Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
43. Sahabat Yang Peduli


__ADS_3

Diana membawaku ke sebuah hotel. Bukan untuk apa-apa, dia hanya ingin membuat aku tenang. Tidak ada tempat lain yang tenang menurutnya, apalagi aku yang dia tuntut untuk bercerita panjang lebar. Jangan sampai ada orang lain yang mendengar atau aku yang tidak bebas bercerita karena gangguan. Kami datang kesini dengan menggunakan mobil, motor biar nanti atau besok saja diambil jika aku sudah tenang katanya.


"Kenapa bisa dia menikah lagi?" tanya Diana saat aku sudah mulai tenang. Tangannya bergerak memoles salep yang tadi dia beli di apotek ke pipiku yang terasa perih. Akibat tangan besar itu, pipi ini menjadi bengkak, sedikit membiru disana. Aku meringis kesakitan padahal Diana melakukannya dengan selembut mungkin.


"Cerita aja sama aku, Yu. Aku akan dengarkan cerita kamu dan gak akan menyela," ucapnya dengan menggebu. Menatap ke arahku dengan tajam.


Aku menundukkan kepala, sesekali menyusut cairan yang masih saja keluar dari hidungku meski kini sudah tidak ada lagi tangis yang ada disana. Dengan telaten Diana meneruskan mengobatiku.


Aku mulai bercerita dari awal hingga akhir, dari mulai pamitnya Mas Hilman waktu itu hingga detik tadi kami bertemu dan berdebat.


"Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? Meskipun aku gak ada disini, kamu bisa kan cerita lewat telepon?" tanya Diana degan kesal, lenganku menjadi sasaran cubitannya. Dia sepertinya merasa gemas mendengar ceritaku tadi.


"Poligami memang boleh, tapi menurutku dia juga salah. Harusnya dia juga meminta izin dulu dari kamu. Bukannya diam-diam menikah dengan wanita lain!" serunya dengan gemas. Bantal yang dia pangku juga tak luput dari sasaran.


"Jadi setelah ini kamu mau bagaimana, Yu? Kamu gak boleh kalah begitu saja dari mereka!" serunya lalu kemudian dia terdiam dan menatapku dengan iba.


"Yu," panggilnya dengan lirih. "Apa kamu masih cinta sama Hilman?" tanya Diana lagi. Aku terdiam, tidak tahu lagi apa yang harus aku jabarkan tentang perasaan ini. Aku pernah mencintai Mas Hilman, dan aku juga masih merasakan sakit hati saat dia melakukan hal yang selalu membuatku cemburu kepada Hana.


"Apa kamu masih cinta sama Hilman? Apa kamu mau bertahan terus sama dia?" tanya Diana mengulangi pertanyaannya saat aku hanya diam saja.


Aku menggelengkan kepala, jujur saja aku tidak ingin terus bertahan jika seperti ini kejadiannya. Jika seorang lelaki sudah tidak bisa adil kepada kedua istrinya lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah dia bisa menjadi adil setelah aku protes padanya? Lalu bagaimana hubungan kami setelah ini? Apakah kami akan baik-baik saja?


"Yu!" seru Diana lagi saat aku tidak menggubris pertanyaannya.


"Tidak tau," ucapku dengan lesu.

__ADS_1


Diana menatapku dengan tatapan marah.


"Jangan bilang kalau kamu pasrah saja dengan keadaan kamu ini? Kamu mau ditindas terus seperti tadi? Jangan berpikir bodoh Ayu! Mana Ayu yang aku kenal selalu kuat? Selalu bisa membela diri? Selalu tegar?" tanya Diana terhadapku.


"Oke, memang kamu ini kuat, memang kamu ini tegar dengan membuktikan kalau kamu bisa menjalani hidup dengan orang ketiga selama beberapa bulan ini, tapi kamu juga bodoh!" cerca Diana terhadapku.


Aku menunduk memainkan jari jemariku.


"Kalau aku jadi kamu, aku akan minta cerai saja dari Hilman Si Penyume itu!" ucapnya dengan menggebu-gebu Aku mengernyit heran mendengar satu kata asing itu darinya.


"Apa itu penyume?" tanyaku dengan bingung.


Diana menepuk keningnya. "Aku lupa, ini bukan bahasa disini," ucap Diana lalu menarik tanganku hingga mendekat ke arahnya. Bibirnya mulai berbisik di telinga, hingga terasa geli dan hangat disana.


