuk mengambil anak asuh dari panti asuhan, mungkin aku juga masih akan tetap bersama dengan Ayu. Semua hanya mungkin, meski pada kenyataannya aku tidak tahu pasti.
"Maafkan aku, Yu," gumamku pelan. Selalu itu yang aku katakan meski dia tidak pernah mendengarnya.
Aku sungguh malu dengan apa yang aku perbuat kepada Ayu, sehingga aku tidak mampu untuk menemuinya.
Dering telepon berbunyi dengan nyaring. Hp usang yang aku dapatkan dari sebuah lapak tukar tambah jual beli hp kini tak lagi aku hiraukan betapa kunonya dan ketinggalan zaman di masa sekarang ini. Bahkan, jika aku jual kembali pun hanya ditawar dengan harga yang tak layak menurutku. Aku mulai terbiasa hidup sebagai kalangan bawah, punya hp jelek pun kini harus bisa mensyukurinya. Tidak seperti dulu saat masih berjaya, bisa membeli apa yang aku inginkan dengan mudah.
"Hilman!" panggil seseorang di dalam telepon. Suara yang lain terdengar keras di dekat ibu, tengah menangis.
"Iya, Bu? Vita kenapa, Bu? Kok nangis?" tanyaku khawatir.
"Gak tau nih, rewel banget. Ibu pusing dengernya. Kamu cepetan pulang deh. Dari sore tadi nagis terus gak mau diam," ucap ibu mulai terdengar kesal.
"Bu, bisa gak sih Ibu asuh sebentar lagi? Hilman lagi kerja loh, Bu. Gak enak kalau sering pulang cepet," pintaku dengan sedikit menahan kesal.
"Kalau dia gak nangis sih gak masalah. Kepala ibu sudah pusing dari tadi, Vita nangis terus!" Ibu tak kalah kesalnya, bahkan sedikit tinggi nada suaranya. Tangisan Vita juga terdengar semakin keras, membuat diri ini menjadi bingung.
"Aku telepon Mbak Dewi, deh. Aku gak enak sama yang lain kalau pulang sekarang, Bu."
Aku hanya bisa menghela napas dengan kasar. Baru saja jam dua aku sampai di sini, tidak mungkin lagi pulang. Rasanya tidak enak hati jika terus meninggalkan pekerjaan meski ini bukan terkait perusahaan.
Aku mematikan panggilan dan tidak menggubris panggilan ibu. Sudah pusing diri ini menghadapi hal yang sama hampir setiap hari.
__ADS_1
Nomor Mbak Dewi, tetangga yang ada dua rumah dari ibu, aku tekan. Semoga saja dia tidak sedang pergi keluar.
"Halo, Mbak?"
"Iya, Man? Ada apa?" tanya suara dari seberang sana.
"Mbak ada di rumah gak? Hilman mau minta tolong boleh gak? Ibu tadi telepon, Vita nangis terus. Bisa tolong jagain Vita?" tanyaku meminta.
"Ada di rumah. Iya, deh. Mbak pergi ke rumah budhe sekarang," ucapnya.
"Makasih banyak ya, Mbak."
"Ya, sama-sama."
Panggilan aku tutup, sangat lega sekali di saat aku kesulitan masih ada yang mau membantuku. Mbak Dewi adalah tetanggaku, juga kakak kelasku sewaktu dari SD hingga SMA. Kami lumayan dekat karena sedari kecil berteman dan sering bepergian bersama dengan yang lainnya. Anak kampung zaman dulu tidak seperti anak kecil zaman sekarang yang hanya memainkan gadget dan terkesan tertutup. Kami biasa bermain di sungai, bahkan basah-basahan tanpa mengenakan pakaian. Terkadang menangkap belalang di sawah untuk dibawa pulang dan dimasak dengan bumbu pedas sebagai lauk nasi.
"Pak, maaf. Bantu saya. Motor saya di sana," ucap seorang gadis muda menunjuk motor yang ada tak jauh dari aku berdiri. Dia memberikan sebuah nomor parkir padaku.
"Iya, Mbak." Motor yang dia maksud aku keluarkan dengan perlahan, sangat hati-hati agar tidak menyenggol motor yang lain dan membuat cacat. Upah parkir dua ribu rupiah dia berikan setelahnya.
"Terima kasih, Pak," ucap gadis itu, lalu bersama dengan temannya menaiki motor dan pergi dari sini.
Pak. Itu lah sebutan mereka untukku sekarang, padahal usiaku masih belum terlalu tua. Masih beberapa tahun lagi sampai masuk angka empat puluh.
__ADS_1
Uang yang ada di tangan terlihat lusuh, tak pernah menyangka jika hidupku akan seperti ini. Bahkan, uang yang dulu sering aku abaikan kini sangat berharga sekali. Terkadang, jika tidak punya uang sama sekali, menemukan uang receh atau selembar dua ribu rupiah di dalam saku pun sangat besar rasanya untukku. Bahagia tidak terhingga padahal dulu nominal uang tersebut sering aku abaikan. Lumayan, untuk jajan Vita di rumah.