Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
288. Penjarakan Saja!


__ADS_3

Aku sudah mencoba untuk tidur. Akan tetapi, mata ini tetap saja tidak bisa terpejam meski aku sudah berusaha keras. Bayangan Dewi terus saja menari-nari di pelupuk mata. Sebenarnya ada apa denganku? Apakah benar-benar menyukai dia? Ataukah ini hanya perasaanku saja karena dia bisa mengambil hati Vita? Jangan sampai menginginkan dia karena hanya membutuhkannya saja demi untuk menjaga Vita.


Ku putuskan untuk bermain hp saja. Sedikit membaca baca biasanya membuat aku cepat mengantuk, ingat dengan hobi Ayu yang pernah aku larang dulu. Diam-diam selalu mengikuti tulisan yang dia buat.


Semua penyesalan memang hadir di saat terakhir. Aku kurang mendukung apa yang dia lakukan. Sekarang hanya bisa diam-diam mengikuti perkembangan dia di sana. Alhamdulillah, dari yang ku perhatikan level dia sudah semakin tinggi daripada saat kami baru saja bercerai. Hanya itulah hal yang sering ku lakukan jika tengah merindukan dia. Sedih rasanya saat membaca satu judul dengan bertemakan poligami, seakan cerita tersebut tengah menamparku berulang kali saat berpikir mungkin inilah yang dia rasakan dulu. Hampir sama seperti apa yang dia ceritakan di dalam sana.


Hampir satu jam aku membaca karya milik Ayu. Ku putuskan memaksa diri untuk memejamkan mata. Besok pagi sekali aku ingin mengajak Vita pergi lagi ke taman yang lebih jauh. Di sana terdapat hamparan rumput yang lumayan luas dan kami bisa duduk di sana. Berharap benar kata orang-orang jika anak kecil yang sering belajar berjalan di atas rumput yang masih basah, dia akan bisa cepat berjalan.


Sebelum tidur aku mengecek yang ada di aplikasi chat, beberapa pesan belum dibuka. Tidak lupa dengan status WhatsApp yang entah kenapa aku ingin melihatnya. Salah satu nama tertera di sana, Dewi.


'Malam yang tidak akan terlupakan.' Emoticon wajah tersenyum dengan hati tiga di samping wajah itu.


Aku tertegun ketika melihat status tersebut. Apakah dia sedang memasang status akan kejadian malam ini? Tadi?


Layar ku geserkan ke atas, hendak mengomentari pesan tersebut. Akan tetapi, tidak jadi saja lah. Kok rasanya hati ini aneh!


Ku coba untuk tidur, memeluk Vita dengan erat, tapi tetap saja merasa terganggu dan penasaran dengan status WA barusan. Hp yang tergeletak di samping ku ambil lagi dan mencari status Dewi barusan. Sudah hilang. Apakah dia sudah menghapusnya?


Jempol tangan mulai mengetik.


Kenapa statusnya dihapus?


Aku menunggu balasan, tapi sedikit menyesal juga kenapa harus mengirim pesan seperti itu. Gegas aku menggerakkan tangan kembali untuk segera menghapus pesan yang barusan aku kirim kepadanya, tapi saat hendak menekan gambar tong sampah, sebuah pesan dari Dewi sampai di layar hp.


Ah, gak apa-apa. Gak ada apa-apa, kok. Emoticon tersenyum di belakangnya.


Kamu belum tidur, Mbak? tanyaku memberanikan diri membalas pesan.


Sedikit lama tidak ada balasan, atau tulisan mengetik di atas sana, membuatku sedikit sedih ternyata.


Suara denting pesan terdengar membuat aku yang tadi sedih kini menyunggingkan senyum.


Belum. Cio baru saja tidur, sedikit rewel cari ibunya, jawab pesan tersebut.


Oh, kasihan juga Cio, ya. Semoga saja dia nyenyak sampai pagi, balasku lagi.


Iya.


Vita sudah tidur?


Aku menyunggingkan senyum dengan pertanyaannya.


Sudah dari tadi waktu kita sampai.


Aku sedikit tersenyum, sepertinya dia lupa jika tadi dia yang menggendong Vita saat di motor.


Eh, iya aku lupa. Tadi kan juga udah tidur dia, hehe.


