Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
242. Persiapan Empat Bulanan


__ADS_3

Acara empat bulanan dilaksanakan hari ini. Sedari pagi kami sudah bersiap di rumah ibu. Banyak orang yang sedang membantu memasak maupun membereskan rumah untuk acara nanti, pengajian ibu-ibu akan dilaksanakan pada menjelang sore hari.


Aku sedang berada di dalam kamar, dimanjakan oleh seorang tetangga yang bisa memijat sekalian melulur tubuh ini. Ibu sebenarnya yang mengundang beliau, supaya aku terlihat fresh dan urat syarafku tidak tegang. Sungguh nyaman sekali dimanjakan seperti ini. Baru pertama kalinya untukku.


"Beruntung ya Mbak Ayu ini, nikah sama orang kaya. Hidupnya sekarang enak, terjamin," ucap wanita usia empat puluhan yang kini sedang memijat pelan tanganku.


"Alhamdulillah , Bu. Dia juga orang biasa kok."


"Orang biasa apanya? Katanya punya pabrik ya?" tanyanya lagi.


"Iya."


"Wah, beruntung. Masuk ke pabrik sana gampang gak sih?" tanyanya penasaran.


"Ya, kalau persyaratan terpenuhi ya gampang lah, Bu."


"Oh, begitu ya. Kalau Saya minta tolong buat masukin anak saya ke pabrik bisa gak ya? Dia lulusan SMA, lagi cari kerja, sudah mau empat bulan nganggur, tuh. Kemarin jurusan administrasi dan pemasaran, kali aja gitu ada jodohnya di sana," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Ehm, kalau itu bukan wewenang saja sih, Bu. Semua ada yang uruskan di sana, bisa masuk atau tidaknya. Lagian kalau ijazahnya SMA maaf nih ya, Bu. Apa berkenan kalau kerjanya bagian mesin atau packing atau tukang jahit? Soalnya lulusan SMA gak bisa diam di kantor, karena masih ada yang lebih tinggi yang melamar ke sana. Lagi pula, untuk urusan kantor begitu butuh yang pengalaman dan wawasan yang luas di bidangnya masing-masing," terangku.


"Oh, begitu ya? Saya kira bisa gitu Mbak Ayu tolongin buat masukin anak saya," ungkapnya dengan sedikit nada suara yang berubah kini.


"Eh, kalau saya yang bawa juga tetap aja masuk seleksi, Bu. Gak bisa sembarangan saya bawa dan ditempatkan di bagian mana. Lagi pula banyak saingan dan juga harus bisa mengikuti arus pekerjaan di sana, takutnya kalau bukan ahlinya nanti stress dengan pekerjaannya dan menghambat yang lain. Maaf ya, Bu. Bukan saya ingin menyinggung, tapi ya namanya juga tempat bekerja inginnya yang kompetitif, inginnya yang pengalaman, kalau pun tidak pengalaman dia setara kemampuannya untuk mengimbangi yang lainnya," ucapku tak enak hati.


"Oh, ya sudah deh. Jadi, kalau si Cici ke pabrik biasanya ditempatkan di mana?" tanyanya lagi dengan nada sedih.


"Ya, tergantung yang menempatkan. Biasanya dilihat dari nilai dulu, tinggi badan, enaknya di tempatkan di bagian mana. Atau, mana posisi yang kosong yang benar sangat membutuhkan. Kalau yang tinggi biasanya bagian mesin, bisa juga bagian jahit dan packing. Atau, kalau beruntung menurut kinerja selama ini bisa jadi pengawas bagian juga," terangku lagi.


Tidak ada pembahasan lagi setelah itu, aku hanya menikmati waktuku sekarang ini.


"Belum selesai, Yu?" tanya suara yang aku kenal. Ibu membawakan minuman dengan wangi jahe dan dia simpan di atas nakas.


"Sebentar lagi, Mbak Yu. Sudah ini Mbak Ayu tinggal mandi dengan air hangat biar peredaran darahnya lancar. Tadi, kakinya agak sedikit kaku uratnya," ujar wanita yang memijatku.


"Oh, iya. Nanti saya panaskan air."

__ADS_1


"Itu, Yu. Keluarga Arga nanti datang gak?" tanya ibu.


"Katanya sih mau datang, Bu. Kemarin sudah dikasih tau," jawabku.


"Oh, ya sudah. Ibu mau siapkan bawaan untuk mereka."


"Bawaan apa sih, Bu?" tanyaku bingung.


"Ya, bawaan lah. Makanan yang ada. Berapa orang yang datang?"


"Itu syarat acara ini juga?" tanyaku balik.


"Bukan, sih. Cuma ya gak enak aja kalau jauh-jauh datang tapi pulangnya gak ada oleh-oleh di rumah," jawab ibu lagi.


"Gak tau berapa banyak. Coba Ibu tanya aja sama Papanya Gara," pintaku.


"Oh, iya deh." Ibu pergi setelah itu. Ibu memang seperti itu, dengan pemikiran yang masih kolot menurutku. Padahal tidak perlu juga membawakan oleh-oleh untuk yang lainnya, maka dari itu aku menyuruh ibu untuk bertanya pada Arga saja. Bibi dan yang lainnya pernah berpesan padaku, jika mereka mengunjungi kami di sini tidak perlu repot dengan barang bawaan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2