Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
166. Arga: Aku Masuk Angin!


__ADS_3

Blush!!


Malu, aku malu. Aku dibuat mematung oleh anak sekecil ini, tidak bisa berkata suatu apapun, apa lagi saat yang lain tiba-tiba menyorakiku.


Arga tidak membantu atau membela sama sekali, malah saat aku lirik dia hanya tersenyum dan menggerakkan alisnya naik turun. Duh, orang itu.


"Sudah, sudah. Jangan berisik lagi, ini sudah malam. Yuk, bantu Bibi angkut makanan ke sini. Makan ngariung," ujar Bibi yang artinya makan bersama. Aku segera bangkit berdiri dan pergi ke arah dapur, menghindari tatapan dari beberapa orang yang sepertinya ingin terus menggoda kami.


Ah, Gara, kenapa juga harus bicara seperti itu? Dia tahu soal itu dari siapa sih? Dan lagi ... apa dia tidak tahu kalau ... aku tidak akan bisa memberinya seorang adik?


Rasa malu yang tadi aku rasakan di depan sana berubah menjadi sedih. Di depan meja makan yang begitu banyak makanan hanya tatapan kosong dan bayangan kekecewaan Gara di masa depan karena ketidakmampuanku untuk memberikannya seorang adik. Bagaimana aku akan membicarakan ini dengan dia? Bagaimana jika dia kecewa karena aku tidak bisa memberikan apa yang dia mau?


"Yu." Suara Arga terdengar di belakang punggungku. Dia memegang bahuku membuat aku terkejut dan tersadar, mengusap air mata yang sempat menetes di pipiku.


Beberapa orang yang lain memperhatikan, tapi tidak berani mendekat kepada kami.


"Kamu ... maaf atas ucapan Gara tadi ya." Arga meminta maaf, nada suaranya terdengar sedih sekali.


"Tidak apa-apa, kok. Gak apa-apa. Gak masalah," ucapku, mencoba untuk menyembunyikan kesedihanku tadi.


"Tidak apa-apa kok muka kamu merah? Aku belum bisa bicara dengan Gara mengenai hal ini, maaf, ya. Janji lain kali aku akan bicara dengan Gara dan buat dia mengerti," ucap Arga.


Aku hanya tersenyum, meski di dalam hati ini rasanya sangat perih sekali. Bukan karena ucapan Gara, dia hanya anak kecil, tapi karena aku yang kecewa dengan diriku sendiri. Sekarang suamiku dan keluarganya yang tidak mempermasalahkan soal anak, tapi aku tidak berpikir jika Gara yang akan menginginkan hal itu.


Sekali lagi aku menggelengkan kepalaku, dan menenangkan Arga yang tampak tidak enak hati. "Sudah lah, Ga. Gara masih kecil, wajar kalau dia tidak tahu dengan hal ini. Yuk tolongin aku buat bawa semua ini ke dalam!" pintaku padanya. Arga mendekat dan mengelus kepalaku yang berhijab, senyumannya mampu untuk membuat aku juga ikut tersenyum, tapi tidak aku pungkiri jika aku memang masih merasa sedih dengan ucapan Gara tadi.


"Iya, ayo aku bantu," ucap Arga, lalu kami berdua membawa makanan tersebut ke tengah rumah.

__ADS_1


Makan bersama dengan keluarga, meski rasa di dalam hati ini sedang tidak nyaman, tapi aku harus tetap tersenyum juga, kan? Makan sambil bersenda gurau, jika biasanya hal itu tidak pernah terjadi diantara aku dan Ibu, tapi kali ini hal itu tidak dikecualikan. Banyak doa dan gurauan yang mereka ucapkan.


'Semoga nanti Gara bisa dapat adik.'


'Satu anak laki-laki, satu lagi anak perempuan. Cocok tuh!'


Dan masih banyak lagi, aku hanya mengamini, meski rasanya ... entah lah. Tujuh tahun sudha aku berumah tangga dan tidak ada tanda-tanda adanya nyawa yang hidup di dalam rahimku, rasanya ....


Astaghfirullah.


Seharusnya aku tidak memikirkan hal yang buruk.