Tawa kecilku tak bisa aku tahan. Aku malah membayangkan Dewi juga sama tersenyum menerima pesan ini. Apakah berlebihan menganggap dia juga sama sepertiku? Ah, astaghfirullah. Kenapa terus memikirkan dia?


Kamu kenapa belum tidur?


Eh, aku kira dia tidak akan membalas lagi.

__ADS_1


Aku belum ngantuk, balasku.


Kami melanjutkan berbalas pesan, hingga hampir setengah jam lamanya dan dia kemudian pamit untuk menenangkan Cio yang katanya menangis mencari ibunya,


Aku jadi berpikir, baru kali ini berbalasan pesan dengan seorang wanita. Selama dengan Ayu, selama dengan Hana, setelah perceraian dengan mereka berdua, tidak pernah lagi memperhatikan wanita.


Ah, sial! Apakah aku benar memperhatikan Dewi?


"Aku tidur saja, lah," gumam ku lalu menjauhkan hp, sengaja aku simpan di dalam laci agar tidak membuatku penasaran untuk membukanya lagi.


...***...


Empat hari berlalu, bayangan Dewi selalu aku enyahkan. Ingin tahu seperti apa perasaanku kepadanya. Apakah aku memang merindu atau bagaimana kepadanya. Hanya ingin tahu saja dengan perasaan ini. Meski bayangannya tidak seperti kemarin karena aku juga banyak memikirkan tentang keadaan kami akhir-akhir ini.


Aku jadi berpikir, dengan keadaanku yang banyak masalah, tidak mungkin juga aku mendekati Dewi. Kasihan jika sampai dia juga terkena masalah, aku juga tidak berani meminta dia kepada orang tuanya.


Malam ini, wanita yang kemarin datang lagi seperti yang dia katakan tempo hari, bersama dengan dua orang lainnya yang aku tidak kenal siapa mereka. Akan tetapi, ibu pastinya tahu siapa dua orang itu. Kami duduk di ruang tamu, ku suguhi minuman dan makanan seadanya.


"Gini loh, Mas Hilman. Kami ini merasa dirugikan. Katanya dua bulan uang milik kami mau dikembalikan, tapi ini sudah mau bulan keempat kok gak ada kabar," ucap wanita yang aku kira usianya tidak terlalu jauh dari ibu. "Janjinya dua minggu kemarin paling lambat, tapi tidak ada kabar sama sekali," lanjutnya lagi.


Aku jadi sedikit bingung, jelas kami juga adalah korban, tapi kami harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan oleh ibu.


"Mbak, saya juga korban loh. Mana saya tau kalau ternyata yang sekarang ini gak beres? Kan Mbak juga tau yang kemarin itu gak ada masalah, kan?" Ibu berbicara, tetap membela dirinya sendiri.


"Saya tau, Mbak Yu. Mbak Yu memang korban juga, tapi kan kami tau dan ikut dengan ajakan Mbak Yu. Dirayu dan diyakinkan sama Mbak Yu." Wanita dengan pakaian berwarna merah berbicara, menimpali ucapan ibu.


"Ya, kalau begitu bisa dimaklumi dong? Orang saya juga korban. Saya sudah menghubungi orang itu dan mereka udah gak aktif nomornya. Bukan hanya Adek saja yang hilang uang, saya juga hilang uang lumayan, hampir lima juta," ucap ibu yang membuat aku terkejut. Tidak menyangka dengan uang banyak yang kini telah dibawa lari orang yang tidak bertanggung jawab.


"Duh, saya mau bagaimana, Dek? Kan saya juga korban, lagian saya juga gak ada pegangan uang sebanyak itu," ucap ibu dengan resah dan terlihat takut.


"Ya, kami gak mau tau, Mbak. Lebih baik kami yang nagih daripada suami kami yang akan turun tangan. Bisa aja ini semua barang nanti dijarah sama yang lain," ucap wanita itu dengan enteng.


Ibu menoleh kepadaku. "Man, gimana ini?" tanya ibu dengan takut.


Aku bingung juga, uang yang ada pada ibu cukup besar, seperti kata ibu kemarin hampir empat puluh juta. Aku tidak tau apakah itu sudah semuanya atau belum, tapi menurut pengakuan ibu hanya itu saja, nama dan jumlah yang tertera di buku catatannya.


"Begini saja, Bu. Saya minta waktu sebentar–"


"Sampai kapan?" potong salah seorang di antaranya.


"Saya akan usahakan. Pasti saya akan cari orang yang menipu itu."


