
"Sebenarnya banyak sekali. Tapi aku bisa jamin jika Arga bukan laki-laki yang brengsek. Saking dinginnya dia sampai tidak ada lagi orang yang ingin mendekatinya," ucap Dini. dia mengambil cangkir kopi, meniupnya, dan menyeruput isinya sehingga terdengar suaranya dengan jelas.
"Em ... nikmat sekali," ucapnya lalu menyimpan cangkir kopi tersebut kembali ke atas meja.
"Kami dekat saat kami kuliah, tepatnya karena orang tuaku yang meminta Arga untuk menjagaku di kampus. Ya kamu tahu lah, banyak laki-laki yang menggangguku saat itu. Hehe." Tawanya dengan malu. Aku percaya karena melihat dari postur tubuh dan wajahnya dia sangat menawan sekali. Bahkan, setelah dia memiliki anak.
"Aku pernah bertanya pada Arga, kenapa dia bisa dingin seperti itu. Kamu tahu apa jawaban dia?" tanya Dini kepadaku.
"Apa?"
"Dia bilang memiliki seseorang yang dia tunggu. Saat aku bertanya lagi, dia menyebut nama kamu," ucapnya dengan tersenyum.
"Meskipun banyak wanita yang mencoba untuk merayu dia, dengan segala kecantikan dan kemolekan tubuhnya, tapi Arga tidak berpaling sama sekali kepada mereka. Dia sangat hebat, bukan?" tanya Dini menatapku dengan tersenyum.
Tanpa sadar aku pun ikut tersenyum, merasa bahagia karena ternyata selama itu aku ada di dalam hatinya.
Banyak hal yang Dini ceritakan, aku mendengarkan. Sangat menarik sekali wanita ini mengangkat kisah Arga di masa lalu. Dari sana aku juga bisa tahu sebesar apa laki-laki itu mencintaiku.
Sepertinya setelah ini aku harus menambah kadar rasa percaya ku padanya.
Kami mengobrol lumayan lama. Sampai Dini memesan makanan ringan untuk kami berdua. Beberapa pelanggan kafe berdatangan dan mengambil tempat, lalu pulang. Sementara kami masih betah di sini mengobrol berdua.
"Oh iya. Sebentar lagi waktunya anak-anak untuk pulang. Kita kembali ke sekolah?" katanya wanita itu.
"Tentu saja."
Dini bangkit dari duduknya. "Ayo kita pergi," ucapnya sambil menggerakkan tangan.
Aku merasa bingung, pasalnya kami belum membayar makanan dan minuman yang telah kami makan.
"Eh apa ini belum dibayar?" tanyaku pada Dini.
Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, karena aku yang punya tempat ini," ucapnya.
Wah hebat sekali dia memiliki kafe sebagus ini. Aku terkagum.
"Ayo kita pergi," ucapnya lagi.
"Iya."
Kami kembali ke sekolah Gara. Suasana masih sepi di sana, mesti ada beberapa mobil yang kini terparkir di luar halaman sekolah. Mobil-mobil yang di sana terlihat sangat bagus dan mahal. Tentu saja karena ini adalah sekolah elit, tempat anak-anak pengusaha ternama belajar. Aku tahu dari Dini yang memberi peringatan, jika tidak semua orang bisa dekat dengan kita.
"Nanti akan aku tunjukkan beberapa orang yang bisa menerima kehadiran kita. Nyatanya meski kita dari istri seorang pengusaha, tapi ada beberapa orang yang hanya menggunakan kita sebagai batu loncatan untuk kepentingan mereka sendiri," ucapnya sambil menatap pada beberapa orang tua yang sedang berkumpul bersama. Mereka saling tertawa satu sama lain. Akan tetapi, melihat dari raut wajah-wajah itu, ada rasa tidak tulus. Benar apa kata Dini. Aku harus berhati-hati.
Lima menit kami menunggu, bel sekolah sudah berbunyi. Beberapa anak diantaranya berlari keluar kelas. Aku masih menunggu Gara dan Selvi tetapi mereka berdua belum terlihat juga.
"Apa gara belum keluar kelas?" Suara itu mengagetkan aku yang sedang mencari-cari keberadaan putraku. Kulihat Arga sudah datang sambil tersenyum.
"Biasa kan ucapkan salam. Kamu bikin aku kaget, Ga!" seruku. Aku langsung menutup mulut, sadar dengan kesalahanku barusan yang menyebutkan namanya.
Melihat raut wajahnya yang tersenyum mengerikan, jangan sampai dia menciumku di hadapan semua orang di sini.
"Assalamualaikum," ucapnya memberi salam. Tatapannya menatap lurus kepadaku sambil tersenyum menyeringai.