"Penyuka ...." Aku terlonjak saat mendengar kata selanjutnya. Memukul tangannya dengan cukup keras sehingga dia meringis kesakitan.


"Lagian apa itu lagi kata selanjutnya itu ... Gak sopan!" teriakku kepadanya dengan mata melotot. Suasana yang sedih kini berubah menjadi kesal.


"Itu kan istilah yang suka di pake di kota sana," ucapnya dengan kekehan di bibirnya. Ganti kini aku yang menepuk keningku dengan sedikit keras.


"Jangan dibiasakan disini, kalau aku dengar lagi kamu bicara istilah itu, aku lakban mulut kamu!" desisku dengan gemas. Diana hanya meringis dengan mengangkat dua jarinya berbentuk V.


"Lagian kenapa sih Yu, kamu mau bertahan dengan pernikahan ini? Apa kamu memang bertahan sama dia karena kamu gak punya keturunan? Kamu kira gak ada lelaki yang mau nerima wanita yang gak bisa kasih keturunan?" tanya Diana dengan menggenggam tanganku dengan erat.


Banyak di luaran sana yang juga bisa menerima wanita baik seperti kamu, Yu. Kalian kan juga bisa adopsi anak! Nanti kalau aku lahiran, anak aku juga jadi anak kamu deh," ucapnya lagi dengan nada sedih dan bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Aku balik menatapnya dengan sedih dan juga bahagia. Kupeluk tubuhnya yang lebih berisi daripada aku.


"Terima kasih, Di. kamu memang sahabat aku yang paling baik," ucapku dengan terisak. Diana mengangguk juga mengelus punggungku dengan lembut.


"Iya, aku memang sahabat kamu yang paling baik, kok. Kamu aja yang gak bisa lihat kebaikan aku selama ini, tega banget gak cerita hal yang penting kayak gini!" ucapnya dengan nada yang kesal.


Diana menjauhkan dirinya dariku dan menatapku dengan tajam, "Kamu yakin gak mau nyerah dengan hubungan ini?" tanya Diana kepadaku.


"Maaf ya, Yu. Kalau aku jadi kompor buat kamu, tapi aku gak tega kalau lihat kamu seperti ini, masa depan masih panjang buat kamu, Yu. Aku lihat Hilman sudah seperti itu dan dia juga sudah bermain kasar sama kamu, apa kamu yakin mau bertahan dengan dia? Apa kamu yakin nanti, besok, lusa, kalian akan baik-baik saja?" tanya Diana kepadaku. Itu juga yang aku pikirkan sedari tadi.


"Ibu, gimana? Apa Ibu gak ngamuk saat Hilman menikah lagi?" tanya Diana kemudian.


Aku menghela napas dengan berat mendengar pertanyaannya ini.


"Ibu gak tau," jawabku yang membuat dia melotot ke arahku.


"Kok, gak tau? Bisa gak tau itu gimana? Kamu rahasiakan, begitu?" tanyanya dengan berseru.


"Ibu sakit, kamu tau kan?" tanyaku padanya. Diana mengangguk. Aku menceritakan apa yang terjadi kepada Ibu, mata Diana berair saat ceritaku ini sudah selesai.


"Aku juga ada rencana untuk cerai dengan Mas Hilman, tapi nanti, setidaknya kalau Ibu sudah operasi di kepalanya dan dinyatakan sembuh. Aku masih menunggu sawah di desa laku terjual untuk biaya operasi itu. Aku gak mau buat Ibu semakin sakit," ucapku pada akhirnya. Aku memang sudah berpikiran seperti itu sejak lama, tapi memang belum aku lakukan karena kondisi Ibu.


"Kamu butuh biaya? Kenapa kamu gak bilang saja sama aku? Aku ada tabungan lebih dari sepuluh, tapi gak sampe dua puluh, sih. Kamu ini ...!" geramnya terhadapku sambil memukuli pundakku beberapa kali. "Kenapa gak bilang? Kenapa gak bicara sama aku? Kenapa gak minta bantuan sama aku?!" teriaknya marah, masih sambil memukul lenganku dengan sedikit keras. Aku menjauh darinya, tidak kuat dengan sikapnya yang beringas.


Diana mengambil tas yang ada di atas nakas. Dia mengeluarkan sebuah kartu dari dalam sana.

__ADS_1


"Ini, pakai semua, pakai untuk biaya opersi Ibu, tapi setelah Ibu sembuh kamu harus cerai dengan dia!" serunya dengan telunjuk yang mengarah tepat di depan hidungku.


__ADS_2