"Kamu baik-baik saja, kan Yu?" bisik Arga di tengah obrolan para orang tua yang masih tersisa di antara kami, mengenai pesta pernikahan kami esok hari tentunya. Beberapa dari mereka tidak tahu penyebab perceraianku dengan Mas Hilman kemarin karena tidak dapat memiliki anak, yang mereka tahu karena Hilman yang mendua, itu saja.


"Tidak apa-apa," jawabku dengan sama berbisik.


"Alhamdulillah, saya sudah kenyang, Bi, Wak," ucap Arga sambil mengangguk ramah pada Bibi dan juga Uwak yang ada di depan kami. "Saya mau pamit ke kamar, boleh duluan, kan? Ayu, kalau kamu sudah selesai cepat menyusul ya, tolong kerokin punggung. Rasa-rasanya kok aku masuk angin," ucap Arga tertuju kepadaku dengan berbisik, tapi masih bisa orang lain dengar dengan jelas sehingga mereka tersenyum dan berdehem serta pura-pura batuk saat Arga selesai mengatakan itu dan bangkit untuk pergi. Aku menunduk malu, kembali mencoba fokus dengan makanan yang ada di dalam piringku.


"Ayo, cepat. Makannya jangan lama-lama. Pak Suami sudah menunggu, tuh." Uwak menggerakkan tangannya, menyuruhku untuk menyusul Arga. Aku jadi salah tingkah dengan tatapan dan juga senyumannya.


"Iya, Wak. Nanti, beresin ini dulu." Aku tidak menyelesaikan makanku, tatapan banyak orang membuat aku ingin segera pergi dari sini. Ku ambil piring kotor bekas makan Widi dan juga Gara tadi, kini kedua anak itu sudah berada di luar bermain kembang api.


"Sudah. Biarkan saja di sana. Nanti biar Uwak dan Bibi yang bereskan ini," ucap Uwak menarik piring yang ada di tanganku. "Sana, urus saja Pak Suami, jangan sampai lepas, ya!" Goda Uwak lagi.


"Iya, sana cepet ke kamar. Nanti biar Gara Bibi yang urus," ujar Bibi sambil mengedipkan satu matanya ke padaku.


Aku tersenyum, semakin malu karena tatapan orang lain tidak juga teralihkan dariku. Gegas aku berjalan meninggalkan orang-orang yang masih sibuk dengan makan malamnya.

__ADS_1


Ibu tidak ikut makan malam bersama dengan kami, lelah karena acara hari ini membuat tubuh Ibu terlihat lemas tadi dan memutuskan untuk tidur lebih cepat. Ku lihat keadaan Ibu dari celah pintu, terlihat Ibu tengah tertidur dengan sangat lelap.


Ku lanjutkan langkah kaki ke arah kamar. Arga sudah menunggu di sana, duduk di tepian tempat tidur sambil memainkan hpnya. Sadar dengan kehadiranku, dia tersenyum dan menyimpan hpnya di atas meja kecil.


Malu rasanya satu ruangan dengan seorang laki-laki. Hal yang pernah aku alami dengan Mas Hilman dulu, tapi kali ini ... dada ini lebih berdebar lagi.


Aku mendekat pada Arga, membawa minyak angin dan kayu putih yang selalu ada di dalam kotak obat di dapur. Duduk di sampingnya sedikit agak menjauh.


"Mana yang mau dikerok?" tanyaku dengan nada yang kikuk.


Arga tidak menjawab, dia malah tersenyum seraya mendekatkan dirinya lebih dekat lagi.


Dug. Dug.


Bukan suara kendang, bukan juga suara bedug, tapi suara jantung ini yang tidak bisa aku kendalikan sama sekali.


****


Minal Aidzin WalFaidzin buat semuanya.😭


Maafkan Othor telat ucapkan selamat lebaran,


Maafkan juga Up yang belum maksimal. Maklum, hari-hari sibuk gini susah banget mau ngetik 😅


Maafkan atas segala kesalahan Othor ya, salah kata dan ketikan. Semoga dimaafkan, yak 🙏.


Othor gak pandai merangkai kata indah, hanya ingin ucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maafkan lahir dan batin.

__ADS_1


Semoga semua kesalahan Othor dimaafkan 🙏


__ADS_2