"Waalaikumsalam," jawab aku dan Dini bersamaan.
"Ternyata kamu datang juga," ucap wanita itu memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Arga.
"Selamat atas pernikahan kalian ya," ucapnya lagi.
"Terima kasih. Aku tunggu kadonya," ucap Arga.
"Apa yang kamu mau? Paket honeymoon?" tanya Dini dengan tersenyum.
"Tidak. Aku sudah punya itu. Aku yakin jika tempat yang akan aku kunjungi sangat bagus daripada tempat yang akan kamu berikan," ujar suamiku sambil mencibir.
Aku menyenggol lengan Arga. "Bicara yang benar dan sopan," bisikku kepadanya.
Arga tertawa dan mendekat ke arahku. "Kami sudah terbiasa seperti ini," ucapnya dengan santai.
__ADS_1
Iya mungkin dia menganggap seperti itu, tapi aku belum terbiasa saja.
"Kami sedari dulu memang seperti ini. Sudah tidak aneh, Yu. Bukankah aku sudah mengatakan bagaimana dia?" ucap Dini.
Kening Arga mengerut. "Jadi kalian bertemu untuk membicarakan aku?" tanya Arga dengan nada yang dingin.
"Apa yang kamu beritahu kepada Ayu?"
Dini tersenyum meringis. "Bukan hal yang buruk kok. Tenang saja!" ujar wanita itu.
"Apa aku bisa percaya?" tanya Arga lagi.
"Terserah mau percaya atau tidak. Nyatanya kami memang membicarakan kamu, haha!" Dini tertawa dengan ringannya. Dia tidak tahu saja jika Arga sudah melirik ke arahku dengan tatapan yang mencurigakan. Jangan sampai hal ini membuat dia menghukumku lagi.
"Ya sudahlah. Mulut wanita memang tidak bisa dijaga!" ungkapnya kesal. Dini tersenyum sambil membentuk huruf V di tangannya.
"Mama, Papa!" teriak suara yang aku kenal. Arga dan Selvi berlari mendekat ke arah kami. Gara memeluk kakiku, sedangkan Selvi memeluk ibunya.
"Sudah selesai belajarnya?" tanya Arga mengelus rambut Gara.
"Sudah!"
"Kalau begitu ayo kita pulang."
"Aku mau ke mall!" seru Gara, membuat Selvi menoleh ke arah kami.
"Aku juga mau! Ayo, Ma. Kita ke mall bersama Gara." seru gadis kecil itu menarik tangan ibunya.
"Oke baiklah. Kalau kalian ingin bermain ke mall terlebih dahulu, tapi jangan lama-lama, ya. Mama dan Papa harus pergi ke rumah sakit," ucap arga memberi peringatan.
"Eh, Siapa yang sakit?" tanya Dini bingung dan khawatir.
"Tidak ada sih. Kami hanya memeriksakan kesehatan saja," ucap Arga.
"Oh oke kalau begitu. Kalau anak-anak tidak bisa diajak pulang, biar aku nanti yang akan mengantar Gara pulang," ucap Dini.
"Baiklah. Ayo kita pergi."
"Mereka memang seperti itu kalau bertemu," ucap Arga menunjuk keduanya yang ada di belakang dengan gerakan kepala.
"Setidaknya Gara punya teman. Aku tidak khawatir," ucapku.
Kami sudah sampai di mall terbesar di kota ini. Keadaan di sana tidak terlalu ramai karena ini bukanlah hari libur. Kami mendampingi anak-anak kami naik ke lantai atas dengan menggunakan eskalator. Kedua anak yang tidak mau memakai lift. Mereka bilang naik eskalator lebih seru. Kami langsung menuju ke lantai paling atas di mana tempat permainan dan juga stand makanan ada di sana.
Gara dan Selvi berlari, masuk ke area permainan meninggalkan kami bertiga yang berjalan bersama. Kami duduk di bangku dan membiarkan kedua anak itu bermain sepuasnya. Entah berapa banyak Arga mengisi saldo yang ada di dalam kartu, mereka sudah banyak sekali menggesek kartu tersebut pada mainan yang ada di sana.
"Apa mereka masih lama bermain?" tanya Dini melihat pada kedua anak yang kini sedang berada di dalam kolam bola plastik. Mereka timbul dan tenggelam di sana di antara bola-bola yang berwarna-warni.
"Tidak tahu. Memangnya kenapa?" tanya Arga pada dini.
"Aku ingin berbelanja. Bisakah kamu menjaga anak-anak sebentar?"
"Ya tentu saja. Pergilah ajak Ayu sekalian. Biar anak-anak aku yang akan jaga," ucap Arga seraya menggerakkan tangannya.