"Kami gak butuh orang yang nipu, pastinya uangnya juga udah gak ada sama dia. Kami butuh ibu Mas Hilman tanggung jawab dengan masalah ini," ucapnya dengan sewot.


"Iya, saya ngerti. Tapi sebentar dulu. Saya mau bicara boleh?" tanyaku dengan menatap ketiga wanita itu bergantian, tidak ada yang menjawab pertanyaanku.


"Saya akan berusaha ganti rugi dengan sebisa saya. Anda semua tau kan gimana hidup kami sekarang ini? Cuma saya yang menjadi tulang punggung di sini. Gak ada yang lain. Saya mohon ibu semua sabar, saya akan usahakan. Selain akan melaporkan ini ke polisi juga saya akan bertanggung jawab mengembalikan semua uang yang sudah disetorkan kepada ibu saya," ucapku, berharap mereka mau mengerti posisiku sekarang ini.


"Lalu kapan?" tanya salah satu wanita itu lagi.


"Secepatnya, tapi saya tidak tau kapan. Hanya saya bisa menjanjikan akan bisa mengembalikan uang tersebut. Saya minta kesabaran ibu semua, juga para korban yang lain. Saya mohon, ibu-ibu yang ada di sini konfirmasi kepada tetangga atau orang yang juga menjadi korban di sini. Saya pasti akan kembalikan, tapi saya minta waktu karena mencari uang sebanyak itu saya juga bingung mau mencari kemana. Kalau kami tidak mengembalikan uang tersebut, silakan bawa Ibu saya, penjarakan ibu saya jika kalian masih juga menuntut agar uang dikembalikan sesegera mungkin. Tapi percuma jika kalian melakukan itu, saya tidak akan mengembalikan uang tersebut karena ibu saya sudah bertanggung jawab dengan jalan lain. Dipenjara," ucapku dengan pasrah. Mereka mau percaya atau tidak itu terserah mereka.


Ibu terlihat membulatkan matanya saat mendengar ucapanku barusan. Juga tiga orang yang lain kini hanya diam saja, saling berpandangan tanpa sepatah kata pun sama sekali.

__ADS_1


"Man, kok gitu, sih? Ibu gak mau dipenjara!" ucap ibu dengan protes.


Aku menghembuskan napas dengan lelah, sangat lelah karena aku juga baru saja pulang bekerja tadi dan langsung disuguhi persoalan seperti ini.


"Lagian Ibu juga bikin masalah. Hilman mau gimana lagi? Kalau mereka mau uang sekarang kita cari dari mana? Terpaksa Ibu masuk penjara, hanya enam atau tujuh tahun selesai perkara!" ucapku dengan kesal.


"Man! Kok kamu gitu sih? Ibu gak mau dipenjara!" jerit ibu dengan pilu.


Akhirnya pembahasan kami selesai, mereka mau memberikan kami waktu dua bulan untuk mengembalikan uang tersebut.


Berat sebenarnya mencari uang sebanyak itu. Kemana harus aku cari? Tidak mungkin rasanya jika meminta pertolongan pada Ayu dan juga suaminya. Malu, uang yang tiga puluh juta saja aku belum bisa melunasinya. Pinjaman ke pabrik, tentu bisa saja, tapi aku juga tidak mungkin melakukannya, terlalu banyak dan apakah mungkin pabrik akan memberikan pinjaman sebanyak itu?


Bank dan sertifikat tanah satu-satunya jalan yang ada untuk melunasi semuanya. Baik, pinjaman dari Arga dan juga penipuan ini. Memenjarakan ibu tidak tega juga rasanya, tadi aku mengatakan itu hanya untuk menggertak ibu agar tidak lagi melakukan hal yang sama meski katanya untuk membantuku.


"Kamu kan masih punya rumah, Man. Minta saja sertifikat rumah itu, yang ada sama Ayu. Kan itu dibeli dengan uang kalian berdua. Kamu masih ada hak di sana," ucap ibu saat aku meminta sertifikat tanah rumah ini.


"Malu, Bu. Daripada Hilman minta sertifikat rumah itu mendingan rumah ini saja yang digadaikan. Biar rumah itu jadi milik Ayu saja. Hilman gak kasih apa-apa buat Ayu, hanya bisa lukai hatinya saja. Rumah itu juga belum tentu bisa membayar kesalahan Hilman selama ini," ucapku.