"Ayu temani aku belanja." Tanpa menunggu jawabanku, Dini menarik tanganku.
"Eh." Aku terkejut karena perlakuannya. Kami memang baru mengenal, tapi dia sudah akrab denganku.
Arga duduk di tempat kami tadi memperhatikan anak-anak yang masih senang bermain di dalam sana.
Kami mulai turun dengan menggunakan lift. Dini ternyata orang yang sangat menyenangkan sekali. Dia senang berbicara, membuat aku juga merasa mempunyai teman.
"Kamu mau beli apa?" tanyaku padanya.
"Tentu saja beli baju dan tas. Dan jangan ketinggalan pakaian dalam," bisik wanita itu padaku dengan tersenyum. Aku yang mendengarnya sedikit malu. Membayangkan pakaian dalam.
Setelah keluar dari lift, kami menuju ke sebuah toko baju dan juga tas. Seperti wanita pada umumnya, Dini terlihat sangat bersemangat memilih pakaian tersebut. Harga-harga di toko ini aku lihat sangat mahal.
"Hei kenapa diam saja? Apa kamu tidak memilih?" tanya wanita itu kepadaku. Aku menggelengkan kepala. Rasanya tidak rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk satu pakaian.
__ADS_1
"Aku sedang tidak ada yang diminati," ucapku beralasan. Jika dipikirkan dengan satu harga baju di sini dan dibelikan di pasar aku akan mendapatkan beberapa potong baju yang bagus itu juga. Rasanya juga kasihan pada suamiku yang mencari nafkah dan aku hamburkan hanya untuk membeli satu barang dengan harga yang selangit.
"Oh okelah kalau begitu. Tapi kalau kamu nggak beli, jadinya cuma antar aku, dong!" ucap wanita itu dengan nada merasa bersalah.
"Eh, tidak apa-apa. Aku melihat-lihat saja dulu, nanti kalau ada yang cocok aku juga beli, kok." Dini tersenyum dengan senang menganggukan kepalanya. Aku memegang pakaian dan berpura-pura memilih.
"Iya deh, aku cari ke sana ya," ucapnya lalu meninggalkan aku dan dia memilih pakaian yang tergantung di rak lain.
Kain dan model yang ada di sini memang sangat bagus sekali. Sepadan lah dengan harga yang tertulis di sana, tapi tidak tahu lah, aku tidak terbiasa dengan kehidupan orang kaya seperti Dini.
"Aku sudah selesai, apa kamu menemukan pakaian yang kamu mau?" tanya Dini. aku menggelengkan kepala.
"Banyak yang bagus aku jadi ingin borong semuanya." Bukan berdusta, tapi itu adalah kenyataannya. Aku sedang menahan diri sekarang ini. Aku juga wanita, punya jiwa materialistis. Suka berbelanja juga, tapi untuk kali ini tidak. Aku takut menggunakan uang suamiku untuk hal yang seperti ini.
"Haha, padahal borong saja tidak apa-apa. Arga juga pastinya tidak akan marah. Seberapa banyak uang yang kamu belanjakan dia pasti sanggup membayarnya. Kalau aku jadi kamu, aku akan borong semuanya sekaligus dengan tokonya," ucapnya dengan tawa yang lebar.
Aku tertawa kecil menutupi rasa maluku. Aku dan Dini memang dua pribadi yang berbeda. Dia mungkin sudah biasa menggunakan uang suaminya dengan rasa tidak bersalah.
"Ayo kita ke tempat lain!" ucapnya setelah membawa dua tas karton di tangannya.
"Aku ingin beli baju untuk Selvi," ucapnya lalu berjalan ke toko yang tidak jauh dari dekat kami.
Di sana banyak pakaian anak-anak yang sangat bagus sekali. Pakaian anak laki-laki dan perempuan. Dini kembali kalap melihat pakaian anak perempuan yang ada di sana. Dia bergerak dengan cepat ke sana dan kemari memilih pakaian yang bagus.
Aku melirik deretan baju anak laki-laki. Lebih tertarik untuk membelikan Gara daripada membeli untuk diriku sendiri. Satu persatu aku lihat pakaian-pakaian tersebut. Sepertinya aku payah dalam memilih, karena jujur saja aku ingin membawa semuanya pulang. Mungkin jika aku membelikan pakaian untuk Gara, aku tidak perlu merasa bersalah jika menggunakan uang yang ada di dalam kartu ini.
Selesai dengan toko pakaian anak, kami pergi ke toko yang lain. Sebenarnya kakiku sedikit lelah, Untung saja tidak memakai sepatu hak tinggi. Dini mengajakku ke sana dan kemari untuk membeli pakaian. Di tanganku terdapat dua tas karton dengan merk nama toko tersebut, sedangkan Dini sudah menenteng lima karton di tangannya.
"Satu toko lagi, please," ucapnya dengan tersenyum meringis, juga dengan nada yang memohon.
"Mau ke mana lagi? Apa yang ada di tangan kamu belum juga cukup?" tanyaku. Tidak menyangka jika mendapatkan teman yang gila belanja seperti ini.
"Hehe. Sebenarnya kalau dituruti aku bisa saja masuk ke setiap toko yang ada di mall ini. Tapi tentu saja tidak, aku nggak mau jadi miskin karena suamiku harus membayar semua belanjaan ini," ucapnya dengan tersenyum. Aku menggelengkan kepala melihat semua yang ada di tangannya. Sempat tadi aku mengintip sebentar pada layar komputer di kasir, jika ditotalkan ke lima tas karton tersebut isinya lebih dari tiga puluh juta.
"Ke sana, yuk!" Tunjuknya pada sebuah toko. Aku sedikit malu mengikuti langkah kakinya pergi ke sana. Pasalnya itu adalah toko pakaian dalam. Aku kira tadi dia hanya bercanda mengatakan akan pergi ke sana, tapi ternyata itu sungguhan.
"Lihat yang ini apakah bagus?" tanya Dini kepadaku. Dia menempelkan baju tidur yang sangat seksi di tubuhnya. Kainnya berwarna merah menerawang sehingga kemeja putih yang dia pakai terlihat sangat jelas. Dia tanpa malu berputar-putar di hadapanku meski di sana ada beberapa orang yang melihat ke arah kami.
"Bagus kok. Bagus," ucapku. Aku malu karena banyak yang memperhatikan kami. Lagi pula pakaian yang seperti itu memang selalu saja bagus di hadapan pasangan bukan?
Dini tersenyum senang. Dia kemudian pergi.
Aku berjalan menyusuri beberapa rak pakaian yang ada di sana. Melihat bagaimana bentuk pakaian-pakaian tersebut. Bukan tidak pernah aku memakai yang seperti itu. Tapi untuk saat ini ... ah, aku malu juga.
Aku duduk di bangku yang sudah disediakan di dalam toko tersebut. Hanya menunggu Dini yang masih berjalan ke sana kemari memilih pakaian-pakaian mini tersebut.
"Nih," ucap wanita ini menyerahkan tas karton untukku.
"Eh, buat aku?" tanya aku bingung.
"Iya ini buat kamu. Ini bukan berarti kado untuk pernikahan kalian ya, aku hanya ingin membelikan kamu. Kalau untuk kado pernikahan kalian nanti beda lagi." Dia tersenyum, menyodorkan benda tersebut ke tanganku, memaksa aku untuk menerimanya.
"Jangan lupa dicuci dulu sebelum dipakai," bisiknya pelan yang membuat aku merasa malu sekali.
"Haha, wajah kamu merah." Tunjuknya padaku. Wanita ini menyebalkan sekali bukan? Aku tidak tahu bagaimana rupaku sekarang ini, apakah memang merah seperti yang diucapkan? Ah, entahlah.
"Ayo kita ke atas lagi." ajaknya setelah kami keluar dari toko tersebut. Kami kembali menuju lift untuk pergi ke lantai atas.
"Kalau saja enggak ingat bawa anak ke sini, aku pasti masih betah untuk berbelanja," ucapnya menatapku dengan senyum. Bukankah tadi dia baru bilang tidak ingin membuat suaminya jatuh miskin setelah membayar belanjaannya yang banyak? Kenapa sekarang jadi ingin berbelanja lagi?
"Haha, iya. Apa kamu tidak capek? jujur aku capek dan pusing melihat banyaknya baju di sini."
"Ah tidak aku sudah terbiasa," ucapnya.
Lift sudah sampai di lantai atas. Pintunya terbuka, kami segera ke tempat tadi meninggalkan Arga dan anak-anak.
"Kenapa sebentar sekali kalian belanja?" tanya Arga pada kami.
Aku melihat jam yang ada di pergelangan tanganku. Sebentar dari mana? Bahkan, kami sudah menghabiskan lebih dari satu jam berbelanja di bawah sana.
__ADS_1
"Kamu pikir aku wanita yang seperti apa? Meninggalkan anakku dengan orang lain? Aku masih ingat dengan dia yang belum makan siang!" ujar Dini dengan nada yang kesal. Mungkin saja dia menganggap ucapan Arga adalah sindiran baginya.
"Haha, ternyata masih ingat juga dengan anakmu. Kalau begitu ayo kita makan sebelum pulang," ajak Arga.