"Huh, kamu ini. Dibilangin kok ngeyel! Susah yang tanggung sendiri kamu loh, Man," ucap ibu dengan kesal.


"Iya, Hilman itu susah karena Ibu. Apa Ibu gak paham juga!" tanyaku sedikit membentak membuat ibu tidak lagi menjawabku, hanya bergumam tidak jelas sambil kembali masuk ke dalam kamarnya.


...***...


Aku mencari waktu yang tepat untuk izin dari pabrik, sebenarnya dengan alasan sakit. Takut jika nanti izin dan tidak diperbolehkan untuk mangkir dari bekerja. Terpaksa mengirim pesan kepada atasan dan pergi ke klinik hanya untuk membeli surat izin dokter untuk bukti saat masuk besok. Aku tulis di sana beristirahat dua hari. Tidak tahu berapa banyak waktu yang aku butuhkan untuk mengurusi keperluan di bank.


Semua yang aku perlukan sudah disiapkan, meski ibu menolak keras dan ingin mempertahankan sertifikat tanah itu, tapi berhasil aku ancam dan akhirnya ibu diam dan harus rela. Vita juga aku suruh ibu menjaganya. Awas saja kalau ibu tidak benar menjaga Vita, aku akan jual sekalian rumah ini!


Urusan di bank sudah selesai, aku harus menunggu beberapa hari untuk tinjauan pihak bank dan juga ACC, apakah pihak bank memberi kami pinjaman atau tidak. Rasanya hati ini berdebar juga. Tidak pernah aku dalam keadaan yang seperti ini sebelumnya, di saat kini hanya mempunyai penghasilan sedikit, malah ada masalah yang pelik seperti ini.


Akhirnya, bank meloloskan permintaan kami. Aku merasa lega sementara ini. Hanya sementara karena tentunya aku juga harus memikirkan bagaimana caranya untuk membayar semua hutang kami. Jangan sampai rumah ini hilang dan kami tidak punya tempat tinggal lagi. Butuh beberapa tahun sampai sertifikat tanah itu kembali kepada kami.


Aku juga sudah melaporkan peristiwa ini ke polisi, dengan laporan penipuan dan juga ibu yang sebagai korbannya. Polisi akan mencari pelaku penipuan tersebut dan meminta keterangan dari ibu. Semoga saja mereka cepat ketemu dan membayar kesalahannya.


Sangkutan pada beberapa korban sudah dipenuhi setelah kami mendapatkan uang tersebut dari pihak bank, kini mereka sudah memaafkan kesalahan ibu. Aku juga menyimpan sisanya, untuk membayar utang kepada Arg dan juga berjaga untuk kepentingan lainnya.


"Man, kan masih ada banyak sisanya. Mendingan Ibu yang pegang, mau Ibu belikan kalung buat simpanan nanti kalau kita butuh," ucap Ibu meminta sisa uang yang ada.


"Enggak! Nanti yang ada Ibu habiskan untuk yang lain lagi!" ucapku dengan tegas.


Maaf, Bu. Tapi Hilman harus tegas dengan ibu, ucapku dalam hati.


"Kamu ini. Ibu kan mau nyimpan uang itu, lagian bukan untuk Ibu sendiri, kan untuk kalian juga! Nanti kalau habis gimana?" tanya ibu dengan sewot.


"Gak! Hilman gak percaya sekarang. Mending habis tapi Hilman yang habiskan, daripada Hilman gak tau ini Ibu pake buat apa," ucapku dengan tegas, membawa uang tersebut menuju ke kamar.


"Uang itu kan buat makan kamu juga, buat VIta juga!" teriak Ibu masih keukeuh.


"Apa? Buat makan apanya? Masak telur saja jarang apalagi daging! Ibu hanya masak daun saja dan goreng ikan asin!" ucapku kesal dan masuk ke alam kamar, tidak mau mendengar lagi ocehan ibu yang tetap gigih meminta uang.


Biar saja aku disebut pelit. Aku sudah lelah dengan tingkah ibu! Makan sehari-hari hanya tempe, tahu, daun singkong, kangkung, bayam. Telur hanya seminggu sekali, itu pun jika aku meminta. Jika tidak, hanya makanan itu saja yang tersedia.


Ah, aku jadi berpikir, semakin tidak mungkin jika aku mendekati Dewi dalam keadaan susah